NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 — Kemenangan Sempurna

Di dalam Aula Ujian yang luas dan megah itu, suara yang tiba-tiba terdengar bagai petir di langit cerah, mengguncang suasana yang semula dipenuhi sorak-sorai kemenangan. Dalam sekejap, kegaduhan membeku. Setiap bisikan terhenti di tenggorokan. Ratusan pasang mata yang semula tertuju pada sang pemenang kini serentak beralih, menyambar sosok pemuda yang berdiri dengan tenang—seolah batu karang di tengah ombak yang mengamuk.

Pemuda itu adalah Lin Zhantian.

Tatapan heran, bingung, bahkan mencibir, bercampur menjadi satu, menimpa dirinya dari segala penjuru. Tidak seorang pun menyangka bahwa di saat hasil telah ditentukan, ketika posisi pertama hampir saja dimahkotakan tanpa perlawanan, ia justru melangkah maju dan mengajukan tantangan.

Di sisi arena, Lin Xiao—ayahnya—tertegun sejenak sebelum wajahnya berubah cemas.

“Zhantian, apa yang kau lakukan?”

Nada suaranya tidak keras, namun sarat kegelisahan. Hari ini, putranya memang telah melampaui banyak dugaan. Dengan kekuatan tingkat keenam Tempering Tubuh serta Sembilan Dentuman Tinju Tongbei, ia telah menembus tiga besar, sebuah pencapaian yang membanggakan. Namun lawannya kini adalah Lin Hong—pemuda yang telah mencapai tingkat ketujuh Tempering Tubuh, jurang kekuatan yang tidak dapat disepelekan.

Di bawah panggung, Qing Tan pun menggenggam kedua tangannya erat-erat. Wajah kecilnya memucat oleh kecemasan.

“Kakak Zhantian, jangan pergi…”

Ia tahu, keputusan ini tidak sepenuhnya lahir dari ambisi semata. Ada bara yang tersembunyi—bara yang menyala karena penghinaan dan keserakahan.

Namun Lin Zhantian hanya tersenyum ringan, senyum yang tampak santai namun menyimpan keteguhan baja.

“Tenang saja, Ayah. Zhantian hanya ingin bertukar jurus dengan Kakak Lin Hong. Kalau pun kalah, tidak ada yang memalukan.”

Ucapan itu terdengar ringan, namun dalam lubuk matanya tersembunyi kilatan dingin—setajam pedang yang terhunus di balik sarungnya.

Lin Xiao terdiam. Ia menatap putranya dalam-dalam. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Sebuah keyakinan yang tak bisa dijelaskan. Setelah hening sesaat, ia hanya mengangguk perlahan.

“Hati-hati.”

Lin Zhantian menepuk lembut kepala Qing Tan, lalu berbalik dan melangkah menuju arena. Setiap langkahnya mantap, tidak tergesa, tidak ragu.

Di balik punggungnya, sudut bibirnya terangkat tipis dalam senyum dingin.

Jika Lin Hong hanya puas dengan gelar juara, mungkin ia benar-benar akan memilih diam dan menyembunyikan kemampuannya lebih lama. Namun lelaki itu, setelah menang, masih ingin menginjak-injak harga diri orang lain. Keserakahan seperti itu layak diberi pelajaran.

“Kalau begitu… aku hanya bisa membuatmu tak punya muka untuk berbicara lagi.”

Ia berhenti di depan panggung batu dan menatap kursi kehormatan tempat Lin Zhentian duduk.

“Kakek, apakah Zhantian diperkenankan mengajukan tantangan uji tanding?”

Lin Zhentian terkejut. Sorot matanya menajam saat menilai cucunya. Setelah menyaksikan kekuatan Lin Hong, pemuda ini masih berani melangkah maju?

Jika ini bukan tindakan nekat, maka pasti ada keyakinan tersembunyi.

Di kedalaman mata sang tetua, secercah harapan tiba-tiba berpendar.

Bertahun-tahun silam, dalam kompetisi klan yang sama, Lin Xiao pernah berdiri seperti ini—mengejutkan seluruh keluarga, menjadi harapan untuk kembali ke klan utama. Akankah sejarah terulang? Akankah Lin Zhantian membawa kejutan yang sama?

“Selama memenuhi aturan, tentu diperbolehkan.”

Mendengar persetujuan itu, Lin Zhantian tersenyum tipis.

Di sisi lain, Lin Xia bergegas mendekat, wajahnya gusar.

“Kau ini benar-benar cari mati! Bahkan aku saja belum tentu bisa mengalahkan Lin Hong sekarang!”

Namun Lin Zhantian hanya tersenyum tanpa menjawab. Tubuhnya melesat ringan dan mendarat di atas panggung batu.

Di sana, Lin Hong telah berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Senyum dingin menghiasi wajahnya.

“Lin Zhantian, sepertinya masuk tiga besar membuatmu terlalu percaya diri.”

Nada suaranya dipenuhi ejekan halus.

Lin Zhantian membalas dengan senyum tenang.

“Karena itu aku ingin meminta Kakak Lin Hong menyadarkanku.”

“Baiklah. Sudah seharusnya.”

Tatapan keduanya bertemu di udara. Percikan tak kasat mata seolah menyambar di antara mereka.

Lin Ken, yang bertugas sebagai wasit, menghela napas panjang.

“Mulai!”

Begitu suara itu jatuh, aura Lin Hong berubah. Kemalasan lenyap, digantikan oleh dingin yang menusuk. Cahaya Yuan Li berpendar di permukaan tubuhnya, menunjukkan bahwa ia tidak berniat menahan diri sedikit pun.

Angin berdesir.

Dalam sepersekian detik, Lin Hong menghentakkan kaki. Tubuhnya melesat seperti panah lepas dari busur. Telapak tangannya mengeras, angin kencang membelah udara saat ia menghantam lurus ke dada Lin Zhantian.

Tekanan dari tingkat ketujuh Tempering Tubuh benar-benar bukan main.

Namun Lin Zhantian tidak mundur.

Ia menarik napas panjang. Otot-ototnya bergetar, Yuan Li dalam tubuhnya mengalir deras seperti sungai musim semi yang meluap.

Tangan kanannya mengepal.

Tinju Tongbei!

Dentuman pertama!

Suara letupan udara menggema.

Dentuman kedua!

Ketiga!

Keempat!

Dalam sekejap, delapan dentuman meledak beruntun, gema berlapis-lapis menggetarkan panggung batu.

“Delapan?”

Beberapa anggota klan berseru terkejut.

Namun belum selesai.

Mata Lin Zhantian menyipit tajam.

Dentuman kesembilan!

BOOM!

Sembilan gelombang kekuatan bertumpuk, menghantam telapak tangan Lin Hong secara langsung.

Benturan keras terdengar. Keduanya mundur beberapa langkah.

Wajah Lin Hong berubah sedikit. Ia jelas tidak menyangka kekuatan Lin Zhantian mampu menandingi serangannya.

Namun ia segera mendengus dingin.

“Tingkat keenam tetaplah tingkat keenam!”

Yuan Li dalam tubuhnya melonjak lebih dahsyat. Urat-urat di lengannya menegang. Ia melancarkan teknik Telapak Delapan Badai.

Bayangan telapak tangan memenuhi udara, menyerang dari berbagai sudut.

Namun di tengah hujan serangan itu, Lin Zhantian berdiri bak pohon kuno yang berakar dalam. Ia menghindar setengah langkah, memutar bahu, menangkis dengan presisi.

Lalu—

Kakinya menghentak tanah.

Getaran halus menyebar.

Yuan Li yang semula tersembunyi kini meledak tanpa penahanan.

Aura yang terpancar… jelas bukan lagi tingkat keenam!

“Tingkat ketujuh?!”

Seruan kaget meledak di seluruh aula.

Wajah Lin Xiao membeku, lalu berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa.

Lin Zhentian bahkan berdiri dari kursinya.

Lin Zhantian… telah menembus tingkat ketujuh!

Dan bukan hanya itu—

Dalam ledakan aura tersebut, Dentuman Tinju Tongbei kembali dilancarkan.

Satu!

Dua!

Tiga!

Sembilan!

Setiap dentuman lebih dahsyat dari sebelumnya. Gelombang suara dan tekanan udara bertumpuk menjadi satu, membentuk kekuatan yang menakutkan.

Tinju itu menghantam lurus ke dada Lin Hong.

Bang!

Tubuh Lin Hong terlempar mundur seperti daun tersapu badai. Ia jatuh keras di tepi panggung, darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.

Sunyi.

Aula yang semula bergemuruh kini hening total.

Lin Zhantian berdiri tegak di tengah panggung. Nafasnya stabil. Pandangannya tenang, tanpa kesombongan.

Ia tidak sekadar menang.

Ia menang dengan sempurna.

Tanpa cela.

Tanpa memberi ruang bagi lawan untuk bangkit kembali.

Lin Hong mencoba berdiri, namun lututnya gemetar. Harga dirinya telah runtuh bersama tubuhnya.

Di kursi kehormatan, Lin Zhentian perlahan tersenyum. Senyum itu bukan sekadar kebanggaan—melainkan harapan yang kembali menyala.

Bertahun-tahun lamanya, keluarga cabang ini hidup dalam bayang-bayang.

Kini, di atas panggung batu yang sederhana, seorang pemuda telah menyalakan kembali api yang hampir padam.

Lin Zhantian menatap Lin Hong yang terdiam tak berdaya, lalu berkata dengan suara datar:

“Kemenangan sejati bukan untuk dipamerkan, apalagi digunakan untuk menindas.”

Ia kemudian berbalik dan berjalan turun dari panggung.

Setiap langkahnya diiringi tatapan hormat dan kekaguman.

Hari itu, dalam Kompetisi Klan yang sederhana, sebuah nama terukir dalam hati semua orang.

Lin Zhantian.

Bukan sekadar juara.

Melainkan awal dari kebangkitan yang kelak akan mengguncang langit dan bumi.

Yuan Li bergulung-gulung di dalam meridian Lin Zhantian, mengalir deras bagaikan arus sungai pegunungan yang diterpa hujan badai. Setiap denyut nadi memompa kekuatan ke sekujur tubuhnya, memadatkan tenaga hingga ke ujung jari. Dengan senyum dingin yang terukir di wajahnya, ia memandang Lin Zhantian seolah sedang menatap mangsa yang telah masuk perangkap.

“Lin Zhantian, sekarang akan kuberitahukan kepadamu… betapa lebarnya jurang di antara kita!”

Suara itu mengandung kesombongan yang tak disembunyikan sedikit pun.

Begitu kata-kata itu jatuh, Lin Hong menghentakkan kaki. Dua langkah cepatnya bagai kilat menyambar, dan dalam sekejap ia telah muncul tepat di hadapan Lin Zhantian. Telapak tangannya bergetar oleh aliran Yuan Li yang padat, lalu menghantam lurus dengan angin tajam yang membelah udara, menebas menuju dada lawannya tanpa ampun.

Angin telapak itu menderu, menimbulkan suara siulan yang menusuk telinga.

Namun menghadapi serangan sekuat itu, Lin Zhantian justru tidak bergerak menghindar sedikit pun.

Pemandangan tersebut membuat banyak orang di Aula Ujian diam-diam menggelengkan kepala. Dalam pandangan mereka, pertarungan ini akan segera berakhir. Perbedaan tingkat ketujuh dan keenam bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.

Di luar arena, Lin Shan tertawa mencibir.

“Bodoh yang mencari mati. Berani-beraninya menantang sendiri.”

Di sampingnya, Lin Mang hanya tersenyum tipis, bersandar santai di kursinya sambil menyesap teh dengan tenang, seolah hasilnya sudah jelas tanpa perlu disaksikan hingga akhir.

Detik berikutnya—

“Bam!”

Telapak Lin Hong telah tiba di depan dada Lin Zhantian. Namun tepat sebelum hantaman itu jatuh, Lin Zhantian akhirnya bergerak.

Tanpa tergesa, ia mengangkat tangan kanannya dan langsung menyambut serangan tersebut.

Dua telapak bertemu.

Benturan keras menggema.

Semua orang menanti tubuh Lin Zhantian terpental mundur… tetapi yang mereka lihat justru sebaliknya.

Ia berdiri tegak.

Tubuhnya kokoh bak menara baja, tak bergeming sedikit pun.

Seolah-olah serangan tingkat ketujuh itu hanyalah hembusan angin sepoi-sepoi yang tak mampu menggoyahkan akar pohon tua.

“Bagaimana mungkin?!”

Bisikan keterkejutan menyebar cepat.

Dengan kekuatan tingkat ketujuh Tempering Tubuh, Lin Hong seharusnya mampu menekan habis seorang kultivator tingkat keenam. Namun kini, kekuatannya justru seperti menghantam dinding baja tebal yang tak dapat ditembus.

Yang terkejut bukan hanya para penonton.

Lin Hong sendiri merasakan jantungnya berdegup tak menentu. Telapak tangan yang bersentuhan itu terasa seperti menekan tembok gunung—kokoh, berat, tak tergoyahkan.

Rasa tidak enak mulai merayap dalam hatinya.

Tatapan Lin Zhantian menajam, menusuk lurus ke wajah Lin Hong.

“Bukan hanya kau… yang berada di tingkat ketujuh.”

Setiap kata diucapkan perlahan, tegas, tanpa nada tinggi—namun mengguncang lebih dahsyat daripada teriakan.

Bersamaan dengan itu, dari tubuhnya mulai memancar cahaya redup Yuan Li. Gelombang kekuatan itu bergulung naik, tidak kalah dari milik Lin Hong—bahkan… terasa lebih padat dan dalam.

Tingkat Ketujuh Tempering Tubuh!

“Desis—”

Suara tarikan napas dingin terdengar serempak di seluruh aula.

Selama ini mereka mengira Lin Zhantian masih berada di tingkat keenam. Ternyata, kekuatannya yang sebenarnya telah menembus tingkat ketujuh!

Tak heran ia berani menantang.

Tak heran ia berdiri tanpa gentar.

Di kursi penonton, Lin Xiao terpaku. Wajahnya berubah-ubah antara terkejut, bangga, dan tak percaya.

Anak ini…

Kejutan yang diberikannya hari ini belum sempat dicerna sepenuhnya, kini sudah datang hantaman baru yang lebih dahsyat.

Di bawah panggung, Lin Xia menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Mata indahnya dipenuhi keterpanaan.

Namun Lin Hong, setelah sesaat terguncang, memaksa dirinya tertawa dingin.

“Tingkat ketujuh pun… lalu kenapa?!”

Lengannya bergetar. Kedua telapak tangannya kembali bergerak cepat. Angin ganas menyeruak, tajam seperti bilah pisau yang mengiris kulit.

Telapak Delapan Penjuru!

Delapan bayangan telapak saling bertumpuk, menyerbu Lin Zhantian dari berbagai sudut.

Melihat teknik itu, Lin Zhantian hanya tersenyum samar.

“Telapak Delapan Penjuru… bukan digunakan seperti itu.”

Tubuhnya bergerak ringan, kedua tangannya menari dengan sudut aneh dan sulit dipahami. Dalam sekejap, ia menembus bayangan telapak dan menepuk lengan Lin Hong.

Gerakannya tampak ringan.

Namun begitu sentuhan terjadi, kekuatan ganas Telapak Delapan Penjuru milik Lin Hong seakan tercerai-berai, tercerabut, terpecah menjadi serpihan yang kehilangan inti.

Serangan yang seharusnya dahsyat itu mendadak melemah.

“Telapak Delapan Penjuru… bukan kau yang paling memahaminya.”

Senyum Lin Zhantian melebar.

Kedua telapak tangannya tiba-tiba berubah tajam seperti bilah pedang. Angin keras meraung saat ia melancarkan teknik yang sama—namun dengan kekuatan dan pemahaman yang jauh lebih tinggi.

Tekanan yang memancar bahkan membuat udara di sekitar panggung bergetar.

“Apa?! Kau juga menguasai Telapak Delapan Penjuru?!”

Lin Hong berseru kaget. Namun sebelum suaranya selesai, ia menyadari sesuatu yang membuat wajahnya memucat.

Teknik yang sama.

Namun kekuatannya… jauh melampaui miliknya.

Ia telah berlatih setengah tahun penuh.

Bagaimana mungkin kalah dalam penguasaan?

“Mustahil!”

Mata Lin Hong memerah. Ia mengerahkan seluruh Yuan Li dalam tubuhnya. Energi itu mengalir deras menuju kedua telapak tangannya. Dengan raungan marah, ia menghantamkan satu serangan pamungkas.

Angin telapak kali ini mengeluarkan suara mendesing panjang. Tekanannya membuat banyak penonton menahan napas.

Namun Lin Zhantian tetap tenang.

Telapak yang tadinya sekeras baja tiba-tiba berubah lembut. Gerakannya melingkar halus, lalu menempel pada telapak Lin Hong yang datang.

Begitu keduanya bersentuhan, lengan Lin Zhantian bergetar aneh.

Kekuatan yang semula terpendam tiba-tiba meledak.

Seperti bendungan yang jebol, gelombang tenaga itu menyapu keluar dalam satu hentakan.

“Bam!”

Suara ledakan bergema.

Tubuh Lin Hong terangkat dari tanah, terlempar seperti layang-layang putus tali. Ia melayang beberapa meter sebelum jatuh terguling dari panggung batu.

Ia mendarat dengan wajah lebih dahulu menyentuh tanah.

Debu beterbangan.

Sunyi.

Aula kembali membeku.

Tak seorang pun membayangkan bahwa juara yang hampir dimahkotakan itu akan kalah sebersih ini—tanpa peluang bangkit, tanpa pertarungan berlarut.

Di atas panggung, Lin Zhantian berdiri tegak.

Napasnya stabil.

Sorot matanya tenang.

Ia tidak berteriak kemenangan. Tidak memamerkan keangkuhan. Ia hanya berdiri di sana, seperti gunung yang baru saja membungkam badai.

Di kursi kehormatan, Lin Zhentian menatap lama cucunya. Setelah beberapa saat, ia perlahan duduk kembali.

“Baik… sangat baik…”

Gumamannya lirih, namun matanya dipenuhi cahaya yang tak dapat disembunyikan—kegembiraan, kebanggaan, dan harapan yang menyala kembali.

Bertahun-tahun keluarga cabang ini tertekan.

Hari ini, seorang pemuda telah membuktikan bahwa darah yang mengalir dalam tubuh mereka belum membeku.

Lin Zhantian melangkah turun dari panggung tanpa sepatah kata pun.

Namun namanya, pada hari itu, telah terukir dalam hati setiap orang yang hadir.

Kemenangan itu bukan sekadar menang.

Itu adalah kemenangan sempurna.

Dan bagi Lin Zhantian, ini hanyalah awal dari jalan panjang yang kelak akan mengguncang langit dan bumi.

1
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!