NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Bisikan Sang Iblis

Lonceng kecil di atas pintu toko bunga milik nyonya Lyn beraduk pelan saat mereka berempat memasukinya.

Aroma ribuan bunga—mawar, lili, dan krisan—langsung menyergap indra penciuman, sebuah wangi yang biasanya menenangkan bagi Lunaris.

Namun, siang ini, wangi harum itu terasa menyesakkan, bercampur dengan ketegangan yang menguar pekat di udara.

Nyonya Lyn segera menggiring Lunaris untuk duduk di sebuah kursi rotan di sudut ruangan, dekat meja kasir, agak jauh dari dua pemuda yang lebih memilih tempat dekat dengan jendela. Wanita tua itu bergegas mengambil kotak P3K dari laci, wajahnya masih menyiratkan kecemasan yang mendalam.

"Kemari, nak. Biar aku lihat apakah ada yang terluka," Ujar Nyonya Lyn lembut, menarik perlahan lengan baju panjang yang dikenakan Lunaris.

Lunaris meringis pelan saat kain itu diangkat. Di sana, di kulit lengannya yang pucat, terlihat jelas bekas-bekas lebam ungu kebiruan yang mengerikan.

Beberapa goresan panjang juga menghiasi kulitnya, sisa dari "permainan" kejam Bracia di toilet sekolah dua hari lalu di toilet sekolah yang sudah tidak terpakai.

Nyonya Lyn menutup mulutnya menahan pekikan ngeri. "Ya Tuhan... Lunaris... kenapa banyak sekali? Apa ini... ini bekas pukulan?"

Mata tua itu menatap Lunaris penuh tanya dan rasa sakit. "Siapa yang melakukan ini padamu, Nak? Katakan padaku."

Mendengar pekikan dari nyonya Lyn membuat Aaron segera mendekati Lunaris dan nyonya Lyn. Mata Aaron tidak berkedip saat melihat luka lebam memanjang di lengan Lunaris, dan Aaron berani menjamin jika lebam-lebam itu tidak hanya ada di lengan, tapi mungkin juga dibagian tubuh yang lain.

"Lun, kenapa bisa kaya gini? Sebenernya apa yang udah terjadi sama lo?!" Tanya Aaron menuntu

Lunaris memalingkan wajahnya, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih. Tenggorokannya tercekat.

Bagaimana ia bisa cerita?

Bayangan kejadian itu kembali berputar di kepalanya seperti film horor. Tangan-tangan kotor Bracia dan teman-temannya, tawa mereka yang melengking, tangan yang membuka paksa seragamnya, dan sentuhan-sentuhan menjijikkan yang merendahkan harga dirinya sebagai perempuan.

Rasa tidak berdaya saat itu begitu melumpuhkan. Rasa jijik terhadap tubuhnya sendiri yang tidak mampu melawan masih membekas, seolah kotoran itu tidak akan pernah hilang meski ia mandi ribuan kali.

Tidak. Lunaris tidak bisa menceritakannya. Ia tidak ingin melihat tatapan kasihan dari Nyonya Lyn atau kemarahan Aaron. Itu hanya akan membuatnya merasa semakin kerdil dan menyedihkan.

"Gue... gue cuma jatuh. Waktu di toilet sekolah gue sempet kepleset gara-gara lantainya licin." Bohong Lunaris, suaranya bergetar. "Benar, cuma jatuh."

"Lo yakin cuma jatuh? Toilet? Gue nyari lo di seluruh sekolah dan gue bahkan gak nemuin lo. Apa ini ada hubungannya sama Bracia?"

"Kenapa lo gak percaya sama gue? Gue cuma jatoh kepleset."

Aaron berdiri kaku di dekat rak bunga matahari. Lalu matanya matanya beralih pada sosok Sirius yang dengan santainya duduk di atas salah satu meja pajangan kosong, seolah ia adalah pemilik tempat itu.

Aaron tidak bodoh. Ia melihat luka-luka di tubuh Lunaris, dan instingnya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, fokus kemarahannya saat ini tertuju pada pemuda asing yang membawa Lunaris pulang.

Mungkin Lunaris berbohong saat dia tanya apa hilangnya gadis itu ada hubungannya dengan Bracia, tapi saat ini entah kenapa rasanya Sirius lebih mencurigakan?

Sirius, yang menyadari tatapan bermusuhan itu, hanya tersenyum tipis. Ia mengambil setangkai mawar merah yang sudah agak layu dari vas di dekatnya, memutarnya di antara jari-jari panjangnya dengan gerakan elegan.

"Kau punya masalah denganku, Manusia?" tanya Sirius datar, tanpa menoleh. "Kenapa terus melihatku seperti itu?"

"Apa lo udah bikin Lunaris kaya gini?" Desis Aaron, melangkah maju.

"Wow wow atas dasar apa kau menuduhku? Memangnya kau punya bukti?"

"Gue gak percaya cerita Lunaris soal lo yang cuma kebetulan nolongin dia. Tampang lo mencurigakan. Lo pasti orang jahat yang manfaatin keadaan Lunaris, kan?"

Sirius terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar dingin dan meremehkan. Ia akhirnya menatap Aaron, mata perak berkilat jenaka namun berbahaya. "Orang jahat? Tuduhan yang menarik. Padahal akulah yang membawa gadis itu pulang dengan selamat orang-orang yang katanya orang terdekatnya—termasuk kau— gagal menemukannya."

"Jangan sok jadi pahlawan!" bentak Aaron, suaranya meninggi membuat Nyonya Lyn dan Lunaris menoleh kaget. "Gue tau tipe cowok kayak lo. Lo bahaya. Liat aja cara lo natap orang, arogan banget. Mending lo pergi dari sini sekarang juga sebelum gue panggil polisi!"

"Aaron!" Seru Lunaris, mencoba bangkit dari kursinya. "Lo apa-apaan sih?!"

Tapi Sirius mengangkat tangan, memberi isyarat agar Lunaris diam. Ia turun dari meja, berdiri tegap menghadapi Aaron. Tingginya sedikit mengungguli Aaron, menciptakan intimidasi alami.

"Kau mengusirku?" Sirius memiringkan kepala. "Lucu sekali. Kau marah bukan karena aku berbahaya, Aaron. Kau marah karena bukan kau yang jadi pahlawan kan? Dengan kau gagal melindunginya, kau gagal menemukannya. Kau marah karena harusnya peran penolong itu adalah kau dan sekarang kau melampiaskannya padaku karena aku berhasil melakukan apa yang tidak bisa kau lakukan. Menjadi sosok penolong yang dielu-elukan."

Kata-kata itu menohok tepat di ulu hati Aaron. Wajah pemuda itu memerah padam, campuran antara rasa malu dan amarah yang meledak.

"BACOT!"

Tanpa pikir panjang, Aaron menerjang maju, mencengkeram kerah jaket Sirius dengan kasar, tangannya terkepal siap melayangkan pukulan.

"AARON, STOP!"

"AARON LO NGAPAIN SIH?!"

Lunaris berteriak histeris. Ia berlari terpincang-pincang dan mendorong dada Aaron sekuat tenaga, memisahkan kedua pemuda itu.

"Apa-apaan sih lo?!" bentak Lunaris, napasnya memburu. Ia berdiri di depan Sirius, merentangkan tangannya seolah melindungi "monster" itu dari sahabatnya sendiri.

Aaron terhuyung mundur, matanya membelalak tak percaya melihat Lunaris membelanya. "Luna? Minggir! Dia itu bahaya! Gue cuma mau ngelindungin lo!"

"Ngelindungin gue?!" Lunaris tertawa sumbang, air mata frustrasi menggenang di pelupuk matanya. Emosi yang ia pendam selama dua hari ini akhirnya pecah, tapi sayangnya, sasarannya melenceng. "Lo gak tau apa-apa, Aaron! Emangnya lo pikir gue apaan harus dilindungi? Dan lo juga gak tau apa-apa soal Sirius, jadi jangan asal nuduh! Lo gak berhak ngatur-ngatur gue harus deket sama siapa atau jauhin siapa!"

"Gue peduli sama lo, Lunaris! Gue sahabat lo!" Aaron mencoba meraih tangan Lunaris, tapi gadis itu menepisnya kasar.

"Kalo lo peduli, harusnya lo dengerin gue, bukan malah nuduh orang sembarangan!" teriak Lunaris.

"Gue capek, Aaron. Gue capek dibilang lemah, gue capek diperlakukan kayak barang pecah belah yang harus dijagain terus. Sirius gak jahat. Dia satu-satunya orang yang ada di sana waktu gue sendirian! Jadi berhenti bersikap sok tau!"

Ruangan itu hening seketika.

Nyonya Lyn mematung di sudut, tangannya masih memegang kapas alkohol.

Aaron menatap Lunaris dengan pandangan terluka. Rasa kecewa yang mendalam terpancar dari matanya. Ia hanya ingin memastikan Lunaris aman, tapi niat baiknya justru menjadi bumerang. Hatinya sakit melihat Lunaris lebih memilih membela orang asing yang baru dikenal dua hari daripada dirinya yang sudah menemani gadis itu bertahun-tahun.

"Jadi menurut lo, gue gak tau apa-apa dan gak berhak soal apapun tentang lo?"

Di belakang Lunaris, Sirius menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis. Ia menikmati pertunjukan ini. Melihat ikatan antar manusia retak karena emosi sesaat adalah hiburan yang menyenangkan baginya.

"Oke..." Aaron mengangguk pelan, suaranya terdengar serak dan patah. Ia mundur selangkah, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Oke kalo itu mau lo. Gue... gue gak bakal ikut campur lagi. Maaf kalo gue terlalu ngatur."

Aaron menatap Lunaris sekali lagi, berharap gadis itu menahannya, tapi Lunaris membuang muka dengan napas yang masih tersengal.

Dengan bahu merosot, Aaron berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

Saat ia melewati Sirius, langkahnya melambat.

Sirius tidak bergerak, tapi matanya mengikuti setiap pergerakan Aaron. Ketika bahu mereka hampir bersentuhan, Sirius mencondongkan tubuhnya sedikit.

Dalam gerakan yang hampir tak kasat mata, bibir Sirius bergerak di dekat telinga Aaron. Suaranya sangat pelan, seperti desisan ular, hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Kau tidak akan bisa menipu semua orang, Aaron... Cepat atau lambat, semua orang akan tahu apa yang telah kau lakukan."

Langkah Aaron terhenti total.

Tubuhnya menegang kaku seperti patung es.

Wajahnya yang tadi penuh kecewa dan marah, kini berubah drastis. Matanya membelalak lebar, pupilnya bergetar hebat. Ia menoleh perlahan ke arah Sirius dengan tatapan horor, kaget, dan... takut. Sorot mata itu begitu rumit, seperti seseorang yang baru saja ditelanjangi rahasia tergelapnya di siang bolong.

Sirius hanya membalas tatapan itu dengan senyum miring yang penuh arti, tatapan mata peraknya seolah menembus langsung ke dalam jiwa Aaron, mengorek dosa yang tersembunyi di sana.

Aaron membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, menyangkal, atau bertanya, tapi suaranya tercekat. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Aaron memutus kontak mata itu dengan panik. Ia bergegas keluar dari toko bunga, membanting pintu kaca di belakangnya dengan keras hingga lonceng berbunyi nyaring.

Kring!

Lunaris tersentak kaget mendengar bantingan pintu itu. Ia berbalik, menatap punggung Aaron yang berlari masuk ke dalam mobilnya dan memacu kendaraan itu pergi dengan kecepatan tinggi.

"Aaron..." Gumam Lunaris pelan. Perasaan kosong mulai merayapi hatinya begitu emosinya mereda. Ia tidak bermaksud membentak Aaron sekeras itu.

Lunaris tidak menyadari interaksi singkat namun mematikan antara Aaron dan Sirius barusan. Ia terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri.

Sirius kembali bersandar santai, memasukkan tangannya ke dalam saku. Senyumnya semakin lebar.

"Manusia," Gumamnya dalam hati. "Selalu menyembunyikan bangkai di dalam lemari yang mereka kunci rapat-rapat. Tapi sayang... aku punya kunci untuk semua pintu."

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!