“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milikmu
...“Kalau begitu, jadikan aku milikmu.” — Eleanore Moreau...
...🌸...
...“Kau memang sudah menjadi milikku.“ — Elios Leopold...
Sepanjang perjalanan pulang tadi, Elios tidak berkata apa-apa. Ia tidak menatap Lea, bahkan tidak berjalan sejajar dengan gadis itu. Ia berada setengah langkah di depan—seperti bayangan yang kehilangan bentuk. Karena setelah keluar dari kerumunan pasar, bukan Lea yang menariknya untuk pulang, tapi menjadi dia yang menarik Lea untuk pulang.
Setibanya di hotel yang jauh lebih sunyi daripada keramaian pasar tadi, Elios menutup pintu. Lea baru saja hendak membuka mulut untuk berbicara. Tapi suara Elios sudah lebih dulu terdengar.
“Kalau kau tidak nyaman,” ucap Elios pelan, terlalu pelan dan menusuk, “kenapa kau membiarkan dia menyentuhmu?”
Lea membeku saat mendengarkan nada suara Elios. Bukan karena nada marah yang meledak, tapi nada itu terdengar lebih berbahaya. Lebih tajam dan dingin.
“Aku tidak membiarkan,” jawab Lea cepat. “Itu tiba-tiba.”
“Tiba-tiba?” Elios tertawa kecil tanpa humor—terdengar mengerikan. “Motor itu masih jauh.”
Lagi-lagi Lea terdiam. Ia tidak menyangka Elios memperhatikan hal sedetail itu. Ia bahkan sedang bertanya-tanya, sejak kapan pria itu mengikutinya? Padahal saat ia bangun tadi, ia yakin betul bahwa Elios masih tertidur.
Elios berjalan mendekat ke arah Lea. Tidak cepat. Tidak tergesa. Tapi setiap langkahnya membuat udara di ruangan terasa semakin tipis dan menyesakkan.
“Aku menahan diri agar tidak menghancurkan wajahnya di depan umum,” desis Elios. “Karena kita bukan di negara kita.” Kalimat itu seperti ancaman yang belum selesai.
Lea mendongak dan menatap pria yang ada di depannya. Dadanya naik turun menahan emosi yang sudah berhari-hari ia tahan. “Kalau kau tidak mengabaikanku, pasti hal ini tak akan terjadi.”
“Aku tidak mengabaikanmu, Lea. Aku—“
“Bohong! Kau hanya menjagaku. Tapi kau tidak memperhatikanku sama sekali!” berang Lea dengan sorot mata yang tajam. Emosinya terlihat sedang meledak dan tak lagi bisa ditahan. “Aku kesepian, El! Setiap kali aku mendekat, kau menjauh. Setiap kali aku ingin berbicara, kau menghindar.”
“Kalau memang kau menyesal menyentuhku, setidaknya katakan sejujurnya. Jangan buat aku bertanya-tanya tanpa jawaban. Justru dengan perbuatanmu sekarang, aku jauh lebih terluka.”
Elios terdiam. Ia tahu ia salah. Tapi penyesalan sudah terlambat saat melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Ekspresi dingin dan aura mencekam tadi mendadak hilang dan berubah menjadi rasa iba.
“Di saat aku ingin menghibur diri,” suara Lea menurun dan mengecil, “aku bertemu Cedric. Tapi aku tak tahu kalau dia akan seperti itu padaku.”
“Kau marah saat dia menyentuhku? Padahal, kau sendiri menjauhiku,” imbuhnya sambil berbalik badan. Ia tak lagi kuasa menahan airmata yang sejak tadi membendung. Airmata penuh kekecewaan karena diabaikan. “Dan kau lupa... hari ini ulang tahunku. Biasanya kau yang pertama mengucapkannya.”
Lea berjalan menuju ke kamarnya. Belum sempat ia memegang gagang pintu kamar, Elios kembali bersuara setelah terdiam selama beberapa detik. Sebenarnya Elios tidak benar-benar melupakan ulang tahun gadis itu. Ia sudah membuat rencana dengan 3 orang anak buahnya itu. Hanya saja, ia tak tahu semua akan seperti ini.
“Aku tak pernah lupa ulang tahunmu,” ucap Elios pelan, ia melangkah mendekat ke arah Lea, membuat gadis itu terpojok di antara tubuhnya yang tegap dengan pintu kamar yang masih tertutup, “Dan aku menjauh bukan karena ingin.”
Lea mengepalkan tangannya. Alasan yang sangat tak bisa ia terima. Kalau memang tak ingin, untuk apa melakukannya? Padahal pria itu jauh lebih dewasa daripada dia. Tapi kenapa pikiran pria itu terlalu rumit dan sulit untuk dimengerti?!
Lea memutar tubuhnya, menoleh ke arah Elios. Ia menyeka kasar airmata di pipinya. “Kau terlalu rumit, Elios.”
“Ya. Aku memang rumit,” lirih Elios sambil mencondongkan wajahnya ke arah Lea. Jarak wajah mereka hanya beberapa inci. “Aku menahan diri. Karena kalau tidak… aku akan kehilangan kendali.”
Napas mereka saling beradu. Tatapan mereka saling menyatu.
“Kalau begitu...” bisik Lea pelan, “jangan menahan diri.”
Ucapan Lea tersebut sukses meruntuhkan benteng yang sudah susah payah Elios ciptakan. Ia sudah tak lagi bisa menyangkal semua perasaan yang selama ini ia tahan. Satu tangannya meraih tengkuk Lea, sementara satu tangannya lagi mencengkeram erat pinggang Lea—tidak kasar, tapi kuat dan tegas.
Sebelum Lea sempat bernapas lebih dalam, Elios sudah lebih dulu menutup bibirnya. Ciuman yang ia daratkan ke bibir gadis itu bukan lagi ciuman yang lembut, juga bukan ciuman yang liar tanpa arah. Tapi itu adalah ciuman yang dibungkus cemburu dan hasrat yang dipaksa diam selama lebih dari seminggu lamanya.
“El—“ Lea mengambil jeda untuk bernapas sebentar, “—tunggu—hmph!”
Pria itu hanya memberinya beberapa detik untuk bernapas—tapi tidak untuk berbicara. Tangannya mencengkeram lebih erat tengkuk dan pinggang gadis itu. Menarik Lea lebih dekat dan merapat ke tubuhnya.
Ciuman mereka semakin dalam dan semakin panas. Seolah keduanya sedang melampiaskan semua kalimat yang tak sempat terucap.
Elios menarik dirinya sepersekian detik, namun jarak wajah mereka hanya berkisaran 5 senti.
“Jangan pernah biarkan pria lain menyentuhmu seperti itu lagi,” bisik Elios pelan dengan tatapan yang sangat dalam.
Lea menatapnya, napasnya tak kalah kacau dari Elios. “Kalau begitu, jadikan aku milikmu,” balasnya dengan penuh perasaan.
Sunyi lagi. Tapi kali ini bukan sunyi yang dingin. Tapi sunyi karena keduanya terbawa arus oleh gairah yang menggebu-gebu.
Tangan Elios naik menyentuh pipi Lea dengan lembut. Hampir bertolak belakang dengan sikapnya beberapa menit lalu. Ia menempelkan dahinya ke dahi Lea.
“Kau memang sudah menjadi milikku.“
“Lalu... buktikan ucapanmu,” potong Lea sambil meremas dengan kuat kaos Elios, “jangan kendalikan dirimu.”
Elios tak menjawab. Tapi tatapan mereka berdua saling terikat. Dan beberapa saat kemudian, ciuman mereka menjadi jauh lebih lambat dan lebih dalam. Pria itu menekan gadisnya sampai terpojok ke pintu. Di saat bibirnya mereka masih menyatu karena dahaga yang tiada henti, salah satu tangan besar Elios mendarat ke dada Lea.
Sekujur tubuh Lea menegang sesaat ketika merasakan sensasi yang tak biasa itu. Rasa geli bercampur nikmat yang belum pernah ia rasakan. Cengkeraman tangannya ke kaos Elios semakin menguat, seolah ia tak ingin kenikmatan itu berakhir di situ saja.
Elios tak bisa mengendalikan hasratnya. Ia tahu, setelah ia membidik seseorang, maka sampai kapanpun orang itu akan menjadi sasarannya. Ia tak akan pernah berhenti sampai orang itu bertekuk lutut padanya.
“Mhh!” Lea terus menerima remasan tangan Elios dengan pasrah. Tak ada penolakan. Sebaliknya, ia membuka gagang pintu dan memberikan kesempatan untuk Elios bergerak lebih leluasa.
Keduanya kembali bercumbu mesra sambil berjalan menuju ke ranjang. Saat langkah mereka terhalang oleh ranjang, Elios mendudukkan gadis itu ke sisi ranjang, lalu ia merebahkan tubuhnya bersamaan tubuh Lea.
Ciuman berakhir saat keduanya berada di atas ranjang. Bibir Elios bergerak mencumbui leher Lea. Sementara tangannya juga ikut memijat gundukan empuk gadis itu dengan sangat liar dan tak terkendali. Seperti yang gadis itu minta, ‘jangan kendalikan dirimu’.
...****************...
Bersambung....