NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21# LEMBAH KEHENGINGAN YANG PECAH

Kepergian dari dasar jurang yang kini menjadi makam bagi Becca dilakukan dalam kesunyian yang mencekam. Tidak ada kata-kata perpisahan yang panjang, karena setiap detik yang terbuang terasa seperti taruhan nyawa. Sesuai dengan rencana awal, mereka kini bergerak menuju Lembah Tanpa Suara, satu-satunya jalur yang menurut peta Dokter Luz dan pengamatan Dasha merupakan rute tercepat menuju kaki Menara Merah.

Langkah kaki lima belas orang itu terdengar berat, beradu dengan tanah berbatu yang semakin tandus. Di barisan paling depan, Arlo berjalan dengan wajah yang mengeras. Kematian Becca telah mengubah sesuatu di dalam dirinya binar kepemimpinan yang tadinya penuh pertimbangan kini berganti menjadi tekad yang dingin dan tajam. Di sampingnya, Selene tetap terjaga, meski wajahnya masih pucat. Ia sesekali melirik Arlo, merasakan beban berat yang dipikul pemuda itu.

"Arlo, bernapaslah," bisik Selene lirih. "Jika kau terlalu kaku, kau akan patah sebelum kita sampai."

Arlo hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. Di belakang mereka, Rick dan Tom berbagi tugas menjaga barisan samping. Mereka berdua adalah pilar kekuatan fisik tim, namun duka masih menggelayut di pundak Tom. Kehilangan Becca, yang telah bersamanya selama berbulan-bulan di bawah jurang, adalah luka yang belum mengering.

"Aku akan memastikan setiap tetes darah Becca dibayar oleh mesin-mesin di menara itu," gumam Tom sambil menggenggam kapaknya erat-erat. Lily yang berjalan di sampingnya hanya bisa menyentuh lengan Tom, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehabisan.

Sementara itu, di barisan tengah, Naya dan Cicilia berjalan beriringan. Rekonsiliasi mereka semalam menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan ini. Naya sesekali memeriksa alat pendeteksi energi yang ia rakit dari sisa-sisa kristal, sementara Cicilia memegang busur panahnya dengan waspada. Zephyr tetap berada di dekat mereka, matanya yang tajam terus menyapu setiap sudut bayang-bayang pohon hitam.

Tentu saja, suasana yang begitu berat itu tidak akan lengkap tanpa gangguan dari Rayden. Pemuda itu berjalan dengan gaya yang sangat absurd, ia memakai saringan santan dari peralatan Harry yang ia temukan di reruntuhan kamp sebagai pelindung wajah, diikat dengan kain perca.

"Dengar semuanya, menurut insting ksatria dapurku, udara di sini mulai berbau seperti pantat monster," ucap Rayden dengan suara sengau karena hidungnya tertutup saringan. "Jika kita mati di sini, aku ingin dicatat sebagai orang paling modis di hutan ini."

Finn yang berjalan di belakangnya langsung menendang pelan kaki Rayden. "Ray, kalau kau tidak diam, aku akan memasukkan saringan itu ke dalam mulutmu. Kau membuat kita semua terlihat seperti rombongan sirkus yang tersesat!"

"Kau iri saja, Finn! Ini adalah aerodinamika perlindungan wajah!" balas Rayden sambil mencoba melakukan gerakan bela diri yang justru membuatnya hampir terjungkal karena tersandung kakinya sendiri. Lira yang melihat itu hanya bisa mendengus geli di tengah kesedihannya. "Setidaknya kau masih punya nyali untuk melawak, Ray," gumam Lira.

Perjalanan yang baru berlangsung beberapa jam itu mulai menemui rintangan pertama. Begitu mereka memasuki wilayah yang lebih terbuka, tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar. Dari balik gundukan tanah abu-abu, muncul kawanan Vulturus Scabios, makhluk hibrida antara burung pemakan bangkai dan serigala. Tubuh mereka tanpa bulu, memperlihatkan daging merah yang berdenyut, dengan sayap selaput yang bisa mengeluarkan suara ultrasonik.

"Semuanya, ambil posisi bertahan!" teriak Arlo.

Pertempuran pecah di atas tanah gersang. Makhluk-makhluk itu menyerang dari udara dan darat secara bersamaan. Arlo menebas seekor Vulturus yang mencoba menerjang dari atas, sementara Rick menusukkan tombaknya ke arah kawanan yang merayap di tanah. Harry melepaskan tembakan dari senapan rakitannya, menjatuhkan beberapa monster sekaligus.

Namun, rintangan di tempat ini bukan hanya monster. Lingkungan Lembah Tanpa Suara mulai menunjukkan kegilaannya. Tiba-tiba, tekanan udara di sekitar mereka merosot tajam. Suara-suara di sekitar mereka mendadak lenyap total senyap. Ini adalah fenomena vakum suara yang sering diceritakan Dasha.

"Aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri!" teriak Finn, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Mereka semua mulai merasa sesak napas karena oksigen seolah-olah tersedot keluar dari lembah tersebut.

Di tengah keheningan yang mematikan itu, serangan monster menjadi lebih berbahaya karena mereka tidak bisa mendengar arah datangnya serangan. Cicilia hampir saja terkena cakaran di leher jika Rony tidak menariknya tepat waktu. Naya dengan cerdas segera mengaktifkan kristal energi yang ia bawa, menciptakan gelombang panas kecil yang memicu pergerakan udara kembali.

BUM!

Suara ledakan udara kembali terdengar, dan mereka bisa bernapas lagi. Namun, mereka tidak lolos tanpa luka, semua badan mereka penuh dengan luka. Lengan Lira sobek terkena cakar, dan punggung Rony berdarah karena hantaman sayap monster. Dokter Luz segera bergerak di tengah pertempuran, memegang pisau bedahnya sebagai senjata pertahanan diri.

Rayden yang panik karena sesak napas tadi, entah bagaimana caranya, berhasil menusuk mata seekor Vulturus dengan sendok sayur logamnya saat ia sedang berguling-guling di tanah mencari oksigen. "MATI KAU, BURUNG KULIT!" teriak Rayden begitu suaranya kembali.

Setelah pertempuran yang melelahkan itu berakhir dengan tumpukan bangkai monster di sekitar mereka, Arlo mengisyaratkan untuk tetap bergerak. Mereka tidak boleh berhenti. Seluruh tubuh mereka kini dipenuhi luka lecet, memar, dan darah kering. Pakaian perak mereka yang dulunya mengkilap kini sudah compang-camping dan berwarna kecokelatan karena debu dan darah.

Malam mulai turun saat mereka mencapai tengah lembah. Mereka berkumpul di bawah sebuah lengkungan batu raksasa untuk beristirahat sejenak. Duka atas Becca masih terasa saat Becca biasanya yang akan mengobati luka mereka, kini tugas itu diambil alih oleh Naya dan Dokter Luz dengan canggung.

Dasha duduk menyendiri, menatap Menara Merah yang kini terlihat menjulang angkuh di depan mereka. Jaraknya mungkin tinggal satu atau dua hari perjalanan lagi, namun rintangan yang tersisa pasti akan jauh lebih mematikan.

"Kita sudah sampai sejauh ini," ucap Harry sambil menyalakan api kecil yang disembunyikan di balik bebatuan. "Sembilan tahun aku menunggu saat ini. Dan melihat kalian semua masih berdiri, meski penuh luka... aku bangga pada kalian."

Arlo menatap setiap anggota timnya. Dari Harry yang tua dan tangguh, Luz yang misterius, teman-teman barunya dari tim Dasha (Dasha, Tom, Rony, Lily), hingga kawan-kawan lamanya yang sudah seperti saudara (Zephyr, Naya, Rick, Cicilia, Finn, Lira, dan si konyol Rayden).

"Kita akan sampai ke sana," ucap Arlo pelan namun penuh keyakinan. "Besok kita akan melewati perbatasan terakhir. Jangan biarkan luka-luka ini menghentikan kalian. Gunakan rasa sakit ini untuk mengingat kenapa kita harus menghancurkan Menara itu."

Rayden, yang sedang mencoba membetulkan saringan santan di wajahnya yang penyok, menoleh ke arah Arlo. "Dan setelah semua ini selesai, aku ingin Arlo membelikanku restoran paling besar di dunia luar. Aku sudah bosan dengan menu daging monster."

Tawa kecil terdengar dari Finn dan Lira, sedikit mencairkan ketegangan malam itu. Mereka semua tahu, perjalanan esok akan menjadi penentu apakah mereka akan pulang sebagai pemenang atau berakhir sebagai nama-nama yang terlupakan di hutan ini. Sesuai dengan pembicaraan kita sebelumnya, perjalanan ini memang masih panjang.

Kini, di bawah bayang-bayang Menara yang berkedip jahat, lima belas jiwa itu mencoba memejamkan mata, memegang senjata mereka erat-erat, siap menghadapi apa pun yang akan muncul dari kegelapan lembah esok pagi.

1
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!