Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Kehangatan Fisik
Matahari pagi menembus jendela kaca setinggi langit-langit apartemen, memantulkan cahaya pada pecahan kristal gelas wiski yang masih berserakan di sudut ruangan, satu-satunya saksi bisu kemurkaan semalam. Cahaya itu begitu terang, begitu bersih, seolah-olah ingin membasuh noda kebencian yang mereka muntahkan beberapa jam lalu.
Ozora berdiri di depan kompor tanam yang berkilau. Jemarinya yang ramping bergerak dengan presisi yang menghantui saat ia memecahkan telur ke atas wajan panas.
Suara desisan minyak adalah satu-satunya melodi di dapur itu. Dia mengenakan kemeja putih milik Sky yang kebesaran, menyembunyikan memar-memar halus di pergelangan tangannya akibat cengkeraman Sky semalam.
Dia merasa kosong. Namun, dalam kekosongan itu, ada semacam kenyamanan yang sakit.
Lalu, dia merasakannya. Langkah kaki yang nyaris tak terdengar di atas lantai kayu ek, namun getarannya terasa hingga ke tulang belakang Ozora. Tanpa menoleh, dia tahu itu Sky. Dia tahu aroma sandalwood dan sisa tembakau yang selalu mengikuti pria itu.
Sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya. Sky menarik tubuh Ozora hingga punggung gadis itu menempel sempurna pada dadanya yang bidang. Sky menyandarkan dagunya di bahu Ozora, menghirup aroma leher gadis itu seolah-olah dia sedang menghirup nyawa.
"Selamat pagi, Monster Kecil," bisik Sky. Suaranya serak, khas orang yang baru bangun tidur, namun ada nada kepemilikan yang mutlak di sana.
Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penjelasan tentang gelas yang pecah atau ludah yang mendarat di wajah. Bagi mereka, kata maaf adalah tanda kelemahan, dan mereka terlalu bangga untuk menjadi lemah.
"Kau menghalangi gerakanku, Sky," balas Ozora datar, meski dia tidak berusaha melepaskan diri. Malah, dia sedikit menyandarkan kepalanya pada pipi Sky.
Sky mempererat pelukannya, jemarinya merayap di atas perut Ozora, merasakan detak jantung gadis itu yang sedikit meningkat. Sky tersenyum kecil, sebuah seringai kemenangan. "Kau memasak omelet? Terlalu domestik untuk seseorang yang semalam ingin membakar apartemen ini."
"Seseorang harus memastikan kita tetap hidup, meski hanya untuk saling menghancurkan lagi nanti malam," sahut Ozora. Dia mematikan kompor, lalu berbalik dalam kungkungan lengan Sky. Kini mereka berhadapan. Mata Ozora yang gelap menatap langsung ke dalam manik mata Sky yang tajam. "Kenapa kau menyentuhku? Bukankah semalam aku membosankan?"
Sky terdiam sejenak. Dia mengamati wajah Ozora, bibirnya yang sedikit bengkak, matanya yang lelah namun tetap menantang. Kebosanan yang dia rasakan semalam seolah tertutup oleh kabut gairah pagi yang manipulatif. Dia mencintai fase ini, fase gencatan senjata yang rapuh.
"Kau membosankan saat kau diam, Ozora. Tapi saat kau menatapku dengan kebencian seperti itu... kau terlihat sangat hidup," Sky mengulurkan tangan, mengelus rahang Ozora dengan ibu jarinya.
"Pelukan ini bukan tanda damai. Ini hanya pengingat bahwa kau masih milikku, bahkan setelah perang semalam."
Ozora tertawa pendek, suara tawa yang tidak mencapai matanya. "Kau gila, Sky Remington."
"Kita sama-sama gila. Itulah kenapa kita tidak bisa pergi," Sky mencium kening Ozora dengan lembut, kontras yang mengerikan dengan beringasnya ciuman mereka di mobil tempo hari.
Mereka sarapan dalam keheningan yang menyesakkan. Sky duduk di ujung meja, menyesap kopinya sambil memperhatikan Ozora yang makan dengan anggun. Di permukaan, mereka tampak seperti pasangan kelas atas yang sempurna di majalah mode. Namun di bawah meja, kaki mereka saling mengunci, sebuah perebutan dominasi yang tidak pernah berakhir.
Sky menyadari sesuatu. Rasa bosan itu belum benar-benar pergi; itu hanya sedang bersembunyi di balik adrenalin sisa pertengkaran semalam. Dia tahu, beberapa jam lagi, rasa jemu itu akan kembali menagih tumbal. Dia butuh tantangan baru. Dia butuh Ozora untuk melakukan sesuatu yang tidak terduga.
"Aku akan pergi ke kantor pusat hari ini," ujar Sky tiba-tiba, matanya tetap terpaku pada Ozora. "Jangan keluar dari gedung ini tanpa pengawal."
Ozora berhenti mengunyah. Dia tahu ini adalah tes. "Dan jika aku melakukannya?"
Sky meletakkan cangkirnya perlahan. "Maka aku akan menganggapnya sebagai undangan untuk berburu. Dan kau tahu betapa aku menikmati perburuan, bukan?"
Ozora tersenyum, kali ini senyumnya lebih tulus, atau mungkin lebih licik. "Mungkin itu yang kita berdua butuhkan, Sky. Sedikit permainan kejar-kejaran untuk membunuh rasa bosanmu."
Mereka saling menatap, berbagi rahasia gelap yang tidak akan pernah dipahami dunia luar. Bagi mereka, cinta bukan tentang ketenangan, melainkan tentang siapa yang paling lama bertahan dalam kegilaan. Pelukan pagi itu hanyalah persiapan untuk kehancuran berikutnya yang lebih besar.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰😍