Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - Keputusan yang Tidak Ditawar
Keputusan Nadira Savitri tidak datang dalam bentuk pengumuman.
Dia tidak berdiri di depan siapa pun.
Tidak menjelaskan.
Tidak meminta izin.
Dia hanya berhenti.
Pagi itu, Nadira mengirim satu surel singkat ke sekretariat BEM.
[Dengan ini saya menyatakan mengundurkan diri dari seluruh kepanitiaan dan struktur aktif BEM terhitung hari ini. Seluruh tanggung jawab telah saya selesaikan dan arsip sudah saya serahkan.]
Tidak ada alasan. Tidak ada drama.
Surel itu terkirim pukul 06.32 WIB.
Pada pukul 07.10 WIB, kampus mulai berisik.
Raka membaca surel itu tiga kali. Layar laptopnya terasa terlalu terang. Kata mengundurkan diri seolah menonjok matanya berkali-kali. Tangannya kaku di atas meja.
"Ini bercanda?" Gumamnya.
Aluna yang duduk di seberang mendekat. "Kenapa?"
Raka memutar layar ke arahnya.
Aluna membaca cepat. Senyumnya muncul... lalu hilang.
"Dia... serius?" Katanya pelan.
Raka berdiri mendadak. Kursinya bergeser keras. "Aku ke kelasnya."
Aluna refleks meraih lengannya. "Raka, tunggu. Jangan sekarang."
Raka menepis dengan halus tapi tegas. "Aku harus bicara."
Itu pertama kalinya Raka tidak menunggu persetujuan Aluna.
Nadira sedang duduk di bangku belakang kelas Metodologi Penelitian. Buku catatannya terbuka, rapi. Pulpen bergerak tenang.
Dia tidak melihat ke arah pintu ketika Raka masuk dengan napas terengah.
"Dir." Panggil Raka tertahan.
Beberapa kepala menoleh.
Nadira mengangkat mata perlahan. Tidak terkejut. Tidak tergesa.
"Kita bicara nanti." Katanya pelan.
"Aku perlu sekarang."
Dosen di depan melirik tajam.
"Mahasiswa itu, silakan duduk atau keluar."
Raka terdiam. Dia berdiri beberapa detik, lalu berbalik dan keluar kelas.
Nadira kembali menunduk ke bukunya. Tangannya sedikit gemetar... tapi dia tetap menulis.
Di luar kelas, Raka mengusap wajahnya frustasi. Ini bukan skenario yang dia bayangkan. Dia pikir Nadira akan marah. Akan menuntut. Akan menangis.
Bukan... menghilang dengan rapi.
Aluna menyusul, langkahnya cepat.
"Raka, kamu bikin semua orang lihat."
"Aku nggak peduli." Potong Raka. "Dia mundur tanpa ngomong apa-apa."
Aluna menarik napas dalam. "Mungkin ini cuma emosinya aja. Nanti juga balik."
Raka menatapnya tajam. "Kamu yakin?'
Aluna terdiam sepersekian detik. Cukup lama untuk membuat Raka menyadarinya.
Siang itu, konsekuensi pertama muncul.
Sponsor utama menelepon.
"Data koordinasi internal kalian kacau." Kata suara di seberang. "Kami biasa komunikasi lewat Nadira. Sekarang siapa?"
Raka terdiam.
Dia baru sadar... banyak hal berjalan mulus bukan karena sistem, tapi karena satu orang yang selama ini dia anggap selalu ada.
Raka memanggil rapat darurat. Kursi Nadira kosong. Dan untuk pertama kalinya, kekosongan itu terasa nyata.
Aluna mulai kehilangan ritme. Biasanya, dia yang paling tenang. Yang mengatur narasi. Yang menenangkan keadaan.
Hari ini, dia bicara terlalu cepat. "Kita bisa bagi tugas Nadira." Katanya. "Nggak sulit."
Seseorang mengangkat tangan. "Masalahnya bukan tugasnya. Tapi relasi. Nadira yang pegang komunikasi."
Yang lain menimpali. "Dan dia yang biasa beresin konflik.'
Raka duduk membisu.
Aluna tersenyum tegang. "Ya... kita bisa belajar."
Belajar, pikir Raka pahit.
Kenapa baru sekarang?
Sore hari, Raka akhirnya menemukan Nadira di perpustakaan.
Perempuan itu duduk di meja dekat jendela, membaca jurnal. Tasnya di samping, ponselnya tak terlihat.
"Dir." Panggil Raka pelan.
Nadira menutup bukunya. "Iya."
"Kamu nggak bisa mundur gitu aja."
Nada Raka bukan marah. Lebih... panik.
"Aku bisa." Jawab Nadira tenang.
"Kita udah sama-sama bangun semua ini."
Nadira mengangguk kecil.
"Kamu yang bangun. Aku yang menjaga."
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
'Aku salah." Katanya akhirnya. "Soal kemarin. Soal diamku."
Nadira menatapnya lama.
"Kesalahan kamu bukan diam." Katanya lembut. "Tapi memilih nyaman meski tahu aku terluka."
Raka membuka mulut. Menutupnya lagi.
"Aku capek jadi tempat singgah." Lanjut Nadira. "Aku mau jadi rumah buat diri sendiri."
Dia berdiri, memasukkan buku ke tas.
"Mulai sekarang, aku bukan bagian dari itu lagi."
Raka berdiri, refleks meraih pergelangan tangannya.
"Dir..."
Nadira menarik tangannya pelan. "Lepasin."
Satu kata itu cukup.
Aluna mendengar kabar itu malamnya.
Raka pulang lebih awal. Tidak mengirim pesan. Tidak menelpon.
Dia mengetik cepat.
[Raka, kamu di mana?]
Tidak dibalas.
Untuk pertama kalinya, Aluna merasa panik. Dia mencoba menelepon. Panggilan ditolak. Aluna menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.
Seharusnya Nadira yang runtuh, pikirnya.
Kenapa malah aku yang kehilangan kendali?
Dia membanting ponsel ke kasur. Nafasnya terengah.
Kesalahan kecil mulai muncul... emosi yang tidak terkendali, keputusan yang terlalu cepat.
Retakan pertama.
Di kos, Nadira duduk di depan cermin.
Dia memandang pantulan dirinya lama. Wajahnya lebih tirus. Matanya lelah... tapi jernih.
Salsa mengetuk pintu.
"Kamu yakin sama keputusan kamu?"
Nadira mengangguk.
"Aku mati sekali karena terlalu mencintai. Aku nggak mau mati lagi."
Dia tersenyum kecil.
"Kali ini, aku pilih aku."
Dia mematikan lampu, berbaring dengan napas tenang.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada penyesalan.
Di tempat lain, Raka duduk sendirian di mobil, mesin mati. Ponselnya menyala... tanpa pesan dari Nadira.
Baru sekarang dia mengerti. Bukan Nadira yang terlalu sensitif. Dia yang terlalu yakin Nadira tidak akan pergi. Dan keyakinan itu... salah. Nadia telah memilih jalannya.
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚
𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁
𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠