Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Dua hari setelah retakan langit tertutup, Kota Lumin kembali beraktivitas seperti biasa.
Terlalu biasa.
Itulah yang membuat Arcelia Virellia tidak tenang. Ia sudah kembali ke Akademi pagi itu. Banyak yang menatapnya. Berbisik. Beberapa dengan kagum. Beberapa dengan takut.
“Katanya dia yang menutupnya…”
“Sendirian?”
“Dewan pasti makin waspada…”
Arcelia berjalan tanpa menanggapi. Simbol di pergelangannya kini selalu terasa hangat, bukan menyakitkan, tapi aktif. Seolah terus memindai sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Di koridor lantai tiga, Kaelion Ravert menyusulnya.
“Kau terlihat lebih pucat,” katanya datar.
“Aku hidup,” jawab Arcelia singkat.
“Itu bukan jawaban.”
Ia berhenti dan menatapnya. “Apa yang kau rasakan setelah malam itu?”
Kaelion terdiam sesaat. “Tekanan di udara. Seperti ruang di antara napas.”
Arcelia mengangguk pelan. “Belum selesai,” bisiknya.
Sore harinya,
Saat kelas latihan energi dimulai, sesuatu terasa aneh. Biasanya, ruangan latihan dipenuhi aura warna-warni milik para siswa. Hari ini… redup.
Instruktur mereka, Master Eryon, sedang menjelaskan teknik penguatan inti ketika tiba-tiba salah satu siswa terjatuh.
Bukan pingsan.
Tubuhnya gemetar.
Bayangan tipis keluar dari bawah kakinya.
Arcelia berdiri refleks. “Itu bukan kelelahan,” katanya tegas.
Bayangan itu bergerak cepat, merayap seperti asap hidup, mencoba naik ke tubuh siswa tersebut.
Arcelia mengangkat tangan. Cahaya dan bayangan dari dirinya langsung membentuk lingkaran kecil yang menekan makhluk itu kembali ke lantai.
Seluruh kelas membeku.
Master Eryon mundur satu langkah. “Apa itu…?”
“Celah Master,” jawab Arcelia pelan.
Bayangan itu pecah seperti kaca tipis dan menghilang. Siswa yang tadi terjatuh terengah, tapi sadar.
Kaelion berjalan mendekat. “Itu bukan dari langit.”
Arcelia mengangguk. “Bukan gerbang utama.” Matanya menyempit.
“Ini muncul dari dalam.”
Malam itu,
Arcelia berdiri lagi di depan menara tua. Namun kali ini bukan retakan langit yang ia cari. Ia menutup mata dan merasakan kota. Energi mengalir seperti sungai di bawah tanah. Biasanya stabil. Sekarang, ada riak-riak kecil.
Celah tipis.
Bukan besar. Tidak dramatis.
Tapi banyak, seperti luka-luka kecil di ruang yang tidak terlihat.
Ravenor muncul di sampingnya. “Kau merasakannya juga.”
“Bukan serangan langsung,” kata Arcelia. “Lebih seperti… infiltrasi.”
“Makhluk tadi siang?”
“Bukan makhluk penuh. Hanya serpihan.”
Ravenor menatap kota di bawah. “Jika celah kecil terus muncul, lama-lama struktur ruang akan melemah.”
“Dan kita tidak bisa menutup semuanya sendirian.”
Itu pertama kalinya Arcelia mengatakannya tanpa ragu. Tidak sendirian, Ia memikirkan sesuatu.
“Kalau retakan besar terbuka karena energiku aktif…”
Ravenor menoleh.
“Celah kecil ini mungkin muncul karena energiku belum stabil.”
Sunyi.
“Artinya?” tanya Ravenor hati-hati.
“Artinya aku mungkin tanpa sadar menarik mereka.”
Angin berhembus pelan. Kalimat itu menggantung berat di udara.
Ravenor tidak langsung membantah.
“Kita tidak tahu itu pasti,” katanya akhirnya.
“Tapi itu kemungkinan.”
Arcelia membuka mata.
Di kejauhan, lampu kota berkelip normal. Orang-orang tertawa di restoran. Anak-anak berlari di taman. Mereka tidak tahu, dan ia tidak ingin mereka tahu.
“Aku harus belajar mengendalikan ini sepenuhnya,” ucapnya pelan.
“Dengan cara?”
Arcelia menatap pintu menara tua.
“Masuk lebih dalam.”
Ravenor mengerutkan kening. “Kita hampir kehilanganmu terakhir kali.”
“Karena aku belum paham apa yang kupakai.”
Ia mengangkat pergelangan tangannya. Garis keperakan di simbol itu berkilau samar.
“Kalau celah muncul karena aku adalah kunci… maka aku harus tahu seluruh mekanismenya.”
Ravenor terdiam lama.
“Kau sadar ini mungkin bukan hanya soal melindungi kota lagi?”
Arcelia tersenyum tipis.
“Sudah lama bukan.”
Langkahnya mantap menuju pintu menara.
Di dalam, kristal hitam di pusat ruangan kembali berdenyut pelan. Dan untuk pertama kalinya, denyutannya selaras dengan jantung Arcelia Virellia.
Di balik kedalaman menara itu… jawaban menunggu. Atau mungkin... kebenaran yang jauh lebih berbahaya daripada retakan langit.
Pintu menara tua itu menutup pelan di belakang Arcelia. Suara gesekan batu terdengar berat, menggema hingga ke dinding-dinding tinggi yang dipenuhi ukiran simbol kuno. Ravenor tetap beberapa langkah di belakangnya.
Kristal hitam di tengah ruangan kini berdenyut lebih jelas.
Dum.
Dum.
Dum.
Bukan seperti mesin.
Lebih seperti jantung.
Arcelia mendekat, setiap langkah membuat simbol di pergelangannya terasa makin panas.
“Kamu yakin Lia?” tanya Ravenor pelan.
Arcelia tidak menjawab langsung.
Ia mengangkat tangan perlahan. Begitu telapak tangannya hampir menyentuh permukaan kristal, cahaya keperakan di simbolnya menyala terang. Ruangan langsung berubah.
Dinding menghilang.
Lantai menghilang.
Menara menghilang.
Yang tersisa hanya ruang kosong dengan garis-garis cahaya melayang seperti peta raksasa.
Arcelia terengah.
“Ini…”
“Inti ruang,” suara yang pernah ia dengar di balik retakan itu kembali bergema.
Namun kali ini bukan dari luar.
Dari dalam kristal.
Dari dalam ruang ini.
“Tidak mungkin,” bisik Ravenor. “Gerbang sudah tertutup.”
“Gerbang luar,” jawab suara itu tenang. “Bukan pusatnya.”
Di hadapan Arcelia, bentuk samar mulai muncul. Bukan sosok bayangan penuh seperti sebelumnya.
Lebih kecil.
Lebih padat.
Lebih… nyata.
“Aku tidak datang untuk menyerang,” lanjut suara itu.
Arcelia menegakkan bahu.
“Kau menyerang kotaku.”
“Kota itu berdiri di atas simpul energi purba. Aku hanya membuka apa yang sudah retak sejak lama.”
Arcelia menggertakkan gigi.
“Kau memanipulasi celah kecil.”
“Tidak.”
Garis cahaya di sekitar mereka bergerak.
“Celah itu muncul karena kau menyatukan dua energi yang seharusnya tidak pernah benar-benar bersatu.”
Sunyi.
Ravenor menoleh cepat ke Arcelia.
“Apa maksudnya?”
Suara itu menjawab tanpa ragu.
“Keseimbangan dunia ini dibangun atas pertentangan. Cahaya dan bayangan saling menahan. Ketika kau menyatukannya, struktur lama mulai berubah.”
Arcelia merasakan jantungnya berdebar lebih cepat.
“Aku menutup gerbang.”
“Kau juga menciptakan kemungkinan baru.”
Garis-garis cahaya berubah menjadi gambaran kota Lumin dari atas. Titik-titik kecil berpendar di beberapa sudut.
“Celah kecil bukan karena aku masuk,” suara itu melanjutkan. “Itu reaksi ruang terhadap perubahanmu.”
Arcelia mengepalkan tangan.
“Jadi sekarang aku masalahnya?”
“Kau adalah anomali.”
Kalimat itu terdengar tidak menyerang.
Hanya fakta.
Ravenor melangkah maju. “Kalau begitu jelaskan solusinya.”
Bentuk samar itu menatap Arcelia.
“Belajar mengendalikan penyatuan itu sepenuhnya. Atau pisahkan kembali.”
Arcelia langsung menggeleng.
“Memisahkan kembali berarti membuka retakan besar lagi.”
“Benar.” Jawaban itu tanpa emosi.
Hening panjang menggantung.
Arcelia menatap kota holografik di hadapannya. Jika ia mempertahankan penyatuan, ruang akan terus menyesuaikan diri, muncul celah kecil. Jika ia memisahkannya… retakan besar bisa kembali.
“Tidak ada jalan tanpa risiko,” bisiknya pelan.
“Tidak ada.”
Suara itu kini lebih dekat.
“Namun ada satu kemungkinan lain.”
Arcelia mengangkat wajahnya.
“Buat keseimbangan baru.”
Garis-garis cahaya berubah. Tidak lagi dua arus yang berlawanan. Melainkan satu aliran spiral yang saling melengkapi.
“Bukan cahaya melawan bayangan. Bukan penyatuan paksa. Tapi harmonisasi.”
Kata itu membuat simbol di pergelangan Arcelia berdenyut lembut.
Harmonisasi.
Bukan perang.
Bukan dominasi.
Ravenor menatapnya. “Itu berarti kau harus melatihnya dari dasar.”
Arcelia menarik napas dalam.
“Aku tidak akan memisahkan.”
Ia menatap bentuk samar itu.
“Dan aku tidak akan membiarkan celah-celah kecil merusak kota.”
“Kalau begitu,” suara itu berkata pelan, “kau harus masuk lebih dalam dari sekadar menara ini.”
Ruang kosong mulai retak tipis.
Bukan seperti retakan langit sebelumnya. Lebih seperti pintu baru yang terbuka perlahan di bawah kaki mereka.
Ravenor langsung waspada. “Apa itu?”
“Lapisan kedua inti ruang,” jawab suara itu. “Tempat hukum lama tercatat.”
Arcelia merasakan dorongan kuat dari simbol di tangannya. Seolah memanggilnya turun.
“Kalau aku masuk,” tanyanya pelan, “aku bisa menemukan cara menciptakan keseimbangan baru?”
“Jika kau cukup kuat untuk bertahan.”
Sunyi.
Ravenor menatapnya tajam. “Jangan gegabah.”
Arcelia tersenyum kecil.
“Aku tidak gegabah.”
Ia menatap pintu cahaya yang terbuka di bawah.
“Aku memilih.”
Langkahnya maju.
Dan saat kakinya menyentuh cahaya spiral itu, ruang di sekitar mereka runtuh menjadi pusaran terang. Babak baru bukan lagi tentang mempertahankan kota. Tapi tentang mengubah hukum yang selama ini mengikatnya. Dan perubahan seperti itu… selalu menuntut harga.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....