Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Istri yang Terlupakan
Pagi menyapa dengan kabut tebal yang menggantung rendah, seolah mewakili pekatnya kegelapan yang menyelimuti jiwaku. Setelah malam panjang yang melelahkan, penuh isak tangis dan gedoran pintu dari Mas Fikar, aku terbangun di atas lantai semen. Tubuhku kaku dan kedinginan. Di sampingku, ponsel tergeletak mengenaskan dengan layar yang retak seribu. Sebuah notifikasi muncul, namun bukan dari Mas Fikar. Pesan itu datang dari Ibu Sofia.
Aris sedang dalam perjalanan menjemput Clara untuk pemeriksaan rutin. Jangan harap dia akan kembali padamu hari ini. Sadarlah, posisimu sudah digantikan oleh sesuatu yang lebih berharga.
Kalimat itu rasanya seperti siraman air garam di atas luka yang masih menganga lebar. Aku bangkit dengan sisa tenaga yang ada, membasuh wajah sembabku, dan memutuskan keluar hanya untuk mencari udara yang lebih lega. Namun, entah mengapa di setiap sudut jalan aku merasa orang orang menatapku dengan iba. Aku merasa seolah seluruh dunia sudah tahu bahwa Kiki, si istri kontrak itu, kini hanyalah rongsokan yang tak lagi punya nilai guna.
Langkah kakiku yang tanpa arah membawa aku berhenti tepat di depan sebuah butik perlengkapan bayi mewah di pusat kota. Napas mencekat. Di sana, terparkir mobil mewah yang sangat kukenal. Itu mobil Mas Fikar.
Dari balik kaca besar butik, pemandangan di dalam sana menghancurkan sisa-sisa kewarasanku yang paling dasar. Mas Fikar berdiri tepat di samping Clara. Ia memegang pundak wanita itu saat Clara sibuk memilih kereta bayi berwarna biru langit. Mas Fikar tidak terlihat marah. Ia tampak patuh, seperti seorang pria yang sudah menerima takdirnya sebagai tawanan dari kesalahannya sendiri.
Aku berdiri mematung di trotoar, membiarkan kebisingan jalanan mengabur. Di dalam sana, mereka terlihat seperti potret keluarga kecil yang sempurna. Pria sukses, wanita hamil yang cantik, dan masa depan yang terjamin. Sementara aku? Aku berdiri di sini dengan pakaian lusuh, uang di saku yang mungkin hanya cukup untuk makan dua hari, dan hati yang sudah dicabik cabik tak berbentuk.
Tiba-tiba Clara menoleh ke arah jendela. Mata kami bertemu. Ia sama sekali tidak terkejut. Sebaliknya, ia mengembangkan senyum kemenangan yang paling lebar yang pernah kulihat. Dengan sengaja, ia menarik tangan Mas Fikar dan meletakkannya di atas perutnya yang membuncit. Aku melihat Mas Fikar sempat tertegun. Matanya menatap perut itu dengan tatapan yang sulit diartikan, mungkin campuran antara rasa tanggung jawab dan penyesalan yang terlambat.
Aku berbalik dan lari sekuat tenaga. Aku lari sampai paru-paruku terasa mau pecah, sampai kakiku lemas dan aku jatuh tersungkur di pinggir jalan yang ramai. Tak ada yang menolong. Jakarta tetap sibuk dengan urusannya sendiri, tidak peduli pada seorang wanita yang dunianya baru saja kiamat untuk kedua kalinya.
Satu kenyataan pahit menghantamku. Di rumah megah keluarga Dirgantara, namaku mungkin sudah dihapus dari daftar penghuni. Foto fotoku mungkin sudah diturunkan dari dinding, diganti dengan hasil USG anak Clara. Aku adalah istri yang terlupakan, sebuah bab yang ingin segera dihapus oleh Mas Fikar dan ibunya agar mereka bisa memulai lembaran baru yang terlihat lebih sempurna di mata sosial.
Malamnya, saat aku kembali ke rumah petak, aku menemukan sebuah amplop besar terselip di bawah pintu. Isinya adalah surat gugatan cerai resmi. Nama penggugat di sana tertulis jelas: Fikar Dirgantara. Namun ada yang mengganjal. Di bagian bawah surat, goresan tanda tangannya terlihat ragu, seolah tangannya gemetar hebat saat menggoreskan pena itu di atas kertas.
Aku memeluk surat itu dan menangis meraung raung. Bukan karena aku ingin mempertahankan pernikahan ini, tapi karena kenyataan bahwa dialah yang melayangkan surat ini lebih dulu. Seolah dia ingin segera mencuci tangannya dariku agar bisa menyambut kehidupan barunya tanpa cela sedikit pun.
Kamu benar benar melakukannya, Mas, bisikku di antara isak tangis yang parau. Kamu benar benar membuangku seperti sampah.
Aku meraih pena. Dengan tangan yang jauh lebih mantap dan tegas daripada tangannya, aku menandatangani surat itu. Jika dia ingin aku lenyap agar dia bisa menjadi ayah yang baik bagi anak Clara, maka aku akan memberikannya. Tapi aku bersumpah, mulai detik ini, Kiki yang dulu mencintainya dengan tulus telah mati bersama surat ini. Aku akan menghilang. Bukan sebagai pecundang, tapi sebagai wanita yang menolak untuk terus diinjak oleh laki laki yang bahkan tidak punya keberanian untuk jujur.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.