Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Hujan deras mengguyur Singapura, mengubah gemerlap lampu kota menjadi bias warna-warni yang buram di balik jendela sebuah hotel tua di kawasan Little India. Ruangan itu sempit, hanya ada satu tempat tidur kayu yang berderit dan sebuah meja kecil tempat Risky sedang berkutat dengan laptopnya. Bau minyak kayu putih dan aroma kari dari kedai di bawah merayap masuk lewat celah ventilasi.
Almira duduk di lantai, bersandar pada dinding yang terasa dingin. Isak tangisnya sudah reda, namun matanya masih sembap. Di sudut lain, Debo dan Pak Baskoro telah terlelap karena kelelahan yang luar biasa, tidur bersandaran di atas karpet tipis.
Risky menghentikan ketikannya. Ia menoleh, menatap Almira yang tampak begitu rapuh di bawah temaram lampu bohlam kuning. Selama ini, ia melihat Almira sebagai gadis yang keras kepala, pejuang yang tak kenal takut. Namun malam ini, ia hanya melihat seorang anak yang baru saja kehilangan kepingan terakhir dari teka-teki ibunya dengan cara yang tragis.
Risky beranjak dari kursinya, berjalan mendekat, lalu duduk di samping Almira. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyodorkan sebuah botol air mineral yang baru dibuka.
"Minumlah. Kau bisa dehidrasi kalau terus menangis," suaranya rendah, lebih lembut dari biasanya.
Almira menerima botol itu, jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Risky. Sentuhan itu singkat, namun ada getaran aneh yang menjalar—sebuah kehangatan yang mendadak membuat dadanya yang sesak terasa sedikit lebih lapang.
"Terima kasih, Risky. Untuk semuanya," bisik Almira. Ia menatap botol itu, lalu beralih menatap wajah Risky yang penuh goresan luka kecil akibat ledakan di gudang tadi. "Kenapa kau masih di sini? Kau bisa saja pergi sejak awal. Kasus ayahku sudah selesai secara hukum. Kau tidak punya kewajiban untuk ikut dalam pelarian gila ini."
Risky terdiam sejenak, menatap bayangan mereka yang memanjang di lantai. Ia menghela napas, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding, tepat di samping kepala Almira.
"Awalnya, ini memang soal pekerjaan. Soal dendam pribadiku pada sistem," Risky berkata pelan, matanya menatap langit-langit. "Tapi kemudian, aku melihatmu. Aku melihat bagaimana kau berdiri di depan hakim, bagaimana kau tidak menyerah meski seluruh dunia memanggilmu anak kriminal. Aku sadar... aku tidak sedang membela seorang klien. Aku sedang membela seseorang yang tidak ingin kulihat hancur."
Almira menoleh, menemukan mata Risky yang kini juga sedang menatapnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Almira bisa mencium aroma samar kopi dan debu yang melekat di jaket pria itu. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan sesuatu yang penuh makna.
"Risky..."
"Almira, aku menghabiskan separuh hidupku untuk tidak peduli pada siapapun. Cinta itu variabel yang tidak logis dalam hukum," Risky tersenyum pahit, namun jemarinya perlahan meraih tangan Almira, menggenggamnya dengan ragu namun pasti. "Tapi bersamamu, logika itu berantakan. Saat gudang itu meledak tadi, pikiranku bukan pada hardisk itu. Pikiranku hanya satu: pastikan kau selamat. Bahkan jika aku harus tetap di dalam."
Air mata Almira kembali jatuh, namun kali ini bukan karena duka. Ia membalas genggaman tangan Risky, merasakan telapak tangan pria itu yang kasar namun memberikan rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Jangan pernah katakan itu lagi," bisik Almira. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku sendirian."
Risky tidak menjawab dengan kata-kata. Ia bergerak perlahan, tangannya yang bebas terangkat untuk mengusap air mata di pipi Almira dengan ibu jarinya. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Almira adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
Almira memejamkan mata, menikmati sentuhan itu. Di tengah badai konspirasi yang mengancam nyawa mereka, di tengah status mereka sebagai buronan, saat ini hanya ada mereka berdua. Dunia luar seolah berhenti di balik pintu kamar hotel itu.
Risky menarik Almira ke dalam pelukannya. Almira menyandarkan kepalanya di dada Risky, mendengar detak jantung pria itu yang berdegup kencang—sama kencangnya dengan miliknya. Di sana, di antara aroma hujan dan ketakutan, sebuah perasaan baru mulai berakar. Sebuah jawaban yang tidak mereka cari, namun mereka temukan di tengah kekacauan.
"Kita akan selesaikan ini, Al," bisik Risky di puncak kepala Almira. "Setelah semuanya berakhir, aku akan membawamu ke tempat di mana kau tidak perlu lagi berlari. Aku janji."
Almira mengangguk, mempererat pelukannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok saat mereka membuka isi hardisk itu, atau siapa lagi yang akan datang memburu mereka. Namun malam ini, untuk pertama kalinya sejak pendaratannya di Jakarta, Almira merasa ia benar-benar telah pulang.