Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Tidur seranjang
Selepas Istirahat dan membersihkan diri mereka pun turun untuk makan malam. Tentunya makan malam sudah tersaji di atas meja tanpa harus bersusah payah.
“Gimana usaha kamu, lancar Sep?” tanya Pak Arman di sela-sela makan malam mereka.
“Alhamdulilah lancar Pak,” sahut Asep.
“Awalnya Aku kira dia ini cuma pekerja biasa Pah, taunya dia bosnya,” Ziya ikut bicara.
“Oh ya, keren kamu Sep. Kalau kamu butuh modal tambahan tinggal bilang aja sama saya, saya akan pinjamkan tanpa bunga,” ucapnya.
“Terimakasih Pak, tapi saya usahakan tidak sampai meminjam modal, karena takut tidak bisa membayarnya kalau-kalau gagal panen atau harga sayuran sedang turun,” ungkap Asep.
“Wah, saya suka prinsip kamu, tapi gak papa lah toh sekarang kita kan keluarga,” ucap Pak Arman.
Asep hanya tersenyum sebagai balasan. Selepas makan malam Asep mengobrol dengan Pak Arman hingga sekitar pukul sepuluh malam, sedang Ziya sudah berada di kamarnya.
Asep masuk ke kamar dengan langkah pelan, dia mengira Ziya sudah terlelap namun nyatanya belum sama sekali. Asep melirik sekitar atensinya mengarah ke sopa, dia sudah duduk disana bersiap untuk tidur.
“Sep,” panggil Ziya.
“I-iya Neng?” sahutnya.
“Ranjangnya sekarang gede, gue bisa berbagi sama elu,” ucap Ziya tanpa menoleh.
Asep hendak buka suara namun Ziya mendahului, “kali ini gue gak nerima penolakan,” ucapnya, membuat Asep kembali menelan kata-katanya.
Dengan ragu dia berpindah ke ranjang, dia melirik Ziya yang berbaring memunggunginya, di tengah-tengah sudah diletakkan pembatas yakni guling dan bantal. Dia tersenyum tipis kemudian mulai berbaring di sisi kosong ranjang tersebut.
Malam kian larut, meskipun matanya terpejam tapi Asep tak benar-benar bisa terlelap mungkin karena dia tidur di tempat asing, atau mungkin karena Ziya tidur di sampingnya.
Grep...
Matanya terbuka seketika, saat sebuah tangan tiba-tiba memeluk tubuhnya, glek... Dia menelan Salivanya.
‘Astaga, gimana saya bisa tidur kalau begini,’ batinnya, jantungnya berdetak tak karuan, apa lagi saat Ziya merapatkan tubuhnya ke tubuh Asep, memeluknya seperti memeluk guling, dia bahkan menggesek-gesekkan pipinya ke lengan Asep.
Sedangkan benda yang dimaksud entah sudah pergi kemana.
Asep berusaha menenangkan diri, membiarkan Ziya tetap memeluknya seperti itu, dia meliriknya wajahnya dan wajah Ziya hanya berjarak beberapa inci.
Tangannya menyibak pelan rambut Ziya, ‘Saya harus bagaimana atuh Neng, semakin lama rasa ingin memiliki di hati saya semakin besar. Kalau saya katakan saya cinta sama Neng, apa Neng mau mempertimbangkan untuk tetap di samping saya, Neng gak perlu membalas perasaan saya hanya tetap di samping saya seperti ini saja itu sudah cukup,' batinnya.
Asep menatap lamat-lamat wajah Ziya, semakin lama semakin terhanyut, tanpa sadar dia hendak menautkan bibirnya ke bibir Ziya, namun tiba-tiba Ziya merubah posisi tidurnya membuat niatnya buyar seketika.
Ugh... Asep merasakan tekanan di tubuh bagian bawahnya, ternyata itu paha Ziya, dia menaikan sebelah kakinya ke tubuh Asep sambil memeluknya dengan erat.
‘Aduh, gimana atuh ini. Neng, ampuni saya atuh Neng,’ Sialnya bendanya di bawah sana mulai aktif akibat ulah Ziya.
Dia menutup wajahnya sambil meringis, apa lagi saat Ziya tak sengaja bergerak bendanya seakan semakin tertekan dan berdiri tegak seperti tiang bendera.
‘Apa saya bangun saja? Tapi, kalau saya bangun Neng Ziya pasti ikut bangun,’ batinnya, ‘ta-tapi kalau gini terus lama-lama saya juga gak tahan,’ batinnya bimbang.
Lama Ziya tidur dalam posisi itu, membuat Asep harus tetap diam berjuang menahan hasrat yang telah Ziya bangkitkan.
Saat fajar hampir tiba tidur Ziya pun terusik, “Astaga, se-sejak kapan gue tidur sambil meluk si Asep?” pekiknya, sementara Asep memilih pura-pura tertidur.
“Di-dia sadar gak ya gue tidur sambil meluk dia? Kayanya sih enggak ya, mau di taruh dimana muka gue,” gumam Ziya, yang tentu mampu Asep dengar semuanya.
Ziya bangkit kemudian masuk ke kamar mandi, akhirnya Asep bisa bernafas lega, dia sudah menduga reaksi Ziya akan seperti itu saat bangun, jadi dia memilih untuk pura-pura tidur saja dan pura-pura tak terjadi apa-apa semalam.
🤣😄😍💪❤❤❤
dari bemci jadi bucin.
🤣😄😍❤💪💪❤❤
jgn2 sarah ikutan ngabisin dueit ziya..
❤❤❤❤
2x up hari ini ..
😍😍❤❤❤💪💪
keren banget Asseeepppp..
😄😍❤💪💪❤❤😍😍
🤣😄😍😍😍💪❤❤❤💪💪
biar tuh regan kena mental....
😄😍😍💪💪💪