Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Hari Ketika Kendali Berpindah
Di sisi lain lorong, Fero dan timnya juga berjalan bersama pengacara mereka. Fero tampak santai dengan setelan hitam sempurna, ekspresi percaya diri tak berkurang sedikit pun.
Tatapannya bertemu dengan Zelia. Senyum tipis muncul di bibirnya. Tapi Zelia tidak membalas.
Saat hanya sepersekian detik pandangan Fero bertemu dengan Atyasa, tak ada anggukan. Tak ada senyum. Namun cukup untuk saling mengerti.
Permainan dimulai.
Langkah Zelia berhenti tepat di depan pintu ruang sidang. Petugas membuka pintu. Udara dingin langsung menyambut.
⚖️ Di Dalam Ruang Sidang
Hakim belum masuk, tapi semua kursi hampir terisi. Suara kertas dan bisikan menjadi latar yang konstan.
Dengan tenang Zelia berjalan menuju meja pihak tergugat sebagai CEO aktif, lalu duduk tanpa terburu-buru.
Are berdiri di belakang kursinya seperti biasa.
Di sebelah kirinya: Direktur Legal. Di sebelah kanannya: kursi untuk perwakilan direksi.
Dan di sana… Atyasa duduk.
Sikapnya formal. Tenang. Terlihat seperti ayah yang hadir mendampingi. “Jangan gegabah,” bisiknya pelan, seolah memberi nasihat.
Zelia meliriknya sekilas. “Ayah juga,” jawabnya singkat.
Are berdiri di belakang kursinya. Tegak. Diam.
Tatapan Atyasa sempat naik ke arah Are. Ada sesuatu dari pria itu yang mengganggu instingnya.
"Kenapa aku dan Fero tidak bisa menemukan apa pun tentang masa lalunya?" Matanya sesekali melirik ke arah meja penggugat.
Di seberang, Fero duduk dengan santai menyilangkan tangan. Senyumnya penuh keyakinan. Namun ketika ia kembali melihat Zelia… Senyumnya sedikit memudar.
Tidak ada kegelisahan di wajah wanita itu.
Atyasa sedikit condong ke arah Zelia.
“Tegang?” bisiknya pelan, terdengar seperti perhatian seorang ayah.
Zelia hanya melirik sekilas. “Tidak.”
Jawabannya datar.
Tanpa emosi.
Atyasa tersenyum tipis… tapi di dalam hatinya justru muncul rasa tidak nyaman.
"Kenapa dia terlihat seperti sudah tahu hasilnya?"
Di seberang, Fero berbisik pada pengacaranya. “Dia cuma pura-pura tenang,” katanya pelan. “Kontrak itu bersih.”
Namun tatapannya kembali tertarik pada Are. Pria itu berdiri diam tanpa ekspresi, tapi kehadirannya terasa seperti tembok yang tak terlihat.
Fero mengernyit sedikit.
Di sisi Zelia, Atyasa memperhatikan hal yang sama.
Dan untuk pertama kalinya… Mereka berdua memiliki pikiran yang sama.
"Siapa sebenarnya pria itu?"
Suasana mendadak semakin hening ketika pintu samping terbuka.
“Sidang akan segera dimulai. Semua dimohon berdiri.”
Hakim masuk. Semua berdiri.
“Sidang perkara sengketa kerja sama bisnis… dimulai.”
Tok.
Tok.
Tok.
Zelia duduk kembali perlahan. Wajahnya tetap tenang. Namun di dalam matanya… ada kilatan tipis seperti seseorang yang sudah menunggu momen ini sejak lama.
Dan sejak gugatan diajukan, saat ini Fero merasakan sesuatu yang tidak ia suka.
Perasaan… bahwa ia mungkin tidak sepenuhnya memegang kendali
***
Hakim membuka berkas di depannya.
“Sidang dilanjutkan ke tahap pembuktian.”
Suasana langsung berubah lebih tegang. Semua orang tahu… ini bagian yang menentukan.
Pengacara Zelia berdiri.
“Yang Mulia, untuk membuktikan bahwa pihak penggugat telah lebih dulu melanggar prinsip itikad baik dan etika yang menjadi dasar kerja sama, kami mengajukan bukti berupa rekaman video.”
Bisikan langsung muncul.
Bukan karena mereka tidak tahu… tapi karena mereka tahu persis video apa yang dimaksud.
Fero langsung menoleh tajam.
Atyasa yang duduk di samping Zelia tidak bergerak, tapi rahangnya sedikit mengeras.
Ia tidak menyangka…
Zelia akan benar-benar menggunakan itu di pengadilan.
Hakim mengangguk.
“Silakan.”
Layar menyala. Settingnya jelas di dalam apartemen.
Beberapa orang di ruang sidang langsung mengenali video itu. Mereka pernah melihatnya…di hari pernikahan yang batal itu.
Gambar memperlihatkan rekaman dari sudut pintu kamar. Suara samar. Wajah Fero dan Desti.
Reaksi di ruang sidang bukan shock… tapi ketegangan berat. Seperti luka lama yang dibuka kembali.
Pengacara mempercepat video hingga diperlambat pada pembicaraan Fero dan Desti, lalu video dimatikan.
Lampu kembali terang, namun atmosfer berubah drastis.
Bisikan mulai terdengar.
“Itu rekaman yang sama…”
“Yang diputar di pernikahan…”
“Dia benar-benar membawanya ke pengadilan…”
“Tapi yang diputar dulu… nggak sampai ke percakapannya.”
Bisik-bisik langsung memenuhi ruang sidang.
Pada pernikahan yang batal itu, Zelia hanya memutar bagian ketika Fero dan Desti melakukan hal yang tak seharusnya. Ia menghentikannya sebelum video mencapai bagian paling akhir.
Bagian yang paling krusial.
Bagian ketika Fero dan Desti berbicara tentang rencana mereka menguasai harta Zelia.
Hakim mengetuk palu.
Tok! Tok!
“Tenang.”
Suasana sedikit mereda, tapi ketegangan justru terasa semakin tebal.
Wajah Fero menegang. Rahangnya mengeras.
Ia sama sekali tidak menyangka video itu sampai pada bagian percakapannya dengan Desti… dan lebih dari itu, dipakai sebagai bukti di pengadilan.
Selama ini ia menganggap rekaman itu hanya penghinaan publik. Sebuah tamparan di depan banyak orang. Bukan ancaman hukum.
Tapi sekarang—
Tangannya mengepal di atas meja. Dan kini, sejak sidang dimulai, rasa tidak nyaman benar-benar merayap di dadanya.
“Ini tidak relevan,” katanya cepat pada pengacaranya. Tapi nadanya tidak setenang biasanya. Jelas suaranya retak.
Atyasa tetap duduk tenang. Namun matanya menyipit tipis. Ia tahu dampaknya.
Jika video ini diterima sebagai bukti pelanggaran etika… Maka seluruh dasar gugatan bisa runtuh.
"Dia tidak hanya bertahan… dia menyerang balik."
Kini, ia benar-benar melihat Zelia sebagai lawan.
Hakim akhirnya menatap Zelia. “Apakah Anda ingin menjelaskan?”
Zelia berdiri perlahan. Suaranya tenang, tanpa emosi berlebihan. “Rekaman itu saya ambil sendiri di apartemen pihak penggugat… sehari sebelum pernikahan kami.”
Ruangan menjadi sunyi total.
“Isi percakapan dalam rekaman menunjukkan rencana untuk memanfaatkan pernikahan demi menguasai aset dan posisi saya.”
Beberapa orang di ruang sidang saling pandang.
Itu bukan sekadar perselingkuhan. Itu adalah motif.
Zelia melanjutkan. “Peristiwa itu menyebabkan runtuhnya kepercayaan yang menjadi dasar kerja sama bisnis kami.”
Tatapannya lurus ke hakim.
“Karena itu, kami berpendapat pihak penggugat tidak memiliki dasar itikad baik untuk menuntut penalti kontrak.”
Pengacara Zelia akhirnya berdiri. “Kami memanggil saksi, Saudara Are.”
Are maju dengan langkah tenang. Seluruh ruangan terasa lebih hening. Ia duduk di kursi saksi.
Pengacara menatapnya lurus. “Saudara Are, dalam kapasitas Anda sebagai asisten strategis CEO, apakah Anda terlibat dalam analisis kontrak setelah gugatan diajukan?”
“Ya," jawab Are tenang.
“Apa yang Anda temukan?” lanjut pengacara.
“Klausul penalti tidak dapat diberlakukan jika pihak penggugat lebih dulu melanggar prinsip etika yang mempengaruhi hubungan kerja sama," jawab Are mantap.
Suara tenangnya membuat kata-katanya terasa berat.
Sementara itu, di kursi belakang, wartawan mulai mengetik cepat.
-- Video skandal jadi bukti hukum
-- Motif penguasaan aset terungkap
-- Gugatan bisa berbalik
Fero duduk dengan tubuh kaku. Kini… ia tidak lagi memegang kendali.
Tatapannya beralih ke Zelia. Wanita itu tidak terlihat marah. Tidak terlihat puas. Hanya tenang. Dan justru itu jauh lebih menakutkan.
Hakim mengetuk palu.
...✨“Yang paling berbahaya bukan orang yang marah… tapi orang yang tetap tenang saat menyerang.”...
...“Mereka pikir aku hanya bertahan. Padahal aku sedang menunggu waktu untuk membalikkan papan.”...
...“Kebenaran tidak selalu menang lebih dulu… tapi selalu datang di waktu yang tepat.”...
...“Pengkhianatan tidak menghancurkanku. Itu hanya memberiku alasan untuk berhenti ragu.”...
...“Pasar bergerak karena ketakutan. Aku bergerak karena kendali.”...
...“Yang paling berbahaya di medan perang bukan yang paling keras menyerang… tapi yang paling lama menunggu.”✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu