Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: ANTARA MIMPI DAN REALITA
BAB 26: ANTARA MIMPI DAN REALITA
Malam di Delhi merangkak semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di kediaman Vashishth. Di paviliun belakang, cahaya lampu minyak temaram menyinari sosok Arlan yang duduk mematung di lantai teras. Matanya yang biasanya berpendar polos layaknya anak kecil, malam ini tampak berbeda. Ada kabut kesedihan yang mulai menipis, digantikan oleh sorot mata yang tajam, dingin, dan penuh luka.
Ingatannya tidak kembali seperti air terjun yang tumpah sekaligus, melainkan seperti serpihan kaca yang satu per satu menusuk otaknya. Dia ingat aroma tanah Simla setelah hujan. Dia ingat tawa Vanya saat mereka berlari di perbukitan. Namun, dia juga ingat rasa sakit yang luar biasa saat balok kayu itu menghantam tengkoraknya, dan suara tawa Hendra yang menggema sebelum semuanya menjadi gelap.
Vanya berjalan mendekat dengan langkah pelan, membawa selimut tebal. Dia melihat Arlan yang tidak lagi bermain dengan mainan plastiknya. Jantung Vanya berdegup kencang. Dia merasakan ada perubahan atmosfer pada pria itu.
"Arlan? Kau belum tidur?" tanya Vanya lembut.
Arlan tidak menoleh. Dia tetap menatap bulan sabit di langit. "Vanya," suaranya terdengar sangat berat, suara pria dewasa yang sudah melewati ribuan badai. "Aku baru saja memikirkan sesuatu yang sangat aneh tentang kita manusia."
Vanya tertegun. Ini bukan cara bicara Arlan yang sedang amnesia. Vanya meletakkan selimut itu dan duduk di sampingnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Apa yang kau pikirkan?"
Arlan menoleh perlahan, menatap Vanya dengan tatapan yang seolah menembus jiwa wanita itu. Tatapan itu adalah tatapan pria yang sudah mengingat segalanya.
"Aku berpikir bahwa terkadang kita selalu menginginkan sesuatu yang kita tahu tidak akan pernah bisa kita dapatkan. Kita menghabiskan seluruh waktu kita untuk mengejarnya, membayangkannya sebelum tidur, seolah-olah tanpa hal itu kita akan mati. Padahal sebenarnya, takdir hanya memberikan keinginan itu agar kita tahu bagaimana rasanya memiliki lubang besar di dalam hati kita."
Vanya menutup mulutnya dengan tangan, isakannya pecah. "Arlan... kau ingat? Kau benar-benar sudah kembali?"
Arlan tersenyum pahit, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Aku ingat segalanya, Vanya. Aku ingat kau adalah milikku di Simla. Dan aku juga ingat bahwa sekarang kau mengenakan tanda pernikahan milik Rayhan. Lucu sekali, bukan? Aku mendapatkan kembali ingatanku hanya untuk menyadari bahwa aku sudah kehilangan segalanya."
Di balik pilar paviliun, Rayhan berdiri dalam bayang-bayang. Sebagai seorang perwira militer yang terlatih untuk mendengar suara sekecil apa pun, dia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Arlan. Rayhan menggenggam lencana peraknya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.
Ada rasa lega yang luar biasa karena saudaranya telah kembali pulih, namun ada rasa sakit yang tak terlukiskan karena dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia adalah suami sah dari wanita yang merupakan nyawa bagi adiknya sendiri.
Rayhan memutuskan untuk tidak masuk. Dia berbalik dan berjalan menuju gedung utama, menuju kamar ibunya, Suman.
Di dalam kamar, Suman sedang duduk di depan meja riasnya, menatap botol-botol obat yang gagal dia gunakan untuk meracuni Arlan. Dia terkejut saat melihat Rayhan masuk dengan wajah yang sangat pucat.
"Ada apa, Rayhan? Kau tampak seperti melihat hantu," tanya Suman sinis.
"Arlan sudah ingat semuanya, Ibu," jawab Rayhan singkat.
Suman menjatuhkan sisir peraknya. "Apa? Bagaimana mungkin? Dokter bilang itu akan memakan waktu berbulan-bulan!"
"Kebenaran tidak bisa dibungkam selamanya oleh obat-obatan atau kebohongan, Ibu," suara Rayhan mulai meninggi. "Dia sudah mengingat Simla. Dia sudah mengingat Vanya. Dan yang paling berbahaya bagi Ibu... dia segera akan mengingat siapa pria di foto itu. Dia akan tahu bahwa dia adalah putra Mayor Jenderal Vashishth."
Suman berdiri, matanya memancarkan kebencian murni. "Lalu kau mau apa? Kau mau menyerahkan posisimu padanya? Kau mau membiarkan pengemis itu mengambil alih rumah ini dan menghancurkan reputasi kita?"
"Aku tidak peduli dengan reputasi!" teriak Rayhan. "Aku peduli pada keadilan! Ibu sudah mencoba membunuhnya berkali-kali. Jika Arlan menuntut haknya, aku tidak akan menghalanginya. Karena dialah yang paling banyak menderita di sini."
Kembali di paviliun, suasana semakin emosional. Vanya mencoba memegang tangan Arlan, namun Arlan menariknya dengan lembut namun tegas.
"Jangan, Vanya. Tanganmu sekarang seharusnya hanya menggenggam tangan Rayhan," ucap Arlan.
"Tapi aku mencintaimu, Arlan! Aku melakukannya karena terpaksa!" Vanya berteriak di tengah tangisnya.
Arlan berdiri, berjalan menuju pinggir teras, memunggungi Vanya. "Mencintaiku adalah masa lalu. Menjadi istri Rayhan adalah masa depanmu. Kau tahu, Vanya... saat aku berada di kegelapan amnesia itu, aku merasa sangat bahagia. Karena dalam kegelapan itu, aku tidak tahu bahwa kau telah pergi. Tapi sekarang, saat cahayanya kembali, aku dipaksa melihat kenyataan bahwa kau berada di rumah ini bukan sebagai pasanganku, tapi sebagai kakak iparku."
Arlan memejamkan matanya, membayangkan momen-momen indah di Simla saat mereka bermimpi tentang rumah kecil di tepi sungai.
"Menginginkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan adalah penderitaan yang paling abadi, Vanya. Aku ingin membenci Rayhan, tapi pria itu adalah orang paling jujur yang pernah kutemui. Dia menyelamatkan nyawaku. Dia memberiku perlindungan saat dunia membuangku. Bagaimana aku bisa merusak kebahagiaannya?"
Tiba-tiba, Ibu Sujati keluar dari dalam paviliun. Dia mendengar semuanya. Dia berlari dan memeluk Arlan dari belakang. "Putraku... kau sudah kembali."
"Ibu..." Arlan berbalik dan memeluk ibunya erat-erat. "Maafkan aku karena telah membuatmu menderita sendirian selama ini. Maafkan aku karena aku terlalu lemah untuk melindungimu dari orang-orang jahat di rumah ini."
Sujati menggelengkan kepalanya. "Kau sudah kembali, itu sudah cukup bagi Ibu. Tapi dengarkan Ibu, Arlan... Suman tidak akan tinggal diam. Sekarang kau sudah ingat, kau adalah ancaman terbesar baginya. Kita harus pergi dari sini."
"Pergi?" Arlan tertawa dingin. "Tidak, Ibu. Kita tidak akan lari lagi. Kita sudah lari sepanjang hidup kita. Sekarang, aku akan berdiri tegak di rumah ini. Bukan untuk merebut harta mereka, bukan untuk merebut Vanya dari Rayhan, tapi untuk memastikan bahwa wanita itu, Suman, membayar setiap tetes air mata yang kau jatuhkan selama dua puluh tahun ini."
Malam itu berakhir dengan pembagian kubu yang sangat jelas. Di satu sisi, ada Suman yang mulai menyusun rencana pembunuhan yang lebih rapi. Di sisi lain, ada Rayhan yang terjepit dalam dilema moral yang menghancurkan hatinya. Dan di tengah-tengahnya, ada Arlan yang sudah kembali dengan kecerdasan dan keberaniannya, namun dengan hati yang hancur karena cinta yang tidak bisa dia miliki.
Vanya kembali ke gedung utama dengan langkah gontai. Saat dia melewati koridor, dia berpapasan dengan Rayhan. Mereka saling menatap, namun tidak ada kata yang terucap. Keduanya tahu bahwa mulai besok, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.
Arlan tetap di paviliun, menatap ke arah kamar Vanya dan Rayhan. Dia menggumamkan kembali kalimat itu, seolah itu adalah mantra untuk menenangkan jiwanya yang tersiksa:
"Terkadang kita memang ditakdirkan untuk mencintai apa yang tidak bisa kita miliki, agar kita mengerti bahwa mencintai adalah tentang memberi, bahkan jika yang kita berikan adalah perpisahan."