Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.
Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.
Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 Pertukaran Bawah Tanah
Di utara Kota Qingyang, tepat di kawasan luas yang dikenal sebagai Alun-Alun Utara, berdirilah sebuah tempat yang menjadi pusat denyut nadi ekonomi sekaligus pusaran kepentingan berbagai kekuatan—sebuah pasar besar yang oleh orang-orang disebut sebagai Pasar Transaksi.
Tempat itu bukan sekadar pusat jual beli biasa. Ia berdiri di titik pertemuan berbagai faksi, keluarga besar, perguruan bela diri, hingga kelompok-kelompok gelap yang tak pernah mencantumkan nama di bawah cahaya matahari. Karena terlalu banyak kepentingan yang bersilangan dan terlalu banyak kekuatan yang saling mengincar, tak satu pun pihak mampu menelannya sendirian. Dari ketegangan dan perebutan itulah, lahirlah sebuah kompromi yang ganjil namun stabil: Pasar Transaksi didirikan sebagai wilayah netral, tempat semua pihak dapat meraup keuntungan tanpa perlu menumpahkan darah setiap hari.
Di dalamnya, berdiri deretan toko milik berbagai kekuatan. Selama emas dan sumber daya masih mengalir, selama keuntungan masih dapat dibagi, maka kedamaian semu itu akan terus dijaga. Lambat laun, keseimbangan yang aneh pun terbentuk—rapuh namun kokoh, tegang namun teratur.
Nama Pasar Transaksi Kota Qingyang telah lama bergema hingga ratusan li dari wilayah itu. Bukan hanya penduduk kota yang datang berjual beli, bahkan para petani dari desa terpencil, pedagang keliling dari wilayah jauh, hingga kelompok perampok yang hidup di bayang-bayang hukum pun kerap muncul untuk melepas barang-barang mereka. Campur baur antara yang terang dan yang gelap, antara yang sah dan yang samar, menjadikan tempat ini bagai lautan naga dan ikan bercampur; tak seorang pun dapat memastikan siapa yang berdiri di sampingnya.
Bahkan Keluarga Lei dan Keluarga Xie, dua kekuatan yang selama ini disebut sebagai penguasa setempat, hanya mampu memandang dengan mata serakah tanpa berani menguasainya sepenuhnya. Keuntungan di dalamnya terlalu besar, namun risiko yang mengintai jauh lebih mengerikan.
Hari itu, ketika matahari condong dan cahaya menyapu atap-atap bangunan, Lin Zhantian melangkah bersama Qing Tan menuju gerbang Pasar Transaksi.
Begitu keduanya tiba di pintu masuk, pemandangan yang terbentang membuat bahkan napas Lin Zhantian tertahan sejenak. Lautan manusia memenuhi setiap jengkal ruang. Suara tawar-menawar, teriakan pedagang, derap langkah, dan gelak tawa berpadu menjadi gemuruh yang seolah menembus langit.
Tempat itu benar-benar pantas disebut sebagai pusat perdagangan terbesar di sekitar ratusan li. Keramaiannya bukan sekadar padat—melainkan mengerikan.
“Marilah,” ujar Lin Zhantian pelan.
Tatapannya menyapu bangunan dan arus manusia dengan sorot mata yang jarang terlihat. Selama bertahun-tahun, ia jarang mengunjungi tempat seperti ini. Bagi seorang remaja yang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam latihan tertutup dan kesunyian, dunia semacam ini menyimpan daya tarik yang tak terucap.
Tangannya menggenggam lembut tangan kecil Qing Tan, lalu keduanya menyelinap masuk ke dalam arus manusia.
Di dalam, deretan toko berjajar memanjang. Senjata, pil obat, bahan obat spiritual, kitab bela diri, hingga barang-barang aneh yang tak diketahui asal-usulnya dipajang berkilauan. Jalanan yang sebenarnya cukup lebar terasa menyempit oleh lautan manusia.
Tak sampai satu ruas jalan dilalui, keringat telah membasahi pelipis Lin Zhantian. Namun Qing Tan justru berseri-seri. Wajah kecilnya memerah oleh kegembiraan, senyumnya cerah bagaikan bunga musim semi yang baru mekar. Tawa beningnya menarik banyak pandangan.
Ketika mata-mata itu menatap wajah Qing Tan—alisnya halus seperti lukisan, kulitnya putih bersih bagai salju musim dingin—semburat kekaguman tak mampu disembunyikan. Namun sebelum pandangan-pandangan itu berani melangkah lebih jauh, aura tenang namun tajam dari Lin Zhantian telah lebih dahulu menutup celah.
Langkah mereka akhirnya berhenti di ujung sebuah jalan, tepat di depan bangunan megah bertingkat yang tampak jauh lebih elegan dibanding toko-toko biasa. Di sinilah wilayah perdagangan kelas atas berada. Keluarga Lei, Keluarga Xie, Perguruan Pedang Ganas, bahkan Keluarga Lin memiliki toko di dalamnya.
Lin Zhantian menyapu sekeliling dengan tenang, lalu berkata pelan, “Qing Tan, tunggulah di sini. Ia akan segera kembali.”
Tanpa menunggu jawaban panjang, sosoknya menyelinap ke dalam kerumunan dan menghilang dalam sekejap, meninggalkan Qing Tan di bawah naungan bangunan megah itu.
Di antara arus manusia, Lin Zhantian bergerak tanpa menarik perhatian. Ia membeli sebuah caping hitam dari toko kecil, lalu mengenakannya hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Setelah berputar melalui beberapa ruas jalan untuk memastikan tak ada yang mengikutinya, ia berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna hitam.
Pintu itu tampak biasa saja. Namun siapa pun yang memahami seluk-beluk Pasar Transaksi tahu bahwa di balik pintu itu tersembunyi dunia lain—sebuah pasar bawah tanah.
Karena terlalu banyak barang yang asal-usulnya tak dapat dijelaskan, dan terlalu banyak orang yang tak ingin identitasnya terungkap, maka tempat seperti ini pun lahir. Di sini, tak seorang pun bertanya dari mana barang berasal. Selama nilainya cukup, ia dapat berpindah tangan.
Harga yang ditawarkan pun tak jauh berbeda dari pasar atas. Justru karena kerahasiaannya, tempat ini menjadi surga bagi banyak pihak.
Orang-orang keluar masuk pintu hitam itu satu per satu. Semuanya mengenakan caping hitam, menyembunyikan wajah dan identitas.
Lin Zhantian menarik napas perlahan, menenangkan gelombang halus di dadanya, lalu melangkah masuk.
Begitu kakinya melewati ambang pintu, hawa lembap dan dingin menyergap. Di balik pintu terdapat lorong panjang dengan lampu redup. Di kiri kanan lorong, berjajar pintu-pintu tertutup.
Itulah ruang transaksi.
Ia memilih sebuah pintu yang setengah terbuka, lalu masuk.
Di dalam, cahaya lampu temaram membuat ruangan terasa suram. Sebuah meja besar membentang di tengah, terbelah oleh jeruji besi hitam. Di bagian bawah jeruji terdapat celah selebar beberapa chi.
“Silakan duduk. Letakkan barang yang hendak ditransaksikan di bawah jendela,” terdengar suara tua dari balik jeruji.
Lin Zhantian duduk dengan tenang. Dari balik lengan bajunya, ia mengeluarkan sebuah botol transparan kecil. Di dalamnya, sepuluh tetes cairan jernih berkilau samar—Cairan Roh Jimat Batu yang telah diencerkan olehnya.
Ia meletakkan botol itu di bawah celah.
“Sebuah cairan hasil ekstraksi dari obat spiritual. Bermanfaat besar bagi praktisi tingkat Tempering Tubuh, dan memiliki efek penyembuhan yang sangat baik.”
Suaranya sengaja dibuat serak dan berat, berbeda jauh dari nada aslinya.
Sebuah tangan kurus muncul dari balik jeruji, mengambil botol tersebut. Tak lama kemudian terdengar bunyi tetesan cairan diperiksa satu per satu.
Waktu berlalu perlahan. Sepuluh menit terasa panjang di ruang sunyi itu.
Akhirnya suara tua itu kembali terdengar.
“Kualitasnya mendekati obat spiritual tingkat dua. Sifatnya lembut dan stabil, sangat cocok bagi praktisi Tempering Tubuh. Terlebih lagi, efek penyembuhannya cukup istimewa. Nilainya bisa sedikit dinaikkan.”
Hening sejenak.
“Apa yang ingin Anda tukarkan?”
Jari Lin Zhantian bergetar tipis. Ia tak menyangka pihak ini mampu menilai dengan begitu tajam. Namun wajahnya tetap tak terlihat di balik bayang caping.
Setelah hening sekejap, ia berkata dengan nada datar,
“Tujuh batang obat spiritual tingkat tiga.”
Kata-kata itu meluncur perlahan, namun bobotnya berat seperti batu besar yang jatuh ke dalam danau sunyi.
Suara dari balik jeruji besi itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya terdengar kembali, kini dengan nada yang sedikit berat.
“Terlebih dahulu harus dikatakan, permintaan Anda terlalu tinggi. Cairan obat ini memang memiliki manfaat besar bagi praktisi tingkat Penempaan Tubuh. Namun justru karena itu, penggunaannya menjadi terlalu mewah bagi kebanyakan orang. Efek penyembuhannya memang bernilai bagi sebagian kalangan, tetapi apabila hanya dipakai untuk penyembuhan luka, nilainya pun menjadi terlampau boros. Barang seperti ini… tidak mudah dilepas dengan harga setinggi itu.”
Nada suara itu jelas menunjukkan sedikit kekesalan atas tawaran yang dianggap terlalu rakus.
Lin Zhantian duduk tenang di balik bayang-bayang caping hitamnya. Wajahnya tak menunjukkan perubahan sedikit pun, seolah yang dibicarakan bukanlah keuntungan atau kerugian, melainkan sekadar percakapan biasa tanpa bobot.
“Kalau begitu,” lanjut suara tua itu, “tiga batang obat spiritual tingkat tiga.”
“Enam batang.” Jawaban Lin Zhantian keluar tanpa jeda, tanpa perubahan nada, seolah ia sedang menyebut angka yang telah lama tertulis dalam hatinya.
Hening kembali turun di ruangan remang itu.
“Lima batang. Itu batas terakhir.” Kali ini suara di balik jeruji terdengar lebih tegas, tak lagi memberi ruang tawar-menawar.
Sejenak suasana menjadi begitu sunyi hingga detak napas pun terasa jelas.
“Baiklah. Sepakat.”
Bahunya terangkat ringan. Di balik caping, sudut bibir Lin Zhantian terangkat membentuk lengkungan tipis yang tak terlihat siapa pun.
Sepuluh tetes Cairan Roh Jimat Batu yang telah diencerkan satu kali—dan itu pun bukan kualitas paling murni—ditukar dengan lima batang obat spiritual tingkat tiga. Bagi dirinya, ini sudah jauh melampaui ekspektasi.
Entah pihak lawan sedang berakting atau memang benar-benar menganggap cairan itu bernilai tinggi, Lin Zhantian tidak terlalu peduli. Yang terpenting, tujuannya tercapai.
Efisiensi pihak pasar bawah tanah itu sungguh mencengangkan. Tak sampai lima menit berlalu, sebuah kotak kayu kecil seukuran telapak tangan didorong keluar melalui celah bawah jeruji.
Lin Zhantian menerimanya dengan tenang. Saat kotak itu dibuka, lima buah berwarna kuning tua sebesar ibu jari terbaring rapi di dalamnya. Aroma samar namun kaya langsung menguar, membawa serta fluktuasi energi spiritual yang lembut.
“Buah Di Huang. Obat spiritual tingkat tiga.”
Ia mengenalinya dengan segera.
Setelah memeriksa dengan cermat—warna, aroma, serta kilau permukaan kulit buah—ia mengangguk puas. Tanpa berkata lebih lanjut, kotak itu diselipkan ke dalam pakaiannya, lalu ia bangkit dan melangkah keluar ruangan.
Setelah sosok berjubah hitam itu menghilang, jeruji besi perlahan terangkat.
Seorang lelaki tua berjubah abu-abu berdiri di baliknya. Rambutnya memutih, namun sorot matanya tajam bagai elang tua yang telah melewati banyak musim badai.
Ia mengangkat botol kecil berisi sisa aroma cairan tadi, mengendus perlahan, lalu mengangguk tipis.
“Penilaiannya tidak salah,” gumamnya.
Di belakangnya berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kekar. Tubuhnya memancarkan bau samar darah kering—jelas bukan orang biasa.
“Penatua Gu,” ucap pria itu pelan, “apakah barang itu benar-benar sepadan dengan lima Buah Di Huang?”
Lelaki tua berjubah abu-abu—Gu Zhishi—tersenyum samar.
“Cairan itu memiliki efek yang sangat baik bagi praktisi Penempaan Tubuh. Keluarga Lei, Keluarga Xie, bahkan Perguruan Pedang Ganas pasti bersedia membelinya dengan harga tinggi. Terlebih jika digunakan untuk melatih generasi muda mereka.”
Pria paruh baya itu tertegun. “Apakah perlu kita menyelidiki identitas orang tadi?”
Belum selesai kalimatnya, wajah Gu Zhishi menggelap. Suasana mendadak mencekam.
“Apakah kau sudah lupa aturan tempat ini?” suaranya dingin seperti bilah baja. “Sekali reputasi tercemar, apakah kau masih ingin pasar bawah tanah ini bertahan di Kota Qingyang?”
Pria paruh baya itu segera menunduk dalam-dalam. “Bawahan mengerti.”
Gu Zhishi mendengus pelan. Dengan lambaian lengan, ia membawa botol itu dan berjalan pergi, meninggalkan ruangan dalam keheningan berat.
Sementara itu, Lin Zhantian telah keluar dari pasar bawah tanah dan kembali menyatu dengan lautan manusia Pasar Transaksi.
Ia berkeliling beberapa saat untuk memastikan tidak ada yang mengikuti, lalu dengan gerakan cepat melepaskan caping hitam dan membuangnya ke sudut jalan. Sosoknya kembali seperti remaja biasa.
Ia segera menuju tempat ia berpisah dengan Qing Tan.
Tak sulit menemukannya. Gadis itu berdiri dengan patuh di bawah naungan bangunan, menunggu tanpa keluh. Begitu melihatnya kembali, wajahnya langsung berseri.
Namun sebelum Lin Zhantian sempat mengajaknya berjalan lagi, Qing Tan tiba-tiba menarik lengan bajunya.
Ia mendongak.
Dari pintu bangunan besar di depan, sebuah sosok berlari keluar dengan langkah tergesa.
Lin Shan.
Saat pandangan mereka bertemu, kilatan kegembiraan sempat melintas di mata Lin Shan. Namun segera setelah itu, wajahnya berubah rumit—antara ragu, malu, dan tertekan.
Lin Zhantian menyipitkan mata.
Wajah Lin Shan memar di beberapa bagian. Ada lebam kebiruan di pipinya, sudut bibirnya pecah, pakaiannya kusut dan berdebu. Jelas ia baru saja terlibat perkelahian dan kalah.
Lin Shan berdiri terpaku, ingin melangkah mendekat namun seakan terikat oleh harga diri yang selama ini menjadi tembok di antara mereka.
Helaan napas pelan keluar dari dada Lin Zhantian.
Ia menarik Qing Tan dan berjalan mendekat.
“Apa yang terjadi?” tanyanya datar.
Lin Shan menatapnya dengan sedikit rasa takut—bukan karena ancaman, melainkan karena rasa bersalah dan gengsi yang belum sepenuhnya runtuh.
“Kami… bertemu dengan orang-orang Keluarga Xie,” ucapnya lirih. “Mereka mulai memprovokasi. Kak Lin Xia tidak terima… lalu kami berkelahi. Mereka lebih banyak… kami kalah. Aku… aku keluar untuk mencari bantuan.”
Semakin akhir ucapannya, semakin merah wajahnya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam.
Nama Lin Xia membuat alis Lin Zhantian mengernyit.
“Dia juga ada di sana?”
Lin Shan mengangguk.
Lin Zhantian terdiam sejenak. Ingatannya melintas pada sosok gadis yang selama ini memperlakukannya dengan cukup baik, bahkan saat ia dianggap lemah oleh banyak anggota keluarga.
Persaingan dengan Lin Shan atau Lin Hong di rumah hanyalah persaingan generasi muda. Namun ini sudah menyentuh martabat keluarga.
Hatinya bukanlah selebar samudra, namun juga tidak sempit seperti jarum.
Ia mengibaskan tangan.
“Tunjukkan jalannya.”
Lin Shan tertegun. Ia benar-benar tak menyangka Lin Zhantian akan mengesampingkan perselisihan lama dan turun tangan membantu.
Matanya memerah tanpa sadar. Ia mengangguk keras.
Dalam hati Lin Zhantian, gelombang yang lebih dalam mulai bergetar.
Keluarga Xie.
Nama itu bukan sekadar pesaing biasa. Gesekan kecil seperti ini bisa berubah menjadi percikan besar. Namun bagi seorang yang tengah menempuh jalan menuju puncak, apakah ia akan mundur hanya karena takut pada bayangan lawan?
Langkahnya mantap.
Di antara hiruk-pikuk Pasar Transaksi, badai kecil sedang bersiap lahir—dan tak seorang pun menyadari bahwa remaja yang berjalan tenang itu kelak akan mengguncang keseimbangan Kota Qingyang, bahkan melampauinya.
Dan di balik semua itu, nasib perlahan mulai menenun benang-benang takdirnya.
mbosenin thor
gak