NovelToon NovelToon
Tumbal Pinjol Di Kerajaan Ghaib

Tumbal Pinjol Di Kerajaan Ghaib

Status: tamat
Genre:Dunia Lain / Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".

Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meet End Greet Hantu

Slamet tidak pernah menyangka bahwa kesuksesan podcast-nya bersama Arini dan Nyi Blorong akan berbuntut pada permintaan "Offline Event". Para netizen, yang rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya, menuntut bukti nyata. Mereka ingin melihat Kunti Sari secara langsung untuk membuktikan apakah benar dia se-glowing itu.

"Mas Slamet, ini serius kita mau bikin acara di Mal 'Sentra Horor' ini?" Arini menatap nanar bangunan mal di pusat kota yang sudah mangkrak sepuluh tahun. Dindingnya penuh lumut, dan bau pesingnya bisa membuat pingsan seekor gajah.

"Bukan saya yang mau, Rin. Ini instruksi dari Departemen Humas K.MN," jawab Slamet sambil sibuk memasang kabel generator. "Kata Pak Gendut, kita butuh 'Physical Activation'. Biar orang nggak cuma takut lewat layar HP, tapi ngerasain langsung aura hantu-hantu kita. Dan yang paling penting... kita dapet cuan dari tiket masuk."

"Harga tiketnya berapa, Mas?"

"Lima puluh ribu buat manusia, dan satu doa selamat buat sesama makhluk halus. Kita juga jualan merchandise: kain kafan Sugeng versi mini buat gantungan kunci."

Slamet dan Arini bekerja keras menyulap lantai dasar mal yang gelap itu menjadi panggung megah. Lampu-lampu sorot ungu dan hijau dipasang di sela-sela eskalator yang sudah mati. Bang Omen dari Ghaib-Net membantu dari jarak jauh dengan menyediakan sinyal Wi-Fi yang dipancarkan lewat frekuensi radio butut.

Malam itu, antrean manusia sudah mengular sampai ke jalan raya. Ada remaja yang pakai kostum hantu, ada ibu-ibu yang penasaran mau nanya resep skincare ke Kunti Sari, sampai bapak-bapak yang mau minta nomor togel (yang langsung diusir Slamet pakai semprotan air Doa).

"Selamat malam semuanya!" suara Arini menggema lewat sound system. "Selamat datang di Meet & Greet 'Glow-Up from the Grave'! Malam ini, kita akan membuktikan bahwa hantu lokal bukan hanya soal teror, tapi soal estetika dan harga diri!"

Musik EDM bernuansa mistis mulai dimainkan. Panggung berasap. Dan muncullah Kunti Sari dengan gaun putih yang sudah dicuci bersih pakai pemutih paling mahal, rambutnya di-smoothing, dan wajahnya bersinar terang karena pantulan lampu LED.

"Aaaaa! Sari! Kamu cantik banget!" teriak seorang penonton remaja sambil mengangkat lightstick.

Kunti Sari melambaikan tangan dengan anggun. "Terima kasih, Fans... Jangan lupa ya, kuncinya adalah rajin maskeran pake lumpur lapindo dan jangan sering nangis malam-malam, nanti matanya sembab."

Slamet berdiri di balik panggung, memantau situasi lewat tablet ghaibnya. Semuanya tampak lancar sampai Sugeng si Pocong muncul sebagai bintang tamu kedua. Sugeng datang dengan meluncur menggunakan skateboard elektrik, membuat penonton histeris sekaligus tertawa.

"Sugeng! Sugeng! Sugeng!" teriak massa.

Namun, di tengah kemeriahan itu, Slamet merasakan getaran aneh di pergelangan tangannya. Logo Verified-nya berubah warna menjadi merah darah. Di kerumunan penonton, dia melihat sesosok pria memakai topi fedora dan kacamata hitam, berdiri mematung sambil memegang koper besi.

"Auditor itu lagi," bisik Slamet. Dia segera memberi kode kepada Arini.

Tapi Sang Auditor tidak datang sendiri. Dia membawa rombongan 'Satpol PP Ghaib' arwah para penagih retribusi pasar yang galaknya minta ampun. Mereka mulai merusak instalasi kabel ghaib milik Slamet.

"Acara ini ilegal!" teriak Sang Auditor, suaranya membelah kebisingan musik. "Kalian tidak punya izin keramaian untuk mengumpulkan hantu di atas jam dua belas malam di zona manusia! Ini melanggar Tata Ruang Antar Dimensi!"

Penonton manusia mulai panik. Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi mencekam. Angin kencang bertiup di dalam mal, menerbangkan booth merchandise kain kafan mini.

"Slamet! Gimana ini?!" Arini berlari mendekat, wajahnya pucat.

Slamet menarik napas panjang. Dia menatap penonton yang mulai ketakutan, lalu menatap hantu-hantunya yang juga tampak ciut. Dia tahu, kalau dia menyerah sekarang, karirnya dan nyawanya selesai.

Slamet naik ke atas panggung, merebut mic dari tangan Arini. "Bapak-bapak Satpol PP Ghaib dan Pak Auditor yang terhormat! Harap tenang! Kami punya izin!"

"Izin dari mana?!" bentak Sang Auditor.

Slamet mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya. Bukan kontrak Nyi Blorong, melainkan struk pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) mal tersebut yang baru saja dia bayar lewat sisa saldo Ghaib-Pay-nya.

"Mal ini sudah mangkrak sepuluh tahun dan nunggak pajak! Saya baru saja mendaftarkan tempat ini sebagai 'Kawasan Ekonomi Kreatif Khusus Alam Baka'! Menurut undang-undang investasi dunia nyata, pemerintah mendukung penuh pemanfaatan lahan kosong untuk ekonomi digital! Dan karena saya sudah bayar pajak dunianya, maka otomatis secara hukum timbal balik, izin ghaibnya juga turun!"

Sang Auditor terdiam. Dia memeriksa kertas itu dengan teliti. Secara teknis hukum, Slamet benar. Birokrasi dunia ghaib sangat menghargai status "Pajak Terbayar".

"Tapi... tapi tetap saja! Ini membahayakan keselamatan manusia!" Sang Auditor mencoba mencari celah lain.

"Membahayakan gimana?" Slamet menunjuk ke arah penonton. "Lihat mereka! Mereka nggak takut lagi! Mereka justru seneng! Kita lagi ngurangin tingkat stres masyarakat Jakarta! Kalau stres berkurang, orang nggak bakal lari ke pinjol buat cari hiburan instan. Itu artinya, kita justru ngebantu menertibkan ekonomi kalian juga!"

Para hantu di panggung mulai bersorak. Penonton manusia, yang nggak paham urusan hukum bar zah tapi tahu Slamet lagi berargumen hebat, ikut bertepuk tangan.

"Hidup Mas Slamet! Hidup Hantu Lokal!"

Sang Auditor tampak sangat kesal. Dia menutup koper besinya dengan keras. "Kali ini kamu menang, Slamet. Tapi ingat, Nyi Blorong tidak akan selamanya melindungimu. Ada pihak 'Atasan' yang mulai risih dengan caramu mengubah tatanan ketakutan dunia."

Sang Auditor dan rombongan Satpol PP-nya menghilang menjadi butiran debu hitam.

Acara pun berlanjut hingga subuh. Itu adalah kesuksesan besar. Slamet mendapatkan komisi yang cukup untuk melunasi dua aplikasi pinjolnya sekaligus. Kunti Sari mendapatkan kontrak endorse dari merk lotion lokal. Sugeng mendapatkan sponsor skateboard.

Saat mal mulai sepi dan matahari mulai muncul di ufuk timur, Slamet dan Arini duduk di pinggir panggung yang sudah berantakan.

"Rin, makasih ya. Kalau nggak ada kamu yang tangan nin massa, saya mungkin udah pingsan duluan," kata Slamet tulus.

Arini menyandarkan kepalanya di bahu Slamet. "Kita tim, Mas. Meskipun timnya agak aneh: satu manusia pengutang, satu manusia penulis, dan sisanya setan glowing."

Slamet tertawa kecil. Dia melihat tangannya. Tanda Verified-nya kini bersinar dengan cahaya keemasan. Sebuah pesan baru masuk ke HP-nya dari Nyi Blorong:

[Pesan: "Slamet, prestasimu luar biasa. Kamu diundang ke 'Gala Dinner' di Pantai Selatan besok malam. Bawa Arini. Dan tolong, jangan pake kemeja flanel itu lagi. Nyai benci bau keringat manusia yang sudah basi."]

Slamet menatap Arini. "Rin... kayaknya kita harus beli baju baru. Kita dapet undangan makan malam sama penguasa laut."

Arini melongo. "Makan malam? Pake baju apa, Mas? Bikini? Kan di pantai?"

"Ya nggak gitu juga, Rin! Bisa-bisa kita pulang jadi garam dapur!"

Di kejauhan, mereka tidak menyadari bahwa dari balik pilar mal yang hancur, sesosok pria dengan seragam perbankan yang rapi Debt Collector ghaib yang sebelumnya sedang mencatat sesuatu di bukunya.

"Target semakin kaya. Saatnya menaikkan suku bunga spiritual ke tingkat maksimal," gumamnya sebelum menghilang.

Petualangan Slamet masih jauh dari kata selesai. Di depannya ada pesta mewah, ancaman bankir akhirat, dan mungkin... sebuah pengakuan perasaan yang sudah lama dia simpan untuk Arini.

1
Yeni Yeni
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣kok geli jadinya ya, ceritanya lucu
Wayan Surya Mahardani
😁😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!