Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Berita gugatan cerai yang dilayangkan oleh Kirana kepada Rafka sudah terdengar oleh Pak Darma dan Bu Maya. Mereka pun memanggil Kirana, Rafka, dan Kirana.
Tidak lupa dengan keluarga Rafka yang marah kepada Kinanti karena sudah merusak rumah tangga Kirana dan Rafka.
“Dasar wanita murahan! Tidak punya hati,” bentak Pak Andi marah.
“Kalian tidak mendidik anak kalian, ya! Makanya kelakuannya tidak beda jauh dengan pe-lacur” lanjut Bu Ratih.
Kinanti tidak menangis ketika keluarga Rafka menatapnya seperti sampah. Ia justru tersenyum—tipis, pahit, penuh perhitungan.
“Jadi kalian tuduh aku pelakor?” ucap Kinanti pelan, suaranya bergetar seolah menahan luka yang dalam. “Padahal aku hanya perempuan yang suka didengarkan keluh kesah seorang pria.”
Bu Ratih mendengus keras. “Kamu merusak rumah tangga adik iparmu sendiri!”
“Merusak?” Kinanti tertawa lirih, lalu menunduk, mengusap sudut matanya yang basah. “Aku tidak pernah berniat merebut siapa pun. Aku hanya menjadi tempat pulang ketika Rafka tidak punya rumah secara emosional.”
Kalimat itu seperti pisau yang ditusuk perlahan tidak terlihat tajam, tapi mematikan.
“Kirana tidak pernah menjadi istri yang hangat,” lanjut Kinanti, kini suaranya lirih namun jelas. “Dia dingin. Menekan. Semua harus sesuai kemauannya. Rafka pulang ke rumah bukan untuk beristirahat, tapi untuk dihakimi.”
Rafka yang duduk di sudut ruangan tersentak. “Kinanti—”
“Tolong, Mas. Kali ini dengarkan aku,” potong Kinanti, menoleh dengan mata berkaca-kaca. “Aku tahu aku salah. Tapi jangan hapus semua yang Mas rasakan hanya karena satu video.”
Kinanti menatap satu per satu wajah keluarga Rafka. “Rafka datang padaku bukan karena nafsu. Tapi karena kelelahan. Karena butuh dimengerti.”
Kebohongan yang disusun rapi sering kali terdengar lebih meyakinkan daripada kebenaran yang telanjang.
Ayah Rafka terdiam. Ibu Rafka mengusap dadanya, tampak goyah.
“Kamu bilang Rafka tertekan?” tanya ibunya ragu.
Kinanti mengangguk, air mata jatuh sempurna. “Dia sering gemetar saat bercerita. Tentang tuntutan rumah, tentang rasa tidak pernah cukup. Aku hanya mendengarkan. Aku hanya ada.”
Padahal Kinanti sangat tahu bahwa cinta Rafka tidak pernah benar-benar berpindah.
Pria itu selalu menyebut nama Kirana dalam diamnya. Dalam penyesalan. Dalam setiap jeda panjang setelah mereka bersama. Cinta itu masih ada, utuh, menyakitkan, dan Kinanti membencinya.
Ingatan Kinanti melayang pada malam hujan itu empat bulan yang lalu.
Saat itu hujan turun deras, Kirana memaksa Rafka mengantarkannya pulang ke rumahnya. Ara tertidur duduk di tengah, tubuh kecil itu lelah setelah seharian bermain.
Sebenarnya Rafka ragu untuk mengantar pulang. Namun, Kinanti memaksanya. Akhirnya mau tidak mau pergi.
Begitu sampai rumah, hujan malah semakin deras.
“Mas, tunggu saja hujannya reda di dalam,” kata Kinanti lembut. “Kasihan tubuhmu kalau kehujanan bisa masuk angin.”
Rafka pun masuk ke rumah. Dia menghubungi Kirana kalau terjebak hujan.
Di dalam rumah, suasana sunyi. Jam dinding berdetak pelan, seolah menghitung mundur sesuatu yang tak terucap.
Kinanti menyeduhkan kopi hangat. Namun, bukan hanya bubuk kopi yang dimasukan ke dalam gelas. Tangan mengaduk tenang, gerakannya terlatih. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang mencurigakan.
“Mas, minum dulu!”
“Terima kasih, Mbak.”Rafka minum tanpa curiga.
Beberapa menit berlalu. Rafka merasa kepalanya mulai terasa ringan. Napasnya tidak lagi teratur. Ada panas aneh menjalar di tubuhnya, bukan panas demam, tapi sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ketika Kinanti duduk lebih dekat, Rafka berdiri, berusaha menjaga jarak.
“Kinanti, aku mau pulang.”
Namun langkahnya goyah.
“Kamu kelihatan capek sekali, Mas,” bisiknya. “Duduk dulu. Jangan dipaksa.”
“Aku bilang aku mau pulang.” Suara Rafka meninggi, ada panik di sana.
Kinanti tidak mundur. Tangannya menyentuh lengan Rafka. Sentuhan pertama yang tidak seharusnya terjadi.
Rafka menarik lengannya dengan kasar. Dia tahu kakak iparnya suka ganjen dan sering menggodanya.
“Jangan, Mbak!” katanya. “Aku cinta Kirana.”
Kalimat itu keluar bersama napas terengah. Itu bukan basa-basi, itu adalah perlawanan. Namun, tubuhnya tidak lagi patuh pada pikirannya.
Kinanti tahu obatnya mulai bereaksi. Ia bisa melihatnya di mata Rafka. Pria itu kebingungan, ketakutan, dan kemarahan yang bercampur.
“Tenang saja, Rafka,” bisik Kinanti. “Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Kamu hanya perlu menikmatinya saja.”
Rafka berusaha menjauh. Ia menyebut nama Kirana berulang kali seperti doa, seperti pegangan terakhir pada dirinya sendiri. Namun, Kinanti tidak berhenti melancarkan serangan yang memancing hasratnya.
Malam itu, batas dilanggar bukan karena persetujuan, melainkan karena ketidakberdayaan.
Lalu, setelahnya yang tersisa pada Rafka hanyalah kehancuran.
Rafka pulang dengan tubuh yang terasa asing, pikiran yang kosong, dan rasa bersalah yang menghantam lebih keras dari hujan malam itu. Ia tidak bercerita. Ia mengubur semuanya. Meyakinkan dirinya bahwa itu hanya satu kesalahan, satu malam, satu titik hitam.
Rafka tidak tahu kalau kejadian malam itu bukan yang terakhir, tetapi itu adalah awal.
Kinanti mengulanginya. Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali memberi obat itu. Kadang lewat kopi.
Kadang lewat minuman lainnya.
Hingga suatu hari, obat itu tidak lagi diperlukan. Tubuh Rafka sudah terbiasa. Pikiran Rafka sudah lelah melawan.
Rasa bersalah berubah menjadi kebiasaan.
Dan di situlah Kinanti menang, bukan karena cinta, tetapi karena perang yang ia rancang sejak awal. Ia memang ingin merebut Rafka dari Kirana.
Bukan karena Rafka lebih mencintainya,
melainkan karena Kinanti tidak sanggup menerima kenyataan bahwa ia selalu menjadi yang kedua.
Kini, saat ia berdiri di hadapan keluarga, semua dia memutarbalikkan cerita, menyebut dirinya sebagai pelabuhan tenang bagi pria yang “tertekan”.
Kinanti tahu satu hal, kebenaran tidak selalu menang. Yang menang adalah cerita yang paling sering diulang.
Namun Kinanti lupa satu hal yang lebih besar. Ada luka yang tidak bisa disangkal oleh fitnah. Dan ada kebenaran yang akan tetap berdiri, meski dipelintir berkali-kali.
Kinanti tahu jika kebohongan diulang dengan cukup meyakinkan, ia akan berubah menjadi “kebenaran” versi orang-orang yang ingin percaya.
Kini, di hadapan keluarga Rafka, Kinanti memainkan perannya dengan sempurna.
“Aku mencintai Mas Rafka,” kata Kinanti akhirnya. “Bukan karena statusnya. Tapi karena rasa saling membutuhkan itu tumbuh tanpa kami sadari.”
Rafka menunduk. Dadanya sesak. Ia tahu kalimat itu separuh benar, separuh dusta. Ia memang rapuh. Ia memang lelah, tetapi perbuatannya itu tetaplah pilihannya. Kirana tidak pernah seburuk yang Kinanti gambarkan.
Kirana duduk sambil memeluk Gita yang tertidur dengan mata sembab. Ia tidak menyangka kakaknya menyebar fitnah seperti itu. Dia diam bukan berarti kalah. Dia menunggu momen yang tepat untuk membalas. Dia yakini orang yang berani menghancurkan rumah tangga dengan kebohongan, akan terus berbohong untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Lalu, suatu hari, semua akan runtuh oleh kebenaran yang tak bisa lagi ditutup.
***
Maaf telat posting. Karena mendapat kabar mendadak bibiku meninggal. Sekarang pun masih berasa mimpi bagi keluarga besar kami.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏