"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKTI TERKUMPUL DAN JEBAKAN UNTUK ELISE
Lima hari setelah insiden keracunan, Tuan Theodore kembali ke kediaman Elsworth dengan map tebal yang menggembung dari hasil investigasinya. Wajahnya serius, bahkan ada sedikit keterkejutan di sana yang Catharina yakin tidak mudah muncul di wajah seorang penyelidik berpengalaman.
Di ruang kerja Catharina, telah berkumpul Duke Henry, Catharina, Lucian, dan juga Duke Raphael yang diminta hadir karena kasus ini melibatkan pelayan dari kediaman miliknya.
"Jadi apa yang kamu temukan?" Duke Henry memulai tanpa basa-basi.
Tuan Theodore membuka mapnya dan mengeluarkan beberapa dokumen serta sketsa dengan gerakan yang teratur. "Yang Mulia, hasil investigasi saya cukup mengejutkan bahkan bagi saya sendiri. Elise bukan sekadar pelayan dengan obsesi berlebihan. Identitas aslinya adalah Elise Marlowe, keponakan dari seorang pria bernama Marcus Marlowe, mantan pembunuh bayaran yang pernah menjalani hukuman penjara sepuluh tahun lalu."
Ruangan menjadi senyap sepenuhnya. Bahkan suara nyala lilin pun terasa terlalu keras.
"Pembunuh bayaran?" Raphael terlihat seperti seseorang yang baru saja menginjak sesuatu tanpa sengaja. "Aku punya keluarga pembunuh bayaran yang tinggal di kediamanku?"
"Lebih tepatnya keponakan dari mantan pembunuh bayaran," koreksi Tuan Theodore. "Tapi itu tidak mengurangi fakta kalau dia memang berbahaya, Yang Mulia. Faktanya, Marcus Marlowe adalah orang yang menyediakan racun yang digunakan untuk menyerang Lady Catharina dan Marquess Lucian." Ia mengeluarkan dokumen lain berisi catatan transaksi yang rapinya terasa mengerikan. "Saya menemukan Marcus di sebuah penginapan murah di pinggir kota. Setelah cukup lama berbicara, dia menyerahkan pengakuan tertulis yang sudah ditandatangani di hadapan notaris. Semuanya ada di sini. Detail tentang bagaimana Elise meminta racun itu, kapan penyerahannya terjadi, dan di mana mereka bertemu."
Catharina mengambil surat pengakuan itu dan membacanya dengan teliti dari baris pertama hingga baris terakhir. Tidak ada yang terlewat. Semuanya tertulis dengan gamblang.
"Ini bukti yang kuat," ujar Duke Henry. "Tapi apa kita punya bukti langsung bahwa Elise yang memasukkan racun ke dalam botol anggur itu?"
"Tentang itu, Yang Mulia." Tuan Theodore mengeluarkan sebuah sketsa wajah. "Saya mewawancarai pelayan-pelayan yang bertugas di salon Lady Catharina saat pembukaan perdana. Salah satu dari mereka mengingat dengan jelas melihat seorang wanita yang mencurigakan masuk ke ruang penyimpanan di tengah kesibukan acara. Deskripsinya sangat cocok dengan Elise."
Lucian mengambil sketsa itu, mempelajarinya. "Tapi ini masih hanya kesaksian. Belum cukup kuat untuk mengikat seseorang secara hukum."
"Saya tahu, Marquess. Itulah mengapa saya menyiapkan langkah berikutnya." Ada senyum tipis di wajah Tuan Theodore, senyum yang sudah sering muncul saat ia mendekati ujung dari sebuah kasus. "Kita perlu membuat Elise mengaku dengan mulutnya sendiri. Dan untuk itu, kita butuh jebakan."
"Jebakan seperti apa?" tanya Catharina.
"Kita buat Elise percaya bahwa rencananya berhasil. Sebarkan kabar bahwa Lady Catharina sakit parah akibat efek racun jangka panjang. Buat dia merasa aman, merasa menang. Orang yang merasa sudah menang cenderung menjadi ceroboh."
Duke Henry mengangguk dengan mantap. "Dan saat dia ceroboh, kita akan ada di sana."
"Tepat sekali, Yang Mulia."
Raphael yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya membuka mulut. "Aku sudah memerintahkan ahli kimia kerajaan untuk memeriksa teh yang dibawa Elise ke ruang kerjaku malam itu. Hasilnya keluar tadi pagi."
Semua mata beralih kepadanya.
"Ada racun di dalamnya," lanjut Raphael dengan suara yang terdengar lebih berat dari biasanya. "Racun yang sama persis dengan yang digunakan untuk menyerang kalian berdua." Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya yang biasanya datar, sesuatu antara kemarahan dan rasa malu yang dalam. "Dia benar-benar mencoba membunuhku juga."
Catharina tidak terkejut mendengar itu. Di alur cerita yang sudah ia ketahui, ketika Elise mulai putus asa, tidak ada seorang pun yang aman dari jangkauannya. Bahkan orang yang ia klaim dicintainya.
"Sekarang kita punya cukup bukti untuk bergerak," ujar Duke Henry sambil berdiri. "Tapi aku setuju dengan Tuan Theodore. Pengakuan langsung di depan saksi akan menutup semua celah yang mungkin ia gunakan nanti. Jebakan adalah cara yang paling tepat."
"Aku punya ide untuk itu." Catharina berdiri, dan ada sesuatu di ekspresinya yang membuat semua orang di ruangan itu memperhatikannya dengan lebih seksama. "Bagaimana kalau kita gunakan keserakahan Elise melawannya sendiri?"
"Maksudmu?" tanya Lucian.
"Elise adalah tipikal orang yang selalu merasa menjadi korban dari ketidakadilan dunia. Dia percaya bahwa semua yang aku miliki seharusnya menjadi miliknya. Jadi bagaimana kalau kita tawarkan padanya sesuatu yang sangat ia inginkan, lalu biarkan keserakahannya yang mengikatnya?"
Senyum tipis muncul di wajah Catharina. Bukan senyum yang hangat. Tapi senyum seorang perencana yang sudah melihat ujungnya dengan jelas.
***
Dua hari kemudian, rumor mulai mengalir di antara para pelayan kediaman Nightshade seperti air menembus celah batu. Lady Catharina jatuh sakit keras akibat racun yang merusak organ dalamnya secara perlahan. Bahkan disebutkan bahwa Marquess Lucian sedang mempertimbangkan untuk membatalkan rencananya karena keluarga besar tidak menginginkan menantu yang sakit-sakitan.
Semua ini tentu saja adalah berita yang sengaja dibuat dan disebarkan oleh mata-mata Tuan Theodore.
Elise mendengarnya saat sedang mengupas kentang di pojok dapur. Tangannya berhenti bergerak.
"Benarkah? Lady Catharina sakit keras?" tanyanya pada Clara, pelayan yang memang tidak bisa menyimpan cerita.
"Iya! Aku dengar langsung dari pelayan kediaman Elsworth. Katanya Lady Catharina sudah tidak bisa turun dari tempat tidur. Kasihan sekali," ujar Clara dengan nada yang tidak terlalu meyakinkan dalam hal rasa simpatinya.
Elise menahan senyumnya dengan susah payah. Dadanya berdebar dengan cara yang sangat tidak sehat. Inilah yang dia tunggu, ini!
"Dan Marquess Lucian?" tanyanya dengan nada yang berusaha terdengar biasa.
"Katanya bimbang. Dia mencintai Lady Catharina, tapi keluarga Ashford sudah mulai menekan. Mereka tidak mau punya menantu yang tubuhnya rapuh."
Elise menundukkan kepala supaya Clara tidak melihat ekspresinya.
Malam itu, ia menyelinap keluar untuk menemui Marcus di tempat biasa.
"Paman! Rencana kita berhasil!" serunya begitu melihat bayangan pamannya di antara pepohonan. "Catharina sekarat!"
Tapi wajah Marcus tidak menunjukkan kegembiraan yang ia harapkan. Pria itu justru terlihat seperti seseorang yang sudah lama menunggu berita buruk dan akhirnya tiba.
"Elise, kita harus hentikan ini. Sudah terlalu jauh."
"Apa? Justru sekarang adalah saat yang paling tepat! Catharina hampir tidak ada, Lucian akan sendiri, dan Duke Raphael juga pasti akan kehilangan arah! Ini kesempatanku, Paman!"
"Kesempatanmu untuk apa? Untuk masuk penjara lebih cepat?" Marcus menggeleng dengan ekspresi lelah. "Ada detektif yang berkeliling menanyakan tentangmu. Aku sudah dengar dari beberapa orang."
Elise tersentak. "Detektif? Siapa yang menyewanya?"
"Siapa lagi kalau bukan mereka." Marcus menatap keponakannya dengan tatapan yang sudah kehilangan harapan. "Elise, dengarkan aku. Ambil apa yang kamu punya, tinggalkan kota ini, mulai dari awal di tempat lain. Aku akan membantumu."
"Tidak!" Elise mengepalkan tangannya. "Aku sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang! Dan tidak ada bukti yang langsung menghubungkanku dengan kejadian itu!"
"Elise..."
"Paman tidak usah khawatir. Aku akan sangat hati-hati." Suara Elise keras, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya yakin. "Aku tidak akan berhenti sampai Catharina benar-benar tidak bisa bangkit dan aku mendapatkan apa yang memang seharusnya menjadi milikku."
Marcus menatap keponakannya dengan tatapan yang sangat menyedihkan. Gadis ini sudah terlampau jauh tersesat di dalam kepalanya sendiri.
Yang tidak diketahui keduanya, dari balik sebatang pohon besar di tepi jalan, seorang mata-mata Tuan Theodore mencatat setiap kata yang terucap dengan sebuah alat perekam suara yang sangat langka.
***
Keesokan harinya, sebuah surat tanpa pengirim ditemukan di bawah pintu kamar Elise.
("Untuk Elise,
Saya tahu siapa kamu sebenarnya. Saya tahu apa yang sudah kamu lakukan. Dan saya punya tawaran yang mungkin sangat menarik bagimu.
Temui saya di kapel tua di tepi hutan, malam ini pukul sepuluh. Datang sendiri.
*
Saya bisa membantumu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Atau saya bisa menghancurkanmu.
Pilihannya ada di tanganmu.
- Seorang Kawan")
Elise membaca surat itu dua kali, sampai tiga kali. Tangannya tidak bisa berhenti bergetar.
Siapa ini? Jebakan? Atau benar-benar seseorang yang mau membantunya?
Sepanjang hari ia bergumul dengan dirinya sendiri. Tapi pada akhirnya, rasa penasaran dan keserakahan selalu menang atas kehati-hatian.
Tepat pukul sepuluh, Elise tiba di kapel tua yang sudah lama ditinggalkan. Tempat itu gelap, pengap, dan dindingnya berlumut. Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela-jendela yang kacanya sudah pecah sebagian.
"Halo?" Elise melangkah masuk dengan hati-hati, suaranya memantul ke dinding batu. "Ada orang di sini?"
"Akhirnya kamu datang."
Elise tersentak mundur selangkah. Dari balik altar, muncul sosok bertudung hitam pekat. Suaranya dibuat serak dan dalam, tidak bisa dikenali apakah itu milik pria atau wanita.
"Siapa kamu?" tanya Elise, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar berani.
"Aku seseorang yang juga tidak suka melihat Catharina von Elsworth mendapatkan segalanya." Sosok itu berhenti bergerak, berdiri cukup jauh untuk tidak terlihat jelas. "Seseorang yang ingin melihatnya jatuh."
Sesuatu di dalam diri Elise sedikit mengendur. "Jadi... kamu mau membantuku?"
"Tergantung. Aku perlu tahu dulu seberapa jauh kamu sudah bergerak. Aku tidak mau bekerja sama dengan orang yang setengah-setengah."
Elise ragu sejenak. Tapi sosok ini bilang membenci Catharina. Maka motivasinya sama. Mungkin ini benar-benar sekutu?
"Aku..." ia menelan ludah. "Aku sudah meracuninya. Meracuni dia dan Marquess Lucian. Racunnya aku dapat dari pamanku, Marcus Marlowe." akhirnya dia jujur meski agak ragu, tapi tidak apa- apa kan? toh mereka akan jadi sekutu.
"Ah." Sosok itu mengangguk pelan. "Dan bagaimana caranya?"
"Aku menyelinap ke salon saat pembukaan perdana berlangsung. Semua orang sibuk, tidak ada yang memperhatikanku. Aku masuk ke ruang penyimpanan dan menuangkan beberapa tetes racun ke botol anggur yang sudah disiapkan Lucian untuk dibawa malam itu."
"Sangat cerdik." Sosok itu melangkah sedikit lebih dekat. "Dan aku dengar kamu bahkan mencoba hal yang sama pada Duke Raphael?"
Elise mendengus. "Iya. Tapi dia tidak minum tehnya. Pria itu terlalu curiga karena sudah dipengaruhi oleh Catharina." Tanpa disadari, kata-katanya mulai mengalir lebih bebas. "Aku juga yang menyebarkan rumor tentang Catharina yang sudah tertarik pada Lucian sebelum pertunangan resmi dibatalkan. Aku yang membuat beberapa pelayan membencinya. Semua itu rencanaku dari awal."
"Luar biasa." Sosok itu seperti terkesan. "Dan sekarang rencanamu selanjutnya?"
"Catharina hampir tidak ada sekarang. Tinggal menunggu saja. Setelah dia benar-benar hilang, Duke Raphael akan melihat dengan jelas bahwa akulah yang paling cocok untuknya. Bahwa akulah yang selalu setia dan selalu ada."
"Termasuk dengan cara-cara seperti ini?"
"Apa pun yang perlu dilakukan," ujar Elise tanpa ragu.
Sosok itu diam sejenak. Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan, tangan yang mengenakan tudung itu bergerak ke atas dan menarik kain dari kepalanya.
Rambut pirang terurai.
Wajah yang Elise paling benci di dunia ini menatapnya dengan tatapan yang sangat tenang.
Catharina von Elsworth tersenyum. "Terima kasih, Elise. Itu semua yang perlu aku dengar."
Dan disitulah Elise seketika membeku.
******
BERSAMBUNG