Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
TIGA BULAN PASCA PERCERAIAN ....
Tiga bulan setelah putusan itu diketuk, hidup Kirana benar-benar berubah. Bukan hanya statusnya sebagai istri yang hilang, tetapi juga rutinitas lama, wajah-wajah lama, dan rasa takut yang selama bertahun-tahun membelenggu dadanya. Perceraian dengan Rafka telah sah secara hukum. Rumah yang dulu mereka tempati yang menyimpan terlalu banyak kenangan pahit, dijual dan dibagi sebagai harta gono-gini. Tidak ada perdebatan panjang. Tidak ada tangisan histeris. Semua terasa seperti babak terakhir dari cerita yang sejak lama seharusnya berakhir.
Kirana memilih pergi. Ia pindah ke sebuah kota madya yang tidak terlalu ramai, tetapi hidup. Kota yang denyutnya terasa hangat, tidak menekan, dan memberi ruang bagi siapa pun yang ingin memulai kembali. Keputusannya bukan hanya untuk menjauh dari masa lalu, tetapi juga untuk menyelamatkan Gita agar anak itu tumbuh tanpa bisik-bisik, tanpa tatapan kasihan, tanpa stigma sebagai anak dari keluarga yang retak.
Di kota itu, Kirana membeli sebuah rumah tua berukuran sedang. Bangunannya sederhana, catnya sudah mulai kusam, tetapi letaknya strategis di pinggir jalan, dekat dengan kompleks kampus dan kantor pemerintahan daerah. Rumah itu tidak hanya ia jadikan tempat tinggal, tetapi juga tempat usaha.
Pagi hari, aroma masakan Kirana selalu lebih dulu menyapa jalanan kecil di depan rumah. Wangi bumbu tumis, kuah kaldu yang mengepul, dan sambal yang menggigit lidah menjadi penanda bahwa dapur kecil itu hidup. Usaha kuliner yang ia rintis perlahan berkembang. Harga yang ramah di kantong dan rasa masakan yang jujur, tidak pelit bumbu, tidak main-main dengan kualitas membuat pelanggan datang kembali.
Mahasiswa, pegawai kantor, bahkan dosen-dosen kampus di sekitar situ mulai mengenal nama Kirana.
“Masakan Bu Kirana itu sederhana, tapi bikin nagih,” begitu kata mereka.
Siang itu, Kirana baru saja menutup etalase kecil di depan rumah ketika seseorang mengetuk pintu samping.
“Sudah mau tutup?”
Kirana tersenyum ketika mengenali suara itu. “Iya. Ayo, masuk saja, Alga.”
Algara melangkah masuk dengan senyum ramah. Pria itu mengenakan kemeja sederhana dan membawa tas kerja di bahunya. Sejak awal, Algara tidak pernah bersikap berlebihan. Ia hadir seperti teman lama yang tidak memaksa, tidak menggurui, hanya menemani.
“Bagaimana keadaan kalian sekarang?” tanya Algara sambil duduk di kursi kayu dekat dapur.
“Jauh lebih baik,” jawab Kirana jujur. “Dan lebih bahagia.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu. Tidak ada kepalsuan di sana.
Algara mengangguk pelan. “Aku senang mendengarnya.”
Dahulu, sepulang dari gedung pengadilan agama, Kirana bertemu Algara secara tidak sengaja. Saat itu, wajah Kirana pucat, matanya sembab, tetapi punggungnya tegak. Algara tidak bertanya banyak. Ia hanya menawarkan bantuan, sebuah rumah tua yang kebetulan hendak dijual oleh kerabatnya, dan sebuah kota yang mungkin memberi Kirana awal baru.
Tidak ada paksaan. Tidak ada janji muluk.
Hanya pilihan. Dan Kirana mengambilnya.
“Om Alga!” suara kecil Gita menyela percakapan mereka.
Gadis kecil itu berlari dari halaman belakang dengan wajah penuh semangat. Di tangannya ada piring kecil berisi telur gulung yang masih hangat.
“Aku buat telur gulung,” ucap Gita bangga. “Ini aku buat khusus untuk Om.”
Algara terkekeh. Ia menerima piring itu dengan kedua tangan. “Wah, terima kasih. Om merasa sangat terhormat.”
Algara menggigit telur gulung itu perlahan, lalu mengangguk puas. “Enak.”
Gita tersenyum malu-malu. Pipinya memerah. Pujian sederhana itu membuat dadanya hangat.
Sejak pindah ke kota ini, Gita berubah. Anak itu kembali ceria. Tawa yang dulu sempat redup kini kembali nyaring. Ia tidak lagi sering melamun atau bertanya hal-hal yang terlalu dewasa untuk usianya. Di kota baru ini, Gita merasa aman.
Algara menjadi bagian dari perubahan itu. Bukan sebagai pengganti siapa pun, tetapi sebagai sosok dewasa yang hadir dengan sabar. Saat hari libur, Algara sering mengajak Gita berjalan-jalan ke taman kota, ke toko buku, atau sekadar membeli es krim.
“Gita,” kata Algara suatu sore, “hari Minggu awal bulan depan ada kolam renang baru yang akan dibuka. Kita pergi ke sana, yuk.”
Mata Gita berbinar. “Ayo! Eh, tapi aku izin dulu sama Mama, Om.”
Gita berlari masuk ke dapur, menghampiri Kirana dengan wajah penuh harap.
“Ma, Om Alga ngajak ke kolam renang.”
Kirana tersenyum. Ia melihat kilau bahagia di mata putrinya. “Boleh. Tapi kamu jangan nyusahin Om Alga, ya?”
“Oke, Mama!” Gita memeluk Kirana singkat sebelum kembali berlari keluar.
Kirana memandangi mereka dari ambang pintu. Ada perasaan hangat yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan cemburu. Bukan takut kehilangan. Melainkan rasa syukur, bahwa di tengah reruntuhan hidupnya, masih ada orang-orang baik yang datang tanpa niat melukai.
Sementara itu, di tempat lain, Rafka menjalani hari-hari yang jauh berbeda.
Setelah perceraian, hidupnya seperti kehilangan arah. Pekerjaannya sebagai mandor tetap berjalan, tetapi semangatnya menguap. Ia sering datang terlambat, sering melamun, dan kehilangan fokus. Rekan-rekannya mulai menyadari perubahan itu.
Di kamar kontrakan kecil yang kini ia tempati, Rafka sering duduk sendirian di tepi ranjang. Tidak ada suara tawa anak. Tidak ada aroma masakan rumah. Yang ada hanya sunyi dan penyesalan yang berputar-putar di kepalanya.
Rafka menyesal. Dia menyadari sesuatu yang terlambat, bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya rumah yang benar-benar menerima dirinya apa adanya.
Rafka menolak menikahi Kinanti. Keputusan itu ia sampaikan dengan dingin, tanpa basa-basi.
“Hubungan kita bukan karena cinta,” ucap Rafka saat itu. “Bukan juga karena saling membutuhkan. Kita cuma… bersenang-senang. Dan itu tidak cukup untuk dijadikan rumah.”
Kinanti mengamuk. Menangis. Memaki.
Namun, Rafka sudah kebal. Hatinyalah yang justru mati rasa.
Pak Darma dan Bu Maya murka ketika mengetahui keputusan itu. Bagi mereka, Rafka adalah sumber kehancuran. Bukan hanya merusak rumah tangga Kirana, tetapi juga menyeret nama keluarga ke dalam aib yang tak mudah dihapus.
Rafka kehilangan segalanya dalam satu waktu—istri, anak, keluarga, dan harga dirinya sendiri.
Suatu malam, Rafka duduk di teras kontrakannya. Ia menatap langit gelap, mencoba mengingat tawa Gita, senyum Kirana, dan rumah yang dulu ia sebut tempat pulang.
“Seandainya aku tidak sebodoh itu,” gumamnya pelan.
Namun, hidup tidak memberi kesempatan kedua untuk waktu yang telah berlalu.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏