NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.23 Rasa dan kepingin terakhir

Angin di pergunakan Alpen melolong semakin kencang, membawa kristal es yang menyayat wajah, namun Sekar tidak bergeming.

Ia berdiri seperti benteng yang retak namun tak sudi runtuh, menutupi tubuh Arini yang gemetar hebat di belakangnya.

Di depan mereka, tiga pria dari bayang-bayang Von Hess berdiri dengan ketenangan yang mengerikan, sementara koper perak berisi serum maut itu berkilau di bawah lampu sorot mobil mereka yang masih menyala.

"Dokter Sekar, jangan konyol," suara pria di tengah terdengar serak, teredam oleh masker taktisnya. "Anda adalah seorang ahli bedah. Anda tahu tentang efisiensi."

Pria itu kembali melirik ke belakang Sekar sekilas. Matanya sedikit menyipit sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Serahkan subjeknya, dan Anda serta pria keturunan Pratama itu bisa pergi dari sini hidup-hidup. Kami hanya butuh satu sampel sumsum tulang belakang dan sirkulasi darahnya."

Lagi-lagi, sama halnya ketika mereka ingin merebut Lukas. Kalimat-kalimat itu membuat Sekar merasakan mual yang luar biasa. Subjek? Mereka masih menyebut darah dagingnya sebagai subjek? Sialan!

"Selama aku masih bernapas, kalian tidak akan menyentuh seujung kuku pun dari putriku," desis Sekar. Tangannya meraba ke belakang, menyentuh kepala Arini, mencoba menyalurkan keberanian yang sebenarnya ia sendiri pun sedang kumpulkan dari sisa-sisa jiwanya yang hancur.

Tiba-tiba, sebuah tawa pendek dan sarkas meledak dari samping Sekar. Alvin melangkah maju satu langkah, berdiri sedikit di depan Sekar.

Meskipun kemeja mahalnya sobek dan dahinya berlumuran darah akibat tabrakan tadi, aura sombongnya tidak luntur sedikit pun.

"Dengar, kalian para pesuruh laboratorium," Alvin memainkan sebuah pemantik api perak di tangannya dengan gaya santai yang mematikan. Senyum licik terpencar jelas di wajahnya.

"Kalian bicara soal efisiensi? Efisiensi itu adalah ketika aku sudah menelepon otoritas perbatasan lima menit yang lalu, dan juga ketika aku memastikan bahwa mobil yang kalian kendarai itu memiliki sensor pelacak yang sudah aku tanam sejak kalian keluar dari hotel di Vienna. Bagaimana, terkejut?" tanya Alvin penuh kemenangan.

Para pria itu nampak ragu sejenak. Pemimpin mereka mendengus. "Gertakan yang lemah, Alvin Pratama. Keluarga Pratama sudah membuangmu. Kamu bahkan sudah tidak mempunyai aset lagi."

"Oh, aku memang tidak punya aset," Alvin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya ia gunakan sebelum menghancurkan lawan bisnisnya. "Tapi aku punya dendam. Dan seorang pria yang tidak punya apa-apa selain dendam adalah makhluk paling berbahaya di dunia."

Tanpa peringatan, Alvin melemparkan pemantik apinya ke arah tumpahan bensin yang mengalir dari tangki SUV mereka yang hancur.

BOOM!

Ledakan itu tidak besar, namun cukup untuk menciptakan dinding api sesaat yang mengejutkan lawan.

Di tengah kepulan asap hitam dan kobaran api, Alvin berbalik dan mendorong Sekar serta Arini ke arah semak-semak lebat di pinggir jalan yang menuju ke bawah lereng, menjauh dari jalan utama.

"Lari ke arah hutan! Jangan berhenti sampai kamu melihat lampu pemukiman!" teriak Alvin.

"Alvin, terus kamu gimana?" Sekar berteriak di tengah deru angin dan suara api.

"Aku akan mengulur waktu! Cepat, Sekar! Jaga dia!" Alvin mendorong mereka sekali lagi sebelum ia berbalik menghadapi para pengejar yang mulai melepaskan tembakan.

Sekar mencengkeram tangan Arini. Mereka meluncur di lereng salju yang licin, menembus dahan-dahan pinus yang tajam.

Di belakang, suara tembakan terdengar lagi.

Phut! Phut! Duar!

Sekar merasa jantungnya hampir copot. Ia terus berlari, menggendong Arini saat anak itu terjatuh, dan terus melangkah meski kakinya sudah mati rasa karena dingin yang ekstrem.

Di tengah hutan pinus yang gelap dan hanya diterangi cahaya bulan yang pucat, Arini tiba-tiba berhenti. Ia terengah-engah, napasnya membentuk uap putih yang tebal.

"Ibu... tunggu," bisik Arini. Matanya menatap ke arah kerimbunan pohon yang gelap di samping mereka.

"Ada apa, Arini? Kita harus terus jalan!" Sekar panik, matanya terus waspada ke arah atas bukit.

"Ada... ada Ayah," gumam Arini.

Sekar membeku. Seluruh bulu kuduknya berdiri. "Arini, jangan bicara sembarangan. Ayah... Ayah tidak ada di sini."

"Dia di sana, Bu," Arini menunjuk ke arah bayangan sebuah pohon ek besar yang tua. "Dia memakai baju oranye yang robek. Dia bilang... dia bilang teruslah berlari ke arah bintang utara. Dia bilang jangan menoleh ke belakang."

Sekar menatap ke arah yang ditunjuk Arini. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya bayangan pepohonan yang bergoyang ditiup angin.

Namun tiba-tiba ia mencium sesuatu. Bukan bau pinus, bukan bau salju. Aroma parfum maskulin yang sangat spesifik—campuran kayu cendana dan tembakau mahal—aroma yang selalu dipakai Rahman sebelum hidupnya hancur.

Sekar merasakan sebuah kehangatan aneh menyapu bahunya, seolah ada tangan yang menepuknya pelan, memberinya dorongan terakhir.

“Jaga dia, Sekar. Ini penebusan terakhirku,” seolah suara itu bergema di dalam kepalanya, sangat tipis, hampir seperti bisikan angin.

Sekar menarik napas dalam. Ia tidak tahu apakah itu halusinasi karena hipotermia atau memang arwah Rahman yang tak tenang sedang membimbing mereka, tapi ia merasa tenaganya pulih kembali. "Ayo, Arini. Kita ikuti arah bintang itu."

Sementara itu, di jalan utama yang kini diterangi api, Alvin sedang melakukan tarian mautnya sendiri.

Ia bukan petarung profesional, tapi tiga tahun menjaga Arini secara rahasia telah memaksanya belajar bagaimana cara bertahan hidup di jalanan yang paling kotor sekalipun.

Ia menggunakan bangkai mobil sebagai perisai. Salah satu pria Von Hess mencoba mendekat, namun Alvin dengan cepat menghantamkan sepotong besi dari pagar pembatas ke lutut pria itu, lalu menyambar senjatanya.

"Kalian meremehkanku karena aku memakai jas mahal, kan?" Alvin meludah, darah menetes dari bibirnya yang robek, namun matanya menyala dengan ganas. "Kalian lupa kalau keluarga Pratama membangun kerajaannya dari tumpukan mayat lawan-lawannya. Dan aku adalah murid terbaik mereka."

Satu pria tumbang dengan satu tembakan tepat di pundak. Alvin tidak ingin membunuh, karena itu hanya akan mendatangkan polisi internasional lebih cepat.

Dia hanya butuh melumpuhkan.

"Kembali ke tuan kalian!" Alvin berteriak, suaranya parau. "Katakan pada Von Hess, jika dia mengirim satu orang lagi, aku akan mengirim seluruh data penelitian ilegalnya ke WikiLeaks dalam hitungan detik. Aku sudah mengatur pengiriman otomatisnya!"

Para pria itu nampak terkejut. Mereka tidak menyangka Alvin akan bermain api secara digital.

Dengan rekan mereka yang terluka, dan suara sirene polisi Australia yang mulai terdengar di kejauhan, mereka akhirnya mundur, menyeret rekan mereka masuk ke Range Rover dan memacu mobil itu pergi dengan kecepatan tinggi.

Alvin terduduk di samping bangkai SUV yang terbakar. Ia terengah-engah, memegang rusuknya yang mungkin retak.

Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya pecah, melihat koordinat pelacak di jam tangan Arini.

"Mereka aman," bisiknya pada diri sendiri. Alvin menyandarkan kepalanya pada ban mobil yang dingin. "Tugas selesai, Sekar. Kamu berutang penjelasan padaku nanti... kalau aku belum mati kedinginan di sini."

______________

Sekar dan Arini akhirnya menemukan sebuah gubuk kayu kecil milik pemburu di lembah. Mereka masuk ke dalam, menggigil hebat.

Sekar segera menyalakan perapian tua yang ada di sana dengan sisa-sisa kayu kering yang ada.

Saat api mulai berkobar, Sekar memeluk Arini erat. Ia memeriksa dahi anaknya, membersihkan darahnya dengan sapu tangan yang ia basahi dengan air salju.

"Ibu," panggil Arini lirih. "Kenapa Ayah tidak ikut kita?"

Sekar terdiam sejenak. Ia mengusap rambut Arini. "Ayah... Ayah sedang beristirahat, Arini. Dia sudah lelah berjalan terlalu jauh."

Arini menatap api yang menari-nari. "Tadi dia tersenyum, Bu. Sebelum dia hilang, dia bilang dia bangga padaku karena aku mirip Ibu. Lalu ada satu lagi anak laki-laki di sampingnya. Dia melambai padaku."

Sekar menutup matanya, membiarkan air mata jatuh dengan bebas. Lukas, Rahman. Mereka ada di sana, di perbatasan antara dunia ini dan dunia sana, memastikan Arini—serpihan terakhir dari kehidupan mereka yang berantakan—tetap selamat.

Tiba-tiba, pintu gubuk terbuka. Sekar segera menyambar sebilah pisau pemburu yang tergantung di dinding, namun ia menurunkannya saat melihat sosok pria yang berdiri di sana.

Alvin.

Dia nampak seperti hantu yang babak belur. Mantelnya hancur, wajahnya bengkak, dan ia berjalan pincang. Tapi saat ia melihat Sekar dan Arini aman di depan api, sebuah seringai kecil yang sombong kembali muncul di wajahnya.

"Kau tahu, Sekar," Alvin bersandar pada bingkai pintu, napasnya berat. "Aku mulai berpikir kalau aku lebih cocok jadi pengawal daripada pengusaha. Tapi lain kali, tolong pilih tempat ziarah yang suhunya lebih bersahabat untuk kulit mahalku."

Sekar tidak bisa menahan diri. Ia berdiri dan menghambur memeluk Alvin. Bukan pelukan cinta romantis, tapi pelukan syukur yang mendalam.

Alvin sedikit mengaduh karena rusuknya yang sakit, tapi ia melingkarkan tangannya di bahu Sekar, menepuknya pelan.

"Terima kasih, Alvin. Terima kasih," bisik Sekar.

"Jangan berlebihan," Alvin bergumam, meskipun ia tidak melepaskan pelukan itu. "Aku hanya sedang melindungi aset masa depanku. Kamu masih punya utang banyak padaku untuk semua tagihan panti asuhan itu, ingat?"

Sekar tertawa kecil di tengah tangisnya. Itulah Alvin. Selalu punya cara untuk merusak momen emosional dengan sarkasmenya, namun itulah yang membuat Sekar merasa aman.

Bahkan di dunia yang penuh dengan monster laboratorium dan pengkhianatan keluarga, setidaknya ada satu orang—brengsek— yang akan tetap berdiri di sampingnya sampai akhir.

Di luar gubuk, salju terus turun dengan tenang, menutupi jejak-jejak pelarian mereka. Dan jauh di tengah kegelapan hutan, aroma cendana dan tembakau itu perlahan menghilang, terbawa oleh angin menuju keabadian.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!