NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Sidang

Ruang Sidang Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya, Pukul 08.30

Udara di ruang sidang itu terasa dingin, baik secara harfiah dari AC sentral maupun secara metafora dari tatapan ketat lima orang dosen penguji yang duduk membentuk setengah lingkaran di depan.

Ferdy berdiri di belakang podium, mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana hitam yang ia setrika sendiri semalaman. Tangannya sedikit lembap, tapi napasnya dalam-dalam. Dia tak sendiri.

Di barisan bangku belakang, dukungan moral hadir dalam wujud solid: Andika dan Roni, yang dengan setia datang meski harus bolos kerja freelance. Reza, Siska, Bowo, dan beberapa teman seperjuangan skripsi lainnya.

Dan di sisi yang sedikit terpisah, dengan aura yang berbeda, Kirana. Dia duduk tegak, mengenakan blazer biru navy dengan gaun dalam warna krem, rambutnya disanggul rapi.

Ekspresinya tenang, tapi mata yang selalu mengikuti Ferdy menunjukkan dukungan yang tak tergoyahkan.

Dan tentu saja, di sudut ruangan di mana cahaya dari jendela tinggi membentuk sebuah segitiga terang di lantai kayu, Dasima berdiri. Wujudnya tak terlihat, tapi energinya memancar kuat, sebuah medan ketenangan yang ia fokuskan hanya pada Ferdy. Hari ini, dia bukan hanya penjaga, tetapi penyemangat.

"Selamat pagi, Ferdy Wicaksono. Anda boleh memulai presentasi," ujar Ketua Penguji, Prof. Dr. Widyastuti, seorang perempuan dengan kacamata rantai dan tatapan yang bisa menembus jiwa.

Ferdy mengangguk, menekan tombol untuk memulai slide. "Selamat pagi, Ibu dan Bapak Penguji yang saya hormati. Judul skripsi saya adalah 'Visual Naratif dan Etika dalam Fotografi Jurnalistik Bencana di Indonesia: Sebuah Kajian Budaya dan Regulasi'."

Suaranya awal-awal sedikit bergetar. Tapi saat ia melihat slide pertama, gambar-gambar kuat dari fotografi bencana, semangatnya menyala. Ini adalah dunianya. Ia bercerita tentang teori, metodologi, temuan, dan kritiknya terhadap pendekatan Barat-sentris.

Argumennya disusun rapi, didukung data, dan yang lebih penting, disampaikan dengan passion.

Para penguji mendengarkan dengan serius, sesekali mencatat. Sidang berjalan alot. Pertanyaan-pertanyaan kritis dilontarkan, menyerang kelemahan metodologi, menantang interpretasi, mempertanyakan kesimpulan.

Dua jam terasa seperti dua puluh tahun bagi Ferdy. Keringat membasahi kemejanya di bagian punggung. Tapi setiap kali ia merasa terjepit, panik, atau kehilangan kata-kata, sebuah kehangatan yang menenangkan—seperti angin sepoi-sepoi yang tak terlihat—menyentuh pundaknya, dan sebuah kejernihan pikiran tiba-tiba muncul, membantunya merumuskan jawaban dengan lebih baik. Itu Dasima.

Kirana, dari bangku penonton, menggenggam tas tangannya erat-erat. Dia bisa melihat tekanan yang dihadapi Ferdy, dan rasa kagumnya semakin besar melihatnya bertahan, berdebat dengan logika, dan tetap rendah hati.

Akhirnya, setelah presentasi, sesi tanya jawab, dan debat yang melelahkan, para penguji meminta Ferdy dan penonton keluar ruangan selama mereka bermusyawarah.

Di koridor, teman-teman langsung mengepungnya.

"Lo hebat banget, Fer! Jawabannya mantul!" puji Reza.

"Pengujinya emang killer semua, tapi lo bisa handle," kata Siska, wajahnya lega.

"Kamu luar biasa, Ferdy," ucap Kirana, mendekat. Matanya bersinar dengan kebanggaan yang tak tersembunyi.

Ferdy hanya bisa mengangguk, napasnya masih tersengal. Dia mencari-cari dengan mata, ke arah sinar matahari di ujung koridor, dan seolah mendapat konfirmasi, wangi melati yang samar sekali tercium. Aku di sini. Kau hebat.

Lima belas menit yang terasa seperti siksaan kemudian, mereka dipanggil masuk kembali.

Ferdy berdiri kembali di depan podium, jantung berdegup kencang. Prof. Widyastuti tersenyum tipis—hal yang langka.

"Setelah diskusi yang panjang dan mendalam, kami, tim penguji, memutuskan bahwa skripsi Ferdy Wicaksono… DINYATAKAN LULUS."

Suara tepuk tangan dan sorakan kecil langsung memecah kesunyian ruang sidang yang angker. Andika dan Roni bersorak, teman-teman skripsinya melompat kegirangan.

"Dan dengan nilai… A-minus," lanjut Prof. Widyastuti. "Selamat. Ini adalah pencapaian yang sangat baik, mengingat kompleksitas topik dan ketajaman analisis Anda. Teruslah berkarya, dan jadilah fotografer yang tidak hanya mengambil gambar, tetapi juga memiliki hati dan pikiran."

Ferdy hampir tak percaya. A-minus! Itu lebih dari yang ia harapkan. Dia membungkuk berulang kali, mengucapkan terima kasih. Rasa lega, syukur, dan kebahagiaan yang begitu besar menyelimutinya. Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis.

---

Cafe "The Garden", Depok, Pukul 13.00

Perayaan sederhana tapi meriah. Mereka memesan meja panjang di cafe dengan taman terbuka. Suasana riuh penuh tawa dan cerita. Ferdy menjadi pusat perhatian, diceramahi tentang masa depan, dikerjai dengan pertanyaan kapan wisuda dan kapan punya pacar.

Kirana duduk di samping Ferdy, ikut tertawa, ikut bercerita. Dia terlihat sangat nyaman di tengah teman-teman Ferdy yang lebih sederhana. Tidak ada jarak yang ia ciptakan.

Andika dan Roni, yang duduk di seberang, terus-menerus mengedip-ngedipkan mata ke arah Ferdy, seolah mengatakan, "Lihat nih, dia perfect banget."

Di tengah keriuhan itu, Kirana berdiri, mengetuk gelasnya dengan sendok.

"Teman-teman, boleh saya minta perhatian sebentar?"

Semua diam, memandangnya.

"Saya tahu ini adalah momen besar buat Ferdy. Dan saya sangat senang bisa ikut menyaksikan dan merayakannya bersama kalian." Dia tersenyum, lalu menatap Ferdy.

"Sebagai bentuk ucapan selamat yang lebih spesial… saya ingin mengundang kalian semua—Ferdy, teman-teman skripsinya, dan tentu saja tim PAMOR—untuk merayakan akhir pekan ini di vila keluarga saya di Puncak."

"Kita bisa jalan-jalan, BBQ, atau sekedar nongkrong sambil menikmati udara segar. Semua biaya sudah saya tanggung. Gimana?"

Undangan itu menggantung. Semua mata yang tadinya tertuju pada Kirana, perlahan beralih ke Ferdy. Karena semua orang tahu: undangan ini pada dasarnya adalah untuk Ferdy.

Kirana sedang melakukan grand gesture, menunjukkan dedikasinya, dan secara terbuka menyatakan ketertarikannya di depan semua teman terdekat Ferdy.

Ini bukan lagi rahasia. Ini sudah menjadi pengetahuan umum di lingkaran mereka: Kirana Putri, putri cantik dan kaya, sedang mengejar Ferdy Wicaksono, fotografer sederhana.

Suasana hening sejenak. Lalu, Reza yang pertama bereaksi. "WIH! SERU BANGET! AKU SETUJU!"

"Vila di Puncak? Asik dong!" sahut Siska, matanya berbinar.

Andika dan Roni langsung mengangguk antusias. "Mantep nih, kita butuh refreshing setelah project-project gila."

Tapi semua keputusan akhir seakan-akan berada di tangan Ferdy. Semua menatapnya, menunggu. Apakah ia akan menerima undangan yang jelas-jelas adalah langkah maju dari Kirana? Apakah ia akan menolak dan merusak suasana?

Ferdy merasa panas di bawah kerah kemejanya. Di tengah kegembiraan kelulusannya, ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Menolak akan terlihat tidak sopan dan menyakiti Kirana di depan semua orang.

Menerima… berarti ia membuka pintu lebih lebar untuk Kirana, dan mungkin menyakiti Dasima yang pasti mengamati.

Dari balik bahunya, di antara rimbunnya tanaman hias cafe, dia bisa merasakan kehadiran Dasima. Tidak ada gelombang kecemburuan atau larangan. Hanya sebuah perasaan tenang yang menunggu. "Ini keputusanmu, Raden. Aku akan menghormatinya."

Kirana menatapnya, matanya penuh harap namun juga siap untuk apapun jawabannya. Dia tidak memaksa, hanya menawarkan.

Ferdy menarik napas. Ini untuk merayakan keberhasilannya. Dan teman-temannya sangat antusias. Dia tidak bisa egois.

"Aku… tentu saja sangat berterima kasih, Kirana. Tapi…" dia berhenti, mencari kata-kata, "tapi nggak usah semua biaya ditanggung. Kita patungan aja. Biar adil."

Itu komprominya. Menerima undangan, tapi mencoba mengurangi "hutang budi" personal.

Kirana tersenyum, memahami. "Terserah kalian. Yang penting kita bisa celebrate bersama. Jadi, setuju?"

Semua bersorak setuju, kecuali Ferdy yang

hanya mengangguk, dengan senyum yang agak kaku.

Perayaan di cafe berlanjut, tapi sekarang dengan rencana besar untuk weekend. Kirana tampak bersemangat, mulai berdiskusi tentang menu BBQ, aktivitas, dan pengaturan mobil.

Ferdy duduk diam di tengah keriuhan, menyeruput kopinya yang sudah dingin. Di pikirannya, ia berbicara pada kehadiran yang hanya ia rasakan. "Dasima… kamu ikut, kan? Ke Puncak?"

Jawabannya datang bukan dalam kata, tapi dalam sebuah perasaan: sebuah "pelukan" singkat dari belakang, hangat dan meyakinkan. "Kemana pun kau pergi, aku akan ada. Selalu."

Ferdy tersenyum kecil, lega. Apapun yang akan terjadi di Puncak nanti, setidaknya ia tidak akan sendirian. Ia punya teman-teman yang menyenangkan, seorang wanita yang begitu gigih mencintainya dengan cara yang begitu terbuka, dan sebuah cinta dari masa lalu yang setia menemani tanpa syarat.

Dan untuk pertama kalinya, Ferdy menyadari bahwa hidupnya yang dulu sepi dan penuh kecemasan, kini telah berubah menjadi sesuatu yang begitu penuh, kompleks, dan… berwarna. Sidangnya telah usai dengan gemilang. Tapi ujian yang sesungguhnya—untuk menavigasi perasaan dan kesetiaan di antara dua dunia—tampaknya baru akan dimulai di vila yang sejuk di Puncak.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!