NovelToon NovelToon
GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

Status: tamat
Genre:Dokter / Anak Yatim Piatu / Teen School/College / Romantis / Cintamanis / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:886.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.

"Aku akan menikahi Gauri."

~ Devan Valtor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah sakit

Devan langsung mengantar Gauri balik ke rumah sakit begitu keluar dari toko roti. Dia masih terbawa emosi pada Vano. Untung Gauri sudah tidak ketakutan lagi.

Lorong rumah sakit sore itu lengang, tapi udara terasa sesak oleh suara-suara kecil yang berbisik di belakang punggung Devan.

"Eh, itu cucunya pemilik rumah sakit ini kan?

"Kok sama gadis itu?

"Ya ampun, anak itu lagi. Ribut lagi nggak nanti? Mendingan ditaruh di RSJ sekalian,

ngapain ..."

Devan berhenti.

Tidak menoleh. Tidak bicara. Hanya berhenti. Dan efeknya instan, semua bisikan mati mendadak. Beberapa suster pura-pura membaca chart. Dua perawat berdeham gugup. Seseorang bahkan mundur selangkah tanpa sadar.

Devan hanya mengangkat kepalanya sedikit. Tatapan dingin, jelas-jelas memberi pesan,

Aku dengar semuanya. Awas.

Lalu ia kembali melangkah sambil memegang tangan Gauri yang masih menempel di jari-jarinya, seolah gadis itu adalah poros yang menahan amarahnya agar tidak meledak.

Gauri, tidak paham apa yang terjadi, hanya melangkah dengan ayunan tangan kecil, memeluk roti-roti yang baru dibungkus.

Sesampainya di lantai perawatan khusus, seorang suster yang biasa mengurus Gauri menghampiri.

"Eh, pak Devan? Oh, ternyata Gauri ada sama anda. Pak Devan kenal dia?" nadanya cerah sekali, terlalu cerah untuk sesuatu yang tulus.

Devan hanya menatap. Suster itu menelan ludah.

"Oh, iya. Silakan. Dokter Agam masih operasi. Kamarnya sudah siap."

Mereka berjalan menuju kamar rawat Gauri, kamar yang selalu sama. Gorden biru, aroma antiseptik tipis, boneka cokelat kecil yang dibelikan Agam di atas nakas, dan dinding yang menurut Gauri terlalu putih, kayak kapas.

Begitu pintu ditutup, suara dunia luar seperti meredam. Gauri langsung menarik ujung baju Devan, mengangkat kantong roti ke atas seperti trofi.

"Kakak … buka ini?" Mata bulatnya berbinar, pipinya yang sedikit kemerahan masih terlihat lucu setelah menangis, dan tantrum di kebun sekolah tadi.

Devan mengangguk kecil.

"Duduk dulu."

Gauri patuh. Ia duduk bersila di atas lantai sebelum Devan mengangkatnya ke sofa kecil di dekat jendela, karena lantai terlalu dingin. Gadis itu menerima roti pertama dengan kedua tangan, seperti menerima hadiah ulang tahun. Dan ketika gigi kecilnya menggigit bagian atas yang empuk, matanya langsung menutup.

"Enak …" gumamnya sambil mengayun kaki.

Devan bersandar di meja kecil, menyilangkan lengan, memperhatikan. Ada bagian di dalam dirinya yang seharusnya tidak bereaksi berlebihan pada pemandangan sesederhana itu. Tapi entah kenapa … dada Devan terasa hangat setiap kali melihat Gauri makan dengan lahap.

Terlalu polos.Terlalu jujur. Terlalu tidak terlindungi. Dan dia baru saja dihina orang. Di depan Devan. Pikirannya memanas lagi, tetapi suara pelan Gauri menariknya kembali.

"Kakak …"

"Hm?"

"Nama kakak siapa?"

"Devan."

Gauri menyorongkan roti setengah dimakan ke arah bibir Devan.

"Kak Devan mau coba?" Ia tersenyum lebar, bangga seperti sedang menawarkan makanan buatan sendiri.

Devan menghela napas.

"Kakak nggak lapar."

Gauri langsung menunduk, bahunya merosot. Devan menahan tawa kecil, reaksi gadis itu begitu spontan.

"Ya udah, kasih sedikit." setelah jeda, Devan mencondongkan tubuh dan menggigit ujung roti itu. Gauri menatapnya tidak berkedip.

"Enak?"

"Enak," jawab Devan jujur.

Gauri menepuk-nepuk lututnya bahagia. Setelah habis satu roti dan setengah lainnya masuk ke kantong 'dibungkus untuk nanti', Gauri mulai menguap kecil. Mata bulatnya mengecil, tubuhnya bergoyang pelan ke kanan dan kiri.

Devan sudah tahu tanda itu.

"Ngantuk?"

Gauri mengangguk sambil mengucek mata, lalu merangkak ke arah tempat tidur dengan tangan terulur, mencari pegangan.

Mencari Devan.

Pria itu tidak menyuruhnya cepat. Ia hanya mengikuti dari belakang, memegangi punggung Gauri agar tidak jatuh. Gauri naik ke kasur, duduk, lalu memegang pergelangan tangan Devan.

"Kak Devan sini."

Devan membuka selimut, membantu gadis itu masuk. Gauri langsung berbaring miring, masih memegang jari-jari Devan seperti pegangan hidup.

"Kakak… jangan pergi…" suaranya mengecil, seperti anak kecil takut ditinggal.

"Kakak di sini," jawab Devan. Ia duduk di kursi samping ranjang.

Namun Gauri menarik tangan Devan lagi, lebih erat.

"Jangan di kursi. Sini."

Devan terdiam.

Ia menatap wajah Gauri, pucat karena obat, manis karena senyum, dan lelah setelah hari yang kacau. Gadis itu benar-benar belum mau ditinggal.

"Kalau kakak pergi … Gauri nanti nangis lagi," desisnya pelan.

Devan akhirnya menghela napas, menyerah. Ia duduk di pinggir ranjang. Gauri langsung meletakkan tangan Devan di bawah pipinya, seperti bantal tambahan. Bahkan saat napasnya mulai melambat, jemarinya tidak lepas.

"Gauri," gumam Devan,

"Kalau kamu terus begini, aku ..."

Ia berhenti. Tidak jadi melanjutkan. Karena Gauri sudah tertidur. Benar-benar tertidur, dengan napas halus yang naik turun di punggung tangan Devan.

Keheningan memenuhi ruangan.

Untuk beberapa menit, Devan hanya duduk diam. Menatap gadis itu. Menahan napas. Sisi lembut dirinya muncul ketika ia menyibakkan sedikit rambut yang menutupi mata Gauri.

Setelah sekitar dua puluh menit, suara pintu terbuka.

Agam masuk dengan seragam operasi, masker masih menggantung di bawah dagu. Tubuhnya jelas kelelahan, tapi matanya langsung membesar melihat pemandangan di depannya.

Gauri terlelap memeluk tangan Devan. Devan diam, duduk di pinggir kasur, tidak bergerak.

"Devan …" Agam berjalan mendekat.

Devan berdiri perlahan agar tidak membangunkan Gauri.

"Kau sudah kembali?" sambung Agam, suaranya melemah.

"Mhm."

"Ada masalah?"

Devan menatap Agam lama.

Ada banyak yang ingin ia katakan tentang bagaimana orang-orang memperlakukan Gauri. Tentang Vano. Tentang semua bisikan. Tentang rasa panas di dadanya setiap kali seseorang meremehkan gadis itu.

Tapi ia hanya menjawab singkat.

"Dia makan roti yang dia ambil dari tong sampah. Waktu aku lihat, sudah banyak yang dia makan. Aku membuangnya, dia sempat tantrum. Tapi tidak lama pas aku bilang akan bawa dia ke toko roti.

Agam kaget.

"Ro-roti, dari tempat sampah?"

Devan mengangguk pelan.

"Sebaiknya kau periksa kondisi tubuhnya nanti."

Agam mengangguk. Wajahnya terlihat semakin letih. Ia menatap Gauri yang terlelap dalam tidurnya, lalu mendesah berat.

"Terimakasih, sudah menjaganya."

Devan mengangguk dan bicara lagi.

"Kau harus perhatian semua staf rumah sakit ini. Ada yang pura-pura baik di depanmu pada dia. Di belakang mereka mengatainya gila.

Agam menegang. Rahangnya mengeras, bola matanya menggelap.

"Siapa?" suaranya rendah, hampir seperti geraman.

Devan menggeleng.

"Bukan soal siapa. Tapi banyak. Kau tahu sendiri… Gauri bukan pasien biasa. Mereka pikir dia beban. Menyulitkan."

Tangan Agam mengepal. Ia tidak menyangka Devan yang baru pertama kali mengantar Gauri ke sini justru jauh lebih peka darinya.

"Aku akan menertibkan mereka nanti." katanya.

Devan mengangguk. Ia lalu melepaskan pergelangan Gauri pelan, menatap gadis yang pulas itu lama sebelum pamit pergi dari sana.

1
Linda Othman
😭
Neng Tuti
aah jd pengeen🤭
Neng Tuti
iih gauri mah kaya aku suka mainin burung🤭🤭
Neng Tuti
naha ari si diana bet panas da lain kabogoh mas devan manehna teh sok aneh aneh wae
Ayiek Sundoro
Setiap cerita yang bagus selalu ga rela ketika udah tamat
Semangat berkarya Mae, semoga makin banyak lagi kisah² bagus & seru yang diciptakan.
🥰🥰🥰💕💕💕
Siti Nurjanah
Luar biasa
Ayiek Sundoro
Devan pernah memberikan parfum pada wanita yang menolongnya dan wanita itu adlh mama Gauri 🤔🤔
Anonim
Gauri senang melihat Agam mulai bisa tersenyum lagi. Menurut Gauri, Agam cocok dengan Sari yang bisa bikin suasana hidup.

Gauri mau kasih kejutan romatis untuk Devan - sambil memberitahu kalau dirinya hamil.

Tak tahunya Devan menemukan test hasil tes kehamilan Gauri.

Agam, Gino, dan Sari mendekati mereka berdua. Ikut senang dan bahagia.

Gino kapan melepas masa jomblonya, kalau sebentar lagi giliran Agam dan Sari.

Kebahagiaan untuk Devan dan Gauri bertambah dengan kedatangan Papa Devan dan mama tirinya. Keluarga besar Agam datang bersama Ares.

Gino selalu paling heboh berseru Gauri hamil ketika ada yang bertanya ada apa.

Semua bahagia.

Terima kasih Author ceritanya bagus. Sehat selalu dan Berkat melimpah dariNya.
Anonim
Gauri mau jagung yang agak hangus, tidak boleh sama Devan.

Sari yang sejak tadi menunduk terkejut sampai tersedak ludah sendiri ketika Agam bertanya - kamu suka yang hangus juga.

Gino yang menjawab seperti menggoda Sari. Sari malu dan kesal dengan Gino.

Agam sepertinya juga ikut menggoda Sari.

Jagung sudah mateng, Devan memberikan jangung untuk istri tercinta.

Sari yang baru melihat keromantisan Devan untuk istrinya, kaget ketika Agam menyodorkan jagung bakar yang sudah matang.
Anonim
Sampai di rumah Devan dan Gauri, Gino menarik tangan Sari untuk di bawa ke taman belakang. Disambut teriakan Gauri menyebut nama Sari.

Ternyata Agam ada, sedang duduk di dekat bakaran jagung. Bersama Devan membakar jagung.

Gauri menarik Sari duduk di dekat bakaran. Menunggu suaminya dan Agam selesai membakar jagung.

Gino menikmati kekesalan Sari yang merasa dibohongi. Sambil merekam diam-diam.
Anonim
Gino ke rumah Sari mau di ajak ke rumah Gauri dan Devan yang akan BBQ an.

Gino punya rencana untuk mendekatkan Sari dan Agam. Sari selalu curhat sama Gino kalau suka Agam.

Gauri pasti senang Sari datang.

Sari menolak diajak Gino - malu kalau ada Agam. Padahal Sari ingin sekali bertemu Gauri.

Gino heran Sari malu sama Agam.

Sari menceritakan kejadian yang memalukan semalam.

Gino tertawa keras sampai Sari kesal. Sudah pernah dibilangin Gino, kalau mabuk jangan sampai mabuk di depan laki-laki yang kau sukai.

Sari akhirnya mau dipaksa ikut Gino yang mengatakan Agam gak ada, lagi sibuk operasi.
Gheya Giyani
babang Agam gmn ini Mae,,,
Anonim
Jadi Sari minum sama teman kantornya sehabis mendengar cerita dari Nino.

Jadi berakhir mabuk, ngoceh fakta dirinya yang menyukai Agam. Lalu konser di depan Agam - menyanyi, lalu ngoceh yang bikin Agam tertawa lebih keras.

Sari benar-benar tak sadar sampai tidur di atas batu.

Cinta Sari terhadap Agam - cinta terpendam.
Sari senang ketika melihat Agam bahagia. Ikut sedih ketika melihat Agam sedih.

Sari diantar Agam pulang ke rumahnya.

Agam merasa terhibur - oleh ulah Sari yang mabuk.
Anonim
Agam dalam perjalanan usai mengunjungi makam Irina - ketemu seorang perempuan yang sedang ngomel sambil menunjuk-nunjuk kucing yang duduk santai.

Agam ketawa melihat adegan itu walau tak tahu perempuan itu bicara apa pada kucing.

Agam menepikan mobil - pintu di buka, suara perempuan itu makin jelas. Baru tahu perempuan itu Sari.

Sari berteriak melengking suaranya sebut nama Agam. Sampai kucing kabur.

Melihat Sari berjalan sempoyongan ke arahnya, Agam tahu Sari mabuk.

Dalam kondisi mabuk, Sari jujur bicaranya di depan Agam. Ada kata-kata yang bikin Agam tertawa kecil.

Sari mendengar dari Nino tentang penyebab kecelakaan keluarga Gauri, Sari jadi sedih. Sari merasa malu dan merasa bersalah.
Anonim
Gauri dalam pelukan Devan mengungkapan perasaannya - senang karena bisa sembuh dan ungkapin semuanya

Gauri resmi ambil alih perusahaan. Gauri merasa masih muda, menyerahkan pada Devan untuk ambil alih.

Rena tak mau jatuh miskin, dia kini berada di ruangan Gauri dan Devan. Memohon untuk dikasihani.

Enak saja - Rena minta Ibnu tidak di penjara, jangan ambil sahamnya. Widiiiih nglunjak ini Rena, maunya saham diberikan dirinya dan mamanya.

Rena diingatkan Devan - masih punya hutang maaf pada istrinya.

Bagi Gauri maafnya Rena terlambat.

Saham itu milik ayah Gauri, jadi sekarang milik Gauri.

Rena di tarik keluar dua bodyguard keluar ruangan.
Anonim
Ibnu Pratama saudara tiri papanya Gauri mengaku pemilik perusahaan orangtua Gauri.

Bukti-bukti kejahatan Ibnu sudah berada di tangan kuasa hukum Gauri - Andra Pradipta. Andra sudah membuat laporan resmi.

Ibnu masih saja menyalahkan Gauri. Menghina Gauri pula.

Setelah semua keluar ruangan, kini tinggal Gauri dan Devan.

Gauri tak kuasa membendung air matanya - menangis.

Betapa sedihnya Gauri ketika melihat video - Ibnu sengaja memotong rem mobil yang akan di kendarai papa, mama, kakak, juga dirinya. Kecelakaan terjadi, Gauri sendiri yang masih hidup.
astr.id_est 🌻
akhirnya selesai juga kisah gauri dan devan 😍😍😍
Vie
ih aku baru baca lagi karena banyak hal... eh kaget pas baca the end.... gak berasa banget udahan aja kak....
RiriChiew🌺
eh udh tamat aja inii , pdahal Agam dan sari belum tuntass kak maeee
Delfi Antonius Gulo
lanjut tor suru dan lucu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!