NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Ancaman dari klan naga.

Panda besar itu menggaruk pipinya dengan ujung cakar, alis hitamnya saling bertaut membentuk kerut bingung.

“Hero…?” suaranya berat tapi lembut, seperti drum yang dibungkus kapas. “Apa maksud kalian?”

Chika refleks menggaruk belakang kepalanya, helm ksatrianya sedikit miring. Rambut pirang pucatnya yang dikepang tipis menyembul dari celah helm.

“Ah… itu…” Chika tersenyum kikuk. “Kami berdua dari Kerajaan Gurial Tempest.”

Panda itu terdiam. Matanya membesar. Pandangannya bergeser pelan ke arah gadis kecil berambut kuning pendek di samping Chika.

“Gurial…?” gumamnya. “Jadi… gadis kecil di sampingmu itu…”

Dia langsung menjatuhkan diri berlutut.

DUK!

Lantai kayu dojo bergetar.

“P-Princes!” katanya terbata-bata. “Ma… maafkan aku! Aku telah… aku telah memaksa Yang Mulia berlatih tanpa tahu identitasmu!”

Princes terlonjak, kedua tangannya melambai-lambai panik.

“EH?! Jangan gitu dong, Paman Panda!” katanya cepat. “Aku nggak apa-apa kok! Serius!”

Ia tersenyum lebar, mata biru mudanya berbinar.

“Lagipula… latihannya seru! Aku perlu kuat biar bisa petualangan bareng Chika!”

Chika mengangguk penuh semangat.

“Iya! Dia bahkan bisa berdiri kuda-kuda selama… tiga detik penuh!”

“Chika, itu jangan dibanggain!” protes Princes.

Panda besar itu menghela napas panjang, seperti bambu ditiup angin.

“Syukurlah…” katanya lega. “Kalau begitu… bolehkah aku meminta bantuan kalian?”

Dia menoleh ke arah kebun bambu di belakang dojo.

“Aku sudah meminta murid-murid lain… tapi mereka semua kalah cepat tertidur lebih dulu daripada anakku.”

“Anak?” ulang Chika.

“Siapa namanya, Paman Panda?” tanya Princes penasaran.

“Namanya… Xiaouman.”

Chika mengepalkan tangan dengan gaya ksatria.

“Baik! Serahkan padaku!”

Beberapa menit kemudian…

Mereka berdiri di belakang dojo, di tengah kebun bambu yang rimbun. Angin sore menggesek daun-daun bambu, menghasilkan bunyi srrrk… srrrk… yang menenangkan.

Di tengah-tengahnya…

terbaring seorang gadis setengah panda.

Rambut putihnya dengan satu garis hitam dikepang panjang. Telinga panda di kepalanya bergerak pelan mengikuti napasnya. Di mulutnya, sebatang bambu digigit ringan seperti permen.

“Zzz… zzz…”

Bahkan suara tidurnya terdengar puas.

Chika berbisik, “Dia kelihatan… damai banget.”

Princes mengangguk pelan. “Kayak lagi mimpi makan bambu rasa cokelat.”

Chika mendekat hati-hati, menepuk bahu Xiaouman pelan.

“Ehm… permisi… bangun?”

Tidak ada reaksi.

Chika menepuk sedikit lebih keras.

“Bangun…?”

Xiaouman hanya berguling sedikit dan memeluk bambunya lebih erat.

“Zzz… bambu… gratis…”

Princes ikut mencoba, menggoyang bahunya.

“Bangun dong! Latihan itu penting!”

Masih tidak ada respon.

Chika dan Princes saling pandang.

“…Dorong?” usul Chika.

Mereka berdua mendorong bahu Xiaouman bersamaan.

“HEI—”

Xiaouman tiba-tiba membuka mata.

Matanya setengah terbuka… buram… kosong…

lalu fokus pada Chika dan Princes.

“…bambu?” gumamnya.

Sebelum mereka sempat bereaksi—

“BAMBUUUU!!”

Xiaouman melompat berdiri dengan kecepatan tak masuk akal.

“EH?! SALAH LIHAT!!” teriak Chika.

Princes menjerit, “KENAPA BAMBU BISA LARI?!”

Mereka langsung kabur menyusuri lorong kebun bambu.

“Chika! Dia ngejar!”

“Aku tahu! Dia lari sambil ngunyah!”

Di belakang mereka, Xiaouman berlari sambil mengunyah bambu.

“Bambu… jangan lari… bambu harus dimakan…”

“ITU KAMI, BUKAN BAMBU!” teriak Princes.

Chika tersandung akar bambu.

“AAAA—”

PLAK!

Xiaouman menangkap Chika…

dan langsung mengemut kepalanya.

“Nom… bambu besar…” gumam Xiaouman puas.

“MMMMMPH!!” suara Chika teredam di dalam mulut Xiaouman.

Princes berhenti mendadak.

“LEPASIN KEPALA KESATRIAKU!”

Dia menarik rambut Chika, sementara Chika meronta.

“Aku bukan bambu! Aku ksatria!”

Xiaouman berkedip.

Melihat helm…

melihat rambut pirang…

melihat wajah Chika yang merah karena terjepit.

“…Oh.”

Dia melepas Chika.

Chika jatuh terduduk.

“AKU NYARIS DIMAKAN HERO KE LIMA…”

Princes menunjuk Xiaouman dengan gemetar.

“Dia… dia benar-benar nyangka kita bambu…”

Xiaouman menguap panjang.

“Maaf… refleks…”

Lalu dia langsung…

rebah lagi.

DUK.

“Zzz…”

Chika dan Princes:

“…”

Hero Sword di dada Chika bergetar pelan.

Chika menatap Xiaouman dengan mata melebar.

“…Princes.”

Princes menatapnya balik.

“…iya?”

“Kayaknya… kita nemu Hero ke Lima yang… paling malas di dunia.”

Xiaouman sudah kembali terlelap di antara rumpun bambu, pipinya menempel pada tanah, bambu kecil masih terselip di sudut bibirnya seperti permen.

Zzz… zzz…

Chika dan Princes berdiri terpaku beberapa detik.

Chika berkedip.

“…Tidur lagi.”

Princes menatapnya dengan senyum penuh ide buruk.

“Hehe… tenang saja, Kesatriaku. Serahkan padaku.”

Ia menoleh ke sekitar, matanya menangkap sebatang bambu kecil yang runcing di ujungnya. Ia mengambilnya, menimbang-nimbang seperti dokter hendak menyuntik.

“Mulai dari… ini.”

Chika baru sempat membuka mulut.

“Prin—”

CUK!

Princes dengan cepat menusukkan ujung bambu itu ke lubang hidung Xiaouman.

“NYA—?!”

Xiaouman melompat setinggi dua kali tinggi badannya.

“HUAAAAH!!”

Daun bambu beterbangan, tanah terlempar, udara bergetar oleh lonjakan energinya.

Chika ternganga.

“Wah! Kamu jenius, Princes!”

Namun wajah Xiaouman langsung berubah gelap. Matanya setengah terbuka, sorotnya tajam tapi tetap mengantuk.

“Siapa…”

huahhh…

“…yang… mengganggu tidur siang sakralku…”

Ia meregangkan leher, tulang-tulang berbunyi krek… krek…

“Aku…”

huahhh…

“…akan mematahkan tulang rusuknya…”

Princes langsung meloncat ke belakang Chika dan memeluk pinggangnya.

“C-Chika… ternyata meskipun dia imut dan cantik… dia juga bisa bikin tulang rusuk orang jadi sup!”

Xiaouman mengangkat jarinya dan menunjuk Chika.

“Kamu…”

“…yang pakai helm aneh itu…”

Chika refleks berdiri tegap seperti di hadapan jenderal.

“M-maaf! Aku cuma disuruh ayahmu buat bangunin kamu latihan!”

Mata Xiaouman menyipit.

“…Latihan?”

“…merepotkan…”

Ia menghentakkan telapak kakinya ke tanah.

Teknik: Akar Giok – Tumbuh Seribu Tombak!

DUK!

Tanah di sekitar mereka retak. Dalam sekejap, puluhan batang bambu hijau giok menyembur keluar seperti tombak.

“PRINCES!” teriak Chika.

Chika menggendong Princes ke dalam pelukannya dan meloncat.

SWOOSH!

Ia memutar tubuh di udara, menghindari bambu yang menusuk dari bawah.

Chika berputar satu kali, lalu menjejak batang bambu yang baru tumbuh sebagai pijakan.

“Wahhh!” Princes memeluk lehernya. “Kayak akrobat sirkus!”

Namun—

“…huahh… lambat…”

Xiaouman sudah muncul di belakang mereka, berdiri di atas bambu lain.

Ia mengayunkan dua telapak tangannya bersamaan.

Teknik: Telapak Panda – Hantaman Gunung!

DABOOOM!

Punggung Chika terkena hantaman keras.

“UGH!”

Tubuh Chika terpental ke udara. Ia berputar, lalu dengan refleks mencengkeram batang bambu dengan satu tangan.

GRIP!

Ia berayun turun seperti trapeze.

THUD!

Chika mendarat dengan satu lutut di tanah.

Ia menoleh cepat.

“Kau tidak apa-apa, Princes?!”

Princes berdiri dengan kaki gemetar.

“I… iya… aku oke…”

Xiaouman berdiri di atas bambu tertinggi, rambut putihnya berkibar tertiup angin.

“Aku…”

“…tidak…”

huahhh…

“…butuh latihan…”

Ia mengangkat kedua tangannya.

Di udara, batu-batu giok melayang keluar dari tanah, memutar mengelilinginya.

Teknik: Orbit Giok – Peluru Langit!

“CHIKA, DATANG DARI ATAS!” teriak Princes.

Chika mengepalkan tangan.

“Kalau begitu… aku pakai tangan kosong saja!”

Batu giok melesat seperti hujan meteor.

WHOOOM! WHOOOM!

Chika meloncat ke samping, berguling, lalu memantul ke batang bambu.

Ia meninju batu giok pertama.

Tinju Ksatria – Break Palm!

KRAK!

Batu itu pecah.

Ia berputar di udara, menendang batu kedua.

CRASH!

Namun batu ketiga hampir mengenainya.

Chika memutar tubuh ke belakang.

Langkah Angin – Spiral Leap!

Ia melompat mundur sambil berputar, lolos tipis.

Xiaouman menyipitkan mata.

“…tidak buruk…”

Ia melompat turun dari bambu.

Teknik: Panda Mengantuk – Tabrakan Bulan!

Tubuhnya meluncur ke depan seperti bola meriam.

Chika maju satu langkah.

Teknik: Ksatria Tanpa Pedang – Palm Guard!

Telapak tangan Chika dan tinju Xiaouman bertabrakan.

BOOOM!

Gelombang angin menyapu daun-daun bambu ke udara.

Mereka terdorong mundur bersamaan.

Chika tergelincir satu langkah.

Xiaouman juga mundur satu langkah.

Mereka berdiri saling menatap.

Diam.

Angin sore meniup daun bambu.

“…Seri?” gumam Princes.

Xiaouman menguap panjang.

“…huahh… capek…”

Chika menghela napas.

“…kamu kuat banget…”

Mata Xiaouman setengah terbuka.

“…kamu juga…”

Ia berbalik dan langsung… menjatuhkan diri ke tanah.

DUK.

“Zzz…”

Chika dan Princes terdiam.

“…Dia tidur lagi,” kata Chika.

Princes mengangkat tangan.

“Kesatria… kita baru saja duel epik… sama orang yang bisa tidur di tengah pertarungan.”

Hero Sword di dada Chika bergetar pelan, seolah menyetujui.

Chika menatap Xiaouman.

“Yup… Hero ke Lima ini… bukan cuma malas…”

“…dia berbahaya dalam keadaan mengantuk.”

Chika dan Princes berdiri di samping Xiaouman yang sudah kembali terkapar di antara rumpun bambu, satu tangannya memeluk batang bambu seperti guling.

Zzz…

Chika menarik napas dalam-dalam.

“Baik… pakai cara biasa.”

Ia dan Princes serempak berteriak.

“BANGUN!!”

Xiaouman tersentak duduk, rambut putihnya acak-acakan, telinga pandanya berdiri kaku.

“Hah—?!”

Ia mengucek matanya. “Huahh… saatnya makan pagi?”

Chika menoleh ke langit yang sudah gelap keunguan.

“Ini malam.”

Xiaouman menatap sekitar, lalu menghela napas panjang.

“…Oh. Pantesan bambunya dingin.”

Ia duduk bersila, menggaruk pipinya.

“Kenapa kalian selalu ganggu aku? Huahhh… ada apa lagi?”

Chika melangkah maju setengah langkah, suaranya lebih serius.

“Kami ke sini untuk mencari Hero yang ditakdirkan oleh pedang pusaka… Hero Sword.”

Princes langsung mengacungkan tangan seperti di kelas.

“Dan kamu Hero-nya! Hero ke Lima!”

Xiaouman memiringkan kepala.

“Hero Sword? Nggak pernah dengar. Itu pedang bambu?”

Chika menggeleng. Ia mengangkat tangannya ke dada.

Cahaya biru pucat menyala.

Hero Sword muncul perlahan, memanjang seperti terbentuk dari cahaya cair.

“Inilah Hero Sword.”

Ia menyerahkannya ke Xiaouman.

Begitu jari Xiaouman menyentuh gagangnya—

WOOOM.

Cahaya biru terang meledak lembut, menerangi bambu, dinding dojo, bahkan wajah Princes yang refleks menutup mata.

Chika tersenyum kecil.

“Dan benar. Kamu Hero ke Lima.”

Xiaouman menatap pedang itu, lalu menatap Chika.

“…Lalu?”

Ia menguap. “Aku harus apa?”

Chika ragu sejenak.

“…Mau ikut dengan kami?”

Xiaouman berdiri perlahan.

“Maaf… aku nggak bisa.”

Princes mendekat.

“Kenapa?”

Xiaouman berjalan ke arah bangunan dojo, melambaikan tangan malas.

“Kalian… ikut aku.”

Chika dan Princes saling pandang.

“…Ikut?”

“…Ikut.”

Mereka mengikuti Xiaouman masuk ke bagian dalam dojo.

Lorong kayu itu sunyi, hanya suara langkah kaki dan bambu yang berderit tertiup angin. Xiaouman membuka pintu geser.

Krek.

Di dalam kamar itu, dinding penuh dengan kertas penelitian, peta kota, dan foto-foto orang bertanda simbol klan naga. Beberapa bambu ditumpuk seperti rak buku.

Xiaouman duduk di lantai.

“Aku harus menghentikan mereka…”

“…menguasai kota Shen.”

Chika mengernyit.

“Mereka jahat?”

Xiaouman mengangguk.

“Iya…”

“Huahh… capek sekali.”

“Aku sering menyusup ke markas mereka, lihat semua rencana.”

Princes mencondongkan badan ke depan.

“Kalau begitu… kami bantu!”

Xiaouman menggeleng.

“Itu malah merepotkan.”

“Aku masih memata-matai mereka…”

“…karena mereka mau membangkitkan Orochi.”

Chika menegang.

“Orochi?”

“Leluhur klan naga,” jawab Xiaouman.

“Masalahnya…”

“cara membangkitkannya…”

“…harus mengorbankan jiwa rakyat di wilayah klan naga.”

Chika mengepalkan tangan.

“Berarti kamu sudah bertindak sejauh ini?”

“Tapi ayahmu bilang kamu malas…”

Xiaouman tersenyum tipis.

“Karena yang tidur siang itu bayanganku.”

“Aku kembali ke dojo setelah latihan selesai.”

Princes membelalak.

“Jadi yang kita ganggu tadi itu… bayangan?!”

Xiaouman mengangguk.

Chika berpikir keras.

“Kalau begitu… bagaimana kalau aku yang mengawasi mereka yang mau menyerap jiwa warga?”

Xiaouman ragu.

“Sebenarnya… bisa saja.”

“Tapi sistem keamanan mereka ketat.”

“Bahkan aku beberapa kali hampir ketahuan.”

Chika tersenyum.

“Nah. Aku tahu seseorang yang bisa bikin kita langsung ke sana.”

Tak lama kemudian—

Cahaya teleport menyala.

Di tengah kamar Xiaouman muncul sosok robot duduk bersila, kipas kecil berputar di kepalanya.

“PROTES SISTEM.”

MK.99 mengetuk dadanya sendiri.

“Aku ingin mendinginkan motherboard.”

“Terus dipanggil… terus dipanggil…”

Princes menatap.

“…Kita sekarang punya dua makhluk malas.”

Xiaouman menatap MK.99.

“…Kamu juga tidur?”

MK.99 mengangkat tangan.

“Aku tidak tidur. Aku ‘mode hemat energi emosional’.”

Chika memijat pelipis.

“Baik… kita punya Hero malas, robot malas, dan misi besar.”

Princes mengangguk serius.

“Tim paling tidak produktif dalam sejarah.”

Hero Sword bergetar pelan, seolah mengeluh.

...----------------...

Pagi datang pelan-pelan ke dojo. Kabut tipis menggantung di antara rumpun bambu, embun menempel di daun seperti kaca pecah kecil. Chika dan Princes berjalan keluar ke halaman, sementara MK.99 melayang di belakang mereka dengan suara bip… bip… lemah.

“Aku ingin mode tidur lagi,” gumam MK.99.

“Motor pendinginku baru saja bahagia. Kenapa harus bangun…”

Princes menoleh sambil berjalan mundur.

“Kamu robot tapi kelakuannya kayak kucing siang hari.”

MK.99 mengangkat satu tangan mekaniknya.

“Kucing adalah makhluk paling efisien di dunia.”

Mereka hampir sampai ke lapangan latihan ketika—

“CUKUP!”

Suara keras menggema dari dalam bangunan utama dojo. Nada marah, berat, dan bergetar seperti guntur yang tertahan.

Chika langsung berhenti.

“…Itu suara Xiaouman.”

Mereka saling pandang.

Perlahan, mereka mendekat ke pintu kamar ayah Xiaouman. MK.99 mengangkat dua jarinya.

“Mode transparan: aktif.”

Bzzzz…

Tubuh Chika dan Princes berpendar samar lalu menjadi seperti bayangan bening di udara.

Di balik pintu, terdengar suara berat ayah Xiaouman, rendah dan tegas.

“Xiaouman! Jangan bercanda!”

“Klan naga bukan musuh sembarangan!”

Suara Xiaouman terdengar lebih tajam dari biasanya, tanpa ngantuk.

“Aku tidak bercanda!”

“Cukup dengan khayalanmu itu!” bentak ayahnya.

“Kamu ini Hero atau anak yang malas tidur seharian?!”

Chika menahan napas.

Xiaouman membalas, nadanya bergetar marah.

“Aku tidur karena aku menyusup semalaman!”

“Aku melihat sendiri mereka menculik warga!”

“Mereka mau membangkitkan Orochi!”

Ayahnya tertawa pendek, dingin.

“Klan naga itu kuat dan terhormat.”

“Kamu terlalu banyak imajinasi.”

“IMAJINASI?!”

Suara kursi bergeser keras.

“Aku tidak butuh latihan bodoh klan ini!”

“Aku butuh menghentikan mereka!”

Chika mengepalkan tangan. Princes menggigit bibir.

Ayah Xiaouman mendengus.

“Kau pikir bisa melawan klan naga sendirian?”

“Kau hanya panda yang malas!”

Sunyi sekejap.

Lalu—

“BRAK!!!”

Pintu kamar dibanting keras sampai seluruh dinding kayu bergetar.

Xiaouman berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, mata merah karena emosi. Dadanya naik turun cepat.

Ia berjalan melewati Chika dan Princes tanpa melihat mereka, karena tubuh mereka masih transparan.

Princes berbisik.

“…Dadanya naik turun kayak mau meledak.”

Chika berbisik balik.

“Dia… marah tapi juga takut.”

Xiaouman berhenti di halaman, menatap bambu. Tangannya gemetar.

“…Kalau aku tidak menghentikan mereka…”

“…banyak orang akan mati.”

MK.99 mematikan mode transparan.

Bzz.

Mereka muncul kembali di hadapannya.

Xiaouman terkejut.

“…Kalian dengar?”

Princes maju satu langkah.

“Kami dengar semuanya.”

Chika berdiri sejajar dengannya.

“Kamu tidak sendirian.”

Xiaouman menunduk.

“Ayahku tidak percaya…”

“…semua orang pikir aku cuma malas.”

MK.99 mendekat sambil menguap digital.

“Secara statistik, pahlawan sering diremehkan dulu.”

Princes tersenyum kecil.

“Lagipula, Hero ke Lima tidak boleh menyerah.”

Xiaouman mengangkat kepala perlahan.

“…Kalian serius mau bantu?”

Chika mengangguk.

“Serius.”

Angin bertiup di antara bambu, shhhhhh…

Untuk pertama kalinya pagi itu, Xiaouman tersenyum tipis.

“…Kalau begitu,” katanya pelan,

“aku akan tunjukkan markas klan naga.”

Di kejauhan, Hero Sword di punggung Chika bergetar pelan, seolah merespons keputusan itu.

...----------------...

Halaman dojo terasa berbeda pagi itu. Angin tidak lagi berbisik lembut di antara bambu—ia berhenti, seolah menahan napas.

Chika, Princes, dan Xiaouman baru saja melangkah ke tengah halaman ketika—

“BERHENTI.”

Suara berat itu datang dari belakang mereka.

Ayah Xiaouman berdiri di ambang pintu dojo utama. Jubah latihannya berkibar pelan, matanya tajam seperti batu giok yang retak.

“Kau mau pergi lagi?” katanya dingin.

“Dengan alasan khayalan itu?”

Xiaouman menegang. Bahunya naik, napasnya tertahan.

“…Aku harus menghentikan mereka.”

Ayahnya melangkah maju, tongkat latihannya menghantam tanah.

Duk.

“Kalau kau ingin pergi,” katanya,

“kalahkan aku dulu.”

Chika refleks maju setengah langkah.

“Tunggu—!”

Namun Xiaouman sudah berdiri di posisi kuda-kuda.

“…Baik,” katanya pelan.

“Kalau itu satu-satunya cara supaya kau dengar aku.”

Duel Dimulai

Mereka saling menatap.

WHUUM—!

Ayah Xiaouman melesat lebih dulu, tongkatnya menyapu udara. Xiaouman meloncat mundur, kakinya menyentuh tanah dengan bunyi tap-tap cepat.

Duk! Dak!

Tongkat dan lengan bertemu. Getaran merambat ke lengan Xiaouman sampai jarinya kesemutan.

Chika memegangi gagang pedangnya.

“Dia… terlalu cepat.”

Princes berbisik.

“Tapi Xiaouman juga tidak mundur.”

Xiaouman mencoba menyerang balik, tubuhnya berputar, cakarnya hampir menyentuh jubah ayahnya—

DOK!

Ia terpental dan jatuh berguling di tanah.

Debu naik.

Xiaouman terbatuk.

“…Hah… hah…”

Ayahnya berdiri tegap.

“Kau masih lemah.”

Xiaouman menggertakkan gigi.

Segel Terlepas

Ia berdiri perlahan.

Tangannya gemetar.

“…Aku… tidak mau kalah lagi…”

Di dadanya, cahaya mulai muncul—

hitam seperti malam…

dan hijau seperti giok tua.

Simbol yin dan yang berputar di udara.

FWOOM…

Angin meledak keluar dari tubuh Xiaouman. Rambutnya berkibar liar. Matanya berkilat aneh.

Chika terkejut.

“Itu… kekuatan terlarang klan panda…”

Princes menutup mulut.

“Dia benar-benar melepaskan segelnya…”

Xiaouman melesat maju.

BAM! BAM!

Serangannya berubah cepat dan berat. Tanah retak tipis di bawah kakinya. Ayahnya terpaksa mundur dua langkah.

Untuk pertama kalinya, ekspresi ayahnya berubah—terkejut.

“Kau…!”

Namun ia segera menguatkan kuda-kudanya.

DUUUUK!

Dua kekuatan bertabrakan.

Hitam dan hijau melawan emas tua.

Angin berputar seperti pusaran kecil.

Xiaouman terdorong ke belakang. Tubuhnya bergetar.

“…Hah… hah…”

Ayahnya berdiri lebih dulu.

“Kekuatan itu bukan untuk emosi.”

Xiaouman jatuh berlutut.

Ledakan Emosi

Xiaouman mengepalkan tanah.

“…Aku benci…”

Ayahnya menoleh.

“Aku benci Ayah!”

Semua terdiam.

“Kau selalu menahanku!”

“Kau selalu bilang aku malas!”

“Padahal aku yang menyusup!”

“Aku yang lihat ancaman Orochi!”

Suaranya pecah.

“Kau melatih murid-muridmu… tapi tidak peduli dunia mau hancur!”

Chika maju.

“Xiaouman, tenang—”

“JANGAN!”

Xiaouman menoleh dengan mata basah.

“Kalian tidak tahu rasanya diremehkan… oleh ayah sendiri!”

Princes berjalan mendekat perlahan.

“Kami tahu kamu kuat…”

“Tapi tidak ada yang percaya!”

Air matanya jatuh ke tanah.

“Bahkan dia…”

Ia menatap ayahnya sebentar…

lalu membalikkan badan.

“…Aku capek.”

Xiaouman berlari masuk ke dalam dojo.

BRAK!

Pintu tertutup keras.

Halaman kembali sunyi.

Angin berdesir pelan.

Daun bambu jatuh satu per satu.

Chika menunduk.

“…Dia tidak marah… dia terluka.”

Princes mengangguk.

“Dan luka itu lebih berat dari pukulan.”

Ayah Xiaouman berdiri kaku, tangannya sedikit gemetar… tapi wajahnya tetap keras.

Di balik pintu dojo, terdengar suara teredam.

Isak tangis yang ditahan.

Cerita mereka… belum selesai.

Pintu dojo masih tertutup rapat. Dari dalamnya, sesekali terdengar bunyi kayu berderak… dan napas tertahan.

Chika, Princes, dan MK.99 berdiri canggung di halaman. Angin berputar kecil di sekitar kaki mereka, membawa bau kayu dan tanah basah.

MK.99 memiringkan kepalanya.

“…Data emosi tidak stabil. Subjek Xiaouman mengalami mental overload.”

Princes memeluk lengannya sendiri.

“Kenapa ayahnya begitu keras sih…?”

Chika menghela napas, lalu menoleh ke arah ayah Xiaouman yang masih berdiri kaku di bawah pohon pinus tua.

“Paman…”

Chika maju satu langkah, agak kikuk.

“Kenapa sih… Paman selalu menahan Xiaouman?”

Ayah Xiaouman tidak langsung menjawab.

Ia memejamkan mata sebentar.

Lalu… duduk perlahan di anak tangga dojo.

Krk…

Tongkat latihannya ia sandarkan ke dinding. Bahunya turun, seolah menanggung beban yang terlalu lama disimpan.

Masa Lalu yang Terbuka

“…Karena aku takut,” katanya akhirnya.

Suara beratnya terdengar lebih rendah dari sebelumnya.

“Setelah Xiaouman lahir… istriku meninggal.”

Chika membeku.

Princes refleks menutup mulut.

MK.99 menurunkan volume suara internalnya.

“…Data tragedi keluarga terkonfirmasi.”

Ayah Xiaouman menatap tanah.

“Dia mati saat melahirkan. Sejak hari itu… Xiaouman adalah satu-satunya keluargaku.”

Tangannya mengepal perlahan.

“Lalu ramalan itu muncul…”

Ia mengangkat kepala, matanya redup.

‘Anak panda itu akan mewarisi kekuatan terlarang.

Yin hitam dan giok hijau.

Jika bangkit terlalu cepat, ia bisa menghancurkan dirinya sendiri.’

“Aku kira segelnya masih utuh…”

“Baru hari ini aku sadar…”

Ia menoleh ke arah pintu dojo.

“…dia sudah bisa mengeluarkannya.”

Suaranya bergetar tipis.

“Aku tidak mau kehilangan dia… seperti aku kehilangan istriku.”

Tentang Takdir dan Keraguan

Chika menggaruk pipinya.

“Terus soal… Hero Sword?”

Ayah Xiaouman mendengus pelan.

“Kau bilang pedang itu hanya menerima yang ‘layak’.”

“Bagaimana kalau Xiaouman tidak layak?”

“Bagaimana kalau takdir itu malah membunuhnya?”

Princes melangkah maju.

“Paman takut kehilangan dia…”

Ayah Xiaouman tidak membantah.

Chika dan Kepolosannya

Chika berdiri di depan ayah Xiaouman.

Tegap…

tapi ekspresinya tetap polos.

“Kalau begitu…”

“…biar aku yang di depan.”

Ayah Xiaouman mengangkat alis.

“Hah?”

Chika menunjuk dirinya sendiri.

“Aku knight.”

“Yang ditakdirkan buat ngelindungin dunia ini.”

“Invader sekarang udah nguasain Kastil Gurial Tempest.”

Ia mengepalkan tangan.

“Kalau Xiaouman mau ikut…”

“aku bakal jaga dia.”

Princes ikut berdiri di samping Chika.

“Kami nggak akan biarin dia mati.”

MK.99 mengangkat tangan sedikit.

“Unit ini juga siap melindungi Subjek Xiaouman.”

Ayah Xiaouman terdiam lama.

Angin menggoyang daun pohon.

Bayangan bergeser di tanah.

“…Kau bicara seperti tidak tahu bahaya apa yang ada di luar sana.”

Chika tersenyum kikuk.

“Iya sih… aku emang agak bego soal bahaya.”

Princes nyaris tersedak.

“Chika?!”

“Tapi…”

Chika mengangkat wajahnya.

“Kalau dunia hancur… Xiaouman juga tetap nggak aman, kan?”

Ayah Xiaouman menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya…

tatapan itu tidak meremehkan.

“…Kau aneh,” gumamnya.

Pintu Dojo

Tiba-tiba—

Klik.

Pintu dojo sedikit terbuka.

Satu mata hitam mengintip keluar.

“…Kalian ribut.”

Xiaouman berdiri di ambang pintu, mata sembab, telinganya terkulai.

Chika langsung melambaikan tangan.

“Hei.”

Princes tersenyum kecil.

“Kami lagi ngomongin kamu.”

Xiaouman mendengus.

“Pasti ngomongin aku pemalas lagi.”

Ayah Xiaouman berdiri perlahan.

“…Aku tidak bilang kau pemalas.”

Xiaouman menegang.

“…Hah?”

Ayahnya menatapnya lurus.

“Aku bilang aku takut kehilanganmu.”

Xiaouman terdiam.

Telinganya sedikit naik.

“…Apa?”

Angin berhenti berdesir.

Di antara mereka…

tak ada teriakan.

tak ada duel.

Hanya jarak…

yang mulai menyempit.

Xiaouman mengepalkan tangannya.

Dadanya naik turun cepat, bulunya sedikit berdiri karena emosi.

“Takut… takut… TAAKUUUT terus!”

suaranya pecah, antara marah dan frustasi.

Ia menunjuk ayahnya dengan gemetar.

“Karena kecemasan Ayah itulah aku nggak pernah berkembang!”

“Setiap hari cuma diajarin teknik klan panda!”

“Padahal jelas-jelas…!”

Ia menghentakkan kaki.

“Teknik itu kalah telak dari ajaran klan naga!”

WHUMP!

Aura hijau tipis menyembur dari tubuhnya, seperti asap giok yang retak.

Chika refleks mundur setengah langkah.

Princes memegang lengan Chika.

MK.99 menyalakan sensor.

“…Lonjakan emosi terdeteksi. Stabilitas mental: kritis.”

Ayah Xiaouman mengangkat tangan.

“Xiaouman, dengarkan dulu—”

“TIDAK!”

Xiaouman menutup telinganya.

“Setiap kali Ayah ngomong, isinya cuma: ‘jangan’, ‘bahaya’, ‘takdir’, ‘ramalan’!”

“AKU MUAK!”

Ia melompat ke pagar bambu.

THAP! THAP!

Dengan satu putaran, tubuhnya melesat ke atas rumpun bambu seperti bayangan hitam.

“Aku nggak mau jadi boneka ramalan!”

“Aku mau jadi lebih kuat… dengan caraku sendiri!”

SWOOSH!

Bambu bergoyang hebat saat Xiaouman meloncat keluar halaman dojo.

Daun bambu berjatuhan pelan…

menyisakan keheningan yang aneh.

Reaksi Mereka

Princes langsung maju.

“Xiaouman! Tunggu!”

Chika sudah siap lari.

“Kita kejar—!”

Namun tangan besar ayah Xiaouman menahan bahu Chika.

“Tidak.”

Chika terkejut.

“Hah?! Tapi dia—”

“Dia cuma pergi menenangkan pikirannya,” kata ayah Xiaouman.

“Biasanya… dia tidur di hutan bambu kalau emosinya meledak.”

Princes menggigit bibir.

“…Dia kelihatan sakit hati.”

Ayah Xiaouman memalingkan wajah.

“…Aku tahu.”

MK.99 menurunkan lengan.

“Prediksi unit: Subjek Xiaouman tidak dalam bahaya fisik.”

Ayah Xiaouman menghela napas panjang.

“Sekarang…”

“aku yang harus bicara pada kalian.”

Ia menoleh ke mereka bertiga.

“Masuk.”

Rapat di Dalam Dojo

Di dalam dojo, cahaya matahari masuk lewat jendela kayu.

Debu tipis melayang di udara.

Dinding penuh gulungan kaligrafi panda dan simbol yin-yang giok.

Mereka duduk melingkar.

Ayah Xiaouman berdiri di tengah, lalu membungkuk pelan.

“Terima kasih… karena tidak menyerah pada anakku.”

Chika gelagapan.

“Eh—paman nggak usah gitu—”

Ayah Xiaouman mengangkat tangan.

“Aku harus menjelaskan segalanya.”

Ia mengambil sebuah gulungan tua.

“Xiaouman bukan sekadar panda biasa.”

“Segelnya menahan dua kutub kekuatan: Yin hitam dan giok hijau.”

Ia membuka gulungan itu.

Gambar panda dengan dua aura berlawanan tampak jelas.

“Teknik klan panda bukan lemah.”

“Itu… penyeimbang.”

Princes mengerjap.

“Penyeimbang?”

“Jika dia langsung memakai ajaran klan naga…”

“segel itu bisa pecah.”

MK.99 memiringkan kepala.

“…Risiko kehancuran internal: tinggi.”

Ayah Xiaouman mengangguk.

“Karena itu aku menahannya.”

“Bukan karena aku meremehkannya…”

“…tapi karena aku takut dia mati sebelum sempat hidup.”

Chika menatap lantai.

“…Makanya dia ngerasa dikekang.”

Ayah Xiaouman menutup mata.

“Benar.”

Ia menatap Chika.

“Dan kau… bicara soal Hero Sword.”

Chika mengangguk.

“Invader sekarang menguasai Kastil Gurial Tempest.”

“Kalau kita nggak bertindak… dunia ini bakal jatuh.”

Ayah Xiaouman menatap simbol giok di dinding dojo.

“…Kalau begitu…”

“…mungkin aku yang terlalu takut pada takdir.”

Ia menarik napas panjang.

“Baik.”

“Kita akan bicara lagi pada Xiaouman… setelah dia tenang.”

Princes berdiri sedikit.

“…Kalau dia nolak?”

Ayah Xiaouman tersenyum tipis, pahit.

“Kalau begitu… aku harus belajar melepas.”

Angin masuk dari pintu dojo yang terbuka.

Daun bambu kembali bergesek pelan di luar.

Di kejauhan…

entah di mana Xiaouman tertidur sekarang,

takdirnya mulai bergerak…

pelan…

namun pasti.

Ayah Xiaouman menyilangkan tangan di balik jubah dojo-nya.

Matanya yang tajam menatap Chika penuh selidik.

“Kalau begitu… katakan padaku dengan jelas,” ucapnya pelan.

“Apa sebenarnya yang terjadi pada Kerajaan Gurial Tempest?

Aku dengar hanya rumor… tapi dari wajahmu, itu bukan sekadar kabar angin.”

Chika terdiam sejenak.

Ia menarik napas.

Bahunya turun, ekspresinya berubah dari ceria ke muram.

“…Aku baru saja dilantik jadi knight,” katanya lirih.

“Hari itu… seharusnya hari bahagia.”

Princes mendekat, duduk di samping Chika.

Tangannya menggenggam ujung jubah Chika tanpa sadar.

MK.99 berdiri kaku di belakang mereka.

“…Mode rekaman aktif.”

Kisah Kejatuhan Gurial Tempest

Chika memejamkan mata.

“Langit tiba-tiba gelap…”

“Bukan karena awan.”

Ia mengangkat tangannya, seolah menggambar bentuk di udara.

“Invader muncul… dengan kapal raksasa.”

“Besar banget… kayak gunung terbang.”

BOOOOOM!

Chika menghentakkan kaki ringan ke lantai dojo.

Debu beterbangan tipis.

“Terus… meteor raksasa jatuh dari langit.”

“Kastil… dihujani batu api.”

Princes menggigit bibir.

“…Aku masih ingat suara runtuhnya menara…”

Ayah Xiaouman mengepalkan tangan.

“…Meteor?”

Chika mengangguk.

“Aku dan Kapten Emila berhasil masuk ke ruang tahta.”

“Di sana… Princes dan Ratu Vexana lagi bantu warga kabur.”

Suara Chika mulai bergetar.

“Tapi… Komandan Crops ke-7 datang.”

MK.99 menambahkan datar:

“Musuh kelas tinggi. Tingkat ancaman: ekstrem.”

Chika melanjutkan.

“Dia mau menangkap aku dan Princes.”

“Tapi tiba-tiba… Princes pakai sihir penyegelan.”

Princes tersenyum kecil, pahit.

“…Aku nggak mikir apa-apa waktu itu.

Cuma… nggak mau Chika ditangkap.”

Chika menoleh ke Princes.

“…Makanya kita bisa kabur lewat udara.”

Ayah Xiaouman mengangguk pelan.

“Namun…”

Chika mengepalkan tangannya.

“Komandan itu bebas lagi.”

“Dia ngejar kita.”

Napas Chika makin berat.

“Terus… aku sama Princes… jatuh dari pegangan Ratu Vexana.”

Princes menunduk.

“…Sampai sekarang… beliau belum ditemukan.”

Ruangan dojo sunyi.

Hanya suara bambu di luar yang berdesir.

Ayah Xiaouman menghela napas panjang.

“…Kalian anak-anak… menanggung perang.”

Tentang Havenload

Ayah Xiaouman lalu berjalan ke jendela.

“Kalau begitu…”

“kalian perlu tempat berlindung.”

Ia menoleh.

“Aku tahu sebuah pulau.”

“Havenload.”

Chika langsung mendongak.

“…Pulau yang tiba-tiba muncul di atas kota Shen?”

Ayah Xiaouman tersenyum kecil.

“Kau tahu?”

Chika ragu.

“…Paman juga tahu tentang itu?”

Ia menatap tajam.

“…Apa paman kenal penciptanya?”

Ayah Xiaouman tertawa pendek.

“Hmph… tentu.”

Ia mengangkat kepalanya bangga.

“Pencipta Havenload adalah Kaden.”

“Pahlawan masa lalu.”

“…Dan sahabatku.”

Mata Chika membesar.

“…KADEEEEN?!”

Princes berkedip.

“Yang itu?”

MK.99:

“…Data sejarah cocok.”

Ayah Xiaouman melanjutkan.

“Setelah Kaden menghilang… pulau itu mati.”

“Langitnya kelabu.”

“Mesinnya berhenti.”

Ia menoleh ke Chika.

“Tapi sekarang…”

“pulau itu hidup lagi.”

Nada suaranya menghangat.

“Itu artinya…”

“ada penerus Kaden.”

Chika menegakkan badan.

“…Itu… aku?”

Ayah Xiaouman tersenyum lebih lebar.

“Mungkin bukan hanya kau.”

“Tapi kau bagian dari warisannya.”

Princes mengepalkan tangan kecilnya.

“…Kalau begitu… kita nggak sendirian.”

Keputusan Besar

Ayah Xiaouman berbalik menghadap mereka semua.

“Kalau klan naga benar-benar ingin membangkitkan Orochi…”

“…dan invader menguasai Gurial Tempest…”

Ia menatap satu per satu:

Chika.

Princes.

MK.99.

“…maka aku tak bisa terus bersembunyi.”

Ia mengepalkan tinju ke dada.

“Jika kalian ingin menghentikan klan naga…”

Ia berhenti.

“…aku akan melatih kalian.”

Mata Chika berbinar.

“Serius?!”

Princes berdiri.

“Termasuk Xiaouman?”

Ayah Xiaouman menutup mata sejenak.

“…Terutama dia.”

MK.99:

“…Unit siap untuk pelatihan.”

Ayah Xiaouman melangkah ke tengah dojo.

“Aku akan mengajarkan teknik tersembunyi klan panda.”

“Teknik yang hanya dipakai untuk melawan makhluk sekelas…”

Ia menatap simbol di dinding.

“…Orochi.”

Angin masuk dari pintu dojo.

Daun bambu beterbangan.

Di luar…

di suatu tempat di hutan bambu,

Xiaouman tidur tanpa tahu…

bahwa ayahnya baru saja memilih

untuk berhenti melindunginya dengan sangkar…

dan mulai menyiapkannya

untuk sayap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!