Leana putri tunggal seorang pengusaha yang tidak pernah terekspos, sehingga dia di kenal sebagai anak orang miskin yang masuk ke tempat elit demi menaikkan derajat. Menjadi pacar seorang anak miliyader membuatnya menjadi pusat perhatian, Reno putra ke tiga dari keluarga ternama di kotanya, Ketika berkunjung kerumah sang pacar dia mendapati teman baiknya sedang berduaan. Meminta pertanggung jawaban namun tak di hiraukan Reno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhe vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Gaun oke, aksesoris oke, sepatu,tas, dan cincin dari Ray semuanya matching sekali.
Orang tuaku juga sudah menungguku di bawah bersamaan dengan Ray.
"ya ampun cantiknya anak mama". Puji mama kepadaku.
"Gimana nggak cantik, mamanya aja cantik begini". Puji ayah pada mama
Mulai lagi mereka berdua, semakin tua mereka semakin bucin saja semoga saja aku bisa begitu nantinya.
"Sweet banget mereka berdua Love".
"Aku geli lihatnya beb".
"Ya malah bagus dong mereka akur terus".
"Iya sih, ayok sudah sejam segini juga".
Aku dan Ray menggunakan mobil baruku, ini kenapa jadi serba biru begini ya apa karena aku yang terlalu suka dengan warna biru begini.
Sesampainya kami di hotel bintang 5 milik keluarga Wilder, dekorasi yang mewah yang banyak tamu-tamu penting yang datang. Tanpa sengaja mataku tertuju kepada keluarga Ray tidak terlihat Reno di sana.
"Kamu cari dia?". Tanya Ray
"Nggak kok beb".
"Lihat di pojok sana".
Aku melihat ke arah tangan Ray, di sana ada Reno dan Melinda bersama teman-temannya.
"Cemburu?". Tanya Ray
"Nggak lah, pacarku lebih dari dia ngapain coba cemburu". Aku bergelayut manja di lengan Ray
Mama Ray yang sibuk dengan para tamu langsung menghampiri kami tidak lupa beliau menyalami orang tuaku.
"Akhirnya kalian datang juga, ya ampun calon mantu mama kok cantik banget sih". Sambut mama Ray
"Kami masih pacaran tan, belum mau menikah".
"Leana sayang, kamu nggak kasihan sama Ray dia sudah umur segitu". Aku hanya bisa tersenyum.
Tapi dia belum 30 tahun, aku saja baru 22 tahun berarti sekarang Ray berumur 29 tahun.
Saat sedang berbincang, Reno dan Melinda datang menghampiri kami perasaan gugup menyertai diriku, ku genggam erat tangan Ray agar menghilangkan rasa ketidak nyamanan ku ini.
"Sudah datang kak, siapa nh pacar kakak itu ya". Tanya Reno kepada Ray
"Urusi saja pacarmu itu". Jawab dingin Ray
"Kami sudah sangat penasaran kak, siapa wanita itu".
Inilah sebabnya aku tidak mau bertemu dengan keluarga Ray dulu, aku masih sangat malas untuk bertemu dengan Reno. Ketika aku melamun Reno menarik tanganku.
"Loh Lea? Kamu pacaran sama kakakku?".
"Lepasin sakit tahu".
"Wah cewek ini nggak benar". Tangan Reno terangkat persis seperti saat dia memukulku dulu.
"Mau apa kamu". Ray langsung menahan tangan Reno
"Ya ampun sayang". Mama Ray juga langsung memeluk diriku begitu juga dengan orang tuaku.
Kacau sudah acara pernikahan Asael dan Isabella.
Di panggung Asael dan Isabella hanya melihat keributan di arah kami.
"Beb, seru banget sih. Benarkan kataku pasti Reno tersulut emosi".
"Dia memang begitu, terus pernikahan kita bagaimana?". Tanya Asael pada istrinya.
"Pernikahan kita baik-baik saja kok, cuma aku suka aja ada tontonan begini".
"Malu lah aku sama keluarga kamu Beb".
"Ah biasa saja, lihat sendiri kan mama sama papa juga sibuk sendiri sama tamu mereka".
Asael hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keluarga dan istrinya sendiri.
Melinda melihatku dengan tatapan sinis, mungkin dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
"Ngpain kak Ray sama bekasku begini". ucap Reno dengan suara keras
Dan ya sebuah tamparan keras menghampiri wajahnya, Ray juga beberapa kali memukul Reno yang langsung tersungkur di lantai di bantukan oleh Melinda.
"Kamu itu kakaknya kenapa malah membela wanita jalang itu". Bela Melinda
"Sekali lagi ku dengar kalian menghina Lea, jangan harap kalian bisa masih tinggal di kota ini".
Ray memelukku dan memapahku ke meja tamu ditemani kedua orang tua dan mama Ray sendiri.
"Jangan dengarin mereka ya Love". Ray menenangkanku
"Inilah kenapa aku nggak mau ketemu dia beb, kamu tahu sendiri kan mulutnya bagaimana".
"Iya iya aku mengerti sudah ya, kalau mereka berani mengganggu kamu aku akan bikin mereka nggak di sini lagi".
"Jangan...". Cegah ku pada Ray
"Kok jangan". Kali ini mama Ray yang protes
"Lea ingin mereka ngerasain sakitnya dulu seperti yang Lea rasakan, bukankah karma berlaku, jika mereka dia asingkan mereka masih bisa hidup dengan nyaman itu tidak adil".
"Benar kata Lea itu ma". Isabella ikut duduk di meja kami, membiarkan suaminya sibuk dengan para tamu undangan.
"Loh pengantin ngapain di sini".
"Kalian kayaknya asik banget, jadi aku ikut nimbruk lah ma".
Setelah asik berbincang dengan keluarga Ray yang begitu hangat dan menerima diriku secara terbuka sebagai pasangan Ray dan mereka malah meminta kepada Ray untuk menjagaku dengan benar.
Akhirnya pesta pernikahan Asael dan Isabella berakhir dengan pesta untuk orang dewasa. Mama dan ayah tidak akan pulang malam ini.
"Mau ku temani tidak, atau pulang kerumah kamu aja". Ajak Ray
Jujur saja saat ini aku hanya ingin bersama dengannya, setelah bertemu dengan Reno aku merasa tidak nyaman.
"Pulang kerumahku aja, tapi kamu jangan pulang temani aku". Aku bergelayut manja di lengannya Ray
"Tentu saja".
Dia langsung menancapkan gas pada mobilku yang dia belikan.
Sesampainya dirumah yang akan menjadi rumah kami kelak aku langsung merebahkan badanku di kasur rasanya sangat lelah.
"Love aku mandi dulu ya gerah banget".
"Iya".
20 menit berlalu, setelah Ray aku juga langsung mandi rasanya gerah dan mandi air hangat sambil berendam adalah solusi terbaik.
Selesai mandi dan mengganti pakaian aku melihat Ray sedang duduk di balkon dengan dua coklat hangat di meja.
"Kamu yang buat ini beb?".
"Ya, duduk lah".
"Sebentar aku ambil selimut dulu, lumayan dingin soalnya". Dia mengangguk.
Aku juga memberinya selimut aku tidak mau pacarku ini tiba-tiba masuk angin.
Kami berdua terdiam, menikmati udara malam yang semakin dingin.
"Mau masuk?".
"Nggak disini aja dulu beb".
"Kamu masih mikirin Reno?".
"Nggak lah, aku cuma memikirkan karma apa yang akan mereka dapatkan nanti dan terimakasih".
"Untuk apa?". Tanya Ray
"Semuanya, siapa sangka seorang Ray bisa menunggu seorang wanita yang sedang memperbaikki perasaannya dan siapa sangka kita akan menjalin hubungan seperti ini di saat aku tidak ingin menjalin hubungan lagi".
Ray melepaskan selimutnya dan berlutut di hadapanku, dia meletakkan coklat hangat dari tanganku.
"Lea, jika seseorang tidak tulus dia tidak akan mau menunggu seorang wanita pulang dari kepergiannya untuk memperbaikki perasaannya. Aku akan selalu menunggu kamu Leana, sampai kamu benar-benar baik dan membuang perasaanmu kepada pria itu".
"Aku tahu kamu belum bisa mencintaiku sepenuhnya, tapi aku yakin pelan-pelan aku bisa membuatmu jatuh cinta lagi dan hanya kepadaku lah perasaan itu". Sambung Ray
Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, Ray terlihat begitu tulus dan aku mulai menyukai pria di depanku ini. Aku tidak peduli apa kata orang-orang, tapi ada pria yang menerimaku apa adanya ini takkan pernah ku lepaskan.
semangat ngetik thor sampe tamat..