"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: TAWANAN RENAISSANCE
Kegelapan yang menyambutku kali ini tidak terasa kosong. Rasanya berat, berbau ozon, dan dingin yang steril—bau yang langsung memicu trauma di dasar sirkuit otakku. Saat kesadaranku mulai merayap naik dari dasar jurang bius, aku merasakan tubuhku terikat. Bukan dengan rantai kasar, melainkan dengan sabuk kulit empuk pada sebuah kursi ergonomis yang miring, persis seperti kursi eksekusi medis.
Aku membuka mataku. Cahaya lampu LED putih yang sangat terang menusuk retinaku.
"Selamat bangun, Elena Rossi," sebuah suara bariton yang halus bergema di ruangan itu. "Atau haruskah aku memanggilmu dengan mahakaryaku yang paling nakal, Dr. Valerie?"
Aku mengerjapkan mata, mencoba menjernihkan pandangan. Di depanku, berdiri seorang pria yang tampak lebih muda sepuluh tahun dari Adrian Vane yang terakhir kulihat di Blackwood. Namun, sorot mata itu—dingin, tajam, dan tanpa empati—adalah tanda tangan yang tak bisa dipalsukan.
"Adrian?" suaraku serak, tenggorokanku terasa seperti terbakar.
"Adrian yang lama sudah mati bersama egonya di bawah reruntuhan Blackwood," pria itu melangkah maju. Ia mengenakan setelan jas sutra berwarna arang yang sangat pas di tubuhnya yang tampak atletis. "Anggap saja aku adalah versi yang sudah diperbarui. Renaissance, Valerie. Kebangkitan."
“Dia menggunakan raga baru, Elena,” Zura berbisik di kepalaku, suaranya gemetar ketakutan. “Lihat kulitnya... itu raga seorang model atau atlet. Dia benar-benar melakukannya. Dia mencuri hidup seseorang lagi.”
Aku mencoba meronta, namun setiap gerakan ototku mengirimkan sengatan listrik kecil melalui sabuk pengikat. "Di mana Julian?"
Adrian tersenyum, sebuah senyuman yang tampak sempurna di wajah barunya. "Detektif korup itu? Dia memiliki daya tahan yang luar biasa untuk seorang manusia biasa. Dia sedang berada di 'ruang tunggu'. Kita akan memutuskan nasibnya setelah aku selesai denganmu."
Aku memandang sekeliling. Kami tidak berada di bunker bawah tanah yang kotor. Ini adalah griya tawang (penthouse) medis yang mewah di pusat Milan. Melalui dinding kaca di belakang Adrian, aku bisa melihat puncak Duomo yang diterangi lampu kota. Ini adalah puncak dari Proyek Renaissance—tempat di mana para elit membeli keabadian sambil meminum sampanye.
"Kau tahu kenapa kau ada di sini, Valerie?" Adrian berjalan mengitari kursiku. "Inversi yang kami lakukan pada Alessandra de Luca mengalami kegagalan fungsi. Jiwa aslinya menolak untuk mati, dan jiwa 'Chiara' yang kami masukkan mulai hancur. Mereka saling berteriak di dalam satu kepala. Itu berisik. Itu... tidak elegan."
"Kau ingin aku memperbaikinya?" aku meludah ke arahnya, namun hanya mengenai udara. "Kau gila, Adrian. Aku bukan lagi doktermu."
"Oh, kau akan melakukannya," Adrian membungkuk, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. "Karena kau adalah satu-satunya subjek yang berhasil mencapai sinkronisasi. Kau dan Zura... kalian tidak saling membunuh. Kalian saling melengkapi. Kalian berbagi gairah, insting, dan kecerdasan. Aku ingin tahu rahasianya. Aku ingin formula untuk penyatuan sempurna, bukan sekadar pertukaran."
Ia menyalakan sebuah layar monitor besar. Di sana, terlihat Julian yang terikat di kursi di sebuah ruangan gelap, dengan moncong senjata api otomatis yang diarahkan ke kepalanya oleh seorang penjaga.
"Setiap satu jam kau menolak bekerja sama, aku akan memerintahkan mereka untuk mematahkan satu jari Julian," kata Adrian tanpa emosi. "Setelah jarinya habis, kita akan mulai dengan bagian tubuh yang lain. Aku tahu kau mulai... terbiasa dengan sentuhannya, bukan? Akan sangat disayangkan jika sentuhan itu hilang."
“Valerie, lakukan sesuatu!” Zura berteriak, amarahnya mulai membakar kesadaranku. “Jangan biarkan dia menyentuh Julian! Biarkan aku keluar! Aku akan mencabik wajah barunya itu!”
“Tenang, Zura,” bisikku dalam batin. “Dia ingin kita emosional. Itu kelemahannya.”
Aku menatap Adrian dengan mata yang kini berkilat dingin. "Kau ingin sinkronisasi? Baik. Tapi kau lupa satu hal tentang psikologi, Adrian. Sinkronisasi tidak terjadi karena algoritma. Itu terjadi karena rasa sakit yang sama. Kau ingin aku membedah pikiran Alessandra? Bawa dia ke sini."
Adrian tampak puas. Ia memberi isyarat pada penjaganya. Tak lama kemudian, Alessandra—atau raga yang dihuni Chiara—didorong masuk. Ia tampak kacau, matanya berputar liar antara ketakutan Chiara dan keangkuhan Alessandra.
"Buka ikatanku," perintahku. "Aku tidak bisa bekerja jika tanganku gemetar karena sengatan listrikmu."
Adrian ragu sejenak, namun ambisinya mengalahkan kewaspadaannya. Ia menekan tombol di tabletnya, dan sabuk pengikatku terlepas. Aku berdiri, mencoba memulihkan aliran darah di pergelangan tanganku.
“Sekarang, Valerie?” Zura bertanya, otot-otot lenganku menegang, siap untuk menerkam.
“Belum. Kita butuh Julian.”
Aku melangkah menuju Alessandra, meletakkan tanganku di dahinya. Raga itu bergetar hebat. Aku bisa merasakan guncangan saraf yang dahsyat di sana—dua frekuensi jiwa yang saling bertabrakan, menciptakan badai statis yang mematikan.
"Chiara, dengarkan suaraku," kataku dengan nada otoritas forensikku. "Valerie di sini. Kau tidak sendirian."
Saat aku menyentuh kulitnya, sebuah penglihatan menghantamku. Bukan penglihatan medis, melainkan memori yang bocor. Aku melihat Adrian Vane berdiri di atas ratusan tabung inkubasi. Ini bukan hanya tentang sepuluh orang dewan direksi. Ini adalah pabrik.
"Kau ingin tahu rahasia sinkronisasi, Adrian?" aku berbalik, sebuah senyum tipis yang mematikan terukir di wajah Elena Rossi. "Rahasianya adalah: kau tidak bisa mengendalikan apa yang kau ciptakan."
Tiba-tiba, aku tidak menyerang Adrian. Aku menyerang konsol kontrol di samping meja operasi. Dengan gerakan yang sudah direncanakan bersama Zura, aku menghantamkan telapak tanganku ke tombol darurat Manual Neural Override yang pernah kupelajari di Blackwood.
Seluruh lampu di griya tawang itu berkedip merah. Suara sirine melengking memecah kesunyian malam Milan.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Adrian.
"Aku melepaskan pengunci pada semua subjek di gedung ini, Adrian!" teriakku.
"Mari kita lihat bagaimana para elitmu menghadapi jiwa-jiwa jalanan yang baru saja kau beri akses ke otot-otot mereka!"
Pintu ruangan Julian terbuka secara otomatis akibat kegagalan sistem. Di layar monitor, aku melihat Julian bereaksi dengan kecepatan kilat, menghantam penjaganya dan merebut senjata.
"Julian! Lantai 50! Sekarang!" teriakku melalui interkom yang terbuka.
Adrian menerjangku, wajah barunya yang tampan kini berubah menjadi topeng kemarahan. Ia sangat cepat, jauh lebih kuat dari raga lamanya. Ia mencengkeram leherku dan membantingku ke dinding kaca.
“Biar aku, Valerie!” Zura mengambil alih.
Aku tidak lagi merasa takut. Aku merasakan gairah pertempuran yang meluap. Aku memutar tubuhku, menggunakan berat badan Adrian untuk melemparkannya ke arah meja peralatan bedah. Kami bergulat di lantai, di antara pecahan kaca dan peralatan medis yang mahal.
Adrian mencekikku lagi, matanya merah karena amarah. "Kau tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup!"
Tepat saat oksigen di paru-paruku mulai habis, pintu griya tawang itu meledak. Julian muncul dengan senapan otomatis di tangan, pelipisnya berdarah, namun matanya memancarkan api yang sama dengan mataku.
"Lepaskan dia, bajingan!"
Julian melepaskan tembakan peringatan yang menghancurkan dinding kaca di belakang kami. Angin malam Milan yang kencang langsung masuk ke dalam ruangan, menerbangkan kertas-kertas dan peralatan ringan.
Adrian terpaksa melepaskanku dan berlindung di balik meja operasi baja. Aku terbatuk, menghirup udara sebanyak mungkin. Julian segera berada di sampingku, menarikku berdiri dan memelukku erat sejenak—sebuah sentuhan yang memberiku kekuatan instan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Julian, suaranya cemas namun tegas.
"Aku jauh lebih baik sekarang karena kau di sini," jawabku, sambil memungut sebuah pisau bedah laser dari lantai.
Kami berdiri berdampingan, Elena dan Marco, dokter dan detektif, menghadapi sang arsitek neraka di tengah keindahan Milan yang mematikan. Di luar sana, suara teriakan mulai terdengar dari lantai-lantai bawah—jiwa-jiwa yang terbangun mulai mengambil alih raga tuan mereka.
Renaissance yang Adrian inginkan telah dimulai, tapi bukan sebagai kebangkitan elit, melainkan sebagai revolusi dari mereka yang dicuri hidupnya.
"Ayo, Julian," kataku, mataku terkunci pada Adrian yang kini tampak terpojok. "Mari kita selesaikan sejarah ini sekali dan untuk selamanya."