Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kode di Balik Catatan Kaki
Ruang rapat darurat itu mendadak sunyi senyap, cuma menyisakan suara hujan yang menghantam kaca jendela hotel yang bikin telinga sakit. Pesan dari Pak Hermawan tadi pagi bener-bener kayak granat yang dilempar ke tengah-tengah sarapan kami. Bocoran naskah? Plagiarisme? Akun Kaka’s dan Senja_Sastra terseret skandal?
Gue ngerasa jemari gue mendadak dingin. Gue balik ke meja dengan langkah gontai, abaikan bisik-bisik staf lain yang mulai ngelirik curiga. Di tengah kepanikan itu, mata gue tertuju ke bundel naskah revisi bertinta biru "kedamaian" dari Genta tadi.
Ada yang mengganjal. Gue balik halaman demi halaman dengan terburu-buru. Pas sampai di Bab 5, bagian tentang "Pertemuan yang Tak Terduga" mata gue menangkap sesuatu di pojok kanan bawah.
Di sana, di balik catatan teknis soal alur, ada catatan kaki kecil pakai tinta biru tipis. Ukurannya kecil banget, nyaris samar, seolah si penulisnya lagi ragu mau dibaca atau tetap jadi rahasia.
Gue memicingkan mata, deketin muka ke kertas sampai hidung gue hampir nyentuh tinta kering itu. Kalimatnya begini:
“Spasi itu memang penting buat menjaga keterbacaan, Aruna. Tapi tolong, jangan buat spasi itu terlalu lebar di antara kita. Terlalu banyak spasi cuma bakal bikin narasi kita terasa asing.”
...“Spasi itu memang penting buat menjaga keterbacaan, Aruna. Tapi tolong, jangan buat spasi itu terlalu lebar di antara kita. Terlalu banyak spasi cuma bakal bikin narasi kita terasa asing.”...
Deg.
Jantung gue kayak baru saja lompat dari gedung lantai sepuluh. Kalimat itu... metaforanya... cara penyampaiannya yang sok filosofis tapi nusuk...
"Nggak mungkin," bisik gue. Suara gue bergetar. "Ini... ini gaya bahasa Kaka's banget!"
Kaka’s selalu terobsesi sama spasi. Di salah satu bab novelnya yang paling populer, dia pernah nulis: “Cinta itu kayak spasi di antara dua kata; dia nggak kelihatan, tapi tanpa dia, dua kata itu nggak bakal punya makna.”
...“Cinta itu kayak spasi di antara dua kata, dia nggak kelihatan, tapi tanpa dia, dua kata itu nggak bakal punya makna.”...
...Kaka`s...
Gue langsung nyambar HP. Tangan gue gemetar hebat sampai salah masukin passcode dua kali. Pas aplikasi NovelToon kebuka, ada notifikasi DM baru. Dari Kaka’s. Dikirim tepat dua menit yang lalu.
Kaka’s: “Gue sudah coba berubah di dunia nyata. Gue sudah coba turunin gengsi, ganti tinta merah jadi biru, bahkan nyoba buat nggak marah-marah pas naskah lo penuh typo. Tapi kayaknya ‘dia’ belum sadar juga. Apa gue memang seburuk itu di matanya sampai usaha gue dianggap sebagai ancaman?”
Gue natap layar HP, terus natap catatan kaki di kertas, lalu natap punggung Genta yang lagi berdiri mungbelakangi gue di deket jendela. Dia lagi nelepon seseorang mungkin Pak Hermawan dengan nada suara berat dan tegang.
"Gila... ini beneran dia," gumam gue. "Si Monster ini beneran Kaka's."
Pikiran gue langsung melesat kayak komidi putar hilang kendali. Segala kekejaman Genta di kantor, revisi nggak masuk akal, omelan soal efisiensi... gimana bisa semua itu nyatu sama sosok Kaka's yang lembut dan selalu dukung gue di dunia maya? Ini kayak tahu kalau Joker ternyata Batman yang lagi krisis identitas. Walau memang sejak awal kami sudah saling tau. Tapi ini membuat gue syok.
Gue pengen teriak, atau mungkin ngelempar naskah ini ke kepala Genta sambil nanya, "Bapak ini maunya apa sih?!". Tapi di saat yang sama, rasa hangat yang aneh mulai menjalar di dada. Gue ngerasa dihargai. Seorang Genta, editor paling ditakuti se-Jakarta, rela nurunin "pedang" tinta merahnya demi nyenengin hati asisten yang hobi makan seblak ini.
"Dasar aneh," gerutu gue sambil ngusap air mata kecil yang mau keluar gara-gara emosi campur aduk. "Pakai kode-kodean segala. Dikira gue detektif apa?"
Gue natap lagi catatan kaki itu. Spasi yang terlalu lebar, ya?
Gue ambil pulpen. Gue pengen balas. Tapi jari gue kaku. Gimana kalau ini jebakan? Tiba-tiba, Genta nutup teleponnya dan balik badan. Mata kami langsung tabrakan. Ada panik di mata Genta pas dia lihat gue lagi pegang naskah Bab 5. Dia kayaknya baru sadar kalau dia baru saja melakukan keteledoran terbesar dalam karier anonimnya.
Genta berdeham, benerin posisi kacamata yang sebenarnya nggak miring. "Aruna, soal catatan kaki di sana..."
"Bapak mau bilang itu kesalahan cetak?" potong gue cepet, suara gue sedikit menantang. "Atau Bapak mau bilang kalau tinta biru itu sebenarnya tinta merah yang lagi galau?"
Genta terdiam. Dia nggak menghindar. Dia malah jalan deketin meja gue. Suasana mendadak tipis banget, seolah orang-orang di ruangan ini hilang dan cuma sisa kami berdua di bawah lampu yang berkedip.
"Bukan kesalahan cetak," ucap Genta pelan, suaranya jujur banget sampai gue merinding. "Itu koreksi. Dan saya harap... penulisnya mau terima koreksi itu tanpa harus protes panjang lebar kayak biasanya."
Gue nelan ludah. "Tergantung. Penulisnya lagi mikir, apa editornya ini beneran jujur atau cuma lagi latihan buat bab selanjutnya di aplikasi."
Genta hampir senyum—tipis banget, tapi cukup buat bikin pertahanan gue runtuh satu-satu. "Editornya lagi berusaha, Aruna. Meski dia tahu, dia mungkin sudah terlambat buat menutup spasi itu."
Sebelum suasana makin melankolis, pintu ruang rapat kebuka kasar. Beberapa staf masuk dengan muka panik, bawa berita skandal plagiarisme yang makin panas di medsos.
Genta langsung balik ke mode profesional yang kaku. "Semuanya, fokus! Kita nggak punya waktu buat drama pribadi. Aruna, simpan naskah itu. Kita harus ke Jakarta sekarang juga sebelum kantor dikepung wartawan."
Gue mengangguk, beresin barang buru-buru. Tapi sebelum masukin naskah ke tas, gue sempetin balas DM Kaka's.
Senja_Sastra: “Dia sadar kok, Kaka’s. Tapi dia lagi bingung, editornya ini beneran tulus atau cuma lagi takut karakternya dibikin bangkrut lagi? Anyway... spasi itu bisa dikecilkan, asal tintanya jangan pernah berubah jadi merah lagi.”
Gue sampirkan tas, lirik Genta yang sudah jalan di depan dengan langkah lebar. Gue tahu, perjalanan pulang ke Jakarta ini nggak akan sama lagi. Rahasia kami sudah di ujung tanduk, dan gue ngerasa badai yang akan datang justru bakal jadi bab paling seru dalam hidup kami.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻