NovelToon NovelToon
The Antagonist'S Muse

The Antagonist'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Sistem
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: lailararista

Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya

Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .

Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merangkak ke ranjangnya

Suasana di dalam lift menuju apartemen terasa canggung. Vallerie berdiri tegak dengan sisa emosi yang masih bergejolak, sementara Hugo, bocah laki-laki itu, berdiri mematung di samping koper kecilnya. Ia memeluk sebuah mainan dinosaurus dengan erat, matanya yang bulat menatap angka-angka lantai yang terus berganti.

Vallerie meliriknya sekilas. Tidak ada tangisan, tidak ada rengekan. Bocah ini terlalu tenang untuk ukuran anak yang baru saja ditinggal ibunya di rumah orang asing.

"Dengar, Hugo," suara Vallerie memecah keheningan saat pintu lift berdenting terbuka. "Aku punya banyak urusan. Jangan menyentuh barang-barangku, jangan berteriak, dan jangan merepotkan ku, Mengerti?"

Hugo hanya mengangguk pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Iya, Kak."

Vallerie mendengus. Ia menarik koper Hugo dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk mencari kunci akses di dalam tasnya.

[Tuan Putri, target sedang berada di lorong. Dia baru saja keluar dari lift barang di ujung.] bisik sistem dengan nada antusias.

Vallerie tersenyum tipis.

Ia sengaja memperlambat gerakannya saat membuka pintu. Hugo yang penurut hanya berdiri di belakangnya. Saat langkah sepatu pantofel yang berat terdengar mendekat, Vallerie berpura-pura kesulitan dengan kunci pintunya yang sebenarnya tidak bermasalah.

"Aduh, Kenapa sih!" gumam Vallerie, cukup keras untuk didengar.

"Perlu bantuan?" sebuah suara bariton yang berat dan tenang menyapa dari arah belakang.

Vallerie menoleh, sedikit terkejut namun tetap anggun. Victor berdiri di sana, masih mengenakan setelan jas yang sangat rapi. Wajahnya datar, namun matanya yang tajam sempat menyapu penampilan Vallerie sebelum beralih ke sosok kecil di sampingnya.

"Oh, Kak Victor. sepertinya kunci kartu aku sedikit bermasalah," ucap Vallerie sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.

Tatapan Victor turun ke arah Hugo. "Aku dengan kamu tidak begitu akrab dengan keluarga mu."

Vallerie mengangguk membenarkan. "Benar, karena paksaan Freya, aku jadi terpaksa membawa Hugo."

Hugo, yang merasa namanya disebut, mendongak. Ia menatap Victor dengan polos, lalu tiba-tiba menyodorkan mainan dinosaurusnya ke arah pria itu. "Namanya Rexy. Dia tidak gigit."

Suasana mendadak hening. Vallerie menahan napas, khawatir Victor yang dikenal tidak suka gangguan akan merasa risih. Namun, di luar dugaan, sudut bibir Victor berkedut tipis nyaris menyerupai senyuman.

"Halo, Rexy," jawab Victor pendek, lalu kembali menatap Vallerie. "Kartumu terbalik."

Vallerie menunduk dan melihat kartu di tangannya. Benar saja. Ia sedikit merona karena malu yang dibuat-buat. "Ah, bodohnya. Sepertinya mengurus anak kecil benar-benar menguras fokus."

"Mungkin," ujar Victor datar. Ia menempelkan kartunya ke pintunya hingga terdengar bunyi klik. "Tidak perlu berpura-pura, melompat ke balkon ku seperti saat itu juga tidak masalah."

Mendengar itu Vallerie terpaku, kenapa dia bisa tahu saja niatnya. "Oh, kalau seperti itu, tunggu aku nanti malam ya."jawab Vallerie menggerling nakal

Vallerie menarik Hugo masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu. Vallerie melempar tasnya ke sofa dan menatap Hugo yang masih memegang dinosaurusnya.

"Kakak... lapar," cicit Hugo sambil sebelah tangan nya memegangi perutnya.

Vallerie menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak tahu cara makanan anak kecil, apalagi mengurus nutrisi. Namun, melihat Hugo yang tidak rewel sejak tadi, ada sedikit rasa iba yang muncul, walau tipis.

"Duduk di sana. Aku akan pesan delivery," perintah Vallerie. "Dan jangan berani-berani menaruh mainan liurmu itu di atas meja makan."

Hugo menurut, ia duduk di kursi tinggi dengan kaki menggantung, menunggu dengan sabar sementara Vallerie sibuk dengan ponselnya untuk memesan makanan

★★★

"Apa dia sudah tertidur?" tanya Vallerie dalam bisikan, matanya tak lepas menatap balkon tetangganya yang sunyi.

[Sepertinya sudah, Tuan Putri.] suara sistem menyahut datar di benaknya.

Vallerie mengangguk kecil. Ia menatap pembatas balkon, lalu melompat dengan ketangkasan yang sudah terlatih. Kakinya mendarat nyaris tanpa suara di balkon pria itu. Dengan gerakan perlahan, ia menyentuh gagang pintu. Aneh. Biasanya terkunci rapat, tapi kali ini tidak.

Vallerie melangkah masuk ke dalam kamar Victor yang temaram. Di atas ranjang, ia melihat siluet seorang pria yang tengah terlelap. Vallerie bergerak seperti bayangan, mengendap-endap hingga sampai di sisi tempat tidur.

Ia berlutut di sana, menumpu berat tubuhnya dengan tangan terlipat di tepi ranjang. Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, ia mengagumi garis wajah Victor yang tegas.

[Dia tampan sekali, bukan? Benar-benar tipe Tuan Putri,] goda sistem.

Tanpa sadar Vallerie mengangguk kecil, jemarinya terangkat, membelai halus hidung mancung itu sebelum turun menuju bibir. Namun, sebelum ujung jarinya sempat mendarat, sebuah gerakan secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Vallerie dengan kuat, membuat gadis itu tersentak.

Victor memalingkan wajahnya ke samping, menatap Vallerie dengan mata dingin yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kantuk. Vallerie hanya bisa melempar senyum canggung, mencoba menarik tangannya dari genggaman pria itu.

Victor bangkit dari posisi berbaringnya tanpa melepaskan Vallerie. Ia menarik tangan gadis itu, memaksanya berdiri lalu terduduk di atas ranjang, tepat di sisinya.

"Berani merangkak masuk ke kamarku? Kamu punya berapa nyawa, hmm?" desis Victor. Wajahnya mendekat hingga napasnya terasa di kulit Vallerie dalam jarak hanya beberapa sentimeter.

Bukannya gemetar, Vallerie justru merasa tertantang. Ia tersenyum tipis, dan tanpa aba-aba, mencuri satu kecupan singkat di bibir Victor, membuat pria itu mematung dengan mata membulat.

Vallerie menjauh sedikit, binar nakal terpancar di matanya. "Aku punya sembilan nyawa. Jadi, aku tidak punya alasan untuk takut mati," kekehnya pelan.

Victor memiringkan kepalanya, menatap lekat wajah Vallerie seolah sedang membaca sebuah teka-teki. "Kalau begitu, apa kamu bersedia mati untukku?" godanya dengan nada rendah.

"Kalau aku mati, apa kamu akan bersedih?" balas Vallerie balik bertanya. Tangannya mulai bergerak berani, meraba dada bidang Victor di balik piama yang sedikit terbuka. "Lagi pula... aku ingin bersamamu selamanya. Jika aku mati di dunia ini, kita akan bertemu dan kembali bersama di kehidupan selanjutnya."

Victor segera mencekal tangan Vallerie yang mulai menyelinap masuk ke dalam piamanya. "Benarkah?"

Vallerie mengangguk pasti.

"Apa menurutmu di kehidupan sebelumnya kita pernah bersama?" tanya Victor tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Vallerie terdiam, menatap Victor dengan dahi berkerut.

"Kehidupan sebelumnya?" gumam Vallerie heran.

Victor menyeringai tipis, membawa wajahnya kembali mendekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Jika ada kehidupan kedua, bukankah logis jika ada kehidupan sebelumnya?"

Vallerie mengangguk pelan. "Jadi... maksudmu?"

Victor tidak memberi jawaban. Ia justru menjauhkan wajahnya dan mendaratkan satu sentilan pelan di kening Vallerie.

"Kembalilah ke apartemenmu," perintahnya mutlak.

Vallerie mengerucutkan bibirnya kesal sembari mengelus keningnya yang memerah. "Aku mau tidur di sini," jawabnya keras kepala. Tanpa menunggu persetujuan, ia merebahkan tubuhnya di samping Victor dan menarik selimut hingga ke dada.

Victor menatap datar pada Vallerie yang kini sudah memejamkan mata di ranjangnya. "Kamu mau meninggalkan adikmu sendirian?"

"Biarkan saja, dia sudah tidur nyenyak."

1
Raine
kan sistem bisa dengar kata hati tanpa harus mengeluarkan suara
Raine
hmm sepertinya aleta si drama quenn,
Alissia
/Smile//Smile/
Fahreziy
nexk
Fahreziy
👣👣👣👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!