NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 BERAT YANG BERBEDA

Tiga hari berlalu tanpa insiden politik. Bukan karena fraksi-fraksi berhenti bergerak, melainkan karena mereka sedang mengamati. Chen Long merasakannya setiap kali melangkah keluar penginapan kini mata-mata yang tidak lagi tersembunyi rapat, penjaga yang sengaja memberi jarak, undangan-undangan kecil dengan pola yang terlalu teratur. Mereka ingin melihat: apakah kekuatan baru yang terbuka semalam itu stabil, atau hanya kilatan sementara sebelum kehancuran?

Ia tidak memberi mereka jawaban dengan kata-kata, melainkan dengan latihan.

Pagi keempat, Chen Long meminta batu besar dari dasar sungai ke pengurus penginapan,tidak terlalu berat untuk orang dewasa, namun cukup menekan tubuh anak berusia enam belas tahun. Pengurus mengernyit namun mengirimkan yang diminta. Batu itu datang dengan bekas air sungai yang masih menempel, licin di beberapa bagian, kasar di bagian lain. Tidak sempurna. Tidak teratur. Chen Long mengangguk puas. Inilah yang ia butuhkan.

Di halaman belakang yang dikelilingi dinding tinggi, Chen Long meletakkan batu itu di tengah. Permukaan batu tidak rata yang satu sisi lebih tinggi, sisi lain miring. Ia melepas alas kakinya, merasakan dingin batu langsung di telapak kaki. Lalu ia berdiri di atasnya dengan satu kaki, lengan terentang ke samping, tubuh tegak namun tidak kaku.

Batu itu dingin, kasar, tidak stabil. Tidak seperti lantai latihan di Benteng Utara yang datar dan terukur. Ini lebih berat, bukan karena massa, melainkan karena ketidakpastian. Setiap detik, batu bisa bergeser. Setiap napas, keseimbangan bisa hilang.

Ia menarik napas dalam. Dua arus di tubuhnya berputar pelan beriringan Yin dari batu giok hitam di saku kanan, Yang dari tulang belakang bagian bawah. Arus Yin dingin dan tenang, seolah air sungai di bawah es. Arus Yang hangat dan dalam, seolah bara yang tertidur. Mereka berputar berlawanan arah, namun tidak pernah bertemu.

Satu jam berlalu.

Otot kaki kanannya mulai gemetar. Bukan kelelahan melainkan ketegangan konstan untuk menahan stabilitas. Di Benteng Utara, ayahnya mengajarkannya berdiri di atas batu selama berjam-jam sampai kaki mati rasa, sampai pikiran kosong, sampai tubuh belajar berdiri tanpa berpikir. Namun kali ini berbeda. Dengan dua arus berputar di dalamnya, setiap ketegangan otot bukan lagi sekadar ketegangan fisik, melainkan resonansi.

Ketika kakinya gemetar, arus Yang melonjak sedikit tidak banyak, hanya cukup untuk menstabilkan otot yang goyah. Ketika batu bergeser di bawah telapak kaki dan ia mulai kehilangan keseimbangan, arus Yin merayap ke titik tekanan, membekukan sedikit agar gesekan meningkat, membuat kaki menempel kuat. Bukan sengaja. Melainkan respons alami dari tubuhnya kini memiliki "kehendak" sendiri untuk menyeimbangkan, seolah dua arus itu adalah dua teman yang saling membantu tanpa perlu diperintah.

Keringat mulai mengalir di pelipis. Chen Long tidak menyeka. Tangannya tetap terentang, matanya setengah terpejam, fokusnya pada pusat tubuh yang berada di antara pusat dada dan pusar, tempat dua arus berputar paling kencang. Di sana, ada titik yang belum ia kenali sebelumnya. Bukan nadi...ia belum membuka nadi. Bukan dantian...ia belum membentuk dantian. Melainkan sesuatu yang lebih mentah, lebih dasar. Seolah pusaran air kecil yang terus berputar, mengumpulkan energi dari sekelilingnya tanpa pernah menyimpannya, hanya mengalirkannya.

Sore hari, Chen Long menambahkan beban.

Batu kedua, lebih kecil, berbentuk lonjong, ia letakkan di bahu kirinya. Bukan untuk mengangkat, melainkan untuk menahan agar tidak jatuh. Kini ia berdiri satu kaki di atas batu besar yang tidak stabil, menyeimbangkan batu kecil di bahu yang juga tidak stabil, dengan satu tangan terentang ke samping dan tangan kanan menahan batu giok hitam di depan dada.

Bentuknya aneh. Tidak seperti silat yang anggun. Tidak seperti formasi yang terstruktur. Namun di mata yang bisa membaca resonansi, posisi itu sempurna. Yin di kaki kanan dengan titik kontak dengan batu dingin dari dasar sungai. Yang di bahu kiri memiliki titik kontak dengan beban hangat dari tangan yang memegang batu giok. Dan di antara mereka, tulang belakangnya menjadi poros, berputar lambat namun terus-menerus, seolah tiang yang menahan langit-langit dan lantai bersamaan.

Dua jam berlalu.

Keringat mengalir deras di punggungnya, membasahi pakaian latihan. Bukan karena lelah fisik karena tubuhnya sudah terbiasa dengan beban lebih berat di Benteng Utara. Melainkan karena konsentrasi. Menjaga dua arus agar tidak bertabrakan membutuhkan perhatian yang tidak pernah ia butuhkan sebelumnya. Setiap kali pikirannya melayar, arus Yang ingin melonjak lebih kencang. Setiap kali ia merasa nyaman, arus Yin ingin membeku dan berhenti. Ia harus tetap "hadir", di tengah, tidak memihak.

Namun juga memberi kepuasan yang berbeda. Setiap detik ia berhasil menahan, sesuatu di dalamnya menjadi lebih padat. Bukan otot—ototnya tetap sama. Bukan tulang—tulangnya tidak berubah. Melainkan fondasi. Seolah setiap denyut dua arus yang berputar tanpa bertemu, menekan sesuatu di inti tubuhnya, memadatkannya, mengkristal nya menjadi bentuk yang belum pernah ada.

Di sore hari ketiga, sesuatu berubah.

Chen Long sedang dalam posisi berdiri dengan satu kaki, batu di bahu, batu giok di tangan dan ketika angin sore bertiup. Bukan angin kencang, hanya hembusan biasa. Namun cukup untuk menggoyahkan batu di bahunya. Secara naluri, tangan kirinya ingin bergerak menahan. Namun ia menahan dorongan itu. Ia membiarkan batu itu bergoyang, hampir jatuh.

Tubuhnya bergerak sendiri.

Bukan tangan yang menahan.

Melainkan seluruh tubuh yang bergeser, memindahkan pusat gravitasi, mengikuti goyangan batu, seolah ia dan batu itu menjadi satu sistem. Batu tidak jatuh. Tubuhnya tidak goyah. Dua arus di dalamnya berputar sekali dengan kecepatan berbeda.Yang melonjak sejenak, Yin menekan, lalu kembali stabil.

Chen Long membuka mata.

Ia merasakannya. Bukan dengan pikiran. Melainkan dengan tubuh. Saat ini, dalam posisi yang tidak mungkin ini, ia telah menyentuh sesuatu yang ayahnya tidak bisa ajarkan. Sesuatu yang tidak ada di kitab apa pun. Keseimbangan yang bukan dari kekuatan otot, melainkan dari… harmoni dua kekuatan berlawanan.

Ia menurunkan beban perlahan. Batu kecil dari bahu, diletakkan di tanah. Kaki kanan dari batu besar, menapak di tanah dingin. Ia berdiri diam sejenak, merasakan aliran darah yang berbeda tidak lagi terburu-buru, melainkan mengalir dengan berat yang baru, seolah setiap tetes darah kini membawa "berat" yang bisa ditempatkan di mana pun ia mau.

Malam kedua, setelah ia selesai membersihkan diri, Yin Sunxin datang ke halaman belakang.

Ia berdiri di ambang pintu dengan pakaian latihan sederhana berwarna putih pucat—kain longgar tanpa hiasan, rambut terikat rendah di leher, tanpa mahkota atau simbol kekaisaran. Di tangan kirinya, ia membawa sesuatu yang dibungkus kain hitam. Namun yang menarik perhatian Chen Long adalah auranya—Yin murni yang biasanya ditahan rapat, kini terasa lebih… terbuka. Bukan lemah. Melainkan santai, seolah ia berada di tempat yang aman.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!