Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan sang oma di kantor
Di ruangannya Julian masih terukir senyum di bibir nya , tiba-tiba saja Leo masuk keruangan nya tanpa mengetuk pintu
"Eh pak Julian saya lihat girang sekali habis dapat apa dari sekretaris barunya",
Goda Leo , dan menaruh berkas berkas di meja Julian .
Julian berdiri dan memukul bahu Leo
" Jangan kepo Leo cepat selesaikan pekerjaan mu , kalau kau ingin segera pulang ", jawab Julian ketus lalu keluar ruangan Leo pun mengikuti nya dari belakang.
"By banyak banget tugas Lo dari pak Leo , Lo dari dulu gitu ya kok betah sih",
Tanya syren kepada Gaby yang masih mengecek berkas berkas nya di meja .
"Emang tu cowok bener bener ren pengen gue hantam pake sepatu, tapi mau gimana lagi gaji di sini gede ", sungut Gaby yang masih sibuk .
"Berarti tu dua orang sebelas dua belas lah , nyebelin banget pak bos masak kemarin gue di kamar man...nggak jadi by ", ucap syren tanpa saringan itu lalu menutup mulut nya ,
Bener bener ya ni mulut kayak nya harus gue dukunin deh , batin syren merutuki dirinya sendiri.
"Lo bilang apa tadi ren di kamar apa ", tanya Gaby menyelidik sambil matanya melirik syren yang gugup .
Syren baru ingin menjawab tapi mereka mendengar keributan di luar .
"JULIAN MANA PACAR KAMU",
teriak seseorang yang sepertinya sudah tua ,di luar .
"Lo denger by ", tanya syren pada teman nya itu sambil saling bertukar pandangan
"Iya ren gue denger liat yuk", jawab Gaby yang juga mendengar nya dia langsung berdiri dan mengandeng tangan syren keluar.
"Oma ayolah jangan buat ribut di kantor," kata Julian sambil berusaha menggandeng tangan Oma Arum untuk membawanya masuk ke ruangan agar tidak menjadi tontonan.
"Oma mau ketemu sama calon cucu menantu Oma! Kata mama mu dia sekretaris barumu," balas Oma Arum dengan suara yang masih lantang, mengabaikan usaha cucunya.
"Nggak ada Oma, itu cuma sekretaris ku," jawab Julian cepat, berusaha menutupi rasa malunya di depan para karyawan yang mulai kasak-kusuk.
Tepat saat itu, Gaby dan Syren pun datang menghampiri pusat keributan. Para karyawan yang ada di sana juga ikut melihat dengan penuh rasa ingin tahu. Syren yang tidak tahu apa-apa hanya menatap bingung ke arah wanita tua yang tampak elegan namun sedang menggebu-gebu itu.
"Pak Bos, kenapa?" tanya Syren polos karena penasaran, tanpa menyadari bahwa dialah orang yang sedang dicari-cari oleh Oma Arum.
Begitu mendengar suara Syren, Oma Arum langsung menoleh. Matanya yang tajam namun penuh binar kesenangan langsung mengunci sosok Syren yang berdiri di depan Gaby.
"Kamu sekretarisnya dia?" tanya Oma Arum sambil menunjuk cucunya, Julian dengan tatapan menyelidik.
"Iya Nek, saya sekretarisnya Pak Julian," jawab Syren dengan ramah sambil memberikan senyum manisnya yang paling tulus.
"Kamu pacarnya, kan?" tanya Oma kembali tanpa basa-basi.
Deg! Mendengar kata itu, jantung Syren seakan berhenti berdetak sesaat. Ia terkejut luar biasa dan refleks melirik ke arah Julian. Di sana, Julian sudah tampak sangat frustasi sambil memijit pangkal hidungnya, seolah ingin menghilang dari lantai kantor itu sekarang juga.
"Bukan Nek, saya bukan pacarnya!" sergah Syren cepat dengan wajah yang mulai memerah karena malu diperhatikan oleh seluruh karyawan.
Oma Arum justru tertawa kecil melihat kegugupan Syren. "Nggak usah malu, lagian kalian cocok kok. Julian ini memang kaku, tapi kalau sama kamu kelihatannya dia jadi lebih hidup."
Syren hanya bisa melongo, tidak tahu harus menjawab apa lagi. Sementara Gaby di sampingnya sudah sibuk menahan tawa sambil menyenggol lengan Syren, seolah berkata, "Tuh kan, apa gue bilang!"
Julian yang sudah tidak tahan lagi langsung menarik pelan lengan neneknya. "Nek, sudah. Ayo masuk ke ruangan saya sekarang. Syren, kembali bekerja!"
Julian pun membawa Oma Arum masuk ke ruangannya, meninggalkan hiruk-pikuk lobi yang masih terasa panas akibat gosip mendadak itu. Sementara di luar, Gaby dan Syren sudah kembali ke meja kerja mereka, meski konsentrasi Syren sudah berantakan.
"Rejeki buat lo, Ren! Dapet CEO!" goda Gaby sambil menyenggol bahu Syren yang masih diam terpaku mencerna semuanya.
"Diem lu, By! Gue bingung banget kenapa tuh nenek tadi bilang gue pacaran sama Pak Bos," sahut Syren ketus. Ia pun memilih untuk lanjut menyelesaikan pekerjaannya, berusaha mengubur rasa malunya di balik tumpukan dokumen.
Di dalam ruangan, Oma Arum duduk dengan anggun di sofa mewah Julian sambil melipat tangan di dada. "Julian, seleramu memang beda. Pantas Oma jodohkan dengan beberapa gadis kamu tidak mau, ternyata seleramu bagus juga," ucap Oma Arum penuh kemenangan.
Julian hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Astaga Oma, dia cuma sekretarisku. Kenapa Oma bisa pede bilang seperti itu?"
Oma tampak tidak percaya dan menyahut, "Sekretaris apa yang dijemput dan diantar sampai pulang?"
Julian tersentak. Bagaimana bisa Omanya tahu sedetail itu? Siapa yang membocorkannya? "Kenapa Oma bisa bilang seperti itu? Oma ada bukti?" tanya Julian berusaha tenang.
Oma menyunggingkan senyum misterius. "Dari asisten kamu lah, Leo! Dari siapa lagi?"
Julian langsung memaki dalam hati. Ia teringat semalam memang memberitahu Leo kalau ia mengantar Syren pulang. Sudah tahu Leo itu mulutnya sering bocor soal urusan pribadi, kenapa pula ia harus bercerita?
"Awas saja kamu Leo, kalau nanti menampakkan batang hidungmu di depanku, akan kutambal mulutmu itu!" batin Julian geram. Kepada Omanya, ia mencoba membela diri. "Iya Oma, aku mengantarnya pulang karena Syren ketiduran di kantor, jadi aku mengantarnya. Apa itu salah?"
Julian kemudian menggandeng Omanya untuk segera keluar agar drama ini tidak berkepanjangan. Namun, sebelum masuk ke lift, Oma Arum memberikan serangan pamungkas.
"Kalau begitu, besok ajak dia makan malam di rumah kita," ucap Oma sambil mengelus lembut bahu cucunya.
"Terserah Oma, kalaupun dia mau," jawab Julian pasrah, malas menanggapi lebih jauh karena tahu berdebat dengan Oma Arum adalah kesia-siaan.
Setelah memastikan Oma Arum masuk ke dalam mobil, Julian kembali ke kantor dengan langkah lebar yang memancarkan aura kemarahan. Begitu sampai di lantai atas, ia langsung memanggil asistennya.
"Leo! Kenapa kamu bilang ke Oma saya soal kemarin? Sekarang semuanya jadi salah paham!" ucap Julian dengan nada sangat kesal, matanya menatap tajam ke arah Leo.
"Hehe... maaf Pak. Habisnya saya lihat Bapak perhatian banget sama dia, saya kira Bapak beneran suka sama Syren," jawab Leo sambil nyengir tanpa dosa, yang justru membuat Julian makin ingin menyumpal mulut asistennya itu dengan map.
Sementara itu di kantin, Syren dan Gaby sedang menikmati bakso dengan lahap.
"Ren, serius deh, lo pake susuk apa sih? Sampe neneknya Pak Bos langsung minta cucu menantu?" tanya Gaby sambil menyeruput es tehnya.
"Susuk apaan! Gue aja mandi cuma pake sabun batangan, By," balas Syren ketus. "Tadi itu murni kecelakaan sejarah. Gue juga kaget kali!"
"Halah, tapi asik kan digandeng CEO? Bayangin, Ren, kalo lo nikah sama dia, utang seratus juta lo lunas, terus lo bisa beli cilok sekobak-kobaknya!" goda Gaby lagi.
"Gigi lo sekobak! Yang ada gue mati muda kena omel dia tiap hari," sahut Syren sambil menusuk baksonya dengan gemas.
Baru saja Syren mau menyuap baksonya, tiba-tiba bayangan tinggi menutupi meja mereka. Syren mendongak dan hampir tersedak saat melihat Julian berdiri di sana dengan wajah lempeng.
"Syren, habiskan makananmu. Setelah ini kembali ke ruangan saya, kita akan lembur lagi sampai malam," ucap Julian dingin, lalu berlalu begitu saja tanpa menunggu
jawaban.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui