NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Hitam 4

Warisan Mutiara Hitam 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:61k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kokop Gann

(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)

Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.

Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.

Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian di Balik Tabir Perak

Lantai menara Paviliun Penyulingan Awan terbuat dari kristal transparan yang menampakkan gulungan awan emas yang bergerak di bawah kaki. Setiap langkah Chen Kai di dalam bangunan ini terasa seperti menginjak lapisan energi yang padat. Di sepanjang koridor, ia melihat murid-murid sekte yang mengenakan jubah sutra putih dengan bordiran kuali perak, masing-masing memancarkan aura keangkuhan yang lahir dari status mereka sebagai "Tangan Dewa".

"Tuan... tempat ini benar-benar pusat alkimia Surga Pertama," bisik Mo Yan, wajahnya pucat karena gugup. Ia menunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan identitasnya sebagai pelarian.

"Tetap tenang," jawab Chen Kai pelan. "Ingat, kau hanyalah asistenku hari ini."

Mereka dipandu oleh seorang diaken menuju sebuah aula tertutup di tingkat ketiga. Aula itu luas namun sunyi, hanya ada sebuah tungku besar di tengah yang memancarkan aroma cendana abadi. Di balik meja giok di ujung ruangan, wanita tua yang tadi mengamati dari jendela sudah menunggu.

Ia adalah Tetua Yun, pengawas utama urusan luar Sekte Kuali Awan. Matanya yang tajam memindai Chen Kai dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah ia sedang membedah struktur meridian pemuda di depannya itu.

"Aku sudah melihat pil yang kau bawa di gerbang tadi," suara Tetua Yun jernih namun mengandung tekanan spiritual yang cukup untuk membuat kultivator biasa sesak napas. "Pil Awan Penembus Roh dengan pola sempurna. Di Surga Pertama, hanya sedikit orang yang bisa melakukannya tanpa bantuan tungku tingkat tinggi. Dari klan mana kau berasal?"

"Saya hanya seorang pengembara yang belajar dari sisa-sisa catatan kuno, Tetua," jawab Chen Kai dengan nada hormat yang terkendali.

"Sisa catatan kuno?" Tetua Yun tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Alkimia bukan sekadar mengikuti instruksi. Ia adalah penyatuan dengan Dao. Baiklah, jika kau benar-benar memiliki kemampuan itu, buktikan di depanku."

Tetua Yun melambaikan tangannya. Tiga kotak kayu hitam melayang dan mendarat di meja depan Chen Kai.

"Di dalamnya terdapat Akar Roh Terbakar, Bunga Es Abadi, dan Kristal Pasir Hampa. Tugasmu sederhana: murnikan ketiganya menjadi satu cairan esensi stabil dalam waktu satu dupa terbakar. Tanpa menggunakan tungku."

Mo Yan tersentak di belakang Chen Kai. "Tanpa tungku? Itu... itu pemurnian tangan kosong? Tapi bahan-bahan itu memiliki polaritas yang berlawanan!"

Akar Roh Terbakar bersifat api ekstrem, sedangkan Bunga Es Abadi adalah es murni. Menggabungkan keduanya tanpa media penengah tungku biasanya akan mengakibatkan ledakan energi yang bisa menghancurkan satu ruangan.

Chen Kai menatap ketiga bahan tersebut. Ia tahu Tetua Yun sedang mengujinya dengan metode yang sangat ekstrem untuk melihat rahasia aliran energinya.

"Saya mengerti," ucap Chen Kai.

Ia melangkah maju. Ia tidak mengeluarkan api alkimia seperti yang diharapkan. Sebaliknya, ia merentangkan kedua telapak tangannya di atas bahan-bahan tersebut.

"Guru, aku akan menggunakan sedikit resonansi dari Mutiara Hitam untuk mengompresi temperaturnya," batin Chen Kai.

"Hati-hati, Nak," bisik suara Yao yang sangat samar dari dalam Dantian. "Gunakan gravitasi untuk menekan titik didihnya. Jangan biarkan riak spasialnya bocor keluar, atau dia akan tahu kau membawa Benih Semesta."

Chen Kai menarik napas panjang.

Seketika, udara di antara telapak tangan Chen Kai menjadi padat. Tekanan atmosfer di titik itu melonjak ribuan kali lipat. Akar Roh dan Bunga Es yang tadinya bereaksi liar saat didekatkan, tiba-tiba "terkunci" oleh tekanan gravitasi Chen Kai.

Tetua Yun bangkit dari kursinya, matanya melebar. "Teknik gravitasi? Kau menggunakan berat dunia untuk menekan konflik elemen?"

Chen Kai tidak menjawab. Ia memfokuskan pikirannya. Esensi Dewa di dalam tubuhnya mulai memadat, membentuk pusaran kecil di ujung jarinya. Ia memutar kedua tangannya, memaksa sari pati dari ketiga bahan itu keluar dan menyatu secara paksa.

SREEEET...

Awan uap putih keluar dari antara telapak tangannya. Perlahan, sebuah bola cairan berwarna ungu kebiruan terbentuk, berputar dengan stabil di udara. Tidak ada ledakan, tidak ada percikan energi yang terbuang.

Saat dupa hampir habis, Chen Kai menurunkan tangannya. Bola cairan itu melayang jatuh ke dalam botol giok yang sudah disiapkan.

"Selesai, Tetua," kata Chen Kai, napasnya sedikit memburu namun wajahnya tetap tenang.

Tetua Yun mendekat, mengambil botol itu dan mengamatinya. Tangannya sedikit gemetar. Kemurnian cairan ini... melampaui standar murid elit manapun di sektenya.

"Luar biasa..." gumam Tetua Yun. "Kau bukan sekadar alkemis. Kau memiliki bakat alami dalam mengendalikan hukum ruang dan berat. Aku akan memberikanmu Lencana Alkemis Tingkat Tiga hari ini juga."

Ia memberikan sebuah lencana logam perak kepada Chen Kai. "Dengan lencana ini, kau bebas masuk ke lantai dua Paviliun manapun. Dan... kau diundang untuk menghadiri Ritual Embun Kristal Surga besok malam sebagai tamu kehormatanku."

Chen Kai menerima lencana itu. "Terima kasih, Tetua."

"Tapi ingat satu hal," Tetua Yun menatap tajam ke dalam mata Chen Kai. "Mata Jaring Takdir di kota ini sangat sensitif terhadap 'anomali'. Jangan lakukan hal-hal yang bisa membuat mereka tertarik padamu."

Chen Kai mengangguk, namun di dalam hatinya, ia menyeringai. Ia baru saja mendapatkan kunci masuk yang ia butuhkan. Besok malam, di tengah kemeriahan ritual, ia tidak hanya akan mengambil Embun Kristal, tapi juga akan menyelinap ke Arsip untuk mengambil Catatan Perak yang dicari Si Buta Jiu.

Saat ia berjalan keluar aula bersama Mo Yan, Chen Kai merasakan getaran dingin di punggungnya. Ia tahu, meskipun ia lolos ujian fisik, kecurigaan Tetua Yun baru saja dimulai. Perang tanpa pedang ini semakin memanas.

1
Jeffie Firmansyah
tidak sabar tunggu update nya 💪💪💪💪👍👍👍👍
terimakasih Thor 🙏🙏🙏
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎‍♂️🙎‍♂️🙎‍♂️Ⓜ️
saniscara patriawuha.
sikattt manggg chennnn...
MyOne
Ⓜ️😏😏😏Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😎😎😎Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤜🏻💥🤛🏻Ⓜ️
Cak Rokim Dakas
jangan lama² nyambungnya Thor ..
Dobi Papa Sejati
✔️
nyoman suta wirawan
mantap
Wahyu Roro Ireng.
aku suka banget alur ceritanya ,ya walau terkadang penulisan nama aktor keliru ,iru wajar..

dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Sibungas
mantab
MF
💪/Drowsy/💪💪💪💪💪
Dian Purnomo
tetap setia sampai akhir thor
Dian Purnomo
up.. lanjutkan thor semangat💪💪💪
Jojo Firdaus
💪💪💪
jaka saba jati
/Bomb//Bomb//Bomb/
Jeffie Firmansyah
hadeuhhh .... jd ikutan sesek bacanya... seolah q ,jd ikutan perang
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪
rosidi didi
keren
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Taklukkan 🔥🌽
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!