Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetap HTS
Jam sepuluh malam, Fira lagi rebahan di kasur sambil scroll ponsel tanpa fokus. Matanya udah sembab gara-gara nangis dari sore, kepalanya pusing, bahkan hatinya terasa kosong.
Tiba-tiba pintu kamar Fira di ketuk dari luar.
"Fira. Fir, buka pintunya. Ini aku, Ditya."
Jantung Fira langsung berdetak kenceng. Ditya? Jam segini? Dateng ke kostnya?
"Fira, please. Aku tau kamu di ada dalam. Buka pintunya, aku harus bicara sama kamu."
Fira duduk di pinggir kasur, bingung. Sebagian dari dirinya pengen membuka pintu, pengen ketemu Ditya, pengen denger apa yang mau dia bicarakan. Tapi sebagian lain bilang 'jangan, kamu cuma bakal sakit lagi'.
"Fira, kumohon." Suara Ditya dari luar mulai bergetar. "Buka pintunya, atau aku nggak akan pergi dari sini sampai kamu keluar."
Fira menghela nafas berat, lalu ia bangkit, dan berjalan ke pintu dengan kaki yang terasa lemes. Tangannya gemetar pas menggenggam gagang pintu.
Pintu terbuka, dan di depannya Ditya sudah berdiri, dengan keadaan yang berantakan. Rambut acak-acakan, mata sembab, nafasnya ngos-ngosan seperti abis lari.
"Dit, kenapa kamu ke sini malam-malam?"
"Soalnya kamu nggak membalas pesan dari aku. Aku harus ketemu kamu, Fir. Harus bicara."
"Bicara apa? Kita udah bicara di Alun-Alun kan? Dan semuanya udah jelas."
"Belum Fir, semuanya belum jelas. Aku mau kita bicara lagi. Please, keluar sebentar aja. Kita bicara di luar."
Fira merasa ragu, tapi akhirnya dia mengangguk, lalu mengambil cardigan terus keluar. Mereka duduk di tangga depan kost yang sepi, jaraknya agak jauh satu sama lain.
Ditya menatap Fira lama, hatinya terasa sakit saat melihat mata Fira yang sembab. Pasti abis nangis, dan itu gara-gara dia.
"Fira," Ditya mulai, suaranya pelan tapi bergetar. "Maafkan aku."
Fira hanya diem, sambil melihat tanah.
"Maafkan aku yang udah memberi harapan, tapi belum bisa memberi kepastian. Maafkan aku yang bilang sayang, tapi nggak bisa bilang cinta. Maafkan akun, yang membuat kamu merasa jadi pilihan kedua."
Air mata Fira mulai turun, tapi dia nggak bicara apa-apa.
"Aku tau, aku salah. Aku nggak seharusnya medeketi kamu, kalau aku sendiri belum bener-bener move on dari Jessica. Nggak seharusnya aku memberi harapan, kalau ternyata di dalam hati aku masih ada yang lain."
"Terus kenapa kamu lakuin itu, Dit?" akhirnya Fira membuka suara, nadanya datar tapi ada rasa sakit di sana. "Kenapa kamu deketin aku, kalau kamu tau kamu sendiri belum siap?"
Ditya menutup mata, nafasnya terasa berat.
"Soalnya, waktu ketemu sama kamu, aku merasa ada sebuah harapan, Fir. Harapan buat bisa bahagia lagi, harapan buat bisa ninggalin Jessica. Dan aku kira, dengan deket sama kamu bisa menyembuhkan itu semua. Tapi ternyata..."
"Ternyata aku cuma obat penenang buat kamu, iya?!" potong Fira, suaranya mulai naik. "Cuma pengalih dari sakit hati kamu? Dan aku cuma pelarian?"
"Bukan begitu, Fira."
"Terus apa?! Jelaskan sama aku sekarang, Dit!"
Ditya membuka mata, lalu menatap Fira yang udah menangis.
"Awalnya mungkin iya, mungkin kamu cuma pengalihan, tapi lama-lama aku beneran sayang sama kamu, Fir."
"Tapi kamu nggak bisa bilang cinta kan?" tanya Fira sambil ngelap air mata kasar. "Kamu nggak bisa bilang 'aku cinta kamu Fira', iya kan?"
Ditya diam, mulutnya terbuka tapi kata-kata itu nggak keluar. Dan keheningan itu udah jadi jawabannya.
"Kenapa, Dit." isak Fira sambil menunduk. "Kenapa kamu nggak bisa bilang itu? Apa aku nggak cukup buat kamu cintai?"
"Nggak, bukan kamu yang kurang. Tapi aku yang belum bisa, aku masih takut Fira. Takut nggak bisa jadi yang kamu butuhkan, aku takut nyakitin kamu, sama seperti aku nyakitin Jessica dulu."
"Tapi kamu udah nyakitin aku, Ditya!" teriak Fira sambil menatapnya. "Kamu udah nyakitin aku dengan memberi harapan, tapi kamu nggak bisa memberi kepastian! Dengan membuat aku jatuh cinta, tapi kamu nggak bisa membalas perasaan aku dengan utuh! Itu lebih sakit dari apapun, Ditya!"
Ditya menangis, air matanya mengalir deras.
"Maafkan aku, Fira. Aku nggak bermaksud buat nyakitin kamu."
"Tapi kamu udah nyakitin aku, Dit. Dan sekarang aku nggak tau harus gimana. Apa aku haru menunggu sampai kamu siap? Atau aku yang harus pergi?"
Pertanyaan itu begitu menusuk dalem banget ke hati Ditya. Dia melihat Fira yang tengah menangis, hatinya merasa hancur. Dia nggak mau Fira pergi, tapi dia juga belum bisa memberi apa yang Fira mau.
"Aku nggak mau kamu pergi, Fira," bisik Ditya pelan sambil masih menangis.
"Terus?"
"Maafkan aku, tpi dari awal kan kita udah komitmen untuk tidak memakai hati. Dan kita juga udah sepakat kalo kita hanya sebetas HTS, nggak lebih dari itu," jelas Ditya sambil menunduk.
Fira ketawa pahit sambil mengusap air mata.
"Iya aku tahu, kita emang udah sepakat buat jalin HTS. Tapi... apa kita akan HTS untuk selamanya?"
"Aku nggak tau, Fira. Tapi suatu saat, hanya ada dua pilihan. Kita yang akhirnya pacaran, atau kita HTS untuk selamanya."
"Baiklah, Dit. Jika itu mau kamu, mulai sekarang jangan pakai hati atau perasaan apapun. Karena kita hanya HTS, nggak lebih dari itu."
"Aku nggak mau kehilangan kamu, Fira. Aku udah nyaman sama kamu, meskipun kita cuma HTS, tapi kamu berarti banget buat aku," jelas Ditya dengan wajah yang tertunduk.
Fira melihat Ditya dengan tatapan yang nggak percaya.
"Ditya, aku juga udah nyaman sama kamu. Aku mau kita baik-baik aja, sama seperti dulu, yang selalu cerita tentang hal apapun. Aku nggak mau kita berantem terus cuma karena soal status. Maafkan aku, Dit."
Ditya mengangkat wajahnya, lalu menatap Fira dengan tatapan yang seolah takut kehilangan.
Ditya memegang tangan Fira, "Mungkin sekarang kita cuma HTS. Tapi siapa tau. suatu saat nanti kita bisa pacaran."
"Aku juga nggak mau egois, maaf kalo kesannya aku memaksa kamu untuk menjelaskan tentang hubungan kita," ucap Fira lirih.
Mendengar itu, Ditya menghela nafas pelan.
"Aku juga minta maaf, mulai sekarang jangan ada kata berantem lagi ya. Dan asal kamu tahu, meskipun kita cuma HTS, tapi aku nyaman sama kamu, dan nggak mau kehilangan kamu."
Seketika suasana menjadi hening, tak ada obrolan lagi di antara mereka. Ditya masih menggenggam tangan Fira erat, hingga akhirnya, Fira kembali berbicara.
"Ditya, apa kita akan selamanya menjalin HTS kayak gini?" tanya Fira yang terlihat ragu.
Ditya menghela nafas pelan, "Aku juga nggak tahu, Fir. Tapi... kita lihat saja nanti, seperti yang aku bilang tadi, hanya ada dua kemungkinan. Kita HTS selamanya, atau kita berakhir dengan status yang lebih jelas, yaitu pacaran."
Setelah obrolan itu, Ditya akhirnya pamit pulang. Dan setelah kepulangan Ditya, Fira duduk di tepi kasur sambil memikirkan ucapan Ditya yang masih ingin tetap HTS.
Fira merebahkan tubuhnya di atas kasur, sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Ditya, apa kita akan bisa sampai pacaran? Apa kita akan mempunyai hubungan yang jelas? Aku hanya berharap, suatu saat kita bisa punya hubungan yang jelas," ucap Fira pelan, yang seakan Ditya ada di hadapannya.
bab ini kita full karokean...😅😅😅😅
bener gak sih nadanya gini....😅😅😅