Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21."Misi Pencarian Buku Kuno"
Geng Garuda terus melakukan pencarian buku kuno, sementara Ray menjalani misi rahasia dengan Zaneta. Zaneta memimpin tim, membagi tugas kepada anggota lainnya. Mereka memasuki ruangan perpustakaan rahasia yang jarang di jangkau semua orang.
"Felix, loe coba hubungi Profesor Arum dan cari tahu tentang buku kuno itu," perintah Bintang
Felix mengangguk, "Oke, Bintang. Gue akan coba..."
Shanaya menambahkan, "Gue coba cari info dari perpustakaan, lihat apa ada yang tahu tentang buku itu..."
Joe yang duduk di sebelah Shanaya, "Gue akan backup loe, Shanaya..."
Sementara itu, Ray bertemu dengan Zaneta di tempat rahasia.
"Gue siap, Zaneta. Apa rencananya?"
Zaneta tersenyum, "Loe sekarang masuk ke perpustakaan malam ini. Gue udah siapin akses buat loe bisa masuk kesana tanpa harus ketahuan siapa pun..."
Olivia yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka, mengirimkan pesan ke Nathaniel, "Ray bentar lagi mau masuk ke perpustakaan malam ini. Loe siap?"
Nathaniel membalas, "Siap. Gue akan pantau dari luar..."
Firly yang juga terlibat, mengirimkan pesan ke Felix, "Ray mau masuk ke perpustakaan malam ini. Loe udah hubungi Profesor Arum?"
Felix membalas, "Belum, tapi gue akan coba sekarang..."
Malam itu, Ray memasuki perpustakaan dengan akses yang diberikan Zaneta. Dia langsung menuju ruang khusus tempat buku kuno disimpan. Sementara itu, Nathaniel memantau dari luar, siap membantu jika diperlukan.
Di dalam perpustakaan, Ray menemukan buku kuno yang dicari. Dia membuka buku itu dan menemukan halaman yang berisi peta menuju lokasi tanaman alga merah dan daun keabadian.
Tiba-tiba, alarm perpustakaan berbunyi. Ray langsung sadar bahwa dia telah dipancing ke dalam jebakan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Ray langsung menghubungi Shanaya dan Bintang, suaranya panik, "Gue ada masalah. Alarm perpustakaan berbunyi, gue ketahuan..."
Shanaya menjawab, "Ray, apa yang terjadi?"
Ray menjawab, "Gue di dalam perpustakaan, ada di ruang khusus buku kuno. Zaneta pasti yang ngatur semua ini, guys tolong gue..."
Bintang langsung mengambil alih, "Oke, Ray. Shanaya, loe coba kontak Nathaniel, lihat apa yang bisa kita lakukan dari luar. Gue akan coba cari cara untuk mengeluarkan Ray dari sana..."
Shanaya membalas, "Oke, Bintang. Gue hubungi Nathaniel sekarang..."
Bintang dan Joe langsung bergerak, mencari jalan keluar rahasia dari perpustakaan.
"Ray, tahan sebentar, kita akan sampai 5 menit lagi..." ucap Bintang melalui ponsel
Shanaya menghubungi Nathaniel, "Nathaniel, Ray terjebak di perpustakaan. Bisa loe pantau dari luar?"
Nathaniel menjawab, "Siap, Shanaya. Gue lihat ada beberapa petugas keamanan menuju ke lokasi Ray. Gue akan coba alihkan perhatian mereka..."
Bintang dan Joe akhirnya menemukan jalan keluar rahasia dan berhasil mengeluarkan Ray dari perpustakaan.
"Kita harus pergi sekarang!" ucap Bintang tegas
Ray, Bintang, dan Joe berlari keluar dari perpustakaan, meninggalkan Zaneta yang sedang menunggu dengan ekspresi kecewa di luar pintu utara, sementara mereka berlari keluar melalui pintu jalur selatan.
Mereka bertiga berlari menjauh dari perpustakaan, berusaha menghilangkan jejak.
"Kita harus ke markas, sekarang..." ucap Bintang
Saat mereka tiba di markas, Shanaya dan Nathaniel sudah menunggu.
"Apa yang terjadi?" tanya Shanaya cemas
Ray mengambil napas dalam-dalam, "Gue terjebak di perpustakaan. Zaneta yang ngatur itu semua..."
Nathaniel menambahkan, "Gue lihat ada beberapa petugas keamanan yang menuju ke lokasi loe, Ray. Gue coba alihkan perhatian mereka..."
Bintang mengangguk, "Oke, kita harus waspada. Zaneta pasti gak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan..."
Joe menambahkan, "Kita harus cari tahu apa yang sebenarnya Zaneta cari dari buku itu..."
Felix tiba-tiba masuk ke ruangan, "Gue ada info! Gue hubungi Profesor Arum, dia bilang buku kuno itu berisi peta menuju lokasi tanaman alga merah dan daun keabadian. Tapi ada yang aneh, dia bilang ada yang lain yang juga mencari buku itu..."
Semua mata tertuju pada Felix, "Siapa?" tanya Bintang
Felix menjawab, "Dia tidak bilang, tapi dia bilang kita harus berhati-hati. Zaneta tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan..."
Geng Garuda langsung bergerak, mengambil buku kuno dan berlari meninggalkan lokasi perpustakaan rahasia. Mereka tahu bahwa Zaneta tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan buku itu.
"Ke markas, sekarang!" perintah Bintang
Mereka berlari dengan cepat, berusaha menyembunyikan buku kuno itu dari Zaneta. Saat mereka tiba di markas, mereka langsung menghidupkan sistem keamanan untuk melindungi buku itu.
"Kita harus pastikan buku ini aman," ucap Bintang tegas
Shanaya menambahkan, "Gue akan coba dekripsi peta yang ada di buku itu. Semoga kita bisa menemukan lokasi tanaman alga merah dan daun keabadian sebelum Zaneta..."
Geng Garuda langsung bekerja sama, berusaha memecahkan kode peta dan menemukan lokasi yang dicari.
Shanaya fokus pada dekripsi peta, sementara yang lain memantau situasi. Tiba-tiba, Nathaniel berkata, "Gue dapat info, Zaneta sedang menuju ke lokasi yang sama dengan yang kita cari..."
Bintang langsung waspada, "Kita harus bergerak sekarang. Felix, loe dan Joe siapin kendaraan. Shanaya, gimana peta itu?"
Shanaya menjawab, "Gue hampir selesai. Lokasinya di hutan belantara, kita harus berhati-hati..."
Bintang mengangguk, "Oke, kita pergi sekarang. Kita harus sampai di sana sebelum Zaneta..."
Geng Garuda langsung bergerak, meninggalkan markas dan menuju ke lokasi yang ditunjukkan peta. Mereka berlari dengan cepat, berusaha sampai di sana sebelum Zaneta.
Saat mereka tiba di hutan belantara, mereka langsung melihat tanda-tanda bahwa Zaneta sudah ada di sana.
"Mereka sudah di sini," ucap Bintang
Shanaya menambahkan, "Kita harus berhati-hati, mereka pasti sudah menyiapkan jebakan..."
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari dalam hutan.
"Mulai!" ucap Bintang, dan geng Garuda langsung bergerak, siap menghadapi Zaneta dan anak buahnya.
Geng Garuda langsung menyebar, mencari posisi yang strategis untuk menghadapi Zaneta dan anak buahnya. Ray dan Nathaniel mengambil posisi di sayap kiri, sementara Felix dan Joe mengambil posisi di sayap kanan. Bintang, Shanaya dan Thalia berada di tengah, siap menghadapi Zaneta.
Tembakan-tembakan terus berlanjut, dan geng Garuda berusaha menghindari serangan sambil mencari kesempatan untuk melawan. Tiba-tiba, Zaneta muncul dari balik pohon, senjatanya diarahkan ke Bintang.
"Kalian gak akan pernah menang," ucap Zaneta dengan senyum sinis
Bintang tersenyum balik, "Kita lihat saja nanti Zaneta..."
Bintang melompat ke samping, menghindari tembakan Zaneta. Shanaya langsung mengambil kesempatan, melemparkan granat asap untuk mengalihkan perhatian Zaneta.
Dalam kekacauan itu, Ray dan Nathaniel melompat ke arah Zaneta, berusaha melucuti senjatanya. Felix dan Joe juga ikut bergerak, menghadapi anak buah Zaneta yang mulai menyerang.
Zaneta berusaha melawan, tapi geng Garuda terlalu kuat. Dia akhirnya terjatuh, senjatanya terlepas dari tangannya.
"Kalian... kalian gak akan pernah menang," ucap Zaneta dengan napas terengah-engah
Bintang tersenyum, "Kita sudah menang, Zaneta..."
Geng Garuda langsung bergerak, melucuti senjata Zaneta dan anak buahnya. Bintang mengambil senjatanya Zaneta, sementara Shanaya dan Thalia memeriksa keadaan sekitar.
"Kita harus pergi, sekarang," ucap Bintang
"Kita gak tahu berapa lama lagi pihak berwenang akan tiba..."
Geng Garuda langsung bergerak, meninggalkan Zaneta dan anak buahnya yang sudah tidak berdaya. Mereka menuju ke arah tanaman alga merah dan daun keabadian, yang ternyata tidak jauh dari lokasi pertarungan.
Saat mereka tiba, mereka melihat tanaman itu bersinar di bawah cahaya bulan.
"Ini dia," seru Shanaya dengan napas terengah-engah
Belum sempat Bintang, Shanaya, dan yang lain menikmati kemenangan, Zaneta muncul kembali di belakang mereka, kali ini dengan ekspresi yang lebih kejam.
"Kalian mungkin bisa mengalahkan anak buah gue, tapi gak dengan gue, " ucapnya sambil mengambil sesuatu dari saku celananya
Geng Garuda langsung waspada, siap menghadapi Zaneta yang tampaknya tidak akan menyerah.
"Loe gak akan pernah bisa ngedapetin itu," ucap Bintang, mengacu pada tanaman alga merah dan daun keabadian
Zaneta tersenyum, "Kita lihat saja, Bintang. Siapa yang bakal duluan sampai kesana dan bisa melewati setiap rintangan yang ada di depan sana..."
Geng Garuda langsung bergerak, Zaneta juga ikut bergerak namun tinggal selangkah lagi tiba-tiba saja dia terpeleset dan jatuh. Geng Garuda pun memanfaatkan kesempatan itu. Shanaya dengan cepat mengambil tanaman alga merah dan daun keabadian, sementara Bintang dan yang lain menghadapi Zaneta yang masih berusaha bangun.
"Kalian... kalian gak akan pernah bisa ambil itu dari gue, kalian jangan curang akhhh...Olivia, Firly tolong gue! " ucap Zaneta dengan kemarahan
Tapi sudah terlambat, geng Garuda sudah melarikan diri dengan tanaman langka itu, meninggalkan Zaneta dan gengnya yang kalah.
Shanaya langsung berlari menuju Bintang dan yang lain, memegang tanaman alga merah dan daun keabadian dengan erat.
"Kita harus pergi, sekarang!" ucapnya tegas
Geng Garuda langsung bergerak, meninggalkan Zaneta yang masih berusaha bangun dari kejatuhannya. Olivia dan Firly mencoba mengejar, tapi terlambat. Geng Garuda sudah melarikan diri dengan tanaman langka itu.
Zaneta bangun, wajahnya memerah karena kemarahan.
"Kalian... kalian gak becus banget siu, cuma nolongin gue aja gak bisa!" ucapnya dengan suara yang bergetar campur amarah
Sementara geng Garuda sudah berada di mobil Bintang yang berukuran lebih besar daripada mobil Shanaya. Mereka menuju ke rumah dokter Wira. Lantas apakah langkah selanjutnya yang akan mereka tempuh? Apakah Zaneta geng sudah benar-benar kalah atau justru memiliki rencana cadangan? Simak terus ya guys ya... 🙏🤭🥰🌷🌸🌹🌺
Ini visual buku Kuno nya ya guys ya... 🙏🤭🌷🌹🌺
Guys ini visualnya Zaneta, Olivia dan Firly ya guys ya... 🤭🌹
Bersambooo...