NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 - Keputusan yang Tidak Ditawar

Keputusan Nadira Savitri tidak datang dalam bentuk pengumuman.

Dia tidak berdiri di depan siapa pun.

Tidak menjelaskan.

Tidak meminta izin.

Dia hanya berhenti.

Pagi itu, Nadira mengirim satu surel singkat ke sekretariat BEM.

[Dengan ini saya menyatakan mengundurkan diri dari seluruh kepanitiaan dan struktur aktif BEM terhitung hari ini. Seluruh tanggung jawab telah saya selesaikan dan arsip sudah saya serahkan.]

Tidak ada alasan. Tidak ada drama.

Surel itu terkirim pukul 06.32 WIB.

Pada pukul 07.10 WIB, kampus mulai berisik.

Raka membaca surel itu tiga kali. Layar laptopnya terasa terlalu terang. Kata mengundurkan diri seolah menonjok matanya berkali-kali. Tangannya kaku di atas meja.

"Ini bercanda?" Gumamnya.

Aluna yang duduk di seberang mendekat. "Kenapa?"

Raka memutar layar ke arahnya.

Aluna membaca cepat. Senyumnya muncul... lalu hilang.

"Dia... serius?" Katanya pelan.

Raka berdiri mendadak. Kursinya bergeser keras. "Aku ke kelasnya."

Aluna refleks meraih lengannya. "Raka, tunggu. Jangan sekarang."

Raka menepis dengan halus tapi tegas. "Aku harus bicara."

Itu pertama kalinya Raka tidak menunggu persetujuan Aluna.

Nadira sedang duduk di bangku belakang kelas Metodologi Penelitian. Buku catatannya terbuka, rapi. Pulpen bergerak tenang.

Dia tidak melihat ke arah pintu ketika Raka masuk dengan napas terengah.

"Dir." Panggil Raka tertahan.

Beberapa kepala menoleh.

Nadira mengangkat mata perlahan. Tidak terkejut. Tidak tergesa.

"Kita bicara nanti." Katanya pelan.

"Aku perlu sekarang."

Dosen di depan melirik tajam.

"Mahasiswa itu, silakan duduk atau keluar."

Raka terdiam. Dia berdiri beberapa detik, lalu berbalik dan keluar kelas.

Nadira kembali menunduk ke bukunya. Tangannya sedikit gemetar... tapi dia tetap menulis.

Di luar kelas, Raka mengusap wajahnya frustasi. Ini bukan skenario yang dia bayangkan. Dia pikir Nadira akan marah. Akan menuntut. Akan menangis.

Bukan... menghilang dengan rapi.

Aluna menyusul, langkahnya cepat.

"Raka, kamu bikin semua orang lihat."

"Aku nggak peduli." Potong Raka. "Dia mundur tanpa ngomong apa-apa."

Aluna menarik napas dalam. "Mungkin ini cuma emosinya aja. Nanti juga balik."

Raka menatapnya tajam. "Kamu yakin?'

Aluna terdiam sepersekian detik. Cukup lama untuk membuat Raka menyadarinya.

Siang itu, konsekuensi pertama muncul.

Sponsor utama menelepon.

"Data koordinasi internal kalian kacau." Kata suara di seberang. "Kami biasa komunikasi lewat Nadira. Sekarang siapa?"

Raka terdiam.

Dia baru sadar... banyak hal berjalan mulus bukan karena sistem, tapi karena satu orang yang selama ini dia anggap selalu ada.

Raka memanggil rapat darurat. Kursi Nadira kosong. Dan untuk pertama kalinya, kekosongan itu terasa nyata.

Aluna mulai kehilangan ritme. Biasanya, dia yang paling tenang. Yang mengatur narasi. Yang menenangkan keadaan.

Hari ini, dia bicara terlalu cepat. "Kita bisa bagi tugas Nadira." Katanya. "Nggak sulit."

Seseorang mengangkat tangan. "Masalahnya bukan tugasnya. Tapi relasi. Nadira yang pegang komunikasi."

Yang lain menimpali. "Dan dia yang biasa beresin konflik.'

Raka duduk membisu.

Aluna tersenyum tegang. "Ya... kita bisa belajar."

Belajar, pikir Raka pahit.

Kenapa baru sekarang?

Sore hari, Raka akhirnya menemukan Nadira di perpustakaan.

Perempuan itu duduk di meja dekat jendela, membaca jurnal. Tasnya di samping, ponselnya tak terlihat.

"Dir." Panggil Raka pelan.

Nadira menutup bukunya. "Iya."

"Kamu nggak bisa mundur gitu aja."

Nada Raka bukan marah. Lebih... panik.

"Aku bisa." Jawab Nadira tenang.

"Kita udah sama-sama bangun semua ini."

Nadira mengangguk kecil.

"Kamu yang bangun. Aku yang menjaga."

Kalimat itu membuat Raka terdiam.

'Aku salah." Katanya akhirnya. "Soal kemarin. Soal diamku."

Nadira menatapnya lama.

"Kesalahan kamu bukan diam." Katanya lembut. "Tapi memilih nyaman meski tahu aku terluka."

Raka membuka mulut. Menutupnya lagi.

"Aku capek jadi tempat singgah." Lanjut Nadira. "Aku mau jadi rumah buat diri sendiri."

Dia berdiri, memasukkan buku ke tas.

"Mulai sekarang, aku bukan bagian dari itu lagi."

Raka berdiri, refleks meraih pergelangan tangannya.

"Dir..."

Nadira menarik tangannya pelan. "Lepasin."

Satu kata itu cukup.

Aluna mendengar kabar itu malamnya.

Raka pulang lebih awal. Tidak mengirim pesan. Tidak menelpon.

Dia mengetik cepat.

[Raka, kamu di mana?]

Tidak dibalas.

Untuk pertama kalinya, Aluna merasa panik. Dia mencoba menelepon. Panggilan ditolak. Aluna menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.

Seharusnya Nadira yang runtuh, pikirnya.

Kenapa malah aku yang kehilangan kendali?

Dia membanting ponsel ke kasur. Nafasnya terengah.

Kesalahan kecil mulai muncul... emosi yang tidak terkendali, keputusan yang terlalu cepat.

Retakan pertama.

Di kos, Nadira duduk di depan cermin.

Dia memandang pantulan dirinya lama. Wajahnya lebih tirus. Matanya lelah... tapi jernih.

Salsa mengetuk pintu.

"Kamu yakin sama keputusan kamu?"

Nadira mengangguk.

"Aku mati sekali karena terlalu mencintai. Aku nggak mau mati lagi."

Dia tersenyum kecil.

"Kali ini, aku pilih aku."

Dia mematikan lampu, berbaring dengan napas tenang.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada penyesalan.

Di tempat lain, Raka duduk sendirian di mobil, mesin mati. Ponselnya menyala... tanpa pesan dari Nadira.

Baru sekarang dia mengerti. Bukan Nadira yang terlalu sensitif. Dia yang terlalu yakin Nadira tidak akan pergi. Dan keyakinan itu... salah. Nadia telah memilih jalannya.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!