"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 17
"Tuan, ini laporan yang anda minta." Dengan sopan Fan Zhi memberikan sebuah map yang berisi berkas penting mengenai perusahaan milik atasannya.
Tanpa kata, Qiaoyan langsung menyambar sebuah map yang diberikan asistennya barusan. Kedua netra Qiaoyan menatap fokus pada sebuah kata yang tercetak di atas kertas tersebut. Sebelum kemudian dia kembali menutup map tersebut dan menyerahkan pada Fan Zhi.
"Segera kau atur meeting dengan perusahaan xxx. Seperti biasa, kau yang akan menghandle meeting itu dan melaporkan segala hasil meeting nanti."
Ya, Qiaoyan merupakan Presdir sekaligus pemilik dari sebuah perusahaan raksasa yang tak lain adalah Qiao Group. Usai kecelakaan dan diasingkan oleh keluarga besarnya, lelaki itu memutuskan untuk membangun perusahaan sendiri. Beruntung ada Fan Zhi yang selalu setia berada di sampingnya, menghandle semua urusan perusahaan yang digeluti oleh Qiaoyan. Bergulirnya waktu, Qiao Group berkembang semakin pesat hingga mampu menandingi perusahaan raksasa lainnya.
Dulu, Qiaoyan pernah menjabat sebagai CEO di perusahaan Heshi Group milik Oma nya sesuai dengan amanah dari almarhumah. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion, namun saat takdir buruk menimpanya dimana Qiaoyan yang mengalami insiden kecelakan, saat itulah semua yang dia miliki terenggut paksa, termasuk kekasihnya sosok perempuan yang sangat dicintainya. Kini perempuan itu pergi meninggalkan Qiaoyan, menjalin hubungan dengan salah satu sahabatnya yang memiliki fisik normal tidak cacat sepertinya.
Sementara perusahaan Oma nya, kini telah diambil alih oleh Daddy nya untuk memimpin perusahaan tersebut. Karena tak mungkin juga jika putra sulungnya yang memiliki keterbatasan fisik itu bisa memimpin perusahaan. Hingga akhirnya jabatan CEO itu diberikan kepada putra bungsunya tak lain adalah He Qiaoran.
"Baik Tuan." Fan Zhi mengangguk paham dengan perintah atasannya.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan Oma? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Qiaoyan memastikan, pasalnya beberapa bulan lalu sempat dia mendengar rumor perihal perusahaan Oma nya yang sedang mengalami penurunan nilai aset. Hingga membuatnya khawatir jika hal buruk benar-benar menimpa perusahaan itu.
Tentu saja Qiaoyan tidak akan membiarkan hal itu terjadi, mengingat selama ini sang Oma telah mempercayakan perusahaan itu padanya. Namun, karena sebuah insiden kecelakaan membuatnya untuk melepaskan itu semua. Tapi, Qiaoyan berjanji jika suatu saat dirinya akan kembali mengambil hak nya yang telah di rampas oleh sang Daddy.
Bukan tak ingin jika perusahaan itu dipimpin oleh Qiaoran yang notabenenya adiknya sendiri. Namun, Qiaoyan masih ragu jika adiknya mampu memimpin perusahaan milik Oma nya secara sang adik hobby menghamburkan uang di club bersama teman-temannya. Tak menutup kemungkinan jika adiknya juga seorang pemain yang memang sering kali datang ke tempat itu dan dikelilingi oleh beberapa wanita untuk menemaninya.
Sebuah tempat yang digemari oleh para eksekutif sepertinya. Karena Qiaoyan pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri jika sang adik pernah masuk hotel bersama teman wanitanya.
"Untuk saat ini, perusahaan Heshi Group sudah stabil Tuan. Yang memang beberapa bulan lalu perusahaan mengalami penurunan nilai aset. Beruntung saat itu Tuan besar mengambil tindakan tepat dan cepat pada perusahaan, sehingga perusahaan dapat terselamatkan." Cerita pun mengalir begitu saja dari bibir Fan Zhi mengenai Heshi Group.
Qiaoyan menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Aku berjanji setelah sembuh nanti, aku segera mengambil perusahaan Oma yang memang sudah menjadi milikku."
Fan Zhi hanya diam menunduk tanpa berucap. Lelaki itu begitu setia menyimak penjelasan asistennya itu.
Bersamaan itu, terdengar suara pintu kamar yang terbuka menampilkan sosok gadis cantik masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah nampan yang berisi makanan. Dibelakangnya tampak Bi Nan berjalan mengekor dengan membawa sebuah nampan berisi ramuan yang telah diracik oleh Yiyue.
"Maaf Tuan sudah mengganggu waktunya," ucap Yiyue merasa tidak enak saat melihat suami kulkasnya yang sedang berbincang dengan asistennya.
"Kau mau kemana?" tanya Qiaoyan yang melihat istri kecilnya hendak keluar dari kamarnya.
Seketika langkah Yiyue terhenti saat mendengar suara bariton dari suaminya.
"Aku mau ke bawah dulu Tuan. Lebih baik lanjutkan saja pekerjaanmu," jawab Yiyue.
"Masuklah!" Titahnya dengan tegas. "Bukankah kau sedang membawakan ku makanan untuk sarapan?"
Karena tak ingin berdebat dengan suami kulkasnya itu, sebelum kemudian Yiyue memutar tubuhnya berjalan mendekati sang suami. Lalu gadis cantik itu segera mungkin menaruh nampan di atas nakas tak jauh dari suaminya. Kemudian diikuti oleh Bi Nan menaruh segelas ramuan untuk Tuan Mudanya.
Setelah itu, Bi Nan pun pamit undur diri meninggalkan ruangan mewah itu. Sementara Fan Zhi segera memasukkan map tersebut ke dalam tas kerjanya, sebelum akhirnya lelaki itu berpamitan pada Tuan Mudanya untuk kembali ke kantor.
"Saya pamit dulu Tuan. Nanti saya akan kabari perihal hasil meeting."
"Hem." Qiaoyan hanya berdehem saja menyahuti asistennya itu.
🥕🥕🥕
"Kau masak apa?" tanya Qiaoyan menyadarkan Yiyue yang sedang melamun.
"Aaa eehh itu Tuan, saya masak tumis pakcoy dengan daging cincang," jawab Yiyue yang baru sadar dari lamunannya.
"Bukankah itu makanan favorit mu Tuan?" lanjut Yiyue memastikan jika apa yang masak barusan memang makanan favorit suaminya.
Memang beberapa hari yang lalu, sempat Yiyue bertanya pada Bi An yang merupakan kepala pelayan di villa milik suaminya. Yiyue bertanya perihal apa saja makanan dan minuman favorit suami kulkasnya. Selain itu, dia juga bertanya mengenai makanan juga hal apa saja yang tidak disukai suaminya. Mengingat dia menikah karena sebagai alat penebus hutang keluarganya, tentu Yiyue belum tahu betul apa yang menjadi favorit suaminya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada Bi An.
Qiaoyan memicingkan matanya menatap wajah cantik istri kecilnya. "Kau tahu darimana? Atau jangan-jangan kau diam-diam mencari tahu perihal semua tentangku?
"Maaf Tuan, sebelumnya aku tahu semua itu dari Bi An. Tapi kau jangan marah padanya Tuan, itu semua aku yang memaksanya untuk memberitahuku perihal makanan dan minuman favoritmu. Aku lakukan itu supaya kau tidak terpaksa makan masakanku," sahut Yiyue berusaha menjelaskan sesuai fakta yang ada.
"Kalau begitu cepat suapi aku! Tanganku kram," titah Qiaoyan tegas yang tak ingin mendapat penolakan apapun dari sang istri.
Mata Yiyue membulat sempurna mendengar suaminya minta disuapi. Memangnya sejak kapan suami kulkasnya itu begitu manja padanya, karena seingatnya dulu pertama bertemu dengan suaminya merupakan sosok lelaki yang dingin, angkuh dan juga tidak butuh bantuan orang lain.
Jadi, jika saat ini suaminya minta untuk disuapi tentu saja menimbulkan tanda tanya besar baginya. Bagaimana bisa sosok Tuan Muda yang begitu dingin, kini berubah drastis seperti sekarang yang begitu manja seperti anak kecil. Bahkan tingkah lakunya pun melebihi anak kecil pada umumnya.
"Baik Tuan, dengan senang hati." Yiyue berusaha menampilkan senyum manisnya, walau hatinya begitu dongkol karena tingkah suami kulkasnya.
Bagaimana bisa suaminya bilang jika tangannya kram, sedangkan dia saja barusan menandatangani berkas dari asistennya, benar-benar tidak masuk akal, pikir Yiyue.
Dengan telaten Yiyue menyuapi suami kulkasnya yang begitu manja. Rasanya saat ini Yiyue sedang memiliki bayi besar yang harus ekstra sabar dia rawat. Karena bisa kapan saja bayi besarnya itu akan merengek atau pun ngambek jika tak sesuai dengan keinginannya.
Sesekali Qiaoyan mengambil alih sendok, lalu menyuapi istri kecilnya. Lelaki itu tahu jika istrinya belum sarapan, terlebih sang istri terus menyuapinya. Hingga berakhir keduanya pun makan bersama saling suap-suapan.
"Minumnya Tuan." Yiyue menyodorkan segelas air putih pada suami kulkasnya usai sarapan.
"Kenapa Tuan?" Gadis cantik itu berkerut alis karena suaminya masih terdiam.
"Bantu aku untuk minum," ucap Qiaoyan dengan manja.
'Sabar Yiyue ... sabar ... anggap saja dia bayi besar yang haus kasih sayang,' batin Yiyue menghela napas pelan sambil tersenyum.
"Baik Tuan." Yiyue mengangguk mengiyakan, tanpa ada bantahan sedikit pun yang terlontar dari bibirnya.
Selang beberapa menit, Yiyue menyodorkan segelas ramuan pada suami kulkasnya.
"Tuan, ini ramuan yang aku buat. Ayo diminum biar lekas sembuh," seru Yiyue.
"Uweeeekkk ...." Qiaoyan menutup hidungnya.
"Apa ini? Kenapa bau sekali? Kau mau meracuniku?" cerocos Qiaoyan yang langsung mengangkat wajahnya menatap istri kecilnya.
"Kotoran ayam Tuan," jawab Yiyue kesal.
"Apa?" Mata Qiaoyan membulat sempurna mendengar ucapan istri kecilnya.
Yiyue berdecak kesal. "Sudahlah Tuan ikuti saja perintah istrimu yang cantik, imut, dan super menggemaskan ini. Tidak mungkin aku meracuni mu. Lagian ini bukan kotoran tapi ini ramuan alias obat Tuan. Ayo cepat diminum!"
Qiaoyan menggeleng cepat, lelaki itu menolak untuk minum ramuan yang dibuat oleh istrinya. Mencium baunya saja sudah ingin muntah, apalagi meminumnya, pikir Yiyue.
"Minum Tuan."
"Tidak!"
"Minum."
"Tidak!"
"Minum."
.
.
.
🥕Bersambung🥕