Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Tanpa Suara
🕊
Alea memilih pagi yang biasa.
Tidak ada pamitan panjang. Tidak ada pelukan yang membuat langkahnya ragu. Ia datang lebih awal dari biasanya, mengganti seragamnya dengan rapi, bekerja seperti hari-hari lain—tenang, sigap, tidak meninggalkan celah yang mencurigakan. Tak ada yang tahu bahwa hari itu adalah hari terakhirnya.
Di dalam tas kecilnya, ada beberapa amplop putih. Tipis. Rapi. Ditulis tangan satu per satu semalam suntuk, dengan tulisan yang sedikit miring karena kelelahan—dan kejujuran yang tidak ia saring.
Saat jam istirahat tiba, Alea menyelipkan surat-surat itu di tempat yang sudah ia pikirkan matang-matang. Loker Sarah. Laci kasir. Meja dapur Pak Rino. Dan satu amplop terakhir… ia letakkan di meja belakang, tempat Wendy biasa menaruh ponselnya.
Tidak ada nama di depan. Hanya satu kata: Wendy.
Sebelum pulang, Alea berdiri sejenak di depan restoran. Ia menatap papan nama yang sudah tak terasa asing. Udara siang itu hangat. Tidak berat. Tidak juga terlalu ringan. “Terima kasih,” gumamnya pelan, pada siapa pun yang mau mendengar.
Lalu ia pergi. Tanpa suara.
–
Surat Alea untuk teman-temannya dibuka satu per satu, dengan perasaan yang berbeda-beda, tapi kalimat awalnya sama: “Kalau kamu membaca ini, berarti aku sudah tidak di sini.”
Sarah membacanya dengan tangan gemetar.
“Aku tidak kabur. Aku hanya berhenti sejenak. Istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan panjang di depan sana. Terima kasih sudah berdiri bersamaku. Jangan pernah merasa kecil hanya karena suaramu sempat diremehkan. Di dunia kerja, ada dua pilihan: berani bertahan, atau berani berhenti. Keduanya sama- sama butuh keberanian.Kalau kamu memilih bertahan, berdirilah tegak. Jangan menunduk karena tekanan.”
Air mata Sarah jatuh tanpa suara. Ia menutup surat itu ke dada, menarik napas panjang—lalu mengusap wajahnya. “Aku janji,” bisiknya. “Aku bakal berdiri.”
Pak Rino membaca suratnya sambil duduk di bangku dapur. “Terima kasih sudah mengajariku bukan cuma soal masak, tapi soal bertahan di tempat yang kotor tanpa mengotori hati.” Ia tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan. “Anak itu… kuat,” gumamnya.
Bu Rina menerima suratnya terakhir. “Terima kasih sudah tegas. Terima kasih sudah adil. Kalau suatu hari saya kembali ke dunia kerja, saya ingin menjadi pemimpin seperti Ibu.” Bu Rina menutup amplop itu lama sekali. Matanya basah, tapi wajahnya tenang. “Pergilah sejauh yang kamu mau, Alea,” ucapnya lirih. “Kamu tahu jalan pulang.”
–
Surat untuk Wendy dibaca malam itu, sendirian. Wendy duduk di ruang tamu rumahnya. Anaknya akhirnya tertidur setelah seharian rewel. Tubuhnya lelah, kepalanya penuh, dan hatinya—entah sejak kapan—selalu terasa terhimpit.
Ia membuka amplop itu tanpa ekspresi.
Tulisan Alea rapi. Tidak menyerang. Tidak menyudutkan.
“Ka Wendy,
Aku menulis ini bukan untuk menyalahkan. Aku hanya ingin kamu tahu, aku pernah berada di posisi orang yang ditekan—dan itu menyakitkan. Tapi minggu saat kamu libur, aku belajar satu hal: orang yang menekan sering kali sedang ditekan lebih keras di tempat lain. Aku tidak membenci kamu. Tapi aku harap kamu berhenti melukai orang lain hanya untuk merasa berharga.”
“Kata-kata bisa membentuk seseorang. Bisa menguatkan. Bisa menghancurkan. Aku memilih pergi. Tapi kamu memilih setiap hari—ingin jadi siapa.”
Wendy menutup surat itu perlahan. Dadanya terasa sesak. Kalimat Alea menabrak sesuatu yang selama ini yang ia tutupi rapat-rapat. Wajah mertuanya terlintas. Suara merendahkan itu. Tatapan yang selalu menilai, selalu merasa lebih tinggi.
Ia teringat bagaimana rasanya dipanggil “tidak becus”. Bagaimana rasanya tidak pernah cukup. Tangan nya bergetar. “Apa aku… sama?” gumamnya lirih.
Malam itu Wendy menangis—bukan karena kalah, tapi karena sadar. Untuk pertama kalinya, ia tidak mencari kambing hitam. Ia hanya duduk dengan perasaannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya pula… ia ingin berubah.
Di tempat lain, Alea berjalan menyusuri trotoar kota, dengan tas ringan dan langkah pelan. Tidak ada tujuan pasti. Hanya keinginan untuk bernapas tanpa tekanan. Ia menoleh ke langit sore. “Aku nggak lari,” ucapnya pada dirinya sendiri. “Aku cuma memberi jeda.”
Perjalanan panjang itu masih menunggu. Dan Alea—akhirnya—siap melanjutkannya.
–
Alea bangun lebih siang dari biasanya.
Matanya sudah terbuka sejak beberapa menit lalu, menatap langit-langit kamar yang catnya mulai kusam. Cahaya matahari menyelinap lewat celah gorden, jatuh tepat di ujung kasur. Tapi tubuhnya masih enggan bergerak. Selimut ia tarik sedikit lebih tinggi, seolah kain tipis itu bisa menahan dunia agar tidak masuk dulu.
Kosong.
Itu perasaan pertama yang ia sadari.
Bukan kosong yang menyakitkan, tapi kosong yang aneh—seperti ruangan baru yang belum diisi apa pun. Di satu sisi, dadanya terasa lebih ringan. Tidak ada jam kerja. Tidak ada shift. Tidak ada suara Wendy yang memerintah dengan nada merendahkan. Tidak ada tekanan.
Tapi di sisi lain… ada kebingungan.
“Apa aku benar?” gumam Alea pelan, suaranya nyaris tidak terdengar. Ia menghela napas panjang, memejamkan mata sebentar. Kepalanya terasa berat. Perutnya melilit—nyeri khas yang tak perlu ditebak lagi.
“Hari pertama haid,” katanya lirih, lalu mendengus kesal. “Dan hari pertama jadi pengangguran.” Kombinasi yang luar biasa buruk.
Ia berbalik miring, memeluk bantal. Pikirannya melayang ke hari terakhir di restoran. Cara ia pergi diam-diam. Surat-surat yang ia tinggalkan. Dan tiba-tiba muncul satu penyesalan kecil yang menyelinap pelan.
“Kenapa sih aku nggak pamitan baik-baik saja…” gumamnya. “Kenapa nggak bikin hari terakhir itu seru sedikit.” Bayangan Pak Rino muncul di kepalanya—dengan celemek lusuhnya, keringat di pelipis, dan senyum kecil setiap kali masakan berhasil.
“Harusnya aku makan masakan terakhir Pak Rino,” katanya sambil mendesah pelan. “Minimal ayam gorengnya…” Ia tertawa kecil, tapi tawanya cepat menguap. “Hah…” Alea menatap langit-langit lagi. “Dunia sungguh berat.”
Belum sempat ia tenggelam lebih dalam ke pikirannya, suara ribut dari luar kamar menyambar telinganya. Nada tinggi. Bentakan. Suara benda diletakkan dengan kasar. Alea langsung meringis.
“Ah, ini lagi,” katanya sambil memijat pelipis. “Entah siapa yang mulai, tapi kayaknya sudah bosan hidup.” Ia menggerakkan kaki turun dari kasur, duduk di tepi ranjang. Kepalanya sedikit pusing, tubuhnya lemas, tapi rasa kesal mendorongnya untuk bangun.
“Baru juga hari pertama istirahat,” gumamnya sambil berdiri. “Udah dikasih drama.” Dengan langkah malas tapi cepat, Alea membuka pintu kamarnya.
Dan seperti yang sudah ia duga—di ruang tengah, Sita berdiri dengan wajah merah padam. Tangannya bertolak pinggang. Papa berdiri di seberangnya, wajahnya lelah, rahangnya mengeras menahan emosi.
“Kamu itu nggak pernah mikir!” suara Sita melengking. “Itu motor aku, Pa! Motor aku! Bukan motor mainan!” Papa menarik napas dalam-dalam. “Aku cuma minjemin ke Dika sebentar, Ta. Buat keperluan—”
“Sebentar?” potong Sita tajam. “Lihat itu!” Ia menunjuk ke arah motor di teras. “Lecet! Lecet, Pa! Kamu tau nggak itu baru aku poles minggu lalu?!” Papa mengusap wajahnya kasar. “Lecet sedikit doang. Nanti juga bisa—”
“Bukan soal lecetnya!” Sita membentak. “Ini soal kamu nggak pernah izin! Nggak pernah nganggep aku!”
Alea berdiri di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya ke kusen. Ia tidak ikut bicara. Tidak juga langsung pergi. Hanya menonton dengan mata lelah, seperti penonton yang sudah hafal alur ceritanya.
Papa menoleh, menyadari kehadiran Alea. “Lea… kamu baru bangun?” Alea mengangguk pelan. “Iya, Pa.” Sita melirik Alea sekilas. Tatapannya tajam, dingin, seperti biasa. “Pantesan siang. Enak ya nggak kerja.”
Alea menahan napas. Perutnya semakin melilit. “Aku baru berhenti,” jawabnya datar. “Bukan pensiun.” Sita mendengus. “Tetap aja nggak kerja.” Papa langsung menoleh ke Sita. “Ta, jangan begitu.”
“Kenapa? Salah aku ngomong?” Sita menyilang tangan. “Anak muda sekarang dikit-dikit capek, dikit-dikit berhenti.” Alea menatap Sita. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan kelelahan yang dalam.
“Aku capek, iya,” katanya pelan tapi jelas. “Tapi bukan karena kerja. Karena tekanan.” Sita tertawa kecil, sinis. “Tekanan apa? Kerja aja belum seberapa.” Alea menghela napas. Biasanya ia akan diam. Biasanya ia memilih masuk kamar dan mengunci pintu. Tapi hari ini tubuhnya lelah, pikirannya kacau, dan emosinya terlalu penuh untuk ditahan.
“Hari ini aku lagi nggak enak badan,” ucap Alea jujur. “Dan aku baru aja keluar dari tempat kerja yang bikin aku hampir kehilangan diriku sendiri.” Ia menatap papa. “Aku cuma mau hari ini tenang.”
Papa terdiam. Matanya melembut. Sita masih ingin bicara, tapi papa mengangkat tangan. “Sudah, Ta.” Sita mendecak kesal, lalu berbalik menuju dapur. “Terserah kalian.”
Suasana mendadak sunyi.
Alea menghembuskan napas panjang, bahunya turun perlahan. Tubuhnya gemetar sedikit—entah karena nyeri, emosi, atau kelelahan yang menumpuk. Papa mendekat. “Kamu nggak apa-apa, Lea?”
Alea mengangguk kecil. “Aku cuma butuh waktu, Pa.” Papa menepuk bahunya pelan. “Istirahatlah.” Alea mengangguk lagi, lalu berbalik masuk ke kamarnya. Saat pintu tertutup, ia bersandar di baliknya, menutup mata. “Hari pertama memang berat,” gumamnya. “Tapi semoga besok… sedikit lebih ringan.”
☀️☀️