Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Martabak Sultan
Bianca langsung menegakkan tubuh, wajahnya berubah kaku namun tetap mencoba terlihat angkuh. "Aku hanya merapikan kerah baju Evan yang berantakan, Yumna. Kamu sebagai istri harusnya lebih teliti, dong."
Yumna berjalan mendekat, lalu dengan berani menyelipkan tangannya di leher Evander, menarik suaminya itu agar bersandar pada dadanya. "Oh, terima kasih perhatiannya, Mbak. Tapi Mas Evan paling nggak suka disentuh orang asing kalau soal urusan baju. Dia itu... sensitif banget. Cuma aku yang tahu 'titik' mana yang boleh disentuh dan mana yang nggak."
Evander hampir saja tersedak udara mendengar keberanian istrinya. Namun, ia justru menikmati sandaran itu. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Yumna, menariknya lebih dekat di depan mata Bianca yang membelalak.
"Dokumennya sudah selesai, Bianca? Jika sudah, silakan keluar. Saya dan istri saya ada urusan keluarga yang sangat penting untuk dibahas," ujar Evander dengan nada mengusir yang halus namun telak.
Bianca menyambar dokumennya dengan kasar, wajahnya merah padam karena malu. "Oke. Sampai ketemu di rapat besok, Evan!"
Setelah Bianca keluar dan pintu tertutup rapat, Yumna langsung melepaskan rangkulannya dan menjauh. "Hampir aja tuh ulat keket gigit Mas! Mas kok diem aja sih pas dia mepet-mepet gitu? Keenakan ya?"
Evander menarik napas panjang, lalu menarik tangan Yumna hingga wanita itu terduduk di pangkuannya, gerakan yang sangat tiba-tiba hingga Yumna memekik pelan.
"Saya hanya ingin tahu, seberapa berani istri saya ini menjaga wilayahnya," bisik Evander di telinga Yumna. "Dan ternyata... kamu cukup agresif, Yumna."
"Mas! Turunin! Nanti ada yang masuk!"
"Biarkan saja. Anggap saja ini latihan sebelum kita ke rumah ibumu besok," ucap Evander sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yumna, benar-benar mengabaikan tumpukan pekerjaan di mejanya.
...
Esok pagi ketika Yumna terbangun, ia merasa tubuhnya jauh lebih segar. Mungkin karena bayangan akan pulang ke rumah Ibu membuatnya sangat bersemangat. Tanpa membuang waktu, ia langsung keluar dari kamarnya. Pintu kamar Evander masih tertutup rapat, suasana rumah pun masih sangat hening.
Yumna memutuskan untuk pergi ke bangunan bagian belakang. Sejak tinggal di rumah mewah ini, ia hanya pernah melihat sekilas taman belakang dari jendela lantai dua. Sekarang, mumpung libur dan sebelum bersiap-siap ke rumah orang tuanya, Yumna ingin menikmati aura sunrise sambil menghirup udara segar yang belum terkontaminasi polusi.
Namun, sesampainya di area taman, langkah Yumna mendadak terhenti. Jantungnya yang baru saja tenang setelah bangun tidur, kini kembali berdetak dua kali lebih cepat.
"Ya ampun... pemandangan macam apa ini pagi-pagi?" bisik Yumna pada dirinya sendiri.
Pemandangan di depannya benar-benar menggoda iman. Di sisi kanan taman yang asri, ternyata terdapat area gym semi-outdoor yang lengkap. Di sana, suaminya tengah berolahraga dengan intensitas tinggi. Yumna benar-benar baru tahu kalau ada fasilitas itu di sana.
Yumna berdiri mematung sambil meneguk salivanya susah payah. Pria itu, Evander Moreno, tampil dengan kesempurnaan fisik yang jauh lebih nyata dan panas. Evander hanya mengenakan celana training hitam pendek, membiarkan bagian atas tubuhnya terbuka lebar.
Setiap gerakan ototnya terlihat sangat jelas. Keringat bercucuran di dada bidang dan perut six-pack-nya, berkilau terpapar cahaya matahari pagi yang keemasan. Otot-otot lengannya menegang saat ia melakukan gerakan pull-up, menciptakan siluet pria perkasa yang sanggup membuat wanita mana pun lupa cara bernapas.
"Rugi banget ini kalau dilewatkan..." gumam Yumna tanpa sadar, matanya tidak bisa beralih dari punggung kokoh suaminya.
Melihat ada seseorang yang memperhatikannya, Evander perlahan melepaskan pegangannya dari alat gym. Ia mengatur napasnya yang memburu, lalu menoleh ke arah Yumna yang masih berdiri seperti patung di ambang pintu kaca.
Evander tidak marah karena diintip. Sebaliknya, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Ia menyambar handuk kecil, menyampirkannya di leher, lalu memberi isyarat dengan telunjuknya agar Yumna mendekat ke arahnya.
Yumna sempat ragu, namun kakinya seolah bergerak sendiri mendekati sang "Dewa Yunani" versi nyata itu.
"Kenapa cuma berdiri di sana? Sini," suara Evander terdengar serak dan dalam karena baru saja berolahraga.
"Eh, anu... Mas. Aku cuma mau lihat sunrise, nggak tahu kalau Mas lagi... begini," jawab Yumna gugup, matanya berusaha menatap mata Evander tapi terus saja tergelincir melihat tetesan keringat di dada suaminya.
Evander melangkah satu kali lagi, memperpendek jarak hingga aroma maskulin yang bercampur panas tubuhnya mengepung indra penciuman Yumna. "Suka dengan pemandangannya?" tanya Evander dengan nada menggoda yang sangat kental.
Yumna langsung memerah sampai ke telinga. "PD banget! Siapa juga yang suka!"
"Lalu kenapa matamu tidak berhenti melihat ke sini?" tanya Evander sambil menunjuk perutnya sendiri dengan jari telunjuknya yang masih lembap oleh keringat.
Yumna memalingkan wajah, pura-pura melihat pohon kamboja di samping mereka. "Itu... aku cuma mau memastikan kalau Mas beneran olahraga, bukan cuma gaya-gayaan."
Evander terkekeh rendah. "Kalau mau pegang juga boleh, Yumna. Anggap saja ini fasilitas tambahan sebagai Nyonya Moreno."
"Mas! Jangan mulai ya!" seru Yumna sambil memukul pelan bahu Evander. Namun, bukannya menjauh, tangannya malah terasa menempel pada kulit yang panas dan keras itu.
Evander menangkap tangan Yumna, lalu mengecup telapak tangannya singkat. "Bersiaplah. Setelah saya mandi, kita berangkat ke rumah Ibu. Saya tidak ingin mertua saya menunggu terlalu lama hanya karena kamu terlalu asyik menonton saya di sini."
Yumna langsung menarik tangannya dan lari tunggang-langgang masuk ke dalam rumah sambil menutupi wajahnya yang panas membara. "Dasar CEO narsis!" teriaknya dari kejauhan.
Evander hanya tertawa melihat tingkah istrinya. Pagi itu, entah kenapa, suasana hatinya terasa sangat ringan.
...
Mobil mewah Evander perlahan melaju menuju rumah orang tua Yumna.
Yumna melirik suaminya yang tetap tenang memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi bersandar santai di jendela.
"Mas, kita jadi mampir beli martabak atau buah dulu?" tanya Yumna memecah keheningan. Ia ingat kemaren Evander sempat membahas soal buah-buahan dan martabak manis.
Evander menggeleng singkat tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang semakin menyempit. "Tidak perlu. Oleh-oleh untuk Ibu dan Ayah sudah sampai duluan."
Yumna hanya mengangguk paham. Dalam pikirannya, Evander mungkin sudah memesan martabak lewat aplikasi ojek online agar mereka tidak perlu mengantre lama. Paling juga martabak bangka di depan komplek tadi, pikir Yumna santai.
Namun, begitu mobil mereka berbelok tepat di depan pagar rumah kayu yang bercat hijau itu, mata Yumna nyaris copot dari kelopaknya.
"Mas... itu apa?" tunjuk Yumna dengan jari gemetar.
Di depan rumah ibunya, sudah terparkir sebuah mobil box dengan logo restoran bintang lima yang sangat terkenal di Jakarta. Beberapa petugas berseragam rapi sedang menurunkan berkotak-kotak martabak dengan packaging premium yang sering dijuluki 'Martabak Sultan'. Tidak hanya itu, di sampingnya ada keranjang-keranjang buah impor yang ukurannya sebesar kepala bayi, lengkap dengan pita emas yang berkilauan di bawah sinar matahari.
"Lho, kok banyak banget? Mas, itu martabaknya satu dusun juga kenyang!" seru Yumna panik.
Bagi Yumna, ini sangat lebay. Sangat berlebihan hanya untuk kunjungan biasa. Tapi bagi seorang Evander Moreno, mengirimkan katering privat dan buah-buahan kualitas ekspor hanyalah sebuah jentikan jari kecil yang bahkan tidak mengurangi saldo di rekening recehnya.
"Ibumu bilang ingin martabak, jadi saya pesankan yang terbaik. Saya tidak ingin mereka makan martabak yang isinya hanya tepung dan minyak," jawab Evander enteng sambil mematikan mesin mobil.
"Tapi nggak sebanyak itu juga, Mas Kulkas! Itu tetangga bakal ngira kita mau buka hajatan tujuh hari tujuh malam!"
Evander hanya menaikkan satu alisnya, lalu turun dari mobil dengan gaya yang sangat karismatik. Begitu kakinya menyentuh tanah, sang Ibu mertua langsung lari keluar dari pintu rumah dengan wajah yang campur aduk antara kaget, senang, dan bingung.
"Yumna! Ini apa nak? Ini orang-orang tiba-tiba datang bawa kotak-kotak banyak banget! Ibu bingung mau taruh mana!" seru Ibu Yumna sambil memegang daster batiknya.
Yumna turun dari mobil sambil memegangi kepalanya yang mendadak pening. "Tanya menantu Ibu tuh, Bu! Dia emang agak... 'kurang' kalau soal porsi makan."
Evander melangkah mendekat, lalu dengan sopan meraih tangan Ibu Yumna dan mencium punggung tangannya, sebuah gestur yang membuat Ibu Yumna langsung membeku ditempat.
"Siang, Bu. Maaf jika merepotkan. Saya hanya membawakan sedikit camilan untuk teman mengobrol kita nanti," ucap Evander dengan suara baritonnya yang sopan.
"Sedikit katanya?" gumam Yumna sambil melihat petugas yang masih menurunkan keranjang anggur muscat seharga jutaan rupiah per tangkai.
Ayah Yumna pun keluar dengan sarung dan kaos singletnya, mematung di ambang pintu melihat menantunya yang terlihat seperti model majalah yang tersesat di pemukiman warga.