NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:635
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 22

Perjalanan dari rumah menuju rumah sakit memakan waktu sekitar 35 menit dengan kecepatan normal. Namun bisa saja lebih dari itu bila kondisi jalan sedang macet parah.

Mobil mereka terparkir bersisian dipelataran rumah sakit. Chandra keluar lebih dulu. Ia berjalan memutar berniat membukakan pintu untuk Sarah. Sementara Lily di belakang telah membuka pintunya sendri. Dengan bibir yang maju lima senti.

"Kelamaan, padahal mama bisa buka sendiri pintunya. Kenapa malah nunggu papa bukain?" Gerutunya sebal. Hentakan keras pada lantai mobil menggema, mengiringi langkahnya.

Sarah yang mendengar itu hanya tersenyum canggung. Merasa malu hingga ke tulang. Ia tak mengira akan mendapat omelan seperti itu dari putrinya sendiri.

Dan beruntungnya, Andra sedang tidak berada disini. Karena jika hal itu terjadi, rasa malunya bisa menjadi dua kali lipat berkat mulut berbisa sang putra.

"Kenapa? Muka kamu kok merah?" Tanya Chandra.

Bukannya menjawab, Sarah justru memukul bahu sang suami dengan keras. "Gara-gara kamu aku jadi di ledekin Lily."

Chandra mengerutkan kening. Merasa kebingungan. Bekas pukulan itu seolah tak meninggalkan rasa sakit. "Di ledekin gimana?" Tanyanya.

Lagi-lagi Sarah hanya diam. Mulutnya terkunci rapat. Sementara warna merah diwajahnya telah menjalar ke telinga. Ia mendorong pelan bahu chandra, memberi ruang untuk dirinya keluar.

"Awas ah, udah ditunggu nenek Sukma itu." Sarah segera melarikan diri sebelum diinterogasi lebih lanjut. Langkahnya cepat. Sementara kepalanya sesekali menengok ke belakang untuk melihat sang suami. Kemudian kembali ke depan, masih dengan rasa malu yang menyelimuti.

Di tempatnya, Chandra masih tak mengerti. Tak tahu juga apa yang dikatakan Lily. Tapi apapun itu, yang jelas berhasil membuat Sarah bertingkah malu-malu seperti anak remaja. Dan ia menyukainya. Rasanya seperti ingatannya ditarik kembali ke masa lalu.

Keluarga nenek Sukma juga telah keluar dari mobil. Kenzy segera berlari untuk menghampiri Lily. Suara sepatu yang ia kenakan terdengar nyaring ketika beradu dengan tanah. Hentakannya cepat, berirama. Menciptakan cahaya kerlap kerlip yang indah. Di tangan, sebuah lolipop seukuran wajahnya tergenggam erat.

"Lily!!" Panggilnya keras. Nafasnya terengah-engah.

Sembari memegangi dada, ia kembali berkata. "ini buat kamu. Jangan marah lagi ya?" Pintanya tulus.

Kenzy telah menyiapkan semuanya. Setelah bertanya pada ibu dan neneknya tentang bagaimana cara membuat anak perempuan mau memaafkannya. Salah satunya dengan menyiapkan hadiah berdasarkan apa yang disukainya.

Lily yang awalnya menunduk memandangi sepatu yang dipakai Kenzy, perlahan mengangkat wajahnya karena tertarik. Matanya berbinar cerah saat melihat lolipop besar berwarna-warni ada di depan matanya.

Namun sedetik kemudian, wajahnya kembali berubah. Bibirnya terlipat ke dalam, membentuk garis tipis. Sementara kepalan tangannya semakin rapat disisi tubuh, agak memutih. Ia ingin meraih lolipop itu, namun ragu-ragu. Gengsinya terlalu tinggi.

"Lily..." Suara Kenzy terdengar seperti merengek.

Pandangan Lily mengedar ke sekeliling. Semua orang tengah menatapnya. Ayah, ibu, kakek dan nenek, serta Tante wulan. Membuatnya kembali menunduk karena malu.

Jika bisa, sekarang ini ia ingin sekali menendang Kenzy sejauh mungkin dari hadapannya. Anak itu benar-benar selalu membuatnya kesal.

Hembusan nafasnya tertahan. Terasa susah dihirup meski mereka sedang berada diluar ruangan. Tangan kecilnya terjulur ke depan, meraih dengan cepat. "Iya aku maafin. Jangan diulangi lagi yah?"

Kenzy bersorak kegirangan. Ia melompat-lompat seperti kelinci putih kecil yang gemuk. Rambutnya yang tersisir rapi, yang berbentuk bulat seperti mangkuk, memantul setiap kali ia bergerak.

"Iya-iya, nggak akan. Kamu tenang aja." Katanya senang. Tangannya meraih tangan Lily. Lalu membentuk janji menggunakan jari kelingking yang saling bertaut.

"ayo!!" Ajak Kenzy kemudian. Menarik tangan Lily lembut. Menuntunnya untuk berjalan di depan, sembari bergandengan tangan, mendahului para orang tua memasuki gedung rumah sakit.

Sarah tak mampu menahan senyumnya. Ia menyenggol lengan Chandra, lalu berbisik pelan. "Lihat anakmu..."

Chandra terkekeh. Pandangannya lurus ke depan. Ke arah dimana dua anak kecil itu pergi. "Anakmu juga kan itu." Balasnya.

"Akhirnya mereka baikan juga." Kata kakek Budi.

"Anak itu setiap hari ribut terus pengin ketemu Lily. Kadang merengek, kadang nangis kenceng." Jelas nenek Sukma.

"Dia merasa bersalah. Setelah Lily pulang hari itu, Kenzy natap saya sambil bilang dia menyesal." Tambah Wulan.

Sarah memegang tangan Wulan, lalu mengelusnya lembut. "Anak-anak memang suka begitu mba. Selisih paham itu hal yang biasa. Kenzy itu anak yang baik, dia tahu salahnya dimana dan langsung meminta maaf."

Wulan merasa lega. Putranya memang kadang suka usil. Tak jarang sedikit kelewatan. Tapi ia tahu, Kenzy hanya bermaksud bercanda tanpa ada maksud lain. Apalagi menyakiti.

"Mungkin ini juga salah saya karena belum memasukan Lily ke sekolah. Saya pikir perlu mendiskusikan hal ini dulu dengan papanya. Tapi ternyata dia udah semangat sekali." Tambahnya.

Lorong rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya. Hilir mudik para petugas medis saling berdesakan, bersatu dengan orang-orang yang lewat. Langkah kaki lambat dan cepat bertemu membentuk gema yang memantul ke dinding.

Dua anak kecil yang awalnya berjalan di depan, harus ditarik paksa oleh orangtua mereka karena mengambil arah yang salah.

"Bukan kesitu nak, beloknya sini." Kata Sarah.

Lily dan Kenzy saling berpandangan, kemudian putar balik. Mengikuti Sarah.

"Katanya kamu tahu tempatnya?" Protes Kenzy.

Lily mengangkat bahu. "Kemarin emang tahu, tapi hari ini lupa lagi. Lagian disini tuh belok-belok jalannya. Jadi pusing."

Kenzy tak lagi berkomentar. Ia hanya terus berjalan mengikuti para orangtua sembari menggenggam tangan Lily erat. Seolah jika ia lengah sedikit, gadis kecil itu akan kabur lagi darinya.

"Lepas Kenzy, susah." Setiap tarikan yang Lily lakukan, membuat anak itu semakin mengeratkan pegangan.

Padahal saat ini rambut Lily sangat gatal. Ia ingin sekali menggaruknya. Tapi tak bisa. Sementara tangannya yang satu lagi sedang memegang lolipop.

Sesampainya di depan ruang perawatan, langkah nenek Sukma terhenti. Ia menatap empat orang dengan perawakan tinggi besar, berpenampilan professional dan penuh kewaspadaan sedang berdiri tegak membentuk barisan.

Kacamata hitam bertengger di hidung mereka. Memberi kesan yang sangat menakutkan. Lily mengintip dari sela tubuh-tubuh besar di depannya. Lalu beringsut maju, berusaha menyembunyikan diri disela kaki orangtuanya. Ia kira orang-orang itu tak akan kembali lagi kesini. Tapi ternyata ia salah. Mungkin mereka hanya pulang sebentar untuk bertemu anak dan istrinya.

Sementara itu, Kenzy yang tak mengerti, hanya mengikuti. Menempel pada tubuh Lily.

Alis nenek Sukma hampir menyatu. Kerutan di dahinya juga semakin kentara. Ia menatap Sarah lama, meminta penjelasan. Begitu juga dengan dua orang dewasa lainnya, yang juga bertanya-tanya.

"Ah itu nek, mereka..." Sarah kesulitan untuk menjelaskan. Ia berpikir itu bukan kapasitasnya. Namun...

"Ada sesuatu yang membuat mereka harus dijaga ketat nek." Kata Chandra pada akhirnya.

Nenek Sukma mengangguk, setelah itu tak bertanya lagi. Ia hanya tersenyum lembut untuk menanggapi. Apapun yang terjadi, ia hanya berharap semua orang akan baik-baik saja.

Saat pintu terbuka, cahaya matahari menembus lembut melalui tirai tipis, memenuhi ruangan. Terang, dingin dan sunyi. Mona tengah duduk bersandar sembari melihat ke luar jendela. Bunga-bunga telah bermekaran, terasa indah dan penuh warna. Menatapnya dapat menghilangkan bosan yang mendera.

Sementara Rama tengah tertidur pulas diatas sofa. Dengan mulut terbuka. Sesekali dengkuran halus keluar. Menjadi satu-satunya suara yang terdengar diruangan itu. Kakinya yang panjang menjuntai ke bawah. Terlihat tidak nyaman. Sementara boneka beruang milik Lily ada dalam pelukan.

Tepat diatas meja, kertas-kertas berserakan. Beberapa jatuh ke lantai. Bercampur dengan bungkus makanan yang belum sempat di buang. Disudut yang lain, gelas kopi tumpah. Mungkin tersenggol tanpa sengaja. Meninggalkan bekas kuning kehitaman di lantai.

Tatapan Jeffrey langsung tertuju pada tangan-tangan kecil yang saling bertaut. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Hanya dengusan yang keluar dari mulutnya tanpa ia sadari. Yang seolah menegaskan bahwa ia lah satu-satunya orang yang boleh menggenggam tangan Lily.

"Mas Jeffrey!!!" Teriakan itu menggema memenuhi ruangan.

Mona mengalihkan pandangan, lalu tersenyum hangat menyambut orang-orang itu. "Kalian datang."

Lily segera berlari begitu melihat Jeffrey telah sadar. Pegangan tangannya terlepas begitu saja dari Kenzy. Meninggalkan anak itu sendiri.

Nenek Sukma dan Wulan juga datang mendekat. Berdiri disisi ranjang. Buah tangan yang mereka bawa, ditaruh diatas meja.

"Gimana keadaan kamu nak?" Katanya.

"Saya baik-baik saja nek. Terima kasih banyak karena kalian sudah mau repot-repot datang kemari. Maaf disini sangat berantakan, Mas Rama begadang semalaman, jadi belum sempat di beresin." Balas Mona penuh sesal.

"Nggak masalah. Kamu istirahat lah dengan baik. Jangan pikirkan hal lainnya." Kata nenek lagi. Wulan setuju. Kesehatan lah yang nomor satu.

Mona mengangguk. Kemudian bergeser sedikit. Memberi ruang disisi ranjang. "Duduklah dulu, kalian pasti lelah."

Sarah membantu menarik kursi. Kemudian mendekatkannya pada Wulan dan kakek. Sementara nenek memilih menempatkan dirinya bersama Mona, sembari memijit kakinya.

Mata Mona berkaca-kaca. Kehangatan seperti ini sudah lama tak ia rasakan. Hidup jauh dari orangtua membuatnya terbiasa melakukan apapun sendiri. Dan kehadiran nenek Sukma dan keluarganya seperti mengisi kekosongan itu.

"Sepertinya suami kamu kelelahan dan kurang tidur." Kata kakek Budi. Yang sedari tadi mengamati pria itu tidur.

Mona mengiyakan. "Dia memang selalu begadang beberapa hari terakhir ini kek. Tidur hanya dua tiga jam saja. Saya juga nggak tega lihatnya."

Chandra menendang-nendang kaki Rama. Mencoba menggodanya. Namun pria itu tak bangun. Hanya gerakan kecil yang menandakan bahwa ia merasakan terusik.

Pelukan pada boneka beruang mengerat. Sementara bibirnya maju beberapa senti. Sebuah gumaman terdengar tak jelas.

"Sayang... Hhmmmp..."

Semua orang tak bisa menahan tawanya. Sedangkan Mona hanya meringis menahan malu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!