Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil kembali
Leon hanya memperhatikan apa yang Annette lakukan. Ia membongkar lemarinya dan mengumpulkan pakaian dan perhiasan. Tapi sejak tadi Leon perhatikan kening Annette berkerut seperti sedang berpikir keras. Ingin bertanya kenapa tapi Leon urungkan.
"Pelayan...." teriak Annette dengan suara keras hingga Leon yang berada diatas ranjang hampir tertidur pun terlonjak kaget.
"Annette, kenapa berteriak ? Apa tidak bisa memanggil baik-baik ?" tegur Leon dengan tegas. Annette hanya tersenyum menampakkan giginya dan berjanji tidak akan melakukan itu.
"Ada apa, Nona ?" dua orang pelayan mendatangi kamar Annette dengan kepala menunduk.
"Siapa yang sudah mengobrak-abrik lemariku ? Kenapa perhiasanku banyak yang bilang ?" tanya Annette dengan suara rendah namun begitu menakutkan di telinga dua pelayan itu.
"Iiitu, Nona. Nona Emilie memintaku membantunya mengambil perhiasan itu. Ia bilang ia sudah mendapatkan izin darimu," kata seorang pelayan sembari menunduk takut. Dapat Annette lihat tubuh pelayan itu bergetar.
Annette menarik nafasnya panjang. Sudah ia duga jika pelakunya tidak lain dan tidak bukan pasangan ibu dan anak itu.
"Sekarang dimana dia ?" tanya Annette dengan sedikit senyum agar tidak menakuti pelayan yang tidak bersalah itu.
"Nona Emilie sedang menghadiri sebuah acara. Ia tidak ada dirumah," jawab pelayan yang satu lagi.
"Kalau ibu tiriku ?" tanya Annette lagi. Kedua pelayan itu saling berpandangan dengan heran. Sejak kapan Annette memanggil Vivian dengan sebutan ibu tiri ? Karena setau dan seingat mereka, Annette hanya memanggil nama Vivian saja. Itupun jarang sekali jika tidak terlalu perlu.
"Nyonya Vivian ikut serta," balas pelayan tersebut.
Sebuah senyum licik tercetak di bibir Annette. Lalu Annette berbalik dan menghampiri Leon yang memejamkan matanya.
Ia melihat apakah Leon sudah tidur atau belum dan rupanya Leon benar-benar tidur. Dengan isyarat tangannya, Annette mengajak kedua pelayan itu untuk keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Emilie.
Annette meminta di bukakan pintu kamar Emilie tapi kedua pelayan tersebut tidak berani. Kemarahan Emilie adalah salah satu yang mereka takutkan di rumah besar ini.
Jika Annette hanya bersikap dingin dan angkuh, berbeda dengan Emilie yang sangat pemarah jika di dalam rumah. Dan kesan itu akan hilang saat ia berada di luar rumah berganti menjadi sosok lemah lembut dan penuh kasih.
Melihat kedua pelayan yang ketakutan tersebut membuat Annette luluh juga. Ia menyuruh mereka pergi setelah sebelumnya mengambilkan kunci kamar Emilie.
Annette masuk sendirian ke dalam kamar Emilie. Kamar yang dua kali lebih besar dari kamarnya. Beberapa lemari berjejer menampilkan gaun-gaun yang indah. Sebuah piano terpajang di dekat jendela dan disini ada ranjang mahal yang dibeli di luar negeri beberapa bulan lalu.
Semua itu berputar jelas dalam benak Annette tanpa ia meminta. Seakan masa lalu Annette ingin memberitahu apa yang dulu terjadi.
"Enak sekali jadi Emilie. Tapi kenapa ayah Annette diam saja jika tau Annette diperlakukan tidak adil ?" gumamnya sendirian.
Lalu ia mencari beberapa benda yang menurutnya hilang dari kamarnya. Ada perhiasan, gaun putih barunya yang belum pernah ia pakai dan sepatu kaca yang dibelikan ayahnya sebelum ia menikah dengan Leon. Semua itu tidak ada di dalam lemarinya sendiri dan ia yakin benda-benda itu ada disini.
Dengan cekatan Annette mulai membongkar barang-barang milik Emilie. Satu dari lima perhiasan nya sudah ketemu dan ia yakin lainnya juga ada disini.
Annette begitu menyayangi barang-barang miliknya karena sebagian besar adalah peninggalan ibunya dan ia tidak rela jika ada yang memilikinya.
Annette membongkar barang-barang Emilie tanpa mengembalikannya ke tempat semula seolah memberitahu jika ia melakukan ini tanpa rasa takut. Toh ia yakin jika Emilie maupun Vivian tidak akan berani mengadu pada ayahnya.
Dugaan Annette sangat tepat. Empat perhiasan, satu gaun putih dan sepatu kacanya sudah ia temukan. Hanya tinggal kalung berlian besarnya yang ayahnya hadiahkan dengan bentuk yang sama dengan milik Emilie.
Tapi untuk apa Emilie mengambilnya ? Bukankah ia juga memiliki yang seperti itu ? Pikir Annette.
Annette keluar dari kamar Emilie dengan membawa barang miliknya saja tanpa mengambil apapun milik Emilie.
Ia masuk kembali ke dalam kamar dan membungkus semua barang-barangnya dengan kain putih. Memasukkan semua perhiasan miliknya dan milik ibunya ke dalam kotak kayu dan nantinya akan meminta Leon membuatkan kuncinya.
"Leon, ayo bangun. Kapan kita pergi ke pernikahan temanmu ?" Annette membangunkan Leon dengan mengguncang pelan tubuh Leon.
Leon membuka matanya sebentar. Lalu memejamkan mata lagi. Rasanya matanya berat dan tubuhnya lelah.
Tapi ia paksa untuk bangun sebab Annette tidak bisa berhenti mengoceh dan lama-lama kedua telinganya menjadi sakit mendengar rengekan Annette.
"Baiklah, aku sudah bangun." kata Leon mendudukkan tubuhnya yang masih mengantuk.
"Ayo kita pergi. Dimana tempatnya ?" tanya Annette penuh semangat. Dalam hatinya ia yakin jika di sebuah pesta ada begitu banyak makanan yang lezat dan tentunya gratis. Jiwa Luna yang berada dalam tubuh Annette sungguh dibuat meronta-ronta dengan hal bernama gratis tersebut.
"Tidak jauh dari sini kok," jawab Leon sambil menguap.
Annette mengerucutkan bibirnya. Tidak jauh dari sini katanya. Apa Leon berusaha menipu nya lagi ?
"Aku tidak percaya padamu. Tadi kau juga bilang begitu saat di rumah mu. Nyatanya lebih dari satu jam kita berjalan dan baru sampai. Sekarang kau mengatakan hal itu lagi. Apa jangan-jangan setelah ini perjalanan akan ditempuh dalam waktu dua jam ?" sengit Annette dengan mata melotot.
"Aku tidak mau tau, pokoknya aku ingin naik kereta saja. Titik," lanjut Annette. Tangannya terlipat di depan dada dengan ekspresi marah. Namun di mata Leon, wajah. marah Annette menjadi lebih cantik dua kali lipat.
"Kau cantik kalau sedang marah," goda Leon sambil mengelus pipi Annette.
"Tentu saja aku akan mengajakmu menaiki kereta. Aku sudah bicara pada ayahmu dan ia memerintahkan orangnya untuk mengantar kita," kata Leon.
Annette mengangguk setuju. Lalu ia menunjukkan pada Leon jika barang-barang ini yang akan ia bawa kembali ke rumah perkebunan. Leon membelalakkan matanya melihat dua tumpukan besar pakaian yang dibungkus dengan kain putih serta sekotak perhiasan berukuran sedang.
Annette juga meminta Leon membuatkan kunci sekarang juga untuk kotak berharganya. Jadilah Leon membuatkan kunci meskipun dari alat seadanya.
"Aku ingin mengantar semua ini ke rumah mu lebih dulu," kata Annette setelah semuanya siap.
"Kenapa tidak menyuruh orang tersebut mengantar nya sendiri setelah mengantar kita ? Atau biarkan dia menunggu kita lebih dulu setelah itu kita bisa pulang dan membawanya bersama," usul Leon.
Dan akhirnya Annette setuju. Ia memilih pilihan yang kedua. Ia meminta Leon untuk membayar orang itu supaya benar-benar menjaga barang miliknya.
...
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪