"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
"Selamat datang kembali dalam labirin emosi Hana dan Bima. Terkadang, melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan bentuk tertinggi dari menjaga harga diri. Di episode ini, kalian akan melihat bagaimana Bima berusaha memiskinkan wanita yang sedang mengandung anaknya, dan bagaimana Hana menjawabnya dengan sebuah kebisuan yang paling menyakitkan. Mari saksikan, siapa yang sebenarnya kehilangan segalanya."
.
.
Pagi itu, Desa Sukamaju diselimuti kabut tipis. Hana baru saja kembali dari pasar, pundaknya sedikit miring karena menjinjing nampan kosong yang kini hanya menyisakan beberapa butir remah kue. Meski lelah, ada kilau kemenangan kecil di matanya, hari ini semua kuenya ludes terjual lebih cepat.
Namun, ketenangan itu terusik saat ia melihat sebuah mobil sedan hitam mengkilap terparkir tepat di depan pagar kayu rumah neneknya.
Seorang pria bersetelan jas rapi dengan tas jinjing kulit berdiri di sana, tampak risih saat sepatunya yang mengkilap bersentuhan dengan tanah becek.
"Ibu Hana Anindita?" tanya pria itu saat Hana mendekat.
Hana berhenti, ia mengeratkan pegangan pada nampannya. "Iya, saya sendiri. Ada perlu apa?"
"Saya Baskoro, kuasa hukum Bapak Bima Erlangga. Saya di sini untuk menyampaikan dokumen terkait gugatan cerai dan kesepakatan pembagian harta," ucap pria itu dengan nada formal yang kaku.
Hana terdiam sejenak. Dia berfikir sejenak, bagaimana Bima bisa tahu tempatnya tinggal? Jantung Hana berdenyut nyeri, namun ia segera menekan rasa itu dalam-dalam. "Silakan masuk, Pak. Tapi maaf, rumah saya tidak senyaman kantor Anda."
Mereka duduk di ruang tamu yang hanya beralaskan tikar pandan yang bersih. Baskoro mengeluarkan tumpukan kertas dari tasnya, meletakkannya di atas meja kayu kecil yang bergoyang.
"Begini, Ibu Hana. Klien saya, Bapak Bima, ingin proses ini berjalan cepat. Beliau sudah menyusun poin-poin kesepakatan. Intinya, Bapak Bima bersedia memberikan tunjangan hidup selama masa iddah, namun beliau secara tegas menolak adanya pembagian harta gono-gini atas aset-aset yang dibeli selama pernikahan, termasuk apartemen dan mobil, karena dianggap berasal dari modal usaha keluarga Erlangga sebelum pernikahan terjadi."
Baskoro menatap Hana, menunggu reaksi. Berdasarkan pengalamannya menangani kasus perceraian orang kaya, biasanya pihak istri akan berteriak, menangis, atau mengancam akan menuntut setengah dari harta kekayaan. Apalagi Hana sedang hamil tua, posisi tawarnya seharusnya kuat untuk meminta nafkah anak dalam jumlah fantastis.
"Klien saya juga menegaskan bahwa Ibu tidak berhak menuntut bagian dari saham perusahaan atau aset likuid lainnya," tambah Baskoro lagi, suaranya sedikit lebih tajam, seolah sedang menggertak.
Hana mendengarkan dengan saksama. Setiap kata yang keluar dari mulut pengacara itu terasa seperti paku yang dipukul masuk ke peti mati cintanya untuk Bima.
Bima benar-benar ingin memastikannya jatuh miskin. Bima ingin memastikan bahwa tanpa dirinya, Hana benar-benar tidak akan memiliki apa-apa.
"Mana suratnya?" tanya Hana pendek.
"Maaf?" Baskoro mengerutkan kening.
"Surat yang harus saya tanda tangani agar proses ini selesai hari ini juga. Berikan padaku."
Baskoro tertegun. Ia menyerahkan sebuah dokumen tebal dan sebuah pena mahal ke arah Hana. "Anda tidak ingin membacanya dulu? Atau mungkin ingin berkonsultasi dengan pengacara Anda? Di sini disebutkan Ibu melepaskan hak atas semua tuntutan materi di masa depan."
Hana mengambil pena itu. Jarinya yang kasar karena terlalu banyak mencuci perabot dapur tampak kontras dengan pena emas milik Baskoro. Tanpa ragu, ia membalik lembar demi lembar, mencari kolom bertanda materai.
Sret ... Sret ... Sret ...
Hana membubuhkan tanda tangannya di atas materai dengan gerakan yang sangat mantap. Tidak ada tangan yang bergetar. Tidak ada air mata yang membasahi kertas itu.
"Ibu... Anda sadar apa yang baru saja Anda tanda tangani?" Baskoro bertanya, ia benar-benar terheran-heran. "Anda berhak mendapatkan lebih dari ini. Secara hukum, Anda bisa menuntut nafkah anak yang sangat besar setiap bulannya."
Hana mendongak, menatap Baskoro dengan tatapan yang membuat pria itu merasa kerdil. "Katakan pada klien Anda, Pak Baskoro. Saya menandatangani ini bukan karena saya setuju dengan ketamakannya. Saya menandatangani ini karena saya tidak ingin ada satu sen pun uangnya yang masuk ke dalam darah daging saya."
Hana berdiri, mengisyaratkan bahwa pertemuan itu selesai. "Bima Erlangga mungkin merasa menang karena bisa menyimpan hartanya. Tapi beri tahu dia, dengan tanda tangan ini, dia baru saja kehilangan haknya untuk disebut sebagai ayah. Dia sudah membeli kebebasannya dengan uang, maka silakan nikmati kebebasan itu di atas tumpukan hartanya."
Baskoro terdiam. Ia membereskan dokumennya dengan cepat. Selama bertahun-tahun menjadi pengacara, ia baru kali ini melihat seorang wanita yang diusir dalam keadaan hamil, namun memiliki martabat setinggi gunung.
"Saya akan sampaikan pesan Anda, Bu Hana," ucap Baskoro pelan, kali ini dengan nada yang lebih hormat.
.
Beberapa jam kemudian, di Jakarta, Baskoro masuk ke ruangan kerja Bima. Di sana sudah ada Bima dan Clarissa yang sedang duduk santai sambil menyesap kopi mahal.
"Bagaimana? Dia pasti mengamuk kan? Dia minta berapa? Satu miliar? Dua miliar?" Bima bertanya dengan nada meremehkan, sudah siap untuk menolak segala bentuk negosiasi.
Baskoro meletakkan dokumen itu di atas meja. "Ibu Hana sudah menandatangani semuanya, Pak Bima. Tanpa bantahan sedikit pun."
Senyum di wajah Bima memudar. "Apa maksudmu tanpa bantahan? Dia tidak minta bagian apartemen? Atau tunjangan bulanan?"
"Tidak sama sekali," jawab Baskoro. "Beliau bahkan tidak membaca bagian rincian asetnya secara detail. Beliau hanya ingin semua ini cepat selesai."
Clarissa tertawa renyah. "Mungkin dia sadar diri kalau dia tidak akan menang melawanmu, Sayang. Baguslah kalau dia tidak merepotkan."
Namun, Bima tidak tertawa. Ia meraih dokumen itu, melihat tanda tangan Hana yang tegas. Ada rasa tidak puas yang mendesak di dadanya.
Harusnya Hana memohon. Harusnya Hana meneleponnya dan menangis, mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa uang Bima.
Reaksi Hana yang diam dan melepaskan semuanya justru membuat Bima merasa kalah. Seolah-olah semua kekayaannya yang ia banggakan itu sama sekali tidak bernilai di mata Hana.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Bima, suaranya sedikit parau.
Baskoro ragu sejenak, lalu menyampaikan kalimat Hana. "Beliau bilang... Beliau tidak ingin satu sen pun uang Anda masuk ke darah dagingnya. Beliau bilang, Bapak sudah membeli kebebasan Bapak dengan uang, maka silakan nikmati itu sendirian."
Prang ...
Bima menyenggol cangkir kopinya hingga tumpah membasahi dokumen di atas meja. Clarissa terpekik kaget, namun Bima hanya diam dengan rahang yang mengeras.
Kalimat itu... kata-kata Hana terasa seperti tamparan keras di tengah wajahnya. Bima merasa seperti seorang penjahat yang sedang dihukum dengan cara yang paling halus.
"Dia hanya berakting sombong!" teriak Bima tiba-tiba, membuat Clarissa tersentak. "Lihat saja, saat bayinya lahir dan dia butuh biaya rumah sakit, dia akan mengemis padaku! Kita lihat saja sampai kapan dia bisa bertahan dengan harga dirinya yang tidak laku dijual itu!"
Bima mencoba tertawa, namun suaranya terdengar kosong. Ia kembali menatap tanda tangan Hana. Di balik tanda tangan itu, ia seolah melihat Hana yang sedang melangkah menjauh, masuk ke dalam kabut yang tidak bisa ia jangkau lagi.
...
Di desa, Hana duduk di teras rumahnya, menatap matahari yang mulai tenggelam. Perutnya kembali menendang. Kali ini, Hana tersenyum.
"Kita sudah bebas, Nak. Hanya ada Ibu dan kamu sekarang," bisiknya.
Ia tidak tahu, bahwa di balik tanda tangan itu, sebuah badai besar sedang bersiap menerjang hidup Bima di Jakarta. Karena terkadang, doa orang yang terzalimi adalah senjata yang paling mematikan.
Apakah Bima akan tetap tenang saat menyadari bahwa Clarissa mulai menguras hartanya lebih cepat daripada yang ia bayangkan? Dan bagaimana Hana mempersiapkan persalinannya yang semakin dekat tanpa biaya sedikit pun dari Bima?
Ikuti terus drama yang semakin menegangkan ini!
...----------------...
To Be Continue....