Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A Broken Pieces
"Nick... Nicholas! Awas perhatikan bolanya!"
Suara lantang yang menggelar bak membelah hamparan hijau lapangan itu menyabet udara sore yang mulai mendingin. Bocah laki-laki yang sedang sibuk menggiring bola denga kedua kakinya sejak tadi berpacu cepat seperti gulungan angin tornado tidak juga mau berhenti meskipun hanya untuk sejenak.
Namun, Nicholas kecil telanjur kehilangan kendali atas kakinya sendiri. Di usia sembilan tahun, ambisinya sering kali lebih besar dari kekuatan fisiknya. Ia tersungkur hebat. Tubuh mungilnya terpelanting ke depan, mencium rumput sintetis dengan bunyi debum yang menyesakkan, hingga beberapa helai rumput tercabut paksa dari akarnya.
Nicholas—bocah berambut emas dengan sepasang mata biru sedalam samudra—meringis. Rasa panas merayap di lutut dan sikunya, namun ada satu titik yang berdenyut jauh lebih menyakitkan: dagunya.
Bocah itu tertegun saat melihat setetes warna merah pekat jatuh, mengotori hijaunya rumput. Disusul tetesan kedua, lalu ketiga. Bau anyir darah mendadak menyeruak, menyengat hidung mungilnya. Nicholas menyentuh dagunya yang terasa basah dan panas. Saat melihat jemarinya kini berlumuran cairan kental berwarna merah, pertahanannya runtuh.
Isakan mulai mencekat di tenggorokan Nicholas, siap meledak bersama rasa perih yang luar biasa berdenyut. Namun, tepat sebelum air mata itu sempat meluncur, sebuah tangan kekar menyentak lengannya. Tubuh kecil Nicholas dipaksa berdiri tegak secara kasar, seolah ia tak diizinkan untuk mencintai rasa sakitnya sendiri bahkan untuk sedetik saja.
Seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut tembaga berdiri di depannya. Pria itu mengenakan kaos polo putih dan celana senada yang tampak sangat rapi—terlalu rapi untuk seseorang yang berada di lapangan bola.
Ia membungkuk hingga pandangan mereka sejajar. Matanya memicing tajam, sebuah tatapan yang seketika membekukan tangis Nicholas. Bocah itu terpaksa menggigit bibir kuat-kuat, menelan isakannya bulat-bulat meski bahunya gemetar menahan perih yang kini menjalar hingga ke pipi.
"Seorang laki-laki pantang menangis hanya karena jatuh tersungkur," suara pria itu terdengar rendah, namun ketajamannya setara mata pedang yang sanggup menghunus apa pun.
Nicholas menelan isakannya bulat-bulat hingga dadanya terasa sesak. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menghentikan getaran di bahunya. Rasa takut pada ayahnya ternyata jauh lebih mematikan daripada rasa perih di dagunya.
Pria itu kemudian mencengkeram dagu Nicholas yang bersimbah darah, mengangkatnya agar anak itu menatapnya langsung.
"Kamu dengar Ayah, kan?"
Nicholas hanya bisa mengangguk kaku. Di matanya yang berkaca-kaca, sang ayah tidak tampak seperti pahlawan, melainkan seperti raksasa tanpa hati.
"Arnelia!" seru Richard, suaranya membelah kesunyian halaman luas itu.
Seorang wanita cantik dengan gurat wajah yang selalu tampak cemas muncul dari balik pintu kaca besar. Arnelia berlari, napasnya tersengal saat melihat putra kecilnya terluka. Ia langsung jatuh berlutut, mendekap bahu Nicholas dengan jemari yang gemetar.
Richard Harding hanya mengeraskan rahang, menatap luka di wajah anaknya seolah itu adalah sebuah cacat produksi pada barang berharga.
"Bawa dia masuk dan minta pelayan untuk segera obati lukanya. Setelah itu, pastikan dia sudah siap di ruang belajar saat Mr. Whaltham datang. Kursus ekonominya tidak boleh tertunda. Bulan ini aku harus dapat laporan tentang progres belajarnya yang naik secara signifikan."
Arnelia tersentak. Ia mengernyitkan dahi, menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. "Dia sedang luka dan kesakitan, Richard! Dan kau masih menyuruhnya belajar? Setidaknya beri dia waktu satu atau dua jam untuk istirahat!"
Richard Harding—pria yang sudah memasuki kepala empat itu—menatap istrinya dengan raut wajah sekeras patung granit di halaman rumah mereka. Dingin dan tak tersentuh.
"Sampai kapan kamu mau memanjakan anak-anakmu, Arnelia? Kalau terus dimanja, mereka tidak akan pernah belajar caranya menjadi kuat untuk menghadapi dunia. Mereka harus disiapkan sedini mungkin. Supaya ketika waktunya tiba, mereka mampu menjalankan apa pun yang kita tinggalkan untuk mereka!"
Napas Richard memburu, dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap. Arnelia hanya bisa terdiam, menggigit lidah agar tidak memperpanjang perdebatan di depan sang anak. Dengan gerakan lembut yang protektif, ia menarik bahu Nicholas, membimbingnya masuk ke dalam rumah megah yang terasa dingin itu. Mereka meninggalkan Richard dan jajaran pelatih di tengah hamparan lapangan hijau yang luas.
Richard Harding membungkuk, mengambil bola yang tergeletak diam di dekat gawang kecil. Ia menarik napas panjang, menatap punggung istri dan anak laki-lakinya yang perlahan menghilang di balik pilar-pilar kokoh teras rumahnya.
Tatapan Richard kosong, namun tangannya mencengkeram bola itu dengan sangat kuat. Seolah-olah, di dunia seorang Harding, tidak ada ruang untuk air mata—bahkan untuk seorang bocah berusia sembilan tahun.
°°°°
Pertandingan babak final melawan Eastwood hari pertama ini akhirnya berakhir dengan kemenangan yang terasa getir bagi Milford Hall. Skor tipis 10-12 terpampang di papan digital, sebuah angka yang sanggup membuat jantung siapa pun nyaris copot dari tempatnya.
Pertandingan yang berlangsung sengit itu, walaupun tetap dijuarai oleh Milford yang sudah langganan menyabet posisi nomor satu kejuaraan Lacrosse, tetap tidak membuat para pemain puas. Di ruang ganti maupun di lapangan, atmosfernya terasa hambar. Biasanya, Milford sanggup menggilas Eastwood hingga rekor cetak skor terlihat sangat jomplang, namun hari ini kebanggaan itu nyaris koyak. Kalau saja di menit terakhir kick off, Louis tidak mengambil alih dengan nekat untuk menciptakan strategi dadakan agar dapat poin tambahan, mungkin hari ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, Milford terancam mengalami kekalahan yang akan menjadi aib selamanya.
Ketika pertandingan telah usai, lapangan dan tribun penonton masih dipadati manusia yang seolah enggan beranjak. Namun kali ini, fokus massa terpecah hebat. Hampir semua mata, mulai dari siswi kelas satu hingga para alumni, sibuk mengamati sosok Fraya yang langsung melesat turun dari bangku tribun.
Gadis itu bergerak cepat, nyaris berlari, berusaha meloloskan diri dari tatapan menghakimi yang menghujam punggungnya. Bahkan selebrasi dari para penonton yang biasanya bersorak memenuhi lapangan pasca tanding tidak terdengar nyaring seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya. Suasana justru terasa canggung, pengap oleh bisik-bisik yang merambat seperti api.
Di lain tempat, tidak jauh dari tribun penonton yang masih berdesak-desakan, Damian berdiri dengan napas yang masih memburu hebat. Keringat membasahi jerseynya, namun fokusnya terbagi berantakan. Ia terjebak di antara kewajiban mendengarkan pelatih Lacrosse-nya yang kini sedang marah-marah—tidak, lebih mirip seperti sedang murka—kepada penilaian pertandingan hari ini yang dinilai anjlok drastis.
Coach Wilson, pria paruh baya yang sudah menggembleng tim Lacrosse Milford sampai ke titik ini, sedang melempar kemarahannya tepat ke wajah Damian. Ia berang karena aksi impulsif sang kapten yang menghebohkan jagat raya Milford tadi; aksi meninggalkan lapangan hanya demi menjemput seorang gadis di perpustakaan.
"SEJAK KAPAN KAMU JADI KAPTEN BISA BEGITU BODOH DAN CEROBOH BEGINI!? KALAU TADI KAMU FOKUS BERMAIN DAN TIDAK KABUR UNTUK MENGEJAR PACAR KAMU ITU, KITA BISA EVALUASI SEJENAK SAAT ISTIRAHAT PERTAMA TADI UNTUK MEMIKIRKAN STRATEGI TAKTIS APA DEMI MENCETAK SKOR LEBIH UNGGUL DARI EASTWOOD!"
Kepala Coach Wilson seolah sudah nyaris meledak. Wajahnya sampai merah padam saat mengomeli Damian yang sekarang cuma bisa duduk terdiam.
Namun, Damian tidak benar-benar mendengarkan. Ia duduk dengan punggung tegak, sementara matanya terus mencuri-curi pandang ke sudut tribun yang cukup jauh. Ada rasa cemas yang aneh, rasa tidak rela membiarkan Fraya hilang dari jangkauan pandangannya.
Setelah puas memaki-maki, Coach Wilson akhirnya memberi arahan untuk strategi babak terakhir minggu depan. Namun, di ekor mata Damian, sosok Fraya di kejauhan terlihat sudah berjalan menjauh dengan langkah lebar-lebar.
Tubuh Damian praktis akan berdiri. Ia ingin mengejar, ingin mencengkeram lengan gadis itu dan memaksanya tetap di sana. Namun sebelum sikap sembrononya ini disadari Coach Wilson, Louis yang sejak tadi memerhatikan kegelisahan sahabatnya itu bergerak lebih cepat. Ia menekan dada Damian dengan telapak tangannya agar tetap duduk.
"Not now, Harding," ujar Louis rendah, suaranya lebih mirip seperti desisan yang memperingatkan.
Damian sudah akan menepis tangan Louis agar enyah saja ke neraka, namun tangan Louis kembali menekan ke dada Damian sambil mengerang pelan namun begitu tajam.
"Kalau kamu tidak juga mau membiarkan kami di sini pulang dengan tenang tanpa dihajar Coach Wilson karena sikap impulsifmu ini, aku sendiri yang bakal menghajar kepalamu sampai babak belur habis ini!"
°°°°
"Fraya! Fraya! Tunggu, Fraya!"
Fraya menghentikan kakinya yang berjalan cepat—nyaris berlari—saat tangan Asa berhasil meraih bahunya.
Sambil mendesah kasar, Fraya akhirnya membalikkan badan dengan raut wajah siap mencekik Asa hidup-hidup. Matanya berkilat, penuh dengan rasa malu yang berubah menjadi amarah.
"Pertandingannya sudah selesai, kan? Aku mau pulang," desis Fraya tajam sambil membalikkan tubuhnya lagi untuk cepat-cepat menyingkir dari area sekolah yang menyesakkan itu.
Namun, tangan Asa lagi-lagi sudah lebih dulu menahan bahu Fraya agar tidak kabur lagi.
Fraya mengerang sambil melotot tajam ke arah Asa. "Kenapa sih!?"
"Kamu mau pulang? Biar aku antar," Asa langsung menawarkan diri. Sejak tadi ia merasa nelangsa melihat sikap Fraya yang tampak sangat ingin melenyapkan dirinya sendiri ke dalam bumi. Ia tahu Fraya sedang rapuh, meski gadis itu memasang tembok yang begitu tinggi.
Florence sendiri sudah lebih dulu pulang bahkan sebelum peluit panjang tanda pertandingan berakhir dibunyikan. Florence lupa bahwa hari ini ia sudah punya janji dengan sepupunya untuk ke Gormsey mencari kue ulang tahun untuk nenek mereka. Jadi, ketika pertandingan berakhir, Fraya hanya duduk bersama Asa yang dengan setia menempel di sampingnya.
"Aku bisa pulang sendiri naik... naik bis," jawab Fraya asal. Keraguan jelas terdengar dari suaranya karena sejujurnya, semenjak tinggal di London, dirinya belum pernah punya pengalaman naik bis sendiri. Selama ini ia selalu dalam zona nyaman diantar jemput orang tuanya atau Florence.
"Memangnya kamu pernah naik bis dari sekolah? Tahu jadwal-jadwal keberangkatan bis dari sini?" Asa menaikkan alisnya, menyadari keraguan besar dalam suara Fraya.
"Ya... aku bisa cari tahu di internet," jawab Fraya sekenanya. Sama sekali tidak meyakinkan cowok berkacamata di depannya ini.
Asa mendesah sambil berkacak pinggang sebentar, lalu akhirnya menarik bahu Fraya dengan lembut.
"Sudahlah, lebih baik kuantar saja kamu pulanh. Lagipula, kalau kamu tetap milih untuk naik bis, aku bakal tetap mengantarmu dengan ikut naik bis juga."
Dahi Fraya berdenyit heran. "What about your car?"
Asa mengedikkan bahu dengan cuek. "Easy. I'll pick up Amelia here right after i drop you home."
Asa menamai mobil Volvo miliknya dengan nama Amelia, sebuah kebiasaan yang selalu sukses membuat Fraya geleng-geleng kepala. Fraya mendengus, tapi kali ini ia tidak membantah lagi.
Akhirnya ia mengangguk pasrah, membuat senyum Asa langsung merekah ruah.
"Kamu mau tunggu di sini atau tunggu di depan sekolah saja? Aku mau ambil mobil dulu. Parkiran pasti sekarang sedang penuh, nanti malah bikin kamu jadi makin nggak nyaman."
Fraya mengangguk setuju. "Aku tunggu di halaman depan saja."
Asa mengiyakan dan langsung berlalu secepat angin. Sementara itu, Fraya bergegas menuju halaman depan dengan wajah yang terus menunduk. Ia berusaha keras menghindari tatapan para siswa yang kembali menjadikannya pusat perhatian. Fraya muncul di tengah kepadatan halaman layaknya seorang nabi yang ingin memberitahu orang-orang bahwa dia adalah Tuhan mereka—semua mata terpaku padanya dengan tatapan penuh selidik.
Fraya mengutuk dirinya sendiri karena tidak membawa jaket bertudung. Ia hanya mengenakan mantel tebal yang pas di badan, yang tidak cukup untuk menyembunyikannya dari dunia.
Fraya mempercepat langkah. Namun, kelegaan yang sempat ia hirup saat sampai di halaman depan kembali lenyap ditelan bumi. Di sana, dari balik dinding bata merah, muncul sosok Damian.
Napas Fraya langsung tercekat. Tubuhnya refleks berputar untuk lari. Namun Damian memutus jarak di antara mereka hanya dengan lima langkah lebar. Tangannya dengan gesit meraih lengan Fraya dan menarik gadis itu dengan tenaga yang dominan untuk berbalik mendekat ke arahnya.
"Aku antar kamu pulang, ya?" ujar Damian. Suaranya terdengar lembut namun posesif, menuntut kepatuhan. Jarak mereka begitu dekat, membuat Fraya bisa mencium aroma keringat dan parfum maskulin yang bercampur, namun gadis itu tetap menolak menatap matanya.
Fraya menepis tangan Damian yang mencengkeram lembut namun kuat di lengannya.
"Kamu belum cukup ya mempermalukan aku? Sekarang kamu pede sekali mau nganterin aku pulang?" desisnya marah. Letupan kemarahan Fraya ini sama persis seperti ledakan yang pernah Damian lihat saat gadis itu melabrak Axel. Kemarahan yang membuat Damian, untuk pertama kalinya, merasa terancam sekaligus terobsesi. Ia tidak sadar bahwa keinginannya untuk selalu berada di dekat Fraya bukan lagi sekadar kontrak tutor, tapi ketertarikan yang sudah mendarah daging.
"Terus kamu di sini mau ngapain? Aku tahu kamu marah sama aku, dan kamu boleh lanjut marah-marah atau bahkan memakiku dalam perjalanan ke rumah kamu nanti." Damian menatapnya tajam, tidak suka pada penolakan Fraya.
Fraya bisa mendengar dirinya mendesis geram, "Kamu itu memang manusia paling kepedean yang pernah kukenal, tahu nggak?! Lagian, kalau kamu sudah tahu aku semarah ini, buat apalagi aku mau diantar pulang sama kamu!"
Damian berkacak pinggang, napasnya memburu frustrasi. "Fraya, aku cuma mau nganterin kamu pulang! Kamu nggak lihat sekarang sudah jam berapa? Lagian, kamu tuh kenapa sih harus selalu membantahku? Kalau saja kamu nurut sama aku untuk datang saja ke pertandingan tanpa harus aku seret, mungkin sekarang kejadiannya nggak akan begini! Nggak bakal bikin kamu harus malu! Dan gara-gara kamu nggak nurut sama aku, tim Lacrosse kita nggak begitu unggul dalam mencetak skor!"
Kalimat itu meledakkan amarah Fraya.
"Apa kamu bilang? Gara-gara aku!?" Fraya melotot, napasnya sesak. "Kamu bilang tim kamu hampir kalah gara-gara aku!?"
Damian menatap balik manik menantang itu dengan lebih berani, lebih posesif. "Iya! Coba kalau tadi kamu nurut, aku nggak bakal harus sampai berhenti di tengah permainan cuma untuk menyeret kamu supaya duduk di tempat aku bisa lihat kamu!"
Kepala Fraya seolah terbakar oleh api kemarahan yang bekobaran.
"Memangnya apa hubungannya kehadiranku di lapangan dengan permainan tim kalian? Emang kamu pikir aku semacam jimat yang bisa kamu gunain untuk bikin tim kamu menang, gitu!?"
Damian berdecak marah. "Kamu tuh memang benar-benar keras kepala, ya. Kamu nggak paham juga kalau kehadiran kamu itu berarti banget buat aku di lapangan! Dengan kamu di sana, aku jadi bisa fokus! Tapi kamu tuh nggak peduli, Fraya! Yang ada di kepala kamu itu cuma tentang Damian yang sombong. Damian yang diktator!"
"Memangnya apalagi julukan yang tepat untuk sikap brengsek kamu ini?! Sudah diktator, pongah, semena-mena! Kamu pikir, hanya karena kamu menginginkan sesuatu, semua orang harus turut andil untuk memberikan apa yang kamu mau!? Ingat ya, dunia ini porosnya nggak hanya berputar ke kamu! Kamu itu bukan Tuhan, Damian! Kamu nggak bisa mengendalikan keinginan seseorang hanya untuk memenuhi ekspektasi kamu yang berlebihan itu!"
Di tengah perseteruan yang kian membara dan menyesakkan itu, Asa muncul dengan mobil Volvo biru mudanya. Kendaraan itu menderu pelan saat berhenti di halaman depan, tepat di titik Fraya sudah berdiri menanti dengan emosi yang nyaris pecah.
Dari balik kaca mobil, Asa seketika panik. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sahabatnya itu sedang beradu mulut dengan intensitas yang mengerikan, nyaris terlihat ingin saling melempar tinju. Sambil bergegas melompat keluar, Asa membanting pintu mobilnya hingga menutup dengan dentuman keras, lalu ia berlari untuk menarik Fraya menjauh dari pusaran amarah Damian.
"Fraya, sudah, ayo kita—"
"Hey, what the fuck are you doing!?" Damian refleks menarik tubuh Fraya menjauh dari Asa dengan gerakan yang sangat kasar dan posesif. Ada kilat api di matanya saat melihat tangan cowok lain hendak menyentuh dan menjauhkan Fraya darinya.
Fraya seketika terhuyung dan menabrak dada Damian dengan keras. Benturan itu membuat napasnya sejenak terhenti, namun sedetik sebelum ia sempat pulih dari keterkejutan, Damian sudah menahan tubuhnya dengan melingkarkan tangan di pinggang Fraya. Dekapan itu begitu erat, seolah Damian sedang memaku Fraya agar tetap berada di sisinya, tak membiarkan jarak sedikit pun tercipta antara mereka di depan Asa.
Fraya seketika tersentak, rasa muak memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia mendorong dada Damian menjauh dengan seluruh sisa tenaganya. Dengan wajah yang mengeras karena kesal, ia melangkah mundur menuju Asa, mencari perlindungan di balik sosok yang lebih tenang itu.
"Im going home with Asa!" tandas Fraya final. Suaranya dingin, menusuk langsung ke pusat harga diri Damian.
Damian membeku. Ia hanya bisa menahan amarah yang masih menguasai seluruh sel tubuhnya tanpa bisa berkata-kata lagi. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang, menatap tidak percaya pada penolakan mentah-mentah itu.
Asa yang menyaksikan ketegangan luar biasa di antara keduanya, kini memberanikan diri menarik lembut bahu Fraya untuk segera masuk ke dalam mobilnya sebelum situasi semakin tak terkendali. Masih dengan menatap runcing ke arah Damian dalam amarah yang tak padam, dan sama sekali tidak memedulikan keramaian yang kian menghebohkan di sekitarnya, Fraya berjalan mundur menjauh sambil mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat.
Namun, beberapa detik sebelum ia menyentuh pintu mobil Asa, Fraya mendadak berhenti. Ia mengambil dua langkah berani kembali mendekat ke arah Damian dengan puncak kekesalan yang sudah tidak bisa lagi ia bendung. Ia ingin Damian tahu, bahwa ia bukan salah satu dari koleksi dunianya yang bisa diatur sesuka hati.
"Kamu mungkin terbiasa mendapatkan segala hal di dunia ini dengan mudah, dan kamu terbiasa juga menyalahkan semua orang di sekitarmu atas kegagalanmu memperoleh sesuatu. Tapi Damian," Fraya berhenti sejenak untuk mengisi paru-parunya yang nyaris kehabisan oksigen karena menahan gumpalan kemarahan yang menyesakkan, lalu melanjutkan dengan suara yang bergetar namun tajam,
"Bukan tugasku untuk membuatmu puas dengan ekspektasi yang kamu buat sendiri, termasuk membuatmu menang bertanding melawan Eastwood."
Damian langsung tertegun. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada benturan di lapangan tadi. Ia kehilangan seluruh kata-kata di bibirnya yang mendadak kelu. Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat dengan sangat jelas betapa lelahnya pandangan cewek di depannya ini dalam menghadapinya. Kelelahan yang membuat Damian merasa dunianya seolah runtuh seketika.
Lalu dengan satu tarikan napas panjang yang menjadi penutup segalanya, Fraya menutup percakapan paling melelahkan itu dengan kalimat yang mematikan.
"We're done. I'm done. No more German course with you."
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit