Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Predator dalam Jubah Putih
Koridor rumah sakit yang biasanya terasa sebagai tempat perlindungan, kini di mata Devan berubah menjadi labirin yang penuh ancaman. Pesan dari Rizal di layar ponselnya seolah menjadi vonis baru. Jika Ayah Ara disuntik racun satu jam sebelum dinyatakan wafat, artinya pembunuhnya berada di rumah sakit ini malam itu. Dan kemungkinan besar, orang itu masih di sini.
Devan kembali masuk ke kamar VVIP dengan langkah terburu-buru. Suara tawa Ara dan Alaska langsung terhenti.
"Ada apa lagi, Devan? Kau lupa cara mengetuk pintu atau ada instrumen bedah yang tertinggal di otakmu?" sindir Alaska, meski ia tetap memegang tangan Ara.
Devan tidak membalas sindiran itu. Ia berjalan mendekat, matanya menyapu seluruh ruangan—mencari kamera tersembunyi, mencari celah di ventilasi, atau apa pun yang mencurigakan. Ia kemudian beralih pada botol infus Ara dan Alaska secara bergantian.
"Mas Devan? Wajahmu pucat sekali," ujar Ara cemas. Ia mencoba duduk tegak meski gips di kakinya terasa berat. "Ada masalah dengan hasil tesnya?"
Devan menatap Ara lekat-lekat. "Ara, mulai sekarang, jangan biarkan siapa pun kecuali aku atau perawat yang kutunjuk secara pribadi untuk menyentuh infus atau memberikan obat padamu. Mengerti?"
Alaska mengerutkan kening, ia melepaskan tangan Ara dan mencoba duduk lebih tegak, meringis karena luka di perutnya. "Apa-apaan ini? Ini rumah sakitku, Devan. Keamanannya nomor satu di kota ini. Kau pikir ada yang mau meracuni kami di sini?"
"Justru karena ini rumah sakitmu, Alaska!" Devan mendekat ke arah tempat tidur Alaska, suaranya rendah namun penuh tekanan. "Seseorang membunuh Ayah Ara di rumah sakit saat dia sedang dalam perawatan. Bukan karena kecelakaan, tapi disuntik zat saraf sintetis. Orang itu punya akses medis, tahu cara memalsukan catatan rekam medik, dan tahu cara menghilang di balik masker bedah."
Ruangan itu mendadak sunyi. Wajah Ara memucat, tangannya gemetar hebat. "Maksudmu... Ayah tidak meninggal karena luka kecelakaan itu?"
"Ayahmu dibungkam, Ara," ucap Devan pahit. "Seseorang takut dia bicara soal rahasia kakekku atau keterlibatannya 20 tahun lalu. Dan sekarang, kita semua ada di satu tempat yang sama. Ini bukan rumah sakit bagi mereka, ini adalah tempat perburuan."
Alaska terdiam, gengsinya perlahan luntur digantikan oleh insting bertahan hidup. "Siapa dokter yang menangani Tuan Reese malam itu? Aku bisa memanggil kepala staf sekarang."
"Jangan!" Devan menahan tangan Alaska yang hendak meraih telepon internal. "Jika kau memanggil mereka secara formal, pembunuhnya akan tahu kita sedang curiga. Kita harus bergerak diam-diam."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk dengan nampan berisi obat-obatan dan dua buah jarum suntik.
"Selamat malam, saatnya pemberian antibiotik tambahan untuk Tuan Jasper dan Nyonya Arabella," ucap perawat itu dengan ramah, wajahnya tertutup masker medis standar.
Devan bergerak lebih cepat. Ia berdiri di depan perawat itu, menghalangi jalannya menuju tempat tidur Ara. "Siapa namamu? Aku tidak melihatmu di shift sore tadi."
Perawat itu tampak tertegun, matanya berkedip cepat. "Saya Siska, Dokter. Saya menggantikan teman saya yang tiba-tiba sakit perut."
"Berikan nampannya padaku," perintah Devan dingin.
"Tapi Dokter, ini tugas saya—"
"Berikan," Devan merebut nampan itu dengan kasar. Ia mengambil salah satu botol ampul antibiotik, membacanya dengan teliti, lalu mencium aroma dari ujung jarum suntik yang sudah terisi cairan.
Matanya menajam. "Ini bukan seftriakson. Baunya terlalu tajam, sedikit aroma kacang almond... ini sianida dalam dosis rendah yang dicampur dengan penenang."
Perawat itu tersentak, ia berbalik dan mencoba berlari keluar, namun Devan dengan cepat menjegal kakinya hingga wanita itu tersungkur di lantai. Alaska, meski dengan luka di perut, berusaha meraih vas bunga di meja sampingnya untuk berjaga-jaga.
"Panggil keamanan, Alaska! Sekarang!" teriak Devan sambil menindih punggung perawat gadungan itu.
Dalam kekacauan itu, perawat tersebut berhasil merogoh saku bajunya dan menelan sesuatu. Saat Devan membalikkan tubuhnya, mulut wanita itu sudah mengeluarkan busa.
"Sial! Dia menelan kapsul bunuh diri!" Devan mencoba menekan pangkal lidahnya untuk memancing muntah, namun terlambat. Wanita itu meregang nyawa dalam hitungan detik di lantai kamar mereka.
Ara menjerit, menutup matanya dengan kedua tangan. Alaska terpaku dengan wajah pucat.
"Dia sudah mati," gumam Devan, ia berdiri dengan napas memburu. Ia menoleh ke arah Ara yang masih gemetar. "Ra, kau lihat? Mereka tidak akan berhenti."
Alaska menatap mayat di lantai itu, lalu menatap Devan. "Bagaimana kau bisa tahu hanya dari baunya?"
"Aku menghabiskan sepuluh tahun di ruang otopsi, Alaska. Bau kematian adalah bahasa utamaku," sahut Devan parau. Ia berjalan mendekati Ara, berlutut di samping tempat tidurnya, dan menggenggam tangannya—kali ini tanpa rasa ragu. "Maafkan aku... aku tidak seharusnya membiarkanmu melihat ini."
Ara membuka matanya, menatap Devan dengan air mata yang mengalir. Di belakang mereka, Alaska hanya bisa terdiam. Ia melihat Devan yang biasanya dingin, kini menunjukkan proteksi yang begitu kuat. Namun, Alaska juga menyadari satu hal: Devan benar, musuh mereka ada di mana-mana.
"Devan," panggil Alaska lirih. "Ambil tabletku di bawah bantal. Ada akses ke kamera CCTV rumah sakit ini secara real-time. Jika ada yang masuk, kita akan tahu."
Devan mengambil tablet itu, namun matanya justru tertuju pada kunci misterius yang tadi ia simpan. Ia memasukkan kunci itu ke lubang kecil di samping tablet Alaska yang ternyata merupakan port khusus tersembunyi.
Seketika, layar tablet itu menampilkan sebuah folder terenkripsi berjudul: "PROJECT 10-02: THE WREN'S SILENCE".
"Apa ini?" bisik Alaska.
"Ini alasan kenapa orang tuaku, orang tua Ara, dan mungkin kita semua... harus dilenyapkan," jawab Devan. "Ini adalah data uji coba racun saraf yang digunakan keluarga Wren selama puluhan tahun untuk menyingkirkan lawan bisnis mereka."
Tiba-tiba, lampu di seluruh rumah sakit padam. Keheningan total menyergap, hanya menyisakan cahaya merah dari lampu darurat yang redup.
"Mereka memutus aliran listrik," Alaska berbisik sambil meraba senjatanya di laci meja. "Mereka datang, Devan."
Devan berdiri, memposisikan dirinya di depan tempat tidur Ara. "Ara, jangan lepaskan tanganku. Alaska, bisa kau menembak dengan perut yang bocor begitu?"
"Sambil tiduran pun aku bisa menjatuhkan mereka," balas Alaska dengan senyum miring, meski keringat dingin membanjiri keningnya.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/