NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34 - One More Step

Siang itu sama saja seperti siang kemarin. Tatapan-tatapan kembali mengarah padaku ketika aku melangkah masuk ke kantin. Bisik-bisik pun terdengar, samar tapi cukup jelas untuk disadari. Aku memilih tidak peduli.

Setelah memesan makanan, aku dan yang lain langsung duduk di meja langganan kami.

“Orang-orang masih liatin kamu, Li.” ucap Fera pelan.

“Biarin aja.” jawabku santai sambil membuka ponsel, menggulir media sosial seolah tak terjadi apa-apa.

Tak lama kemudian, Caca datang dan duduk tepat di depanku.

“Lia… berita itu bener?” tanyanya tanpa basa-basi. “Kamu berangkat kerja sama cowok pagi ini?”

Aku mengangguk.

“Siapa?” tanya Caca lagi.

Belum sempat aku menjawab, Arvin melintas bersama rekan-rekan R&D-nya. Aku refleks menoleh. Biasanya Arvin berjalan di belakang Caca, tapi kali ini tidak. Ia hanya melirik sekilas ke arahku, lalu terus melangkah—bahkan sambil berbicara, seolah aku tak ada.

“Eh… kok Arvin diem aja, ya? Nggak nyapa kita.” ucap Fera.

“Arvin emang akhir-akhir ini jadi pendiem,” kata Caca. “Kayaknya sejak sembuh dari kecelakaan.”

“Serius?” Fera menatap Caca.

Caca mengangguk. “Iya. Bahkan… setelah ngobrol sama Lia waktu itu.” Ia menatapku lurus. “Lia, sebenernya kalian ngomongin apa sih?”

Sekarang giliran Fera dan Riki ikut menatapku. Dadaku mendadak terasa sempit. Haruskah aku jujur? Bahwa Arvin menyatakan perasaannya padaku—dan aku menolaknya?

Tapi membuka itu rasanya sama saja membuka aib orang lain.

“Nggak ngobrolin apa-apa.” jawabku akhirnya. Bohong.

“Hei… jangan bohong, Li.” ucap Fera.

“Iya,” sambung Caca. “Cerita aja. Ada apa sebenernya? Jangan main rahasia-rahasiaan sama kita.”

“Bukan hal penting kok.” ucapku cepat.

“Lia…” Riki tiba-tiba angkat suara. “Jangan-jangan Arvin nembak kamu terus kamu tolak?”

Deg.

Aku langsung menatap Riki, terkejut.

Caca dan Fera ikut menatapku dengan ekspresi yang sama.

“Lia, itu bener?” tanya Fera.

Aku diam. Otakku kosong.

“Udah, Ra,” potong Caca akhirnya. “Mungkin bener kata Lia. Mereka emang nggak ngobrol hal penting.”

Aku menghela napas pelan.

“Kalau nggak penting, kenapa Arvin jadi kayak gitu?” Fera masih belum puas.

“Udah… jangan bahas itu lagi,” kataku, sedikit memaksa. “Aku dan Arvin bener-bener cuma ngobrol hal nggak penting. Mending bahas yang penting aja. Kerjaan, misalnya.”

“아 맞다! (Oh iya!)” seru Caca tiba-tiba.

Ia membuka ponselnya dan menyodorkan layar ke arah kami.

“Ini iklan Hoppa yang baru.”

“Eh?” aku mendekatkan diri. “Bukannya ini Kang Seo-won? Aktor pendatang baru yang lagi naik daun itu?”

Caca mengangguk bangga.

“Wah, hebat ya. Hoppa bisa bayar aktor Korea.” ucap Fera kagum.

“Bisa lah,” sahut Riki. “Hoppa kan perusahaan perjalanan dan penginapan terbesar di negara kita. Bayar satu aktor Korea mah kecil.”

Kami semua mengangguk setuju.

“Ca, kamu cuma mau nunjukkin ini?” tanyaku.

“Nggak.” Caca menatapku serius. “Sebenernya… gara-gara iklan ini aku kepikiran sesuatu. Gimana kalau perusahaan kita juga ngelakuin hal yang sama?”

“Maksud kamu… bayar aktor Korea buat jadi brand ambassador produk kita?” tanyaku.

Caca mengangguk mantap.

“Ca, nggak segampang itu,” kataku pelan. “Aktor Korea mana pun mungkin mau selama produknya cocok—pasar Indonesia buat Korea kan besar. Tapi apa Pak Henry dan yang lain bakal setuju? Belum lagi biayanya. Mahal.”

“Iya, aku setuju sama Lia.” tambah Fera.

Caca menoleh ke Riki.

“Kalau aku sih terserah,” kata Riki santai. “Yang penting orangnya nggak ribet dan nggak sombong.”

Aku menatap Caca. “Pasti kamu ngasih ide ini biar Kim Hyun-woo jadi BA-nya, terus kamu bisa ketemu dia, kan?”

Caca cuma tersenyum, tanpa membantah.

Aku menghela napas. “Aku juga pengen Kim Joon jadi BA produk kita dan bisa ketemu dia. Tapi kan nggak segampang itu. Lagian, siapalah kita. Kita cuma karyawan biasa.”

“Tapi kamu kan deket sama Pak Henry.” ucap Caca enteng.

Aku terkejut. Panik.

“Deket?” Fera menatapku bingung. “Maksudnya?”

Deg.

Selain Caca, tak ada yang tahu bahwa keluargaku dan keluarga Henry berteman. Bahwa aku mengenal Henry sejak kecil.

“Maksud Caca itu…” aku cepat-cepat menyela, “produk baru kemarin itu kan ideku. Jadi aku sering ketemu Pak Henry buat bahas kerjaan. Iya, kan, Ca?”

“Ah iya,” Caca mengangguk cepat. “Maksudku itu.”

“Oh…” Fera mengangguk. “Kirain kamu sama Pak Henry punya hubungan.”

Deg.

“Hahaha… nggak mungkin,” elakku cepat. “Mana mungkin Pak Henry suka sama cewek kayak aku.”

“Tapi Pak Henry baik banget sama kamu,” kata Fera. “Waktu di pabrik kamu kram haid, dia langsung khawatir dan nganterin kamu pulang. Iya, kan, Ki?”

Riki mengangguk.

“Wah, kalau gitu sih kayaknya Pak Henry suka sama kamu, Li.” timpal Caca.

“Caca! Jangan ikut-ikutan.” protesku.

“Aku cuma nyimpulin dari yang aku denger.” katanya santai.

“Apa yang didenger belum tentu kebenaran,” balasku. “Udah ah, jangan bahas aku dan Pak Henry lagi.”

“Ya udah,” kata Caca cepat. “Balik ke ideku. Nanti setelah makan, kita ke ruangan Pak Henry. Kita omongin langsung ke dia.”

“Kita?” aku menaikkan alis. “Kamu aja. Itu kan ide kamu.”

“Yah, Li…” Caca mendengus. “Temenin aku kenapa sih? Lagian kan kalian deket.”

“Stop bilang aku dan Pak Henry deket,” kataku, mulai kesal. “Kami nggak kayak gitu.”

“Iya deh, iya.” Caca mendekatkan kedua telapak tangannya, memohon. “Tapi temenin aku ke ruangan Pak Henry, ya? Please…”

Aku menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas.

“Iya.”

“Ye!!! 고마워, 우리 친구! (Makasih, temanku)” seru Caca senang.

Setelah selesai makan siang, aku dan Caca menuju ruangan Henry. Aku sendiri tak tahu apakah Henry akan setuju dengan ide Caca atau justru langsung menolaknya.

“Mas Dimas, Pak Henry ada di dalam? Kami mau bertemu beliau.” ucap Caca di depan pintu ruangan Henry.

“Ada. Tunggu sebentar.” jawab Dimas.

Ia mengetuk pintu, lalu masuk. Tak lama kemudian, Dimas keluar lagi.

“Silakan masuk, Mbak.”

“Makasih, Mas,” ucap Caca. Ia menoleh ke arahku. “Ayo, Li.”

Aku dan Caca masuk ke ruangan Henry lalu menutup pintu. Kami berdiri di depan meja kerjanya. Henry duduk di kursi, kedua tangannya menyilang di dada—postur yang langsung membuat suasana terasa serius.

“Ada apa kalian ke sini?” tanyanya.

“Ehm… itu…” Caca ragu-ragu.

Ia lalu menyolek lenganku, memberi isyarat agar aku yang bicara.

“Kenapa aku? Itu kan ide kamu.” bisikku.

Henry menaikkan alis. “Ada apa sih sebenarnya?”

Kami saling pandang beberapa detik, sampai akhirnya Henry angkat suara lagi.

“Lili, coba kamu yang bicara.”

Aku menghela napas sebelum membuka mulut.

“Begini, Pak. Hoppa merekrut aktor Korea untuk jadi brand ambassador mereka. Nah, Caca punya ide… gimana kalau perusahaan kita juga melakukan hal yang sama.”

Henry langsung menoleh ke arah Caca.

“Caca,” katanya datar. “Kamu pikir kamu siapa sampai bisa mengusulkan ide seperti itu? Kamu pikir murah menjadikan aktor luar negeri sebagai BA produk kita?”

“Maaf, Pak,” ucap Caca cepat sambil menunduk. “Saya hanya ingin produk kita lebih dikenal, Pak. Dengan memanfaatkan kepopuleran aktor Korea.”

“Memangnya siapa aktor Koreanya?” Henry menyipitkan mata. “Ah… jangan-jangan aktor yang waktu itu filmnya kita tonton.”

Caca langsung mengangkat wajahnya, terkejut.

“Kenapa diam?” tanya Henry. “Tebakan saya benar?”

Caca mengangguk pelan.

Henry menghela napas panjang.

“Caca, saya paham bagaimana rasanya jadi fans,” ucapnya akhirnya. “Dan saya juga pernah punya pemikiran seperti kamu. Tapi dunia bisnis tidak sesederhana itu. Kalaupun saya setuju, ada banyak hal yang harus kita pikirkan.”

“Maaf, Pak.” ucap Caca lagi, kali ini suaranya terdengar lebih kecil.

Henry lalu menatapku.

“Kalau menurut kamu bagaimana, Lili?”

“Eh? Saya?” Aku refleks menunjuk diriku sendiri.

Henry mengangguk.

“Kalau menurut saya,” kataku hati-hati, “ide Caca sebenarnya bagus, Pak. Pasar Indonesia untuk Korea memang sedang besar-besarnya. Tapi seperti yang Bapak bilang, kita tidak bisa menjamin produk kita langsung laku keras. Dan merekrut aktor luar sebagai BA jelas tidak murah. Kalau memang secara finansial perusahaan belum siap, lebih baik jangan dipaksakan.”

Henry tersenyum tipis.

“Jawaban yang masuk akal.”

Ia kembali menatap Caca. “Begini saja. Kamu buat proposalnya.”

Caca mendongak.

“Proposal lengkap. Siapa aktornya, seperti apa image-nya, cocok atau tidak dengan perusahaan kita, konsep iklannya, dan yang paling penting—perkiraan biaya. Saya tunggu sampai jam pulang nanti.”

“Apa?” Caca membelalak. “Sampai jam pulang nanti, Pak? Itu terlalu cepat. Saya bahkan belum tahu konsep iklannya seperti apa.”

“Kalau konsep kamu bagus dan disetujui banyak orang, proses selanjutnya akan lama,” jawab Henry tenang. “Jadi lebih baik kamu mulai dari sekarang.”

Caca terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pasrah.

“Baik, Pak. Akan saya buat sekarang dan saya serahkan sore nanti.”

“Bagus,” ucap Henry singkat. “Saya tunggu.”

Kami keluar dari ruangan itu dengan langkah yang jauh lebih berat dibanding saat masuk.

Begitu pintu tertutup, Caca langsung menghembuskan napas panjang.

“Li… aku kayak mau nangis.” gumamnya.

Aku menatapnya sekilas. “Kamu yang punya ide. Sekarang kamu juga yang harus tanggung jawab.”

Caca tertawa kecil, meski wajahnya masih tegang. “Iya, ya.”

Aku melirik kembali ke pintu ruangan Henry. Entah kenapa, ada perasaan bahwa ide yang terdengar mustahil itu—jika benar-benar dibawa ke meja rapat—akan mengubah banyak hal.

Termasuk hidupku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!