NovelToon NovelToon
Anomali Detik Ke-601

Anomali Detik Ke-601

Status: tamat
Genre:Action / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan Di surga palsu

Kala Danuarta terbangun dengan perasaan paling damai yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Aroma kopi Arabika yang segar menyeruak masuk ke indra penciumannya, bercampur dengan bau hujan pagi yang membasahi aspal Jakarta. Ia membuka mata dan menemukan dirinya berbaring di tempat tidur yang empuk dengan sprei bersih. Di sampingnya, Arumi masih terlelap, napasnya teratur dan tenang.

Ia bangkit, berjalan menuju jendela, dan melihat pemandangan yang selama ini ia impikan: Jakarta yang normal. Tidak ada jam raksasa di langit, tidak ada Pemulih yang mengintai di balik bayangan, dan pergelangan tangannya bersih dari segala bekas luka mekanis. Semuanya terasa sempurna. Terlalu sempurna.

Kala turun ke lantai bawah, menuju kafe kecil miliknya, "Kopi Detik". Ia melihat Naya, putrinya yang kini berusia empat tahun, sedang duduk di meja pojok sambil mewarnai buku gambar.

"Pagi, Ayah!" sapa Naya dengan tawa yang jernih.

Kala mengusap rambut Naya. Namun, saat jarinya bersentuhan dengan helai rambut putrinya, ia merasakan sebuah sensasi aneh. Sebuah getaran statis yang sangat tipis, mirip seperti sengatan listrik dari layar televisi tua. Kala mengabaikannya, menganggap itu hanya sisa-sisa trauma masa lalunya.

Seorang pria pelanggan tetap masuk ke kafe. Ia memakai topi kumal dan duduk di kursi yang sama setiap hari. "Kopi hitam satu, Mas Kala," ucapnya dengan nada datar.

Kala menyeduh kopi itu. Namun, saat ia meletakkan cangkir di atas meja, ia menyadari sesuatu yang janggal. Jam dinding di kafe menunjukkan pukul 08.00 tepat. Detik demi detik berlalu, namun jarum itu seolah-olah bergerak dengan ritme yang terlalu presisi. Ia mencoba menjatuhkan sebuah sendok logam ke lantai untuk memecah suasana.

Ting.

Bunyi sendok itu tidak menggema. Suaranya seolah diserap oleh udara yang padat. Kala memperhatikan Pak Sopir bertopi kumal itu. Pria itu mengangkat cangkirnya, menyesapnya, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan yang sama persis seperti yang ia lakukan kemarin. Dan kemarin lusa.

"Arumi," panggil Kala pelan saat istrinya turun ke kafe. "Kamu merasa ada yang aneh tidak hari ini?"

Arumi tersenyum, sebuah senyuman yang sangat cantik namun matanya tidak menunjukkan emosi yang dalam. "Aneh kenapa, Sayang? Bukankah ini yang kita inginkan? Kedamaian tanpa akhir."

Kata-kata "tanpa akhir" itu berdenting di kepala Kala seperti lonceng peringatan. Ia berjalan ke arah pintu kafe dan mencoba membukanya. Saat ia melangkah keluar, pemandangan trotoar Jakarta yang sibuk menyambutnya. Namun, ada batas tipis di ujung penglihatannya—sebuah distorsi cahaya yang membuat gedung-gedung di kejauhan tampak sedikit bergetar, seperti fatamorgana di padang pasir.

Kala berlari ke arah distorsi itu.

"Kala! Mau ke mana?" teriak Arumi dari ambang pintu.

Kala terus berlari. Ia menabrak seorang pejalan kaki, namun orang itu tidak marah. Orang itu hanya berdiri tegak, menatap kosong ke depan, lalu melanjutkan perjalanannya seolah-olah Kala adalah udara. Kala sampai di ujung blok, dan ia mencoba menyentuh sebuah tiang lampu.

Tangannya menembus tiang itu.

"Ini bukan nyata," bisik Kala. Suaranya bergetar karena ngeri. "Ini adalah simulasi."

Seketika, dunia di sekitarnya mulai berkedip. Langit biru yang cerah terbelah, menyingkapkan rangkaian kode digital berwarna hijau dan biru di baliknya. Suara tawa Naya di kejauhan mulai terdengar seperti rekaman yang rusak—melambat, meninggi, lalu berubah menjadi suara statis yang menyakitkan telinga.

"Subjek 601 menyadari anomali," sebuah suara dingin dan tak berwujud menggema dari langit yang runtuh. "Memulai protokol penenangan tahap dua."

Tiba-tiba, sosok Arumi muncul di depan Kala. Namun, ia tidak lagi tampak seperti manusia. Kulitnya berkilat seperti porselen, dan matanya memancarkan cahaya biru neon. "Kala, kembalilah ke kafe. Kenapa kamu harus merusak kebahagiaan ini? Di sini, kita tidak akan pernah mati. Di sini, kamu memiliki segalanya."

"Ini bohong!" raung Kala. "Kalian memenjarakan kesadaranku! Di mana Arumi yang asli?! Di mana putriku?!"

"Mereka ada di tempat yang seharusnya," suara Kurator muncul, kali ini proyeksi wajahnya yang besar muncul di awan-awan digital yang gelap. "Mereka adalah sumber daya bagi Dewan. Sementara kamu, Kala, jiwamu terlalu kuat untuk dihancurkan secara paksa. Kami harus membuatmu 'setuju' untuk menyerah. Dan surga ini adalah tawaran kami."

Kala mengepalkan tinjunya. Ia merasakan amarah yang murni mulai membakar lapisan simulasi ini. Jika ini adalah dunia yang dibangun dari memorinya, maka ia adalah penguasanya.

"Vera! Aku tahu kamu masih ada di sistem ini! Bantu aku bangun!" teriak Kala.

Layar televisi di sebuah toko elektronik di dekatnya tiba-tiba meledak, mengeluarkan percikan api biru. Sosok Vera muncul dalam bentuk bayangan digital yang samar. "Kala... kamu harus menghancurkan pusat logikamu sendiri! Simulasi ini terikat pada rasa bersalahmu! Kamu harus berhenti merasa bersalah karena telah mencuri waktu!"

Kala menatap Arumi palsu yang berjalan mendekat untuk memeluknya. Arumi itu menangis, memohon agar ia tetap tinggal. "Tolong, Kala... jangan tinggalkan aku di kegelapan lagi."

Kala memejamkan mata. Hatinya hancur melihat wajah wanita yang paling ia cintai memohon seperti itu, meskipun ia tahu itu hanya data. "Maafkan aku, Rum. Tapi aku tidak akan mencintaimu di dalam penjara."

Kala membayangkan sebuah ledakan besar di tengah dadanya. Ia tidak lagi mencoba mengendalikan waktu; ia mencoba menghancurkan ruang yang mengurungnya. Ia memusatkan seluruh kebenciannya pada Dewan Realitas ke dalam satu titik fokus.

BOOOOOOOOMMMMMMM!

Seluruh Jakarta digital itu pecah menjadi jutaan serpihan data. Warna-warna cerah terhisap menjadi kegelapan yang pekat.

Kala merasakan sensasi seperti ditarik keluar dari dalam lumpur yang sangat dalam. Paru-parunya terasa terbakar saat ia menghirup udara yang sebenarnya—udara yang berbau logam, bahan kimia, dan kematian.

Ia tersentak bangun.

Kala menemukan dirinya terbaring di atas meja operasi logam yang dingin dan keras. Lusinan kabel transparan menancap di tulang belakangnya, memompa cairan emas yang berdenyut. Ia berada di sebuah ruangan raksasa yang tidak memiliki ujung, penuh dengan ribuan tabung kaca yang berisi manusia-manusia lain yang sedang bermimpi.

Di depannya, berdiri Kurator Utama. Kali ini bukan proyeksi, melainkan sosok fisik yang mengenakan jubah perak berat. Di sampingnya, terdapat dua tabung khusus yang lebih besar.

Di dalam salah satu tabung, Arumi yang asli terlihat pucat, dikelilingi oleh kabel-kabel yang sama. Di tabung lainnya, Naya sedang menangis dalam tidur plastiknya, sementara mesin-mesin Dewan sedang mengekstraksi cahaya emas dari tanda lahir di bahunya.

"Selamat datang kembali di kenyataan, Kala Danuarta," ucap Kurator Utama tanpa emosi. "Kamu baru saja menghancurkan satu-satunya tempat di mana kamu bisa bahagia. Sekarang, yang tersisa bagimu hanyalah eksekusi."

Kala merobek kabel-kabel di punggungnya dengan satu sentakan kasar. Darah merah segar mengucur, namun ia tidak peduli. Ia berdiri, matanya memancarkan cahaya merah yang mengerikan—warna dari paradoks yang kini telah menyatu sepenuhnya dengan jiwanya.

"Aku sudah pernah mati ribuan kali di tangan kalian," geram Kala, suaranya terdengar seperti dua frekuensi yang bertabrakan. "Tapi hari ini, akulah yang akan menjadi akhir bagi kalian."

Kala melangkah maju, dan setiap langkahnya membuat lantai logam laboratorium itu retak, sementara waktu di ruangan itu mulai melengkung di sekelilingnya.

1
Marina Bunga
masyaallah, baru baca bagian depan udah kerennnnn😍
Samuel sifatori: Hiii kakk, makasih banget lohh😁☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!