NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

Utang Rp500 juta dan biaya pengobatan adik yang sakit ginjal menjadi paksa bagi Putri Aulia untuk menerima tawaran perjodohan dari keluarga Adinata—salah satu sindikat mafia terkuat di kota.

Dia berpikir ini adalah jalan keluar terbaik, sampai saatnya dia menemukan kaset rahasia yang membuktikan Pak Hidayat, ayah calon suaminya, adalah dalang kematian orang tuanya untuk mengambil alih bisnis keluarga.

Tanpa pilihan lain, Putri menyembunyikan niat balas dendam dalam diri dan hidup sebagai istri yang patuh. Dia mulai menyusup ke dalam sistem mafia keluarga itu, mengumpulkan bukti dan merusak rencana kejahatan mereka secara tersembunyi.

Namun, semakin dekat dia dengan Rizky Adinata—putra Pak Hidayat yang tidak suka dengan dunia kekerasan dan menyembunyikan usaha untuk membantu anak-anak korban konflik mafia—semakin besar kebingungannya. Cinta mulai tumbuh di hati yang penuh dendam, sementara rival mafia Pak Darmawan mencoba memanfaatkannya untuk menggulingkan Pak Hidayat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: LANGKAH PERTAMA DI DALAM SISTEM

 

Seminggu telah berlalu sejak upacara pernikahan yang megah itu. Putri kini resmi menyandang gelar Nyonya Rizky Adinata. Di mata dunia, dia adalah istri muda yang beruntung, cantik, dan kini menjadi bagian dari keluarga paling berkuasa di kota ini. Namun, di balik senyum anggun dan sikap sopannya yang terus diasah, Putri Aulia sedang memakai topeng lain: seorang penyusup yang siap bergerak di dalam sarang harimau.

Hari ini adalah hari pertama Putri secara resmi "terlibat" dalam urusan bisnis keluarga, meskipun hanya sebagai pendamping Rizky dalam sebuah pertemuan internal di kantor pusat perusahaan Adinata Group. Gedung pencakar langit itu megah dan modern, namun bagi Putri, setiap sudutnya terasa dingin dan menyembunyikan banyak rahasia gelap—termasuk jejak kejahatan yang menimpa orang tuanya.

"Jangan gugup, Putri," bisik Rizky lembut saat mereka berdiri di depan lift yang akan membawa mereka ke lantai eksekutif. Dia menggenggam tangan istrinya erat-erat, memberikan kekuatan. "Kamu istriku, dan kamu punya hak untuk ada di sana. Jika ada pertanyaan yang sulit atau membuatmu tidak nyaman, langsung katakan padaku, ya?"

Putri menoleh dan menatap mata Rizky yang penuh perhatian. Hatinya kembali terasa tercabik. Pria ini begitu tulus melindunginya, tidak tahu bahwa istrinya datang ke sini bukan untuk mendukung bisnis keluarga, tapi untuk mencari celah dan bukti guna menjatuhkan ayahnya sendiri.

"Aku tidak gugup, Rizky. Hanya saja... ini semua masih terasa baru bagiku," jawab Putri dengan senyum tipis yang dia latih berhari-hari. "Tapi tenang saja, aku akan berusaha sebaik mungkin agar tidak mempermalukanmu."

Rizky tertawa kecil. "Kamu tidak akan pernah mempermalukanku, Putri. Justru aku bangga memilikimu."

Pintu lift terbuka, dan mereka melangkah keluar menuju ruang rapat yang luas dan mewah. Di dalamnya, sudah duduk beberapa orang penting, termasuk Pak Hidayat yang duduk di kepala meja dengan wajah angkuh, dan di sebelahnya, Pak Darmawan yang sedang memainkan pulpen dengan tatapan tajam. Saat Putri dan Rizky masuk, semua mata tertuju pada mereka.

"Ah, anak dan menantu kesayanganku sudah datang," ucap Pak Hidayat dengan suara berat, senyum lebar terukir di wajahnya. "Silakan duduk."

Putri dan Rizky duduk bersebelahan di sisi kanan meja. Putri duduk dengan tegap, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, namun matanya dengan cermat mengamati setiap orang di ruangan itu, setiap dokumen yang tergeletak di meja, dan setiap gerak-gerik yang terlihat mencurigakan.

"Baik, karena semua sudah hadir, kita mulai rapat ini," buka Pak Hidayat. "Hari ini kita akan membahas jadwal pengiriman besar ke Kalimantan minggu depan. Ini adalah kontrak yang sangat penting dan bernilai tinggi. Semuanya sudah disiapkan dengan matang. Rizky, sebagai putraku dan calon penerus, aku ingin kamu yang mengawasi langsung proses pemuatan barang di pelabuhan."

Rizky mengangguk sopan. "Baik, Ayah. Aku akan pastikan semuanya berjalan lancar."

Namun, Putri tahu—berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari Nina beberapa hari terakhir, dan juga insting hukumnya yang tajam—bahwa "pengiriman besar" ini bukan sekadar ekspor kayu biasa seperti yang tertulis di dokumen resmi. Ada sesuatu yang disembunyikan di baliknya, kemungkinan besar barang selundupan atau hasil hutan ilegal yang menjadi sumber kekayaan gelap keluarga ini.

Putri melirik sekilas ke arah Pak Darmawan. Pria itu sedang menatapnya, seolah bisa membaca pikiran gadis itu. Putri segera mengalihkan pandangannya, berpura-pura memperhatikan dokumen yang ada di hadapannya.

"Karena ini penting, aku ingin Putri ikut serta," tiba-tiba suara Pak Hidayat memecah keheningan.

Semua orang, termasuk Rizky dan Putri, terkejut.

"Ayah?" Rizky mengerutkan kening. "Apakah itu aman? Putri baru saja menjadi bagian dari keluarga kita..."

"Tentu saja aman," potong Pak Hidayat. "Justru karena itu penting. Aku ingin Putri belajar. Dia istri penerus keluarga, dia harus tahu bagaimana bisnis ini berjalan dari dekat. Lagipula, dengan adanya Putri, orang-orang akan melihat betapa harmonis dan solidnya keluarga kita. Tidak ada yang berani berulah."

Pak Darmawan tersenyum miring. "Ide yang bagus, Hidayat. Nona Putri pasti akan belajar banyak. Benar bukan, Nyonya muda?" tatapnya pada Putri.

Putri menyadari ini adalah jebakan atau ujian, tapi sekaligus kesempatan emas. Jika dia bisa pergi ke pelabuhan, dia bisa melihat langsung prosesnya, mungkin mendapatkan bukti yang lebih kuat.

"Saya siap, Ayah," jawab Putri dengan tenang, menatap Pak Hidayat. "Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh dan membantu Rizky sebisa mungkin."

"Bagus," sahut Pak Hidayat puas. "Maka itu diputuskan. Kalian berdua berangkat ke pelabuhan lusa."

Rapat berlanjut dengan pembahasan teknis yang rumit. Putri mendengarkan dengan saksama, mencatat setiap detail di buku catatannya—bukan hanya untuk bisnis, tapi untuk strateginya. Dia memperhatikan bahwa ada kode-kode tertentu yang digunakan saat membahas jumlah barang dan waktu pengiriman. Sebagai mantan mahasiswa hukum, dia tahu bahwa kode-kode semacam ini sering digunakan dalam aktivitas ilegal untuk menghindari jejak.

Setelah rapat selesai, Pak Hidayat memanggil Rizky untuk berbicara pribadi di ruang kerjanya. Putri dipersilakan untuk menunggu di ruang tamu eksekutif atau berkeliling kantor. Saat Rizky pergi, Nina segera menghampiri Putri dengan wajah cemas.

"Putri, aku mendengarnya. Kamu akan ke pelabuhan?" bisik Nina cepat saat mereka berada di sudut koridor yang sepi. "Itu berbahaya. Kamu tahu apa yang sebenarnya dikirim di sana, kan?"

"Aku tahu, Nina. Dan itu justru kesempatanku," jawab Putri pelan namun tegas. "Aku harus melihatnya langsung. Aku butuh bukti yang nyata, bukan hanya dugaan. Jika aku bisa merekam atau memotret apa yang sebenarnya dimuat ke dalam kontainer, itu akan menjadi senjata ampuh nanti."

"Tapi risikonya sangat besar, Putri. Jika kamu ketahuan..." Nina menggigil membayangkannya.

"Aku tidak akan ketahuan, Nina. Aku butuh bantuanmu," Putri menggenggam lengan sahabatnya. "Aku tahu kamu punya akses ke daftar manifest kapal dan jadwal keberangkatan. Bisakah kamu mencarikanku informasi tentang kontainer mana yang mencurigakan? Yang tidak sesuai dengan dokumen resmi?"

Nina ragu sejenak, lalu mengangguk mantap. "Baik. Aku akan lakukan. Aku akan kirimkan informasinya ke ponselmu nanti malam lewat email terenkripsi. Tapi berjanjilah padaku, Putri, kamu akan sangat berhati-hati. Jangan lakukan hal nekat sendirian."

"Aku janji, Nina. Terima kasih," ucap Putri lega.

Sore itu, saat perjalanan pulang di dalam mobil mewah keluarga Adinata, Rizky terlihat sedikit cemas. Dia menatap jalanan yang ramai dengan wajah serius.

"Putri," panggilnya pelan. "Tentang rencana Ayah agar kamu ikut ke pelabuhan... jujur, aku tidak tenang. Tempat itu tidak aman, dan urusannya sangat rumit. Aku bisa saja berbohong pada Ayah dan bilang kamu sakit atau sesuatu agar kamu tidak perlu pergi."

Putri menoleh dan menatap Rizky. Hatinya terharu dengan kepeduliannya, tapi dia harus tetap pada rencananya.

"Jangan lakukan itu, Rizky," ucap Putri lembut. "Ayahmu sudah berbaik hati memberiku kepercayaan. Jika aku menolak, itu akan terlihat tidak sopan dan mungkin membuat Ayahmu kecewa padaku. Lagipula, aku ingin belajar. Aku ingin mengerti apa yang kamu lakukan setiap hari, agar aku bisa menjadi istri yang benar-benar mendukungmu. Jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja di sampingmu, kan?"

Rizky menghela napas panjang, lalu menoleh dan menatap Putri. Tatapannya lembut namun penuh keraguan. "Kamu benar. Ayah memang sangat mengharapkanmu ada di sana. Dan ya, selama aku ada di sampingmu, tidak ada yang berani menyakitimu. Hanya saja... ada hal-hal dalam bisnis ini yang mungkin tidak ingin aku tunjukkan padamu. Hal-hal yang kotor dan tidak menyenangkan."

Putri tahu Rizky merujuk pada apa. Dia menyadari bahwa Rizky mungkin tahu sebagian kebusukan ayahnya, tapi memilih untuk menutup mata atau tidak terlibat langsung.

"Aku mengerti, Rizky," jawab Putri, menyentuh tangan Rizky yang ada di setir. "Bisnis apa pun pasti memiliki sisi sulitnya. Aku tidak takut. Aku di sini untuk bersamamu, apapun bentuknya."

Rizky tersenyum tipis, menggenggam tangan Putri dan membawanya ke bibirnya untuk mengecupnya pelan. "Kamu benar-benar wanita yang luar biasa, Putri. Aku semakin mencintaimu."

Kata-kata itu membuat dada Putri terasa sesak. Cinta. Dia juga mencintai pria ini. Tapi di saat yang sama, dia sedang bersiap untuk mengungkap kejahatan ayahnya. Ini adalah perang batin yang paling menyakitkan yang pernah dia rasakan.

Malam harinya, di kamar tidur mereka yang mewah namun terasa dingin bagi Putri, dia menerima email dari Nina. Isinya berisi detail lengkap: nomor kontainer, waktu pemuatan yang sebenarnya (berbeda dua jam dari yang tertulis di dokumen resmi), dan dugaan isi kontainer tersebut yang kemungkinan besar adalah kayu ilegal dan mungkin barang selundupan lainnya.

Putri menyembunyikan ponselnya di bawah bantal saat mendengar suara langkah kaki Rizky mendekat dari kamar mandi. Rizky keluar hanya dengan handuk di pinggangnya, air masih menetes dari rambutnya. Putri buru-buru berpura-pura sedang membaca buku.

"Belum tidur?" tanya Rizky sambil mengelap rambutnya dengan handuk lain. Dia mendekat ke kasur.

"Masih sedikit ngantuk," jawab Putri, menutup bukunya. "Aku hanya memikirkan tentang pengiriman lusa. Aku ingin mempersiapkan diri sebaik mungkin."

Rizky tersenyum, lalu berbaring di samping Putri dan menariknya ke dalam pelukannya. "Jangan terlalu banyak berpikir, ya. Istirahatlah. Aku akan menjagamu selalu."

Putri memejamkan mata, membiarkan dirinya nyaman dalam pelukan hangat itu, tapi pikirannya terus bekerja. Dia harus merencanakan semuanya dengan sempurna. Dia harus bisa lepas dari pengawasan Rizky sebentar saja di pelabuhan nanti untuk mengambil bukti. Dia harus memastikan rencananya tidak terdeteksi oleh siapa pun—termasuk Pak Darmawan yang matanya seolah ada di mana-mana.

Besok adalah langkah pertamaku, Ayah, Ibu, batin Putri berdoa dalam hati. Bantu aku agar berhasil. Lindungi aku, dan lindungi Rizky agar tidak terluka oleh apa yang akan aku lakukan.

Dua hari berlalu dengan cepat. Pagi itu, langit tampak mendung, seolah memberi pertanda akan terjadi sesuatu yang tidak biasa. Putri mengenakan setelan bisnis berwarna abu-abu yang elegan namun praktis, dengan sepatu yang nyaman untuk berjalan jauh. Di dalam tasnya, dia menyembunyikan kamera kecil yang canggih dan alat perekam suara yang dia dapatkan dengan bantuan Nina—alat yang biasa digunakan untuk penyelidikan rahasia.

Mereka tiba di pelabuhan yang luas dan sibuk itu. Suara mesin derek, kontainer yang beradu, dan teriakan para pekerja memenuhi udara. Di pintu masuk utama, sudah menunggu beberapa orang, termasuk salah satu anak buah kepercayaan Pak Hidayat, dan yang membuat Putri waspada, Pak Darmawan sudah ada di sana dengan senyum liciknya.

"Selamat pagi, pengantin baru," sapa Pak Darmawan saat mereka turun dari mobil. Matanya menyapu Putri dari atas ke bawah. "Siap melihat bagaimana bisnis keluarga Adinata berjalan nyata?"

"Saya siap, Pak Darmawan," jawab Putri tenang, tidak mau menunjukkan ketakutan.

"Bagus. Mari kita ke area gudang penyimpanan dulu. Kontainer-kontainer sudah siap dimuat," kata Pak Darmawan, lalu berjalan memimpin.

Rizky berjalan di samping Putri, tangannya melingkar di pinggang istrinya, seolah memberi isyarat bahwa Putri adalah wilayah kekuasaannya yang harus dilindungi.

Saat mereka berjalan melewati deretan kontainer besar, Putri diam-diam memperhatikan nomor-nomor yang tertera di sana. Dia mencocokkannya dengan informasi yang dia dapatkan dari Nina. Matanya menangkap satu kontainer berwarna biru tua dengan nomor yang sesuai. Itu dia. Kontainer itu terlihat biasa saja, tapi di dalamnya tersimpan bukti kejahatan.

"Rizky, aku mau ke toilet sebentar, ya," bisik Putri pada Rizky saat mereka berhenti sejenak karena Pak Hidayat menerima telepon. "Tadi aku minum banyak air di mobil."

Rizky mengangguk. "Baik. Aku minta Nina menemanimu? Atau aku antar saja?"

"Tidak perlu, Sayang. Kamu harus menemani Ayah dan Pak Darmawan. Aku tahu toilet ada di sana, di dekat gedung administrasi," jawab Putri sambil menunjuk ke arah yang berlawanan dari rombongan. "Aku akan cepat kembali."

Rizky ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Hati-hati, ya. Jangan pergi ke tempat yang sepi. Panggil aku jika ada apa-apa."

"Janji," ucap Putri, lalu tersenyum dan berjalan cepat menjauh.

Begitu keluar dari pandangan Rizky dan yang lainnya, Putri tidak menuju toilet. Dia berbelok arah, berjalan cepat namun hati-hati di antara tumpukan kontainer, menghindari mata para pekerja dan petugas keamanan. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah momen krusial.

Dia menemukan kembali kontainer biru tua itu. Area di sekitarnya sepi, seolah-olah orang-orang disuruh menjauh untuk alasan keamanan. Putri melihat sekeliling, memastikan tidak ada kamera pengawas yang menyorot area ini—dia sudah mempelajari peta tata letak kamera dari informasi Nina.

Dengan tangan yang sedikit gemetar namun terampil, Putri mengeluarkan kamera kecilnya. Dia mendekat ke sisi kontainer yang memiliki celah kecil di bagian pintu yang tidak tertutup rapat. Dia memasukkan lensa kameranya ke celah itu dan menekan tombol rekam.

Di dalam sana, dia bisa melihat tumpukan balok kayu yang ukuran dan jenisnya tidak sesuai dengan dokumen ekspor yang dia lihat di kantor. Bahkan, di sudut lain, ada kotak-kotak besar yang tertutup rapat tapi terlihat mencurigakan, mungkin berisi barang selundupan lain. Putri merekam semuanya, mengambil beberapa foto dengan sudut yang jelas.

"Selesai," bisiknya pelan, menyimpan kameranya kembali. Dia sudah mendapatkan bukti yang dia butuhkan.

Namun, saat dia berbalik untuk pergi, langkahnya terhenti. Di ujung lorong di antara kontainer, berdiri sesosok pria dengan tubuh kekar dan wajah garang. Itu adalah Bang Rio, khalifah kepercayaan Pak Hidayat. Dia sedang menatap Putri dengan tatapan tajam dan sulit diartikan.

Putri terpaku. Dia ketahuan.

 

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!