" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke apartemen Abian
Setelah melewati hari yang panjang dan penuh drama mulai dari menghadapi mantan yang tidak tahu diri hingga meladeni mulut pedas Abian yang setajam silet Nana akhirnya sampai di kostnya.
Brak.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya tanpa melepaskan tas kerjanya terlebih dahulu.
"Ahhh... leganya," desah Nana pelan, memejamkan mata sejenak.
Hari ini ia kembali lembur. Menyiapkan draf akuisisi yang mendadak diminta dewan komisaris benar-benar menguras sisa-sisa kewarasannya. Belum lagi suara Abian yang terus terngiang, "Na, fokus. Jangan sampai revisi ini secacat hubungan asmaramu." Mengingat itu saja sudah cukup membuat Nana ingin menggigit bantal.
Namun, rasa lengket di tubuhnya akibat keringat dan debu Jakarta segera membuyarkan rasa malasnya. Nana bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Ia memilih untuk segera mandi, berharap air dingin bisa menyegarkan otak dan hatinya yang masih sedikit panas.
Setengah jam kemudian, Nana keluar dari kamar mandi.
Nana meraih pakaian santai dari lemari. Ia memang punya kebiasaan memakai baju yang serba besar jika sedang berada di rumah. Malam ini, ia mengenakan kaus oblong oversize berwarna abu-abu yang menutupi paha, serta celana pendek kain yang juga longgar.
Sebelum naik ke tempat tidur, Nana berdiri di depan cermin panjang di sudut kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Rambutnya yang masih basah ia biarkan tergerai.
Tiba-tiba, ucapan Abian tadi siang kembali terlintas di benaknya.
"Rata seperti papan gilasan. Mungkin dia bosan melihat pemandangan yang cuma satu dimensi setiap hari."
"Papan gilasan?" Nana bergumam sendiri, matanya menyipit menatap cermin.
"Sembarangan banget itu mulut."
Nana kemudian menggenggam bagian belakang kausnya, lalu menariknya dengan kencang ke arah punggung hingga kain kaus itu mengetat sempurna di bagian depan tubuhnya. Tanpa balutan baju kantor yang kaku atau kaus yang kedodoran, bentuk tubuh aslinya mulai terlihat jelas.
Lekukan pinggangnya yang kecil, garis perutnya yang rata, hingga siluet pinggulnya yang sebenarnya sangat pas. Ia berputar sedikit ke samping, masih sambil menarik kausnya ke belakang.
"Apanya yang papan gilasan?" Nana mendecak, mengamati lengkungan tubuhnya dari samping.
Nana melepaskan tarikan kausnya, membiarkan pakaian itu kembali longgar menutupi tubuhnya.
"Ini sih jelas-jelas gitar Spanyol edisi terbatas. Si bos itu matanya perlu di servis pakai air raksa kayaknya."
"Yah, biarin ajalah dia mau bilang apa."
Nana mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur yang temaram. Ia merebahkan diri, menarik selimut, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur tanpa beban memikirkan balasan pesan dari seseorang yang ternyata hanya menjadi benalu dalam hidupnya.
Ponselnya yang tergeletak di atas nakas berdering. Suara dering itu terasa menembus gendang telinganya di tengah keheningan malam.
Nana melirik jam digital di atas meja. 03.00 pagi.
"Siapa sih yang nggak punya adab jam segini telpon..." gumamnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Dengan mata yang masih terpejam rapat, ia meraba-raba ponselnya dan menggeser tombol hijau tanpa melihat layar.
"Halo..." suara Nana terdengar malas.
"Haruna, bangun."
Suara berat, dingin, dan penuh perintah itu seketika membuat nyawa Nana yang tadi sudah terbang ke awan-awan langsung tersedot kembali ke bumi. Itu Abian.
"Pak Abian?" Nana bertanya, matanya masih tertutup karena silau cahaya ponsel.
"Kenapa saya yang harus bangun jam segini, Pak?"
"Pergi ke apartemen saya sekarang. Ambilkan setelan jas kantor saya untuk hari ini. Pastikan semuanya lengkap, kemeja putih yang sudah disetrika, dasi sutra warna marun, ikat pinggang, sampai pakaian dalam saya jangan sampai tertinggal. Kamu tahu kode akses pintu saya, kan?"
Nana langsung terduduk tegak, namun matanya tetap terpejam karena menahan kantuk yang luar biasa. "Kenapa saya yang harus ambil, Pak? Kan ada sopir, atau Bapak bisa suruh layanan laundry antar langsung ke kantor..."
"Kamu asisten sekaligus sekretaris saya, Haruna. Saya tidak percaya orang lain untuk mengurus urusan pribadi saya hari ini karena ada pertemuan mendadak dengan investor subuh nanti. Cepat bawa ke kantor sebelum jam lima pagi. Ingat, jangan pakai baju tidur atau kaus oversize gembelmu itu. Pakai pakaian kantor yang rapi!"
"Tapi Pak...."
"Tidak ada tapi-tapi. Waktumu tinggal dua jam. Sampai bertemu di kantor."
Pip.
Sambungan diputus sepihak. Nana menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan tatapan kosong selama tiga detik. Kesadarannya baru terkumpul sepenuhnya saat ia menyadari apa yang baru saja diperintahkan bosnya.
"GILA! INI JAM TIGA PAGI!"
Nana berteriak keras ke arah bantalnya, meluapkan rasa frustrasinya hingga suaranya bergema di kamar kost yang sempit itu. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke kasur dengan gemas.
"Sinting! Benar-benar bos sinting! Dia pikir aku ini asisten atau ibu rumah tangga?! Masa urusan dalaman juga aku yang ambil?!"
Nana mengacak rambutnya yang berantakan. Meskipun mulutnya terus mengomel dan menyumpah-serapah, tubuhnya secara otomatis bergerak menuju lemari pakaian. Ia tidak punya pilihan.
"Lihat saja nanti! Kalau aku sampai mati karena kurang tidur, aku bakal hantui ruangan dia tiap malam!" teriak Nana lagi sambil menyambar kemeja kantornya dengan kasar.
Nana melangkah ragu melewati pintu kokoh apartemen mewah di kawasan Mega Kuningan itu. Setelah menekan kode akses yang diberikan Abian, pintu terbuka dengan suara klik pelan yang terdengar sangat keras di tengah kesunyian jam empat pagi.
"Permisi... Pak Abian? Ada orang?" bisik Nana pelan.
Hening. Apartemen itu gelap, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu sudut yang otomatis menyala. Nana berjalan jingkat-jingkat, merasa seperti pencuri di rumah bosnya sendiri. Ia segera menuju kamar utama yang pintunya sedikit terbuka.
Begitu masuk, aroma parfum sandalwood yang maskulin langsung menyerang indra penciumannya. Nana segera menyalakan lampu walk-in closet. Dengan tangan gemetar, ia mulai memilih kemeja putih brand ternama dan jas yang diminta Abian.
Namun, saat sampai pada tugas terakhir, Nana meringis. Ia membuka laci khusus yang berisi pakaian dalam bosnya.
"Aduh, beneran deh... Kenapa harus aku sih yang bagian ini?" keluh Nana pelan.
Ia menggunakan ujung telunjuk dan jempolnya untuk mengambil beberapa potong pakaian dalam berbahan katun premium itu, lalu segera memasukkannya ke dalam tas jinjing dengan gerakan secepat kilat.
"Ewwww..."
Setelah semua perlengkapan siap, Nana keluar dari area lemari. Baru saat itulah ia memperhatikan kondisi kamar utama Abian. Matanya membelalak lebar.
"Ya ampun... Ini kamar atau tempat penampungan sampah?"
Kamar yang biasanya terlihat sangat rapi itu kini berantakan luar biasa. Bantal terserak di lantai, selimut kusut masai, dan yang paling mencolok adalah gundukan tisu yang tersebar di mana-mana. Di atas nakas, di pinggir kasur, bahkan ada yang tercecer di lantai dekat meja kerja.
Nana mendekat, menatap gundukan tisu itu dengan kening berkerut. "Ini bos gue habis ngapain? Nangis bombay semalaman apa gimana? Masa iya pria sedingin es begini bisa galau sampai habis tisu sekotak?"
Pikiran Nana melayang ke mana-mana. Mungkinkah Abian diam-diam sedang mengalami tekanan batin? Atau ini efek samping dari sikap judesnya yang berlebihan?
"Dasar bos aneh. Di kantor gayanya kayak raja, di rumah berantakannya kayak kapal pecah," gumam Nana sambil menggelengkan kepala.
Ia melirik jam tangannya. Sial, sudah hampir jam setengah lima. Tidak ada waktu untuk membereskan atau sekadar kepo lebih lanjut. Nana segera menyambar tas berisi pakaian Abian dan berlari keluar menuju lift.
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama