NovelToon NovelToon
Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.

Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.

Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Perpindahan Paksa

Keputusan Guruh dilaksanakan sebelum hari benar-benar terang.

Kabut masih menggantung rendah di lembah ketika dua pengawas senior memasuki area terpisah.

Langkah mereka cepat dan terukur, bahkan tampak tidak ada niat untuk berbincang, serta tidak ada ruang untuk menunda.

Yuda yang sedang duduk bersila langsung membuka mata ketika merasakan tekanan asing mendekat.

"Bangun," kata salah satu pengawas.

Mendengar itu, Yuda langsung berdiri tanpa bertanya lebih dulu.

"Kau dipindahkan sekarang." perintah pengawas itu dengan tegas.

Nada suara itu bukan perintah yang bisa ditawar.

"Di pindahkan ke mana?" tanya Yuda.

"Ke tempat yang tidak ada dalam jalur murid," jawab pengawas itu juga dengan cepat.

Mendengar ada sedikit keributan, Tara yang masih tertidur pulas di bawah, langsung melompat ke bahu Yuda dan menguap singkat.

"Ini kedengarannya tidak ramah, hmm" kata Tara setelah berada di bahu Yuda kepada pengawas itu.

"Memang tidak," jawab pengawas kedua.

Tara hanya mengabaikan mereka, sehingga mereka semua bergerak segera.

Jalur yang dilewati bukan jalur latihan. Bukan pula jalur patroli.

Jalan setapak itu sempit, berbatu, dan menanjak perlahan ke arah barat. Beberapa kali Yuda merasakan tekanan aneh dari tanah di bawah kakinya, seperti ada sesuatu yang menahan setiap langkahnya.

"Ini.. Ini seperti formasi penahan," bisik Tara.

"Dan ini sudah di siapkan, ini bukan untuk orang luar, tapi untukmu, bocah" lanjut Tara sambil mengamati sekitar.

Melihat sekeliling, Yuda hanya mengangguk pelan.

Ia mulai memahami bahwa pemindahan ini bukan perlindungan penuh, ini adalah pembatasan untuk dirinya.

Perjalanan itu berlangsung cukup lama.

Matahari perlahan naik, namun cahayanya tidak pernah benar-benar menyentuh jalur yang mereka lalui.

Ada sebuah tebing tinggi menutup sisi kanan dan kiri, membuat suara langkah bergema pendek.

Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah cekungan batu yang tertutup kabut tipis.

Udara di tempat itu terasa lebih dingin dan lebih berat, sedangkan di tengah cekungan berdiri bangunan tua dari batu hitam.

Dindingnya kasar, dipenuhi retakan dan bekas pahatan lama yang sudah hampir tidak terbaca.

"Mulai sekarang kau akan tinggal di sini," kata pengawas pertama.

"Latihanmu akan tetap berjalan, tapi dengan batasan." lanjutnya kemudian.

"Hmm... Batasan seperti apa?" tanya Yuda.

Mendengar jawaban Yuda, sosok pengawas itu hanya menatapnya singkat lalu berkata.

"Batasan hidup." jawabnya dengan singkat.

Kata itu bahkan tidak ada penjelasan lanjutan.

Sebelum Yuda sempat berkata lagi, suara langkah kaki terdengar dari dalam bangunan batu, langkah yang terdengar berat dan mantap.

Guruh keluar dari balik pintu batu yang terbuka perlahan.

"Kalian kembali ke pos," katanya setelah melewati pintu.

Para pengawas yang mendengar perintah Guruh, langsung berbalik dan pergi tanpa protes.

Tak berselang lama, kabut terlihat kembali menutup jalur mereka.

Guruh berdiri beberapa langkah dari Yuda.

"Serangan kemarin bukan kebetulan, itu seperti sebuah pesan." kata Guruh dengan tatapan tajam.

Yuda hany mengangguk dan sudah paham akan hal itu.

"Sepertinya, mereka ingin tahu sejauh mana aku bisa bertahan." jawab Yuda dengan sedikit mengangguk.

"Dan sekarang mungkin mereka sudah tahu cukup," jawab Guruh kembali.

Ia kemudian melangkah ke samping dan memberi jalan.

"Di tempat ini, kau akan belajar bergerak tanpa meninggalkan jejak." ucap Guruh kbali.

"Kalau aku gagal, bagaimana?" tanya Yuda dengan cepat.

Guruh pun hanya menatapnya dengan cukup lama.

"Kalau gagal, aku yang akan menghentikanmu sendiri sebelum mereka datang lagi." ucap Tara mendengus pelan di bahu Yuda.

"Hmmm.. Manusia memang selalu memilih rencana yang paling berisiko," lanjut katanya.

Mendengar percakapan itu, Guruh hanya meliriknya.

"Dan siluman selalu memilih untuk bertahan hidup, itulah sebabnya kau masih di sini." jawab Guruh dengan sedikit sinis.

Beberapa saat kemudian, Yuda akhirnya juga melangkah masuk ke bangunan batu hitam itu.

Setelah masuk bangunan batu, udara di dalam langsung terasa menekan paru-parunya, di tambah rasa yang lebih dingin dari luar.

Terlihat juga, dinding-dinding batu dipenuhi ukiran lama yang sudah aus, membentuk pola lingkaran dan garis yang saling bertaut.

Sedangkan di lantai terdapat lingkaran latihan yang jauh lebih sempit dibandingkan arena biasa.

"Ini bukanlah tempat untuk menjadi kuat," kata Guruh tiba-tiba.

"Tapi ini adalah tempat untuk bertahan." lanjutnya sembari berhenti berjalan dan menatap Yuda dengan dalam.

Hari pertama latihan pun dimulai tanpa aba-aba.

Guruh meminta Yuda berdiri di tengah lingkaran dan menahan aliran tenaga sepenuhnya dengan cara tidak di alirkan dan tidak bergerak, hanya diam.

Beberapa saat kemudian, tekanan dari lantai segera muncul, seolah lingkaran itu menekan balik keberadaan Yuda.

Keringat mulai terlihat mengalir di pelipisnya.

"Jangan melawan, biarkanlah tekanan itu ada." kata Guruh pelan setelah melihat Yuda.

Yuda kini hanya terlihat menggertakkan gigi dan bertahan dengan tubuhnya yang terlihat mulai bergetar.

Sedangkan Tara terlihat sedang duduk di sudut ruangan itu, memperhatikan tanpa berkata apa pun.

Latihan itu pun berlangsung hingga sore hingga Yuda akhirnya jatuh berlutut.

"Cukup," kata Guruh acuh menghentikan latihan setelah melihat kondisi Yuda.

Dan tanpa terasa malam pun datang tanpa cahaya bulan.

Bangunan batu hitam terasa semakin sempit dab Yuda terlihat sedang duduk bersandar di dinding dengan napasnya masih berat.

"Hei bocah, sepertinya tempat ini mencoba untuk menekanmu, dan jika kau panik, maka kau a sendiri yang akan hancur sendiri." kata Tara akhirnya.

Mendengarkan perkataan kucing buntalnya itu, Yuda hanya menatap tangannya sendiri.

"Hei kucing buntal, berapa lama menurutmu ini akan berlangsung?" tanya Yuda.

"Sepertinya sampai mereka datang lagi," jawab Tara dengan tatapan jauh di luar tempat itu.

Yuda pun hanya terdiam.

Sedangkan di luar bangunan, kabut terlihat mulai bergerak dengan pelan.

Dan jauh di luar wilayah lembah itu, pihak yang sama yaitu yang menyerang beberapa hari lalu, kini mulai menyusun langkah berikutnya dengan lebih serius.

......................

1
JUNG KARYA
/Coffee/
JUNG KARYA
mohon dukungannya teman-teman🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!