Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Luka dan Logika
Pagi ini, Aira berangkat dengan mata yang sedikit sembab dan plester kecil yang melilit ujung jarinya. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak; setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar suara kaca pecah yang menghantui pikirannya.
Ia sudah memantapkan hati. Hari ini, ia akan mengembalikan pulpen itu, menyelesaikan tugas lab secepat mungkin, dan meminta Kara untuk tidak lagi mengiriminya pesan singkat. Ia harus kembali menjadi "Kasya si gadis bayangan". Itu adalah satu-satunya cara agar Kara tetap aman di singgasana mataharinya.
Namun, rencana Aira buyar saat ia baru saja menginjakkan kaki di koridor kelas XI.
"Aira!"
Suara itu tidak berasal dari kejauhan, melainkan tepat di samping pintu kelasnya. Kara berdiri di sana, menyandar ke tembok dengan tangan masuk ke saku celana. Dia tidak memakai jaket meski udara pagi masih sisa hujan semalam. Alih-alih terlihat mengantuk, wajahnya justru segar, seolah kegelapan semalam tidak memberi pengaruh apa-apa padanya.
Aira mencoba membuang muka dan terus berjalan masuk. Namun, sebuah tangan menahan tas ranselnya dari belakang, membuat langkah Aira terhenti secara otomatis.
"Pagi punyamu kok mendung terus?" tanya Kara. Ia berjalan memutari Aira, lalu berhenti tepat di depannya.
"Lepas, Kara. Aku mau masuk," ujar Aira datar.
Kara tidak melepas tatapannya. Matanya yang tajam langsung menangkap plester di jari Aira. Tanpa permisi, ia meraih tangan Aira dan mengangkatnya sedikit. "Kenapa ini? Semalam ada perang di rumahmu?"
Aira segera menarik tangannya kembali. "Cuma kena kertas. Bukan urusanmu."
"Kena kertas nggak akan bikin matamu bengkak begitu, Aira," sahut Kara. Suaranya merendah, kehilangan nada bercanda yang biasanya ada. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Bukan pulpen, melainkan sebuah botol kecil susu jeruk hangat yang masih mengeluarkan uap tipis di dinding botolnya.
Ia menempelkan botol hangat itu ke pipi Aira yang dingin.
"Eh! Apa-apaan sih?" Aira tersentak mundur, tangannya spontan memegang pipinya yang baru saja terkena hangat botol itu.
"Itu buat kompres matamu, sekaligus buat sarapan. Aku tahu kamu tipe orang yang kalau sedih lupa makan," Kara memberikan botol itu ke tangan Aira. "Dan soal pesan semalam... kenapa nggak dibalas? Aku nungguin sampai jam satu pagi tahu."
Aira menatap botol susu di tangannya, lalu menatap Kara dengan tatapan nanar. "Kenapa kamu begini, Kara? Kenapa kamu peduli sama orang yang bahkan nggak ingin dipedulikan?"
Kara menegakkan tubuhnya. Ia menatap Aira dengan keberanian yang hampir membuat Aira merasa silau. "Karena aku benci ketidakteraturan, Aira. Dan melihat kamu sedih sendirian itu... sangat tidak teratur bagi pemandanganku. Itu mengganggu disiplinku."
"Cukup, Kara. Tolong," Aira merendahkan suaranya, hampir memohon. "Jangan dekat-dekat aku. Kamu nggak tahu apa-apa soal rumah itu. Kamu nggak tahu soal kaca yang pecah, soal tanda-tanda..."
"Soal mitos?" potong Kara cepat. Ia tersenyum, tapi kali ini senyumnya terasa lebih pahit. "Aku sudah bilang, kan? Aku ini Matahari. Tugasku adalah menerangi, bukan ikut-ikutan takut pada bayangan. Kaca pecah itu karena pemuaian suhu atau karena bingkainya sudah tua, Aira. Itu logika. Jangan biarkan mitos membunuh logikamu."
Aira menggeleng kuat. Kara terlalu rasional, terlalu bersih dari noda-noda takdir yang gelap. Kara tidak akan paham rasanya menjadi penyebab hilangnya nyawa orang-orang tersayang.
"Nanti sore, jam empat di lab. Jangan telat, dan pastikan susu itu habis," Kara menepuk pundak Aira pelan—kali ini lebih lama dari kemarin—lalu ia berbalik menuju kelasnya sendiri di ujung koridor.
Aira berdiri terpaku di depan pintu kelasnya. Botol susu di tangannya masih terasa hangat. Hangat yang sangat nyata. Ia melihat punggung Kara yang menjauh, menyatu dengan kerumunan siswa lain yang mulai berdatangan.
Di dalam kelas, Rini sudah menunggunya dengan mata berbinar-binar penuh gosip. Tapi Aira tidak mendengar apa pun. Pikirannya tertuju pada satu hal: Hadis tentang Ain.
Ia teringat sebuah kalimat yang pernah ia baca di buku agama milik Bapaknya: "Andai ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, maka Ain-lah yang melakukannya."
Aira menunduk, menatap plester di jarinya. "Kalau kamu terus-terusan datang, Kara... aku takut pandangan mataku yang mengagumimu akan berubah jadi belati yang menusukmu pelan-pelan."
Sore itu, di laboratorium, Aira memutuskan untuk melakukan sesuatu yang drastis. Ia akan menunjukkan pada Kara "sisi gelap" samudera yang sebenarnya, agar sang Matahari itu memilih untuk terbit di tempat lain.
**
Pukul empat sore. Laboratorium biologi terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Aira saja. Aroma formalin dan debu seolah menjadi pelindung yang ia gunakan untuk membentengi diri.
Aira sedang menghitung tumpukan cawan petri ketika langkah sepatu yang teratur itu terdengar. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu itu Kara. Sang Matahari itu datang tepat waktu, sesuai dengan kedisiplinannya yang menyebalkan.
"Susu jeruknya habis?" Suara Kara memecah kesunyian.
Aira tidak menjawab. Ia terus mencatat tanpa menoleh. Kara berjalan mendekat, meletakkan tasnya di kursi panjang, lalu berdiri di samping Aira. Ia memperhatikan jari Aira yang terbungkus plester.
"Kenapa diam saja? Masih marah soal tadi pagi?" Kara mencoba meraih salah satu cawan petri untuk membantu, tapi Aira dengan kasar menarik nampan itu menjauh.
BRAK!
Bunyi nampan besi yang menghantam meja laboratorium itu bergema keras. Aira mendongak, matanya menatap Kara dengan tatapan yang tajam dan dingin—sebuah tatapan yang biasanya sanggup membuat orang lain langsung mundur teratur.
"Bisa tidak, kamu berhenti berlagak jadi pahlawan?" suara Aira rendah, namun bergetar karena emosi.
Kara tertegun sejenak. Ia menurunkan tangannya, namun matanya tidak beralih dari wajah Aira. "Aku cuma mau bantu, Aira. Apa itu salah?"
"Salah! Karena kamu tidak tahu apa-apa!" Aira melangkah maju, memaksa Kara mundur satu langkah. "Kamu itu Abyasa Raditya Bagaskara. Kamu matahari. Kamu punya keluarga yang lengkap, kamu punya masa depan yang cerah, kamu punya semua orang yang memujimu. Kamu itu... silau, Kara."
Kara mengernyitkan dahi. "Apa hubungannya dengan bantuanku?"
"Hubungannya adalah, aku tidak butuh disinari!" Aira menunjuk ke arah jendela yang mulai menunjukkan semburat jingga. "Kamu tahu kenapa samudera itu gelap? Karena dia memang tidak ingin ada cahaya yang masuk ke sana. Semakin dalam kamu masuk, kamu cuma akan mati kedinginan atau hancur karena tekanan. Dan aku... aku adalah tekanan itu."
Aira mengambil botol susu yang sudah kosong dari tasnya dan meletakkannya dengan keras di meja.
"Jangan pernah bawakan aku apa pun lagi. Jangan kirim pesan lagi. Dan berhenti memanggilku Aira. Aku bukan Aira bagi kamu. Aku hanya Kasya, asisten lab yang harus kamu kerjakan inventarisnya. Selesai."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Kara terdiam. Untuk pertama kalinya, disiplin dan ketenangan di wajah laki-laki itu goyah. Ada gurat luka yang melintas di matanya, meski hanya sekejap, sebelum akhirnya ia kembali memasang wajah datar yang tegak.
"Begitu?" suara Kara terdengar lebih berat dari biasanya.
"Iya. Pergi, Kara. Cari orang lain yang butuh sinarmu. Jangan buang-buang energi di tempat sampah seperti aku."
Kara menatap Aira lama sekali. Aira mencoba bertahan, mencoba tidak memalingkan wajah meski dadanya sesak dan air mata mulai mendesak keluar. Ia harus melakukan ini. Ia harus menyakiti Kara sekarang, sebelum takdir menyakiti laki-laki itu lebih parah nanti.
"Oke," ujar Kara pendek. Ia mengambil papan klipnya, mencatat beberapa angka inventaris dengan gerakan yang sangat kaku, lalu meletakkannya di meja. "Kalau itu yang kamu mau, Kasya. Aku akan profesional sebagai Ketua OSIS."
Kara berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun, tepat sebelum ia keluar, ia berhenti tanpa menoleh.
"Tapi kamu harus tahu satu hal," ujar Kara pelan. "Matahari tidak bersinar karena dia ingin dipuji. Dia bersinar karena itu adalah takdirnya. Dan samudera... sedalam apa pun dia menyembunyikan diri, dia tetap akan memantulkan cahaya bulan di malam hari. Kamu tidak bisa benar-benar sendirian, sekeras apa pun kamu mencoba."
Pintu laboratorium tertutup dengan bunyi berdebam pelan.
Aira luruh. Ia jatuh terduduk di lantai lab yang dingin, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Isaknya pecah di antara toples-toples kaca dan alat-alat mati.
"Maaf, Kara... maaf..." bisiknya parau.
Ia merasa hatinya hancur, namun ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa lega. Dia aman sekarang, pikir Aira. Matahari itu sudah menjauh dari samuderanya yang mematikan.
Namun, Aira tidak tahu bahwa Kara tidak benar-benar pergi. Di balik pintu laboratorium yang tertutup, Kara berdiri bersandar pada tembok, menatap tangannya yang tadi ingin sekali mengusap air mata Aira. Kara mengatur napasnya, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tak beraturan.
Bagi Abyasa yang disiplin, tantangan adalah perintah. Dan Aira baru saja memberinya tantangan terbesar dalam hidupnya.
***
KACAW nih Aira 🥲
Satu kata untuk Aira?
Satu kata untuk Abyasa?
Satu kata untuk pak Mulyono?
Satu kata untuk Mbok Darmi?
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰