Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tua Bangka
Tubuh Kiki yang sudah tak berbentuk segera di bereskan oleh semua anggota Zurra yang datang bersama Zurra. Sedangkan Zurra sudah menarik Valen pergi kembali ke mobil miliknya dan mengobati luka milik Valen dengan wajah yang datar dan dingin.
Tapi Valen tahu jika Zurra menahan perasaannya yang khawatir kepadanya karena biar bagaimanapun Zurra adalah seorang ibu juga.
Hati ibu mana yang tak khawatir saat melihat putri sulungnya selalu terlibat dengan berbagai masalah dan bahaya. Entah karena musuhnya atau orang yang tak suka dengan Valen sendiri.
Tangan Valen terangkat menyentuh pipi Zurra, dan dari kejauhan datanglah Altezza serta yang lainnya yang datang dengan wajah cemas mereka tapi mereka terdiam di tempatnya melihat apa yang di lakukan Valen dan Zurra saat ini.
"Mami, ini luka kecil, mami nggak perlu khawatir. Bukannya anak anak mami dan papi harus selalu terbiasa dengan keadaan seperti ini. Hanya saja, maafkan aku mami kalau hari ini aku bikin khawatir karena aku belum bisa berhati hati," ucap Valen sambil tersenyum ke arah Zurra untuk menenangkan sang mami.
Zurra mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia mengusap kepala Valen dengan gemas.
"Anak nakal, jangan bikin mami khawatir. Dan lihatlah ini, kamu membiarkan mereka melukaimu," tegur Zurra pada Valen.
Valen mengangkat kedua bahunya, "Lagian aku udah balas mereka juga mam, jadi bukannya sudah setimpal? Lebih baik kita segera pergi dari sini karena Ale sudah memasang peledak yang sudah terhitung mundur sejak tadi," ucap Valen santai.
"Appaaaa?"
Semua orang berteriak secara bersamaan dan Valen yang telinganya langsung berdengung langsung menutup kedua telinganya.
"Astaga telinga gue!" gerutu Valen kesal.
Valen berdiri dari duduknya dan berjalan santai melewati semua orang termasuk Dean yang masih syock mendengar perkataan Valen.
Tak lama terdengar ledakan kembali di sana yang membuat semua orang kalang kabut pergi menyusul Valen yang ternyata sudah menunggu dengan santai di dekat mobil sang mami.
Duarrrrrr.....
Dan tepat saat semua orang sudah ada di luar, berbarengan dengan itu kembali terdengar ledakan yang beruntun dan membuat bangunan yang tadi kokoh hancur lebur dan berantakan. Bahkan sang jago merah sudah menyala besar di depan mereka.
"Ale gila banget, kenapa bisa dia bikin peledak yang malah dia bisa kendalikan dari jarak jauh gitu." Keluh Dean pada Valen.
Valen mengetuk dagunya untuk mengingat kenapa Ale bisa menciptakan peledak seperti itu dan akhirnya dia ingat kenapa Ale menciptakan itu.
"Kalau nggak salah itu ada di anting berlian Arlo yang udah di modikasi sama Ale. Dulu Ale bilang katanya biar Arlo nggak main main sama dia, nggak nakal di luar sana jadi dia bikin itu peledak otomatis yang di kendalikan Ale dari jarak jauh," ucap Valen dengan wajah polosnya.
Glek....
Arlo menelan ludahnya kasar, dia membayangkan anting yang di maksud oleh Valen dan membuatnya bergidik ngeri. Dia mengingat ketika Ale memaksanya memakai anting yang dia beli. Anting itu memang anting berlian yang langka tapi lebih berbahaya apa yang menjadi isinya dari pada berliannya yang harganya fantastis.
Zurra yang mendengar itu hanya terkekeh geli di tambah dia melihat wajah Arlo yang sudah pucat pasi seperti Zombie.
"Ternyata Ale emang cinta mati sama Arlo," celetuk Zurra sambil menggoda Arlo
Arlo hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal tapi juga merasa ngeri membayangkan jika nanti Ale memberinya barang dan ternyata ada peledaknya seperti antingnya saat ini.
Pukk...
Dean menepuk pelan pundak Arlo dan mengedipkan matanya untuk menggoda Arlo. Tapi kemudian Dean pun berpikir bagaimana jika Valen juga melakukan hal yang sama kepadanya nanti. Dia pun melirik Valen yang ternyata juga menatapnya aneh.
"Sayang, kamu nggak gitu 'kan? Nggak pasang aneh aneh 'kan buat aku?" tanya Dean sedikit takut.
Para orang tua yang ada di sana melongo melihat wajah takut Dean dan Arlo. Mereka saling lirik dan kemudian bergantian menatap Zurra serta Valen yang ada di sana.
"Altezz, anak anak lo lebih ngeri dari Zurra ternyata. Bisa bisanya mereka bikin pasangan mereka mati kutu. Mainnya bukan lagi senjata biasa tapi langsung meledak sampai berkeping keping. Kenapa bisa mereka berdua punya pikiran kayak gitu? Emang beneran gila lebih dari Zurra." bisik Ziko pada Altezza.
Altezza juga masih syok dengan apa yang di lakukan anak anaknya pada Dean dan Arlo tapi kemudian dia malah tersenyum senang karena dengan begitu Dean dan Arlo tak berani macam macam di belakang anak anaknya.
"Gue nggak tahu harus senang atau sedih dan kaget tapi gue sendiri juga baru tahu kalau kemampuan anak anak gue sudah sampai sejauh itu. Kalian pernah mikir nggak bikin alat peledak yang di masukkan ke sebuah anting yang kecil banget dan itu dari berlian yang bener bener langka? Gue yang biasa bikin senjata nggak ada pikiran sampai ke sana." ucap Altezza menatap kagum pada anak sulungnya itu.
Mahessa dan yang lainnya membenarkan apa yang di katakan Altezza soal si twins V yang bisa berpikir sampai sejauh itu.
"Papi mami, kita pergi sekarang sebelum buruan ku dan Ale kabur. Ale sudah perjalanan kesana barengan kak Gerald dan juga Keiko," ucap Valen menginterupsi pikiran para orang tua yang ada di sana.
"Maksud kamu dalangnya semua ini siapa?" tanya Zurra bingung.
"Kembaran Pablo, ayah kandung Kiki!" jawab Valen tenang.
"Apa? Kamu yakin Val?" tanya Zurra kaget.
"Hemmm..."
Valen mengangguk dan dia berjalan ke dalam mobil milik Dean di ikuti oleh Dean yang akan mengemudi dengan cepat.
Zurra serta yang lainnya segera mengikuti kemana tujuan Valen saat ini.
*
Di sisi lain, Ale, Gerald dan Keiko sudah sampai di pinggiran hutan yang mereka temukan sebagai tempat persembuyian kembaran Pablo saat ini.
Mereka bertiga masih mengamati sekelilingnya dan juga melihat situasi yang ada di sana.
"Al, ini dia sembunyi di dalam hutan? Apa ini nggak terjamah manusia?" tanya Keiko asal.
Dia menatap ngeri ke arah hutan yang ada di depannya. Dan terlihat hanya terdapat pepohonan yang tinggi di depannya.
"Hemm, saat gue selidiki titik yang gue temukan di sini. Mungkin bukan di dalamnya tapi hanya di sekitar sini saja. Karena kalau memang di dalam bukannya signalnya akan sulit ya?" tanya Ale balik.
Gerald dan Keiko mengangguk setuju dan tak lama terdengar suara banyak mobil mendekat dan mereka tahu jika itu Valen serta yang lainnya.
Dan benar saja saat mobil itu berhenti, Valen yang lebih dahulu keluar dari dalam mobil dan menghampiri kembarannya.
"Gimana Al?" tanya Valen sambil ikut melihat hutan yang ada di depannya.
"Ehm gimana kalau nyoba ini yang kayak punya mami? Tapi ini daya ledaknya udah lebih kuat dan cakupannya juga luas." sahut Ale santai.
"Hah?"
Semua orang lagi lagi di buat terkejut dengan apa yang di katakan Ale karena tak menyangka jika Ale malah akan memodifikasi senjata milik Zurra yang memang sudah sangat lama tidak di pakai lagi oleh Zurra.
"Lempar aja, gue juga mau tahu gimana hasilnya," sahut Valen santai.
Lagi lagi para orang tua langsung melongo dan saling pandang tapi tepat saat Zurra ingin mencegah Ale untuk melemparkan itu, Ale sudah lebih dahulu melemparkannya dan nampak di depan emreka semua pohon tumbang tanpa menimbulkan suara ledakan seperti yang sudah sudah.
"Woaaaaw, bagus banget mainannya. Gue suka karya lo!" teriak Keiko senang,
"Astaga, babyyy, itu peledak bukan mainan." tegur Gerald pada Keiko.
"Tapi kan sama aja. Dan gue bakal minta sama lo Ale, gue bakal bayar mahal biar nanti gue pakein ke Gerald kalau dia macam-macam," ucap Keiko senang.
Glek...
Gerlad meneguk ludahnya kasar dan membuat Arlo serta Dean terkikik geli karena nasib mereka akan sama setelah ini.
"Baiklah, karena sudah ada jalan, gue mau cari tua bangka yang masih doyan minum cairan berwarna putih itu!"
to be continued...