NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu
Popularitas:306.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sementara itu, setibanya di rumah sakit, Hana dan Madha langsung menuju ruang rawat di lantai 8. Setiap langkah itu, ada getaran rasa bersalah, gejolak kesakitan yang tak mampu mereka berdua bayar setiap detiknya.

Hana sudah berniat, mungkin setelah ini ia akan lebih fokus menjaga ibunya, atau mungkin pulang ke kampung halaman untuk merawat Bu Laksmi.

Pintu terbuka dari dalam, dan membuat Hana serta Madha menghentikan langkahnya. "Ibu sedang di periksa lagi, Mas... Han," katanya menatap kedua saudaranya itu.

"San... Bagaimana keadaan Ibu?" Madha bertanya dengan raut wajah cemas.

Tampak wajah cantik berkacamata itu memerah, mungkin sempat menangis karena terkejut. "Alhamdulillah darahnya normal, Mas. Hanya saja... Kaki Ibu sebelah satu katunya sulit di gerakan. Itu sedang di terhapi kayaknya."

Hana ikut menimpali. "Mbak, tapi ibu nggak papa 'kan? Ibu masih bisa bicara 'kan?" suara itu terdengar rendah, namun nadanya bergetar.

"Bisa, Han! Tapi masih lemes."

Madha sedikit maju kearah pintu, mengintip pada celah kaca. "Udah... Setelah sembuh nanti, Ibu nggak usah bekerja lagi!" katanya sembari membalikan badan menatap kedua adiknya. "Nanti biar Ibu ikut Mas saja...."

Sanas menggelengkan kepala lemah, "Bagaimana bisa? Ibu biar sama Sanas saja! Mas Madha bagaimana mau ajak Ibu, sementara Mas Madha harus membuat persetujuan dari kedua orang tua Mas Madha. Udah benar ikut Sanas aja."

"Mbak... Mas... Nggak usah! Biar Ibu sama Hana saja!" keputusan Hana membuat ke-dua kakaknya terpaku. "Mas Madha sibuk, harus bekerja... Sementara Mbak Sanas... Mbak juga memiliki keluarga, dan... Dan pasti Mbak akan kualahan. Mungkin jika nanti Ibu nggak mau tinggal di rumah... Biar Hana mengalah untuk pulang ke desa saja!"

Sanas langsung memeluk adiknya. Air matanya kembali berlinang, merasa sesag tidak dapat menjaga Ibunya setiap waktu. "Mbak pasti akan sering-sering pulang ke rumah. Mbak minta maaf belum bisa jadi anak yang berbakti."

Hana melerai pelukan itu. Ia usap air mata kakaknya meskipun air matanya juga berlinang. Jika menyangkut masalah Ibu, pasti tak ada yang mampu bersua selain rasa nyeri yang menusuk.

"Mas juga akan ikut pulang untuk sementara waktu. Apalagi kaki ibu sebelah satunya belum bisa di gerakan. Pasti itu akan lebih memakan waktu dalam aktivitas Ibu. Dan... Dan kamu tidak bisa sendirian dalam mengurus. Mungkin ini waktunya untuk Mas menebus semua hari-hari keterlambatan itu." Madha mendongak sekilas, tidak ingin terlihat rapuh di hadapan kedua adiknya.

Deritan pintu kembali terbuka dari dalam. Seorang Dokter dan satu perawat keluar, berhenti sejenak ketika Madha langsung menghadangnya.

"Dok, bagaimana keadaan Ibu kami?"

Dokter itu mengulas senyum lembut. "Bu Laksmi keadaanya cukup baik. Tapi, kaki sebelah kirinya masih cidera, dan belum dapat di gerakan. Mungkin, nanti setelah di terhapi setiap hari, saya yakin pasti bisa berjalan kembali. Untuk keseluruhannya normal. Gula darah, hipertensinya juga normal semua. Kalau begitu kami permisi! Mari...."

Madha mengangguk. Setelah itu ia langsung bergegas masuk bersama kedua adiknya.

*

*

Di temani Asistennya, Danish masuk ke lobi dengan wajah datar serta raut wajah sangat tegas. Satu staff sudah menyambut, "Mari, Pak Danish...."

Danish menghentikan langkah staff pria tadi. "Sebentar! Apa kamu tahu, jika pagi tadi ada Ibu-ibu yang di larikan ke sini?"

Staff tadi agak berpikir, "Alangkah baiknya jika Pak Danish bertanya langsung pada petugas IGD. Mari...."

Langkah Danish lebih dulu bergerak, dan masih sama di ikuti Asisten Jim serta Staff tadi.

Petugas IGD tersentak, saat putra pemilik rumah sakit itu datang tanpa aba-aba. Ke-4 perawat itu bangkit saling melempar tatap.

"Selamat pagi, Pak Danish... Ada yang bisa kami bantu?" seorang wanita berjilbab hijau muda membuka suara.

Danish berdehem kecil, "Apa fajar tadi ada Ibu-Ibu yang di larikan ke rumah sakit ini?"

"Untuk fajar tadi, ada 5 orang yang datang, Pak! Kalau saya boleh tahu, siapa nama Ibu-Ibu yang Bapak maksud?" sahut perawat satunya.

Danish menarik napas dalam. Ia sejujurnya juga tahu siapa nama Ibunya Hana. Dan pastinya, jika ia menyebutkan nama Hana, nama wanita itu sudah tidak tertera di kartu keluarga Ibunya. Jadi, hal itu membuatnya sedikit pusing.

"Saya juga nggak tahu siapa namanya," jawab Danish berusaha berpikir.

Asisten Jim mendekat, sedikit berbisik, "Maaf, Pak Danish... Anda bisa menyebutkan alamat tinggal, atau anggota keluarga yang tertera."

Baru saja Danish akan menjawab, ia di kejutkan dengan kehadiran Madha dari arah dalam.

"Dan... Loh, kamu disini juga?" Madha menepuk bahu temanya itu.

Danish menoleh. Senyumnya mengembang kaku, dan hal itu membuat para perawat cukup terkejut dengan pemandangan langka tadi. "Kamu juga ada di sini? Siapa yang sakit?"

"Ibuku fajar tadi di larikan ke rumah sakit, Dan! Jatuh dari kamar mandi," jawab Madha agak sendu.

Danish sedikit mengernyit. Seperti kebetulan, tapi... Perawat tadi bilang ada 5 orang yang di larikan. Mungkin, Ibu temanya itu salah satunya. "Aku turut prihatin, Dha! Nanti setelah ini aku sempatkan mampir. O ya, di ruangan apa Ibumu di rawat?"

"Lantai 8, nomor-"

"Mas Madha...." suara seorang wanita memekik, membuat Madha dan juga Danish reflek menoleh.

Sanas sudah berdiri di depan pintu lift. Niatnya tadi sekalian mau ambil charger, tapi ia lupa jika sudah ia masukan dalam tasnya. "Mas, jangan lupa pipetnya!"

Danish spontan melebarkan mata. "Loh, siapa wanita itu? Kok bisa wajahnya mirip sama Hana? Tapi, wanita tadi sedikit lebih dewasa saja," bisik batinya merasa semakin bingung.

"Iya, Mas tahu!" jawab Madha kembali membalikan badan.

Danish dengan sorot mata penasarannya, kini memegang bahu temanya itu. "Siapa, Dha?"

"Oh, dia tadi adiku nomor dua, Dan! Ya udah... Aku tinggal dulu ya, mau beli minum sama perlengkapan lainnya," Madha menepuk sekilas lengan Danish, lalu segera pergi dari sana.

Sementara Danish, ia masih mencoba berpikir, kenapa ada orang yang sangat mirip sekali dengan Ibu susu putrinya itu. Wajah Sanas dan Hana memang bak pinang di belah dua.

Itulah sebabnya, dulu sebelum menikahi Sanas, Anas lebih dulu mengenal Hana dan berniat meminang wanita cantik itu, namun Bu Laksmi menolak lamaran Anas, sebab pada saat itu Sanas sendiri belum menikah. Dan lagi, usia Hana pada waktu itu masih 18 tahun.

Danish memutuskan menghubungi Ibunya sejenak, namun lagi-lagi panggilannya kepada Bu Ana tak terjawab. "Mamah juga kemana sih? Nggak di angkat lagi," gerutunya tak jelas.

Asisten Jim mendekat. Ide cemerlang baru saja melewati pikiran cerdasnya. "Tuan... Jalan satu-satunya kini harus menemui staff penanggung jawab masalah Cctv. Jadi Anda akan tahu Mbak Hana pasti tadi melewati IGD ini."

Danish tersadar. Ia langsung bergerak menuju ruangan Cctv berada.

1
Nesya
😂😂😂😂
Nesya
hhmmm perkumpulan iblis2 berwujud manusia
Nesya
kocak bapak duda bucin satu ini 🤣🤣🤣
Sri rahayu
betul Hana masih banyak lelaki yg baik dan sayang
Sri rahayu
kalau suami cinta mau pake daster atau ga pake baju pun suami tetap sayang .ini cuma alasan Zaki aja supaya dia bisa pisah sama hana
Alby Raziq
kan Uda talak3 ga bisa rujuk
Nesya
sokoooorrrr 😂😂😂🤪
Nesya
hana ketemu teman masa kecil nya
Nesya
hhmmm sekalipun lapar jangan mau donk di makan makanan mantan apalagi di suapin mantan istri
Isabela Devi
semoga pak Danish sembuhnya dari sakitnya thor dan semoga Ardan tidak menikahi Hana, Krn Ardan terlalu obsesi aja sama Hana
Isabela Devi
pelajaran buat anak gadis
Nesya
ng tau diri g tau malu g ada harga diri menjijikan
Nesya
diihh mimpi 🤣🤣
Lee Mba Young
Gk papa mati saja si Danish dah males banget.
Hana juga gk teges dah tunangan tp mikirin laki lain pdhl cm pengasuh kan.
Debora Parta
lanjut Thor,buat Hana dan Danish nikah di rumah RS segera ya Thor,biar gak di embat sama si Ardan² itu.🤭
Arin
Mumpung udah sadar, segerakan pernikahan Hana dengan Danish. Keburu Ardan pagi-pagi menikahi Hana
Elly Irawati
ayo pak Danish bangun semngt sembuh, perjuangan kan cinta kalian💪💪😭😭😭
up lagi thorr semngt nulisnya🤣🤣
Elly Irawati: bikin penisirin anci kok🤣
total 2 replies
lia juliati
double up tor💪
Yulay Yuli
/Grin//Grin//Grin//Grin//Facepalm/
Yulay Yuli
lah td kata Dzaki rmhnya buat hanna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!