NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

Waktu seolah membeku di koridor-koridor kampus Universitas Indonesia. Dua tahun telah berlalu sejak insiden jus jeruk yang legendaris di kantin teknik itu, sebuah peristiwa yang secara tidak resmi menetapkan hukum tak tertulis di seantero kampus: Dayana adalah milik Aydan, dan Aydan adalah milik Dayana. Meski mereka berasal dari dua kutub fakultas yang berbeda, cerita tentang "Silent King" dari Teknik dan "Bidadari" dari Psikologi telah menjadi romansa urban yang dikagumi banyak mahasiswa.

Namun, ada hal unik yang tidak diketahui banyak orang. Sejak keberanian nekat Dayana di kantin dua tahun lalu, ia tidak pernah lagi menelepon atau mengirim pesan singkat kepada Aydan. Rasa malu yang luar biasa menghujam jiwanya setiap kali ia mengingat bagaimana ia memanggil Ay di depan umum.

Dayana merasa seolah ia telah melompati pagar kesopanan yang selama ini dijaga ketat oleh Aydan. Sebagai bentuk penebusan dosa atas kelancangannya, Dayana memilih untuk kembali ke dalam kesunyian, menjaga jarak yang bahkan lebih lebar dari sebelumnya.

Di sisi lain, Aydan menghormati keputusan bisu itu. Ia paham bahwa Dayana sedang menjaga marwahnya. Meski ponselnya tak lagi bergetar di tengah malam, Aydan merasa jauh lebih bahagia. Ia tahu Dayana di sana sedang berjuang dengan skripsinya, sedang memperdalam agamanya, dan yang paling penting, sedang mendoakannya.

Mereka sering berada di satu radius, misalnya saat Aydan shalat di Masjid kampus dan melihat ujung jilbab Dayana di balik hijab pembatas, atau saat Dayana melihat motor balap hitam Aydan terparkir di depan perpustakaan pusat. Mereka saling melihat dari kejauhan, tanpa sapa, tanpa bicara, namun dengan hati yang saling bertaut kuat.

Siang itu, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, menyengat permukaan lapangan basket outdoor yang terletak di antara fakultas Teknik dan Psikologi. Suasana riuh rendah oleh sorak-sorai mahasiswa. Hari ini ada pertandingan persahabatan antara tim basket Teknik Mesin melawan Psikologi. Sebuah pertandingan rutin yang biasanya hanya dihadiri segelintir orang, namun kali ini penontonnya membeludak.

Dayana berdiri di pinggir lapangan, dikelilingi oleh Sarah dan teman-teman fakultasnya. Ia mengenakan jilbab biru navy yang rapi, tangannya menggenggam botol air mineral dengan erat. Sebenarnya, Dayana enggan ke tempat ramai, namun saat Sarah membisikkan bahwa tim Teknik akan menurunkan pemain cadangan rahasia mereka, jantung Dayana seolah ingin melompat keluar.

Ia rindu. Bukan lagi rindu biasa, tapi rindu yang sudah berada di titik nadir. Rindu yang selama dua tahun ini hanya ia titipkan pada angin dan sujud-sujud panjangnya. Ia rindu melihat bagaimana Aydan bergerak, rindu mendengar suaranya, dan rindu memastikan bahwa pria itu masih sedingin dan setegas dulu.

"Day, tenang... nafasnya diatur," goda Sarah saat melihat Dayana yang tampak gelisah.

"Aku cuma mau lihat, Sar. Benar-benar cuma mau lihat," bisik Dayana, suaranya parau menahan rasa emosional yang memuncak.

Peluit babak kedua berbunyi. Tim Teknik melakukan pergantian pemain.

Dari bangku cadangan, seorang pria dengan nomor punggung 07 melangkah masuk ke tengah lapangan. Ia mengenakan jersey hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang terlatih karena hobi balap motor dan kerja bengkel. Rambutnya yang sedikit panjang dibiarkan berantakan, dan keringat mulai membasahi dahinya.

Itu Aydan.

Seketika, sisi lapangan yang diisi anak-anak Teknik bergemuruh. Dion dan Samuel berteriak paling kencang, "Hancurkan mereka, Dan! Tunjukkan kekuatan anak mesin!"

Aydan tidak bereaksi pada sorakan itu. Matanya menyapu lapangan dengan dingin, mencari ritme permainan. Namun, saat tatapannya secara tidak sengaja melewati kerumunan penonton di sisi Psikologi, ia berhenti sejenak. Di sana, di tengah lautan mahasiswa, ia melihatnya.

Dayana.

Dua tahun tidak menatap mata itu dari jarak dekat, dan sekarang, di bawah terik matahari, mata mereka bertemu. Aydan bisa melihat binar rindu yang tak tertahankan di mata Dayana. Ia bisa melihat bagaimana bibir gadis itu bergerak lirih, seolah membisikkan doa keselamatan untuknya. Aydan merasakan desiran yang sama dengan malam di paviliun dulu, namun kali ini jauh lebih kuat.

Aydan bermain dengan luar biasa. Ia lincah, taktis, dan dominan di bawah ring. Setiap kali ia melakukan dunk atau rebound, matanya secara refleks akan mencari posisi Dayana berdiri. Ia ingin menunjukkan pada gadis itu bahwa selama dua tahun kesunyian mereka, ia tidak pernah melemah. Ia tetap menjadi pria yang kuat yang siap melindunginya kelak.

Dayana terpaku. Ia tidak peduli pada skor pertandingan. Matanya hanya mengikuti ke mana pun jersey nomor 07 itu bergerak. Setiap tetes keringat yang jatuh dari pelipis Aydan, setiap helaan napas berat pria itu, terasa seperti melodi yang menyembuhkan dahaga rindunya selama dua tahun terakhir.

Di tengah pertandingan, Aydan terjatuh cukup keras saat mencoba memblok serangan lawan. Dayana secara refleks maju satu langkah, tangannya menutup mulut, hampir saja ia berteriak memanggil "Ay". Namun ia menahan diri. Ia melihat Aydan bangkit dengan cepat, menepis debu di celananya, dan memberikan pandangan ke arah Dayana seolah berkata, "Aku tidak apa-apa, jangan khawatir."

Pertandingan berakhir dengan kemenangan tipis tim Teknik. Saat penonton mulai bubar, Aydan tidak langsung menuju ruang ganti. Ia berjalan ke pinggir lapangan, mengambil handuk dari Dion, lalu melangkah menuju arah di mana Dayana berdiri.

Teman-teman Aydan dan teman-teman Dayana seolah memberikan ruang secara otomatis. Mereka tahu, ini adalah momen yang sudah tertunda selama dua tahun.

Aydan berhenti tepat di depan Dayana. Jarak mereka kini hanya satu meter. Bau keringat yang maskulin bercampur aroma panas matahari tercium oleh Dayana, mengingatkannya pada jaket kulit di sirkuit balap dulu.

Aydan menatap Dayana, matanya melembut, tidak sedingin saat ia berada di kelas. Ia memperhatikan jilbab Dayana yang tetap terjaga menutup dada, sebuah bukti konsistensi yang membuat Aydan sangat bangga.

"Apa kabar, Ay?" suara Aydan keluar, berat dan dalam, memecah kesunyian di antara mereka.

Dayana mendongak, matanya berkaca-kaca. "Baik, Ay. Alhamdulillah. Kamu... kamu hebat tadi di lapangan."

Aydan tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya bisa dilihat oleh Dayana. "Dua tahun tidak menelepon, ternyata suaramu masih sama. Masih menjadi suara favoritku."

Dayana menunduk, wajahnya merona merah. "Aku... aku masih malu soal kejadian kantin itu."

Aydan terkekeh pelan, sebuah suara yang sangat jarang terdengar. Ia mendekat selangkah, namun tetap menjaga jarak suci mereka. "Jangan malu. Keberanianmu saat itu adalah hal yang menjagaku dari banyak gangguan di fakultas Teknik. Terima kasih sudah mengklaimku sebagai milikmu, Dayana."

Dayana mengangkat wajahnya, menatap Aydan dengan penuh cinta. Rindu yang tadi berada di ujung tandas kini terasa sedikit terobati, berganti dengan harapan baru yang lebih cerah.

"Sebentar lagi kita wisuda, Ay," bisik Dayana.

Aydan mengangguk mantap. "Iya. Dan setelah wisuda nanti, tidak akan ada lagi telepon tengah malam atau curi pandang dari jauh. Aku akan datang ke rumahmu bersama Ayah Liam dan Bunda Ameera. Aku tidak mau memanggilmu Ay dari jauh lagi. Aku mau memanggilmu Istriku di depan semua orang."

Di bawah langit kampus yang mulai beranjak sore, dua tahun kesunyian itu berakhir dengan sebuah janji yang jauh lebih kuat.

Pertandingan basket itu hanyalah permainan biasa, namun pertemuan di pinggir lapangan itu adalah awal dari babak baru kehidupan mereka. Aydan kembali ke timnya dengan langkah ringan, sementara Dayana berjalan pulang dengan senyum yang tak pernah luntur, menyadari bahwa penantiannya selama ini tidak pernah sia-sia.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!