NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 Kesamaan yang Tak Terelakkan

Senin pagi, dua minggu setelah hasil tes IQ keluar dan Arka mulai ikut enrichment program, kehidupan keluarga Mahardika makin sibuk tapi penuh kebahagiaan. Bukan kebahagiaan yang berisik, tapi lebih kayak rasa syukur yang dalem karena liat anak mereka berkembang.

Reyhan duduk di meja makan sambil baca email di laptop. Sesekali nyeruput kopi hitam kesukaannya. Alya sibuk nyiapin bekal Arka, sandwich isi keju dan smoked beef, potongan buah apel sama anggur, sama jus kemasan. Rutinitas pagi yang udah jadi pemandangan biasa.

Arka turun tangga pake tas ransel biru yang hampir segede badannya. Isinya buku pelajaran sama laptop khusus buat coding. Wajahnya cerah, rambut masih agak berantakan karena baru bangun.

"Pagi, Ayah! Pagi, Mama!" sapanya dengan semangat.

"Pagi, Nak. Udah siap?" Reyhan nutup laptop.

"Siap! Hari ini aku presentasi program yang aku bikin ke temen-temen enrichment class!"

Alya senyum sambil ngehalusin rambut Arka yang berantakan. "Wah, keren. Program apa?"

"Program kalkulator sederhana. Tapi aku tambahin fitur buat hitung luas segitiga, lingkaran, sama persegi panjang. Jadi nggak cuma tambah kurang kali bagi doang."

Reyhan ngangguk kagum. Udah biasa denger hal kayak gini dari Arka, tapi tetep aja每次都 bikin dia takjub. "Anak Ayah emang genius."

Arka senyum lebar. "Soalnya Ayah yang ngajarin! Kalau nggak ada Ayah, aku nggak bakal bisa bikin program ini."

"Kamu yang pinter, Nak. Ayah cuma kasih arahan dikit."

"Tapi Ayah jelasinnya enak. Nggak kayak tutorial YouTube yang terlalu cepet atau terlalu lambat. Ayah tau kapan aku paham dan kapan aku bingung."

Reyhan diem. Ucapan Arka bikin dadanya hangat. Dia emang usahain ngajarin Arka dengan cara yang cocok, pelan-pelan, ngikutin ritme anaknya. Bukan maksa.

Alya ngeliat mereka berdua dengan senyum lembut. Ayah dan anak ini bener-bener satu frekuensi. Cara mereka ngomongin teknologi, cara mereka mikir, bahkan cara mereka ngejelasin sesuatu... sama persis.

Pukul Delapan Pagi- Di Mobil

Di perjalanan, Arka duduk di belakang sambil buka laptop, ngecek ulang presentasinya buat hari ini. Jari-jari kecilnya lincah ngetik sesuatu di keyboard.

"Ayah," panggil Arka tiba-tiba.

"Ya, Nak?"

"Ayah waktu kecil ikut program kayak enrichment class nggak?"

Reyhan nyetir sambil senyum tipis. "Nggak ada program kayak gitu waktu Ayah kecil. Tapi Ayah ikut olimpiade sains sama matematika."

"Terus menang?"

"Sering." Reyhan jeda sebentar. "Tapi... Ayah nggak punya banyak temen. Temen-temen Ayah pada nggak suka. Mereka bilang Ayah sombong."

Arka diem. Matanya liatin punggung Ayahnya dari kaca spion.

"Ayah nggak sombong kok. Ayah cuma pinter."

Reyhan nahan napas. Kata-kata Arka kayak obat buat luka lama yang masih tersisa. "Makasih, Nak. Tapi dulu... nggak semua orang ngerti itu."

"Temen-temen aku juga kadang bilang aku sombong." Suara Arka datar. Nggak sedih, nggak marah, cuma... nyatain fakta. "Tapi aku cuma jawab pertanyaan guru dengan jujur. Aku nggak sengaja bikin mereka ngerasa bodoh."

Reyhan langsung minggir. Mobil berhenti di pinggir jalan, dia matiin mesin, lalu berbalik. Wajahnya serius tapi matanya lembut.

"Nak, dengerin Ayah. Kamu nggak salah. Kamu nggak perlu minta maaf karena kamu pinter. Orang-orang yang bilang kamu sombong... mereka cuma belum ngerti. Dan itu bukan salah kamu."

"Tapi aku nggak mau dijauhi, Yah. Aku pengen punya temen."

"Kamu bakal punya temen." Suara Reyhan tegas. "Temen yang bener-bener ngerti kamu. Yang appreciate kecerdasan kamu. Dan sampai kamu ketemu mereka... kamu punya Ayah dan Mama. Kita akan selalu jadi temen terbaik kamu."

Arka senyum. Senyum yang bikin Reyhan pengen peluk anaknya erat-erat dan nggak pernah lepas.

"Makasih, Yah. Ayah... ngerti aku banget."

"Karena Ayah pernah ngerasain jadi kamu, Nak. Dan Ayah nggak mau kamu kesepian kayak Ayah dulu."

Perjalanan dilanjutin. Di dalam mobil, mereka diem tapi nyaman. Ayah dan anak yang saling ngerti tanpa banyak kata.

Pukul Sepuluh Pagi- Kantor Reyhan

Reyhan lagi meeting sama tim developer. Lagi diskusi soal deadline project yang mepet, semua orang serius. Tiba-tiba asistennya muncul di pintu, mukanya pucat.

"Maaf ganggu, Pak. Ada telepon dari sekolah Arka. Urgent katanya."

Jantung Reyhan langsung dag-dig-dug. Dia permisi sama tim, langsung angkat telepon di luar.

"Halo, Reyhan Mahardika."

"Pak Reyhan, ini Bu Ratna dari sekolah Arka. Maaf ganggu, tapi Bapak perlu datang ke sekolah sekarang."

Reyhan nahan napas. "Ada apa dengan Arka? Dia sakit?"

"Bukan sakit, Pak. Tapi ada insiden kecil. Arka... berkelahi dengan temannya."

Reyhan diem. Nggak percaya. Arka? Berkelahi? Anak yang paling lembut itu? "Itu... nggak mungkin, Bu."

"Nanti kami jelasin di sekolah. Tolong Bapak bisa datang secepatnya."

"Saya segera ke sana."

Reyhan tutup telepon, langsung batalkan semua meeting. Dia sms Alya sambil lari ke parkiran. Tangannya gemeteran pas megang setir.

Pukul Sebelas Siang- Ruang Kepala Sekolah

Pas Reyhan sama Alya dateng, mereka liat Arka duduk di kursi luar ruang kepala sekolah. Mukanya datar, tapi ada bekas air mata di pipi. Di sampingnya, ada anak laki-laki lebih gede duduk sama ibunya. Si anak keliatan nunduk, ibunya galak.

"Arka!" Alya langsung berlutut, ngecek muka anaknya. "Kamu kenapa, Sayang? Sakit? Ada luka?"

Arka geleng. "Nggak apa-apa, Ma."

Reyhan ikut jongkok. "Nak, cerita sama Ayah. Kejadian apa?"

Sebelum Arka jawab, Bu Ratna keluar. "Pak Reyhan, Bu Alya, silakan masuk."

Di dalam, Bu Ratna jelasin. Suaranya netral, berusaha objektif.

"Jadi begini. Waktu istirahat, Arka sama Farhan" dia nunjuk anak laki-laki di luar, "bertengkar. Menurut saksi, Farhan ngejek Arka panggil 'anak ajaib' dan 'robot' karena Arka selalu dapet nilai sempurna. Terus Farhan rebut buku Arka dan lempar ke tanah."

Rahang Reyhan mengeras. Tangannya ngepal di bawah meja.

"Arka minta buku balik dengan baik-baik. Tapi Farhan malah dorong Arka sampai jatuh. Nah, pas itu Arka bangkit dan dorong Farhan balik. Cukup keras sampai Farhan jatuh dan nangis."

Sunyi.

"Arka mukul Farhan?" tanya Alya, suaranya nggak percaya.

"Bukan mukul, Bu. Mendorong. Tapi... ini tetep kekerasan fisik. Sekolah nggak bisa mentolerir."

Reyhan narik napas panjang. "Boleh kami bicara sama Arka sebentar?"

"Silakan, Pak."

Lima Menit Kemudian- Koridor Sekolah

Reyhan, Alya, sama Arka duduk di bangku koridor. Jauh dari Farhan dan ibunya yang masih duduk di depan ruang kepala sekolah.

"Nak," Reyhan mulai lembut, "cerita sama Ayah. Sejujurnya. Apa yang sebenernya terjadi?"

Arka nunduk. Jari-jarinya mainin ujung baju. "Farhan... dia selalu ngejek aku. Udah lama. Bilang aku sok pintar, robot, nggak punya perasaan, nggak normal."

Air mata Arka netes. Satu, dua, lalu nggak berhenti.

"Aku diem aja, Yah. Kayak yang Mama bilang, nggak usah dengerin omongan orang. Tapi tadi dia ambil buku favorit aku. Buku astronomi yang Ayah kasih. Dia lempar ke tanah sampe kotor."

Reyhan nahan napas.

"Aku minta baik-baik. Tapi dia dorong aku sampe jatuh. Terus dia bilang..." Arka nangis sesenggukan, "dia bilang aku nggak pantes punya Ayah yang baik kayak Ayah. Katanya... Ayah pasti malu punya anak aneh kayak aku."

Hati Reyhan remuk.

Nggak ada kata yang bisa ngegambarin perasaannya saat itu. Dia langsung tarik Arka ke pelukan. Kenceng. Pengen ngebentengin anaknya dari semua keburukan dunia.

"Nak, dengerin Ayah. Ayah nggak malu. Ayah nggak akan pernah malu punya kamu. Kamu kebanggaan Ayah. Kamu anugerah terbesar dalam hidup Ayah."

Arka nangis di dada Reyhan. Tangis anak kecil yang nggak ngerti kenapa dia harus disakiti cuma karena dia beda.

"Tapi aku dorong dia, Yah. Aku salah. Guru bilang nggak boleh pake kekerasan."

"Kamu melindungi diri sendiri." Suara Reyhan tegas tapi lembut. "Dan Ayah bangga kamu berani buat itu. Tapi..." Dia lepas pelukan, tatap mata Arka, "lain kali, kalau ada yang ngejek atau nyakitin kamu, langsung bilang ke guru. Atau ke Ayah sama Mama. Jangan ditahan sendiri, ya?"

Arka angguk sambil usap air mata.

Alya peluk dari samping. Rambutnya disusurin pelan. "Mama sayang kamu, Sayang. Dan kamu nggak salah. Kamu cuma anak kecil yang diperlakuin nggak adil."

Pukul Dua Siang- Di Rumah

Abis ngobrol panjang sama pihak sekolah, akhirnya diputuskan Arka sama Farhan bakal dikasih konseling. Farhan dapet sanksi karena mulai duluan, Arka bakal diajarin cara ngelola emosi.

Di rumah, Reyhan bikin hot chocolate buat Arka. Minuman kesukaan anak itu kalo lagi sedih. Aroma coklat hangat nyebar di ruang keluarga.

Mereka bertiga duduk di sofa. Arka megang cangkirnya, jari-jari kecilnya masih agak gemeteran.

"Nak," Reyhan mulai, "Ayah mau cerita sesuatu."

"Tentang apa, Yah?"

"Tentang Ayah waktu kecil." Reyhan tarik napas. "Ayah dulu juga sering di-bully. Diejek, dijauhin, bahkan pernah dipukul sama anak lebih gede karena Ayah bisa ngerjain soal olimpiade yang dia nggak bisa."

Arka ngangkat muka. Mata bundarnya melebar.

"Terus Ayah gimana?"

"Ayah diem aja. Ayah pikir kalo diem, mereka bakal berhenti. Tapi mereka nggak berhenti. Malah makin parah. Sampe suatu hari Ayah nggak tahan, Ayah lawan. Dan pas itu... mereka baru berhenti."

"Jadi Ayah ngerti perasaan aku?"

"Sangat ngerti." Reyhan usap kepala Arka. "Dan Ayah nggak mau kamu ngerasain apa yang Ayah rasain. Makanya kalo ada yang nyakitin kamu, langsung bilang. Ayah bakal lindungin kamu."

Arka letakin cangkirnya, langsung peluk Reyhan erat.

"Makasih, Yah. Aku seneng Ayah ngerti aku."

"Karena kita sama, Nak." Suara Reyhan berbisik, tapi dalem banget artinya. "Kita sangat sama."

Alya natap mereka berdua. Air matanya netes, tapi kali ini bukan sedih. Haru. Liat ayah dan anak yang begitu mirip, bukan cuma fisik atau kecerdasan, tapi juga luka dan perjuangannya.

Sore itu, di ruang keluarga yang hangat, dengan sisa hot chocolate di cangkir Arka, mereka bertiga diem tapi ngerasain sesuatu yang dalem.

Ikatan yang nggak bakal putus.

Pengertian yang lahir dari pengalaman yang sama.

Cinta yang tumbuh dari penerimaan tanpa syarat.

"Nak," Alya buka suara, "Mau nonton film? Film kartun kesukaan kamu?"

Arka ngangkat muka. Mata sembabnya mulai cerah. "Boleh, Ma. Tapi yang mana?"

"Kamu yang pilih."

Arka jalan ke rak DVD, milih-milih. Reyhan sama Alya saling pandang. Senyum.

"Udah baikan?" tanya Alya pelan.

Reyhan angguk. "Dia kuat."

"Karena punya ayah kayak kamu."

Reyhan tarik Alya ke pelukan. "Kita kuat bareng-bareng."

Arka balik bawa DVD. "Aku pilih yang ini! Finding Nemo! Aku suka Nemo, dia kecil tapi berani!"

Reyhan senyum. "Iya, kayak kamu. Kecil tapi berani."

Mereka bertiga nonton bareng. Arka duduk di tengah, kepala nyender ke dada Ayah, kaki di pangkuan Mama. Film diputer, tawa sesekali keluar.

Dan malam itu, sebelum tidur, Arka bilang sesuatu yang bikin Reyhan dan Alya terharu lagi.

"Ma, Yah."

"Ya, Sayang?"

"Aku seneng punya keluarga kita."

"Kenapa?" tanya Alya.

"Karena di sini, aku nggak perlu jadi orang lain. Aku bisa jadi aku."

Reyhan nahan air mata. Dia cium dahi Arka.

"Iya, Nak. Di sini, kamu selalu bisa jadi kamu. Dan kami akan selalu sayang kamu, apa pun yang terjadi."

"Selamanya?"

"Selamanya."

Arka tidur dengan senyum. Damai.

Reyhan sama Alya masih duduk di samping tempat tidur, natap anak mereka yang lagi mimpi.

"Rey," bisik Alya.

"Hm?"

"Kita pasti bisa lewatin semuanya, ya?"

"Pasti." Reyhan pegang tangan Alya. "Bersama."

Di luar, hujan mulai turun. Tapi di dalam kamar itu, hangat. Hangat banget.

Keluarga yang baru belajar bahwa jadi berbeda itu anugerah. Dan mereka akan jagain anugerah itu bersama-sama.

Selamanya.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!