NovelToon NovelToon
MENAGIH JANJI MASA KECIL

MENAGIH JANJI MASA KECIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.

“Kamu harus jadi pengantinku.”

Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.

Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.

Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.

Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?

Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELARIAN DIBALIK TUGAS SUCI.

Dinginnya embun pagi masih menyelimuti kediaman Ferdiansyah saat Arumi sudah menyelesaikan shalat Subuhnya. Dengan gerakan cekatan, ia merapikan hijabnya di depan cermin, berusaha mengabaikan sosok yang masih terlelap di atas ranjang besar itu. Arumi sengaja berangkat lebih awal. Ia tidak sanggup jika harus memulai pagi dengan siraman makian atau tatapan menghina yang selalu dilemparkan Ariya. Baginya, ketenangan fajar adalah satu-satunya kemewahan yang ia miliki sebelum terjun ke dalam badai batin.

Saat ia melangkah keluar kamar, ia berpapasan dengan Heny yang baru saja keluar dari kamarnya. Sang ibu mertua tampak terkejut melihat Arumi sudah siap dengan tas medis dan jas putih yang tersampir di lengan.

"Arum? Pagi sekali, Nak? Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Heny dengan nada khawatir.

Arumi memaksakan sebuah senyum tipis. "Maaf, Ma. Ada pasien yang harus Arum tangani segera di rumah sakit. Jadwal operasinya dimajukan sedikit."

Heny mengangguk paham, meski matanya menyiratkan kesedihan. "Oh, begitu. Eh, Arum, Mama hampir lupa. Hari ini jadwal Ariya untuk cek up rutin ke rumah sakit. Apakah kamu bisa membantunya nanti? Kamu tahu sendiri, Ariya terkadang sangat keras kepala jika ditangani orang lain."

Arumi terdiam sejenak. Ada keraguan yang nyata di matanya. Bayangan tamparan kemarin pagi masih terasa menyengat di ingatannya. Namun, sisi profesionalnya sebagai dokter beradu dengan lukanya sebagai istri.

"Kalau pasien yang Arum tangani selesai cepat, Arum pasti akan membantu, Ma," jawab Arumi akhirnya, memberikan jawaban yang aman sebelum bergegas pamit.

Heny menatap kepergian menantunya dengan bahu yang merosot. Tak lama, Ferdiansyah keluar dari kamar dan berdiri di samping istrinya. Ternyata, ia mendengar seluruh percakapan singkat itu.

"Sepertinya hubungan mereka tidak akan bertahan lama, Ma," gumam Ferdiansyah dengan suara yang sarat akan penyesalan. "Jika mereka sampai bercerai, Papa adalah orang pertama yang akan menyesal. Wanita setulus Arumi mungkin tidak akan pernah ada lagi untuk Ariya."

Heny menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Jangan bicara begitu, Pa. Mama tidak rela kalau mereka sampai berpisah. Arum itu anak yang baik."

Tanpa mereka sadari, pintu kamar di hadapan mereka terbuka sedikit. Ariya, yang sudah terbangun dan duduk di kursi rodanya, mendengar setiap patah kata orang tuanya. Rasa panas menjalar di dadanya. Ia segera memutar kursinya keluar, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh protes.

"Mengapa Papa dan Mama selalu membelanya? Dia tidak sebaik yang kalian kira!" seru Ariya dengan nada tinggi. "Dia hanya wanita munafik yang memiliki lelaki simpanan di luar sana!"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ariya. Kali ini pelakunya adalah Ferdiansyah. Suasana seketika menjadi sangat mencekam. Ariya memegang pipinya, menatap ayahnya dengan sorot mata tak percaya.

"Papa menamparku? Demi wanita itu?" tanya Ariya dengan suara bergetar karena marah.

Plak!

Tamparan kedua kembali mendarat di pipi yang lain. Ferdiansyah menatap putranya dengan murka yang tidak tertahankan.

"Kalau Papa tidak percaya, lihat saja CCTV depan rumah!" teriak Ariya. "Tadi malam dia pulang dibonceng pria naik motor! Bukankah itu bukti kalau dia berselingkuh?"

Ferdiansyah justru tertawa miris, sebuah tawa yang meremehkan. "Kau benar-benar pria terbodoh yang pernah aku besarkan, Ariya. Kau menelan mentah-mentah apa yang matamu lihat tanpa menggunakan otakmu sedikit pun!"

Ariya tertegun mendengar kata-kata pedas ayahnya.

"Kalau kau cerdas, kau akan berpikir, seberapa kaya lelaki simpanannya sampai bisa bergonta-ganti motor setiap malam?" lanjut Ferdiansyah dengan nada menghina. "Hanya tukang ojek yang memiliki motor beragam jenis! Kau menyebut istrimu punya simpanan, padahal dia rela naik ojek karena mobilnya dipinjam paksa adik tirimu demi menjaga perasaan ayahmu! Kau sungguh bodoh, Ariya!"

Ferdiansyah bergegas pergi meninggalkan Ariya yang mematung dengan wajah pucat pasi. Kata "tukang ojek" itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

Heny yang masih berdiri di sana menatap anaknya dengan iba. "Cepatlah cari tahu kebenarannya, Nak. Jangan kunci hatimu dengan kebencian. Penyesalan selalu datang terakhir, dan Mama tidak ingin kau hancur saat menyadarinya nanti."

Heny menyusul suaminya ke bawah, meninggalkan Ariya yang mulai gelisah. Pikirannya melayang pada video-video dari Lusi. Memang benar, motornya selalu berbeda. Apakah benar itu hanya ojek? Keraguan mulai menyusup ke sela-sela egonya. Dengan hati yang bimbang, ia kembali ke kamar untuk bersiap-siap menuju jadwal cek up-nya.

Sementara itu, suasana di kantin Citra Hospital tampak riuh. Arumi duduk di pojok ruangan, mencoba menikmati sepotong roti sebagai sarapan. Di sela-sela kunyahannya, ia mendengar pembicaraan beberapa rekan sejawat tentang bencana alam yang baru saja terjadi di wilayah Sumatera.

"Kabarnya daerah itu terisolasi. Mereka sangat membutuhkan bantuan medis segera," ujar salah seorang dokter.

"Hari ini jam sepuluh ada rapat koordinasi. Manajemen akan mengirimkan relawan ke sana," timpal yang lain.

Arumi terdiam. Sebuah ide melintas di benaknya. Mungkin ini adalah jawaban dari doanya untuk menghindar sejenak dari konflik rumah tangganya yang menyesakkan. Ia butuh jarak. Ia butuh ruang untuk bernapas tanpa harus melihat tatapan benci dari suaminya.

Pukul sepuluh tepat, ruang rapat utama sudah penuh. Ferdiansyah memimpin langsung pertemuan tersebut. Wajahnya tampak serius saat memaparkan kondisi di lapangan yang membutuhkan penanganan medis darurat.

"Rumah sakit kita akan mengirimkan tim relawan tahap pertama. Dibutuhkan setidaknya tiga dokter umum dan dua dokter spesialis bedah untuk berangkat sore ini. Adakah di antara kalian yang bersedia?" tanya Ferdiansyah sambil menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

Tanpa ragu sedikit pun, Arumi langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Saya bersedia menjadi relawan, Pak."

Ferdiansyah tertegun. Ia menatap menantunya yang duduk di barisan tengah. Ada kilat keberatan di mata sang mertua. Ia tahu betul Arumi sedang berusaha melarikan diri dari Ariya. Sebagai atasan, ia mengagumi dedikasi Arumi, namun sebagai orang tua, ia khawatir ini akan menjadi awal dari perpisahan yang permanen.

"Dokter Arumi, tugas ini sangat berat. Lokasinya rawan dan fasilitas sangat terbatas. Apakah Anda sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Ferdiansyah, berusaha memberikan celah bagi Arumi untuk mundur.

"Saya sangat yakin, Pak," sahut Arumi dengan suara mantap. "Tenaga saya pasti sangat dibutuhkan di sana. Sebagai dokter, tugas kemanusiaan adalah prioritas saya saat ini."

Arumi sengaja memanggil Ferdiansyah dengan sebutan "Pak" untuk menunjukkan bahwa ini adalah keputusan profesional yang tidak bisa diganggu gugat oleh masalah keluarga. Ferdiansyah menghela napas panjang. Ia bisa melihat luka yang terselip di balik ketegasan mata Arumi.

Seluruh ruangan menunggu jawaban sang direktur utama. Jika Ferdiansyah setuju, maka Arumi akan pergi ke daerah konflik bencana dalam hitungan jam. Dan Ariya, yang saat ini mungkin sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit ini untuk cek up, tidak akan tahu bahwa istrinya akan pergi ke tempat yang berbahaya tanpa pamit secara langsung.

"Baiklah," ucap Ferdiansyah akhirnya dengan berat hati. "Dokter Arumi masuk ke dalam tim pertama. Segera siapkan segala keperluan kalian. Keberangkatan pukul empat sore dari bandara."

Arumi mengangguk patuh, ada rasa lega yang aneh di hatinya. Namun, apakah pelarian ini benar-benar akan menyelesaikan masalah, atau justru akan membuat benang kusut dalam pernikahannya semakin sulit untuk diurai?

1
NP
sudut ya
Uba Muhammad Al-varo
Ariya........ sekarang Arumi udah memberikan kesempatan pergunakan dengan baik
Neng Salwa
bagus cerita nya juga seru
Uba Muhammad Al-varo
sekarang Ariya tugasmu berjuang untuk mendapatkan cintanya Arumi lebih berat kalau memang cintamu tulus jangan sampai kamu menyerah Ariya
tiara
semoga Lusi dan mamanya cepat dipenjara biar hidup Arumi dan ayahnya tenang
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya Erwin tahu kejahatan yang dilakukan oleh Rina dan Lusi, sekarang cepat ambil tindakan ceraikan Rina dan jebloskan ke penjara
Uba Muhammad Al-varo
mungkin ini jalan untuk kamu membuktikan cinta tulusmu dengan melindungi Arumi dari kekejaman ibu tirinya dan menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rina ibu tiri Arumi
Pujiastuti
makin seru aja ceritanya, lanjut kak semangat upnya 💪💪
Uba Muhammad Al-varo
itulah tugas terberatmu Arya membentengi diri dan menjaga Arumi dari kejahatannya lusi dan ibunya serta menyakinkan Arumi dengan kesungguhan cinta mu
tiara
semoga mereka dapat melalui semua ujian dimasa yang akan datang dengan tetap bersama selalu
tiara
semoga Arumi lekas pulih kembali ingatannya
tiara
akhirnya mereka dipertemukan kembali
tiara
semoga Arumi lekas ditemukan Ariya dan kakek juga tidak kesepian lagi
Uba Muhammad Al-varo
Ariya....... kalau kamu benar' tulus mencintai Arumi, tunjukkan kesungguhan dan kasih sayang ke Arumi
Nanik Arifin
Karmamu terbalas Ariya... dlu kau benci Arumi, sekarang Arumi tak mengingatmu sama sekali. sesuatu yg ingin dilupakan pasti terhapus saat hilang ingatan
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertemuan antara Ariya dan Arumi terjadi semoga ini awal Arumi bahagia dan Ariya mencintainya dengan tulus
Uba Muhammad Al-varo
semoga Ariya bisa menemukan Arumi, kasihan Arumi hidupnya selalu sedih dan Ariya juga mengajak kakek nenek untuk hidup bersama
Nanik Arifin
di Sumatra tapi nenek memakai kosa kata bahasa Jawa ( cah ayu, nduk ) asalmu dr Jawa atau keturunan Jawa ?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra
Uba Muhammad Al-varo
si Rina otaknya oleng, kalau ngomong asbun Percis kaya si Lusi anaknya, memang enak kena mental dari Ferdiansyah /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!