Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meng dan Mo
"Eh Dira," Tiba tiba Rania menyenggol lengan Indira.
"Ada apa?" Tanya Indira heran.
"Katanya kamu mau kucing ya? Punyaku lo beli en kucingnya," Ucap Rania menawarkan kucing miliknya.
"Aku nggak punya uang banyak, lima ratus ribu itu bukannya uang sedikit loh. Nggak ada uang segitu," Sebelumnya Indira berminat dengan kucing milik Rania namun harganya sangat mahal.
"Yaudah kamu beli dua kucingku aja, dua ratus ribu boleh."
"Kenapa kok jual murah?"
"Nggak ada yang ngurus nanti dirumah, sebentar lagi aku akan menikah jadi ikut sama suami. Terus dirumah nggak ada yang ngurus, kasihan kalo dibiarkan gitu aja,"
Indira pun berpikir dua kali untuk membeli kucing itu, tadinya dirinya memang sangat berminat dengan kucing tersebut karena warna bulunya yang terlihat anggun dengan bulu yang sedikit tebal. Tapi waktu kecil dirinya pernah ingin membeli kucing itu, namun harganya sangat mahal baginya sehingga ia mengurungkan niatnya itu.
"Berarti seratus ribuan?"
"Kucingnya nggak aku jual, cuma kamu ganti aja uang makannya seratus ribu saja,"
"Baiklah. Besok aku ambil, tolong siapkan kardus sama karungnya saja,"
"Oke. Ditunggu dirumah ya,"
"Iya. Tapi aku nggak bisa bayar langsung, kebutuhanku juga masih banyak soalnya. Gimana kalo tiap minggu aku cicil dulu?"
"Baiklah, karena kita kawan dekat jadi boleh deh kamu nyicil dulu buat belinya,"
"Oke."
Indira pun hanya bisa menyetujuinya, meskipun hal itu masih amat mahal baginya namun ia juga ingin memiliki teman dirumah. Apalagi dirinya saat ini tinggal sendirian didalam rumah, dan kadang kala ia bingung harus bagaimana untuk mengisi kegabutan nya dirumah itu.
Apalagi dirinya tengah tinggal sendirian, sehingga tidak ada yang bisa diajak olehnya mengobrol, tetangga kanan kosong sementara tetangga kiri sudah sesepuh dan Indira sendiri juga tidak enakkan apabila berkomunikasi dengan tetangganya itu. Ditambah lagi pikiran orang tua dan anak anak seperti dirinya sangatlah jauh berbeda, sehingga obrolan keduanya tidak menyambung.
Seandainya ada kucing dirumahnya, mungkin dirinya sendiri juga tidak akan terlalu bosan karena ada yang bisa diajaknya bermain. Oleh karenanya, Indira menyetujui untuk membeli kucing milik Rania agar menjadi kucingnya, serta mengisi waktu luangnya untuk bisa bermain dengan kucing kucing tersebut.
******
"Selamat datang dirumah baru kalian." Ucap Indira dengan kedua kucing yang tengah ia bawa saat ini.
Kucing itu ia ambil dari rumah Rania dengan susah payah, karena tubuh mereka yang sudah agak besar membuatnya kesusahan untuk membawa kucing itu pulang. Namun dengan berbagai macam cara akhirnya dirinya bisa membawa keduanya pulang, ya walaupun banyak yang memperhatikannya dijalan karena kucing itu sangat berisik.
Ia akhirnya telah sampai dirumahnya setelah melewati begitu banyak drama, tanpa berpikir panjang dirinya langsung menutup semua jendela dan pintu agar tidak membiarkan kedua kucing itu pergi. Kucing itu nampak kebingungan dengan rumah baru mereka, sehingga keduanya langsung berlarian kedepan dan kebelakang untuk melihat tempat tinggal baru mereka.
Dua kucing dengan warna yang berbeda, yang satunya full warna oren dan yang satunya lagi berwarna putih dengan pleret oren yang sangat cantik apabila dilihat. Meskipun sebelumnya porsi makan keduanya sama, namun tubuhnya keduanya sangatlah berbeda dan yang warna putih pleret oren lebih gemuk daripada yang oren.
"Oh iya, kalian belum punya nama ya."
Indira mengingat bahwa Rania belum memberi keduanya nama, sehingga Indira harus benar benar memikirkan tentang nama keduanya agar ketika dipanggil mereka bisa datang menghampiri dirinya. Kucing yang selama ini dirinya inginkan akhirnya kucing itu bisa ia bawa pulang, dan ditambah lagi dengan kucing lainnya yang ikut serta ia bawa pulang.
"Nanti saja aku mikirin nama kalian, yang harus aku lakukan sekarang adalah memberi makan kalian,"
Serasa kucing itu paham dengan apa yang dikatakan oleh Indira, mendengar perkataan itu langsung membuat keduanya mendekat kearah Indira namun keduanya tidak mau disentuh oleh Indira. Ketika Indira mendekat maka mereka akan menjauh, seakan akan tengah menjaga jarak dengan Indira saat ini.
Mungkin mereka belum terbiasa dengan sosok seperti Indira, sehingga mereka masih sangat asing dengan sosoknya dan belum bisa menerima kehadirannya. Namun perlahan lahan mereka pasti akan mau mendekat kearah Indira, mereka hanya membutuhkan beberapa waktu saja untuk bisa dekat.
Menggg.... Suara kucing itu yang teramat sangat lucu.
Tiap kali bersuara Indira selalu tertawa terbahak bahak mendengarnya, jika diperhatikan dengan teliti suara suara kucing itu berbeda beda meskipun sama sama mengeong namun suaranya berbeda. Begitupun dengan kedua kucing milik Indira saat ini, yang dimana tiap kali mereka bersuara maka Indira akan tertawa.
"Meng," Ucap Indira memanggil salah satu dari kucing itu.
Dan kucing berwarna putih dengan punggung oren pun menoleh kearah Indira, nampaknya kucing itu menyukai panggilan yang diberikan oleh Indira kepadanya. Melihat itu langsung membuat Indira tertawa senang, sebelumnya ia kebingungan untuk memberi nama kucingnya itu, namun kucing itu sendiri yang memberitahukan namanya.
"Mulai sekarang namamu meng ya, kalo dipanggil harus datang." Indira lalu mengusap lembut bulu kucing yang lembut tersebut. "Dan kamu namanya Mo," Indira lalu menunjuk kucing yang satunya dan tengah menjilati bulu bulu tangannya.
Kedua kucing itu mulai perlahan lahan sedikit mau berteman dengan Indira, ya meskipun kadang kala suka menghindar dari Indira. Namun karena kesabaran dari Indira sendiri hal itu membuat kedua kucing itu merasa aman berada didekat Indira, dan mau menerima Indira sebagai pemilik barunya.
Mengg... Mengg...
Teriak Meng yang entah kenapa, hal itu langsung membuat Indira menoleh kearah Meng dan mengusap lembut bulu bulu halus Meng. Meng sendiri rasanya merasa senang apabila bulunya diusap lembut oleh Indira, sehingga ia pun berguling guling didepan Indira dengan sikap manjanya yang ia tunjukkan.
Tingg... Tingg...
Tiba tiba ponsel Indira pun berdering, Indira dengan sesegera mungkin langsung melihat kearah ponselnya untuk memastikan siapa yang tengah menelponnya saat ini. Terpampang dengan jelas bahwa nama Rania muncul dilayar ponsel miliknya itu, dan Indira sendiri langsung mengangkat telpon itu.
"Hallo," Ucap Indira.
"Gimana? Udah sampek rumah?" Tanya Rania dari seberang sana melalui ponsel itu.
"Sudah ini baru sampek, sekarang mereka tengah makan saat ini,"
"Alhamdulillah kalo gitu, aku terus kepikiran denganmu tadi Dira, takutnya nanti kucingnya kabur ke jalanan terus tertabrak mobil. Syukurlah kalo kamu sudah sampek rumah,"
"Udah kok tenang saja, aku juga baru sempet pegang hp soalnya tadi ngawasin kucing kucing itu. Untung saja kardusnya dikasih karung kalo nggak mungkin mereka sudah lepas soalnya pas aku buka karungnya mereka sudah diluar kardus,"
"Terus gimana? Nggak papa kan?"
"Nggak papa sih nggak papa, ya gitulah. Mungkin pikiran orang orang aku maling kucing kali, banyak banget orang yang ngelihatin apalagi nih kucing kucing terus teriak teriak minta dikeluarkan."
Mendengar keluhan dari Indira, hal itu langsung membuat Rania tertawa terbahak bahak, andai saja dirinya melihatnya secara langsung mungkin dirinya tidak akan berhenti untuk terus tertawa. Sayangnya ia hanya mampu mendengar cerita dari Indira saja tanpa melihatnya secara langsung, sehingga tawanya kurang puas untuk ia nikmati saat ini.
"Tolong jagain tuh kesayanganku, jangan sampe telat makan," Ucap Rania memperingatkan.
"Ya kali telat makan, disini full makanan tau soalnya udah aku siapkan juga wadahnya. Paling yang telat makan itu babunya,"
"Hehehe... Pokoknya jagain dia, yang warnanya full oren suka kabur kaburan dia, yang satunya mager gerak,"
"Oh pantesan satunya kurus satunya gemuk kayak gajah."
Dirumah Rania keduanya memang dikurung dengan rapat namun masih bisa terlepas juga, namun Indira tidak ingin mengurung keduanya dan ingin membuat keduanya merasa bebas namun masih diperhatikan olehnya soal makan dan minum. Apalagi Rania selalu tidak lupa untuk memotong kuku mereka, sehingga kucing kucing itu terjaga dari kuku panjang yang bisa melukai pemiliknya.
"Tapi lucu kan yang gemuk, biasanya aku suka mandiin mereka jadi bulunya lembur,"
"Ya ya ya ya. Oh iya kamu nikahnya kapan? Kok nggak ada kabar kabar sama temenmu ini hem?"
"Acaranya dadakan, Dira. Nggak tau tiba tiba dia ngelamar kerumah sama keluarganya, kalo ditolak dan bilang belum siap nikah justru aku yang dimarahi keluargaku, paling minggu depan sudah nikah,"
Rania sendiri juga tidak menyangka bahwa akan secepat ini dirinya akan menikah, Rania memang orangnya suka sekali bergaul dengan lelaki dan bahkan kerap kali pacarnya itu justru diselingkuhi oleh Rania. Namun kali ini ketika Rania terpergok selingkuh, justru ia langsung dilamar oleh pacarnya dan diseriusi oleh pacarnya itu.
Indira sendiri juga heran dengan sikap Rania, selama pacaran dengan pacarnya saat ini dirinya juga memiliki lelaki lain diluar sana. Kerap kali Indira akan menjadi korban atas hal itu, dan kadang kala ia harus ditegur sama pacar dari temannya itu.
Kenapa wanita seperti itu begitu banyak disukai oleh orang lain? Sementara wanita yang setia seperti dirinya sama sekali tidak ada yang melirik sedikitpun. Entah bagaimana jalan pikir seorang lelaki, wanita yang kerap kali selingkuh malah dijadikan sebagai wanita terbaik, sementara wanita yang setia selalu disia siakan.
"Nggak ada kabaran sama sekali kalo kamu mau nikah, Ran. Entah aku kau anggap teman atau tidak," Indira merasa sedikit kecewa karena Rania tidak memberitahunya kalau ia akan menikah secepatnya.
"Sudah jangan kecewa kecewa, nanti datang ya kerumahku bantu bantu buat terima tamu. Kita kan temen sudah lama jadi kalo kamu nggak datang jelas orang tuaku nyariin kamu, mangkanya kamu harus datang,"
"Baiklah baiklah aku datang. Ya sudah ya aku tutup telponnya, aku masih ada perlu,"
"Oh oke, jagain kucingku."
"Siap."
Indira lalu memutuskan sambungan telpon itu, dirinya pun langsung masuk kedalam kamarnya dan bergegas untuk mandi karena dirinya masih ada acara yang harus ia hadiri saat ini. Setelah mandi dirinya pun mengurung kucingnya itu di dapurnya, dimana disana mereka bisa leluasa untuk makan dan minum.
Dirumah itu sama sekali tidak ads orang yang tinggal kecuali dirinya, sehingga ia harus menyiapkan semuanya untuk kucingnya agar mereka tidak kelaparan waktu ia tinggal pergi dalam waktu yang lama. Jikalau sampai kelaparan mereka juga tidak akan tau dimana letak makanan yang telah disiapkan Indira sebelumnya, dan justru Indira yang akan berdosa karena membuat kucing kucing itu kelaparan.
"Kalian disini baik baik ya, aku mau keluar sebentar ada hal panting yang memaksaku untuk datang, jaga diri kalian baik baik dan jaga rumahnya ya. Aku pergi," Ucap Indira berpamitan kepada kucing kucingnya.
Ting...
Bunyi pesan masuk pun terdengar dari ponsel milik Indira, Indira lalu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang tengah mengirimkan pesan kepadanya saat ini. Terlihat nomor asing yang terpampang jelas disana, dan Indira tidak tau siapa yang telah mengiriminya pesan itu.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.