SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKIN PARAH
Sasa sadar setelah hampir dua jam pingsan, mama sudah berada di sampingnya. Begitu ia bergerak, mama Sasa langsung memencet tombol perawat. Segera saja perawat datang dan memeriksa kondisi vital Sasa.
"Nak," panggil mama lembut, namun sayang Sasa malah menangis histeris.
"Pergi, pergi, aku benci mama, aku benci perempuan perusak rumah tangga orang, aku gak mau menjadi anak pelakor, pergi!" teriak Sasa hingga perawat meminta mama Sasa keluar dulu, setelah pintu tertutup barulah Sasa terdiam dan kembali menangis. Dia bisa merasakan sakitnya dikhianati sang suami. Sasa pernah mengalami, meski Sakti hanya sebatas memendam rasa pada Iswa, itu sudah sakit apalagi sampai melihat dengan mata kepala sendiri hubungan intim dengan perempuan lain. Sungguh, Sasa tak memaafkan perbuatan sang mama.
"Sa!" panggil seseorang, dan Sasa sangat hafal dengan suara itu, ternyata sang perawat mengangkat ponsel Sasa yang telah dihubungi oleh dokter Fandy.
Saat memberi tahu kondisi Sasa, petugas medis di rumah sakit ini mengikuti instruksi dokter Fandy sebagai dokter jiwa yang menangani Sasa. Begitu Sasa sadar si perawat menghubungi dokter Fandy.
"Dokter," rengek Sasa tak bisa membendung perasaannya, dia menangis sesenggukan, dia merasa menjadi korban suami menyukai perempuan lain, malah sang mama menjadi pelaku, sungguh Sasa tak bisa menerima kenyataan ini.
Dokter Fandy mendengarkan saja suara tangisan Sasa, hampir 15 menit menangis, akhirnya dokter Fandy memberi nasehat kalau merasa emosi kamu tidak stabil, silahkan balik ke kota. Kembali berobat dengan semestinya. Rencana untuk tinggal di desa dipending dulu, yang penting kesehatan Sasa yang utama.
"Mama gak setuju kalau kamu balik ke kota, kamu nanti akan menjadi gila," ucap mama Sasa yang dipersilahkan masuk oleh perawat karena Sasa yang mengizinkan.
"Setuju tidak setuju, Sasa lebih memilih menyehatkan mental Sasa dulu, Ma."
"Kamu mau berobat lagi dengan biaya yang mahal? Uangmu cukup?" tantang mama seolah uang Sasa habis, beliau tak tahu saja kalau Sakti masih memberi uang jajan tiap bulan, meski tak sebesar transferan saat menjadi istri. Sasa akan menggunakan uang itu untuk berobat.
"Mama peduli uangku atau aku sih, Ma. Aku masih sakit, Ma. Penyakitku makin parah saat mama datang. Aku melihat orang yang aku sayang malah menjadi pelaku selingkuh, aku gak terima, Ma. Aku sakit karena terlalu overthinking pada Sakti, aku gak mau, Ma, kalau harus memikirkan kelakuan mama."
"Kamu bali ke kota, Mama ikut!"
"Boleh, karena aku memilih tinggal di rumah sakit jiwa!"
"Sasa kamu gila, kamu kenapa harus memilih tinggal di sana, pikirkan lagi Sa!"
"Apa aku harus tinggal bersama mama? sebenarnya mama pernah gak sekali saja memikirkan kebahagiaanku. Mama tahu apa yang aku butuhkan sekarang? Enggak kan, yang mama pikir hanya aku punya uang berapa untuk menanggung hidup mama!"
"Kurang ajar kamu, ya! Mau jadi anak durhaka!"
"Sasa sejak kecil sudah mama buang, remaja mama mulai mama lirik, begitu Sasa bisa kerja mama makin lupa dengan Sasa. Terus sekarang Sasa harus menanggung hidup mama, padahal Sasa juga lagi sakit. Sumpah, Ma. Sasa mau sembuh!" ucap Sasa sembari menangis, dia tak punya niatan memojokkan mama, tapi sikap mama yang keterlaluan, tak menomor satukan kesehatan Sasa malah takut kekurangan uang.
"Dengarkan Mama, mama yang melahirkan kamu, mama tahu kamu hanya shock melihat tingkah mama, dan mama janji tidak akan mengulangi lagi!"
Sasa tertawa miris, "Janji? Sedangkan orang yang berselingkuh tidak pernah akan sembuh kecuali karena dua hal, mati atau kena penyakit," jawab Sasa tak kalah berani. Sang mama langsung marah, kok berani-beraninya Sasa mengatai seperti itu.
Sang mama langsung menjambak rambut Sasa tak peduli sang anak baru saja stabil, "Ngomong apa kamu? kamu mendoakan mama mati atau kena penyakit? Pantas kamu gila, omongan kamu ngelantur," makin keras saja mama Sasa menjambak Sasa, meski sang putri terus berteriak sakit, Ma. Hingga ia berteriak memanggil perawat.
"Kamu anak tak tahu diri, hidupmu gak berguna. Sudah gila, durhaka lagi," ucap mama Sasa tak memikirkan perasaan sang putri.
Sasa menunduk, menutup telinganya rapat, badannya mulai gemetar dan cemas, sang perawat meminta mama Sasa keluar, namun beliau tak semudah itu menuruti perintah perawat. Mama Sasa terlalu takut gak bisa hidup, makanya dia berusaha memojokkan Sasa agar tetap mau hidup bersamanya.
"Menyesal mama melahirkan kamu, jadi anak gak ada gunanya sama sekali, gila, pelit, pantas diceraikan suami mapan kayak Sakti," makin tajam saja mama Sasa memojokkan perempuan itu.
Entah kekuatan dari mana, Sasa melihat garpu bekas sarapan, badan gemetarnya segera berdiri, dan perawat melihat gerak-geriknya gak mengira akan mengambil garpu itu.
"Bu Sasa, jangan!" ucap perawat ketakutan, sang perawat yang sejak tadi memegang lengan mama Sasa agar tidak menjambak Sasa lagi berniat menghentikan langkah Sasa. Perempuan itu sudah menghunuskan garpu ke arah perawat dan mama secara bergantian.
"Gila kamu, Sa!" masih saja sang mama menghina sang putri meski garpu sudah siap menyentuh kulit sang mama, beruntung perawat merebut garpu itu dan Sasa berdiri dengan tangan gemetar. Mama Sasa langsung ke luar kamar, menuruti saran perawat daripada mati konyol di tangan sang putri.
"Bu Sasa, mari saya bantu!" ujar perawat, tubuh kaku Sasa digiring ke ranjang, dan perawat memberikan minum pada Sasa.
"Sus, saya juga gak mau gila. Saya mau sembuh, saya boleh kan jauh dari mama saya?" tanya Sasa dengan sendu.
"Boleh, Bu Sasa. Bu Sasa boleh menomor satukan kepentingan Bu Sasa untuk sembuh, patuhi saran dokter Fandy, sebentar lagi pihak rumah sakit akan mengantar Bu Sasa ke rumah sakit sana," ujar si perawat baik hati. Sasa mengangguk dan mengusap air matanya.
Setelah beberapa hari hidup dengan sang mama sepertinya Sasa lebih memilih hidup sendiri saja. Belum apa-apa sudah punya kasus perselingkuhan, entah kasus apa lagi yang akan beliau buat nanti, Sasa tak mau makin stress. Biarlah dia dianggap anak durhaka. Bukannya selama ini ia dibiarkan hidup sendiri juga.
Setelah keperluan di rumah sakit beres, Sasa minta diantar ke kontrakannya, hendak mengambil barang-barangnya. Sang mama tidak ada di rumah, biarlah. Motor yang bisa di rumah sana dibiarkan nanti dititipkan ke tetangga saja, kunci akan dititipkan ke pemilik kontrakan. Sasa hanya mengambil berkas penting saja, dan baju. Ia akan kembali ke kota, tak keberatan kehilangan uang yang tak sedikit demi renovasi rumah.
"Mari, Bu!" ucap sang perawat yang bertugas mendampingi Sasa hingga bertemu dokter Fandy. Pemilik kontrakan tentu saja menangis saat Sasa pamit, tak menyangka kalau mama Sasa membuat ulah sehingga Sasa tak mau hidup bersama sang mama lagi.
"Baik-baik di sana, sehat selalu," ucap pemilik kontrakan, orang lain saja masih mendoakan Sasa sehat. Ah memang kadang keluarga yang tak sedarah bisa setulus itu menyayangi Sasa.
eh kok g enak y manggil nya